
"Ciee... yang baru kena aroma bunga kuncup, seger nih!" sindir Fatma, begitu tiba di rumah Umminya langsung mensejajari kakaknya yang tampak duduk santai di belakang rumah Abahnya.
Fatma sebenarnya sudah punya rumah sendiri, bersama suaminya. Tapi Fatma dan suaminya ikut hidmah di pesantren Abah. Jadi begitu dengar Rendi pulang Fatma langsung menghampiri.
Rendi duduk memakai kaos polos tanpa krah dan memakai sarung memandangi tumbuhan yang sempat ia tanam beberapa hari lalu.
Karena tidak memakai pesawat dan hanya naik kereta, Rendi tiba di rumah Abahnya pagi ini. Dia hendak menemui Abahnya, tapi Abahnya sedang ada di majelis. Rendi memilih istirahat sejenak, menyantap hidangan makanan di rumah orang tuanya.
Rendi masih belum tahu kalau semalam keluarganya bikin acara syukuran makan- makan karenya, dan makanan yang dia makan makanan sisa santri Abahnya.
"Aroma bunga mekar gimana?" tanya Rendi mengernyit setengah kaget Fatma tidak ada salam tidak ada apa langsung mengerjainya.
"Lhah. Kata Umma, Gus Akbarnya di hotel sama Ning Nila? Wanginya masih berasa nih?" tutur Fatma mengungkapkan tebakanya menggoda Rendi yang dia kira baru saja malam pertama, bergu mul dengan Nila layaknya suami istri menikmati hari undah di hotel.
"Ck....," Rendi hanya berdecak, "musibah. Cuma mampir ada perlu, ketemu orang!" jawab Rendi dengan raut kecewa.
"Musibah gimana?" tanya Fatma tetap masih positif thingking. "Suami istri kan bukan musibah, tapi ibadah!" ucap Fatma lagi.
Rendi jadi plintat plintut malu mau cerita. Semua yang dia alami kan aib, juga masalah pribadi. Apalagi sekarang Rendi juga dimintai syarat segala makanya dia pulang mau cepat bereskan.
"Intinya Kita berdua tidak melakukan apapun di hotel. Ummi itu salah paham. Kita ada perlu di sana!" jawab Rendi.
"Tapi kata Nila kamu sakit, Nak!" sambung Ummi ternyata dengar langsung mendekat.
"Kamu sakit apa?" tanya Ummi lalu ikut duduk.
Rendi pun gelagapan tidak bisa menjawab.
"Ya. Sakit!" jawab Rendi.
"Gimana sih? Kakak. Katanya nemuin orang ada perlu? Katanya Musibah? Katanya sakit. Udah sih kita juga nggak akan bully kakak. Kita bersyukur aja kalau Kakak sama Nila baikan. Syukur segera ada ponakan! Fatma cuma bercanda nggak, maaf. Nggak usah malu," sahut Fatma cepat. Masih menggoda Rendi.
__ADS_1
Mendengar penuturan Fatma Rendi bertambah murung.
"Tapi emang Kakak itu belum ngapa- ngapain sama Nila!" jawab Rendi.
"Kok bisa?" sahut Ummi cepat sembari mengernyit kecewa.
"Ya, bisa Ummi!"
"Tapi kalian baikan kan?" tanya Ummi jadi curiga dan khawatir lagi, lagi lagi Rendi tak sesuai ekspektasinya.
"Baikan Ummi. Ini Akbar pulang mau minta doa Ummi sama Abah , juga jemput juga biar kita segera melakukan pencatatan sipil!" jawab Rendi.
"Lah. Kalau udah baikan terus di hotel kalian nggak ngapa- ngapain? Terus kenapa di hotel?" tanya Ummi tidak menghiraukan masalah pencatatan sipil tapi masih peduli dan penasaran apa yang Rendi dan Nila alami. "Kamu sakit apa? Kok Nila suaranya panik begitu?" tanya Ummi sangat ingat betul bagaimana Nila telepon menanyakan kebiasaan Rendi kecil.
Rendi mengusap tengkuknya, kalau hanya menjawab sakit pusing kenapa harus ke hotel segala bukan ke klinik atau rumah sakit? Apalagi Rendi dokter dan tahu obat. Pasti Ummi dan Fatma akan terus mencecar pertanyaan ke Rendi.
Akhirnya Rendi pun cerita, kalau dia hendak menemui undangan Vallen juga Axel. Tapi entah apa yang Rendi minum sampai Rendi merasa seperti tidak bisa mengendalikan diri dan kepala pening.
"Dia sekarang menetap di sini dan kerja sama dengan kampus," tutur Rendi memberitahu.
"Kenapa kamu tidak menyalurkan pada istrimu?" sahut Ummi lagi seperti tadi tidak peduli yang lain kecuali kemajuan hubungan Rendi dan anaknya.
Ummi tambah khawatir mendengar ada nama perempuan lain di hidup anaknya.
Rendi jadi menelan ludahnya. Ini nih yang dia tidak suka kalau pulang atau berkumpul dengan keluarganya dimana dia anak laki- laki satu satunya. Semuanya cerewet tidak jauh berbeda dengan keluarga Nila.
"Maaf Ummi bukan mau memasuki ranah yang bukan seharusnya. Suami istri itu harus memenuhi nafkah lahir dan batin keduanya. Itu juga hakmu kan? Kalian sudah terpisah selama tiga tahun yang membuat hubungan kalian jadi tidak baik. Kamu sudah cukup baik untuk mengikuti aturan Pak Ardi. Kalau memang kalian sudah baikan, jangan menunda, apalagi sampai kamu berbuat yang tidak seharusnya dan bisa mengundang petaka. Kalau kalian tetap menjaga jarak, Ummi takut nanti jatuhnya Ila!" tutur Ummi memberitahu.
Ila adalah hukum dimana suami enggan atau tidak mau mencampuri istrinya.
Rendi mengernyit tidak nyaman. Kenapa malah terkesan Ummi yang tidak sabaran padahal Rendi dan Nila santai dan selow. Rendi kan bukan tidak mau, Rendi menunggu Nila siap, Rendi tidak mau membuat Nila trauma dan membencinya.
__ADS_1
"Ya ini makanya Rendi ke sini jemput Ummi dan Abah, agar pernikahan kita bisa jelas hukumnya Mi!" jawab Rendi.
"Nikah resmi kan butuh proses. Ummi tidak mau hubungan kalian jadi ada masalah lagi!" ucap Ummi lagi seakan terus mendesak ingin Rendi dan Nila segera menjadi suami istri sebagaimana mestinya.
Fatma memilih diam sembari menahan senyum di dalam hatinya. Sementara Rendi mengulum lidahnya tidak nyaman, sepertinya kalau Rendi cerita apa yang terjadi sebenarnya dengan Baba, Ummi bisa tersinggung.
"Ya Ummi berkata yang baik dan doain Rendi yang baik- baik lah. Jangan begitu! Doa Ummi kan biasa makbul, nanti Rendi urus agar semua berjalan cepat!" tutur Rendi lagi menenangkan hati Umminya.
"Nila udah kembali tinggal bersamamu?" tanya Ummi lagi.
"Gleg!" Rendi langsung menelan ludahnya tambah gelagapan. Sepertinya dia akan kembali mendengar ceramah Ummi.
"Belum!" jawab Rendi lirih dan menunduk.
"Kalian beneran udah baikan kan?" tanya Ummi masih khawatir seperti trauma Rendi berbohong berkata semua baik- baik saja tapi nyatanya tidak.
"Udah, Ummi. Nila memaafkan Rendi. Baba buna nenek oma juga. Nila dan keluarganya menyadari dan sepakat kita masih suami istri, mereka tidak lagi menuntut cerai. Dan sekarang kita menginginkan agar pernikahan kita legal!" jawab Rendi tetap menenangkan Umminya dan berusaha jangan keceplosan cerita tentang syarat dari Baba.
"Ya kalaupun belum legal. Kalau sudah baikan Nila ajak ke rumahmu. Rumah besar- besar dikosongin terus. Biar suasanya hangat, ada yang menghuni!" ucap Ummi lagi.
Pokoknya Ummi mau kalau memang Rendi dan Nila baikan mereka menjalani hubungan sebagaiamana mestinya.
Rendi menghela nafasnya. Umminya benar- benar tidak sabaran sekarang.
"Ya kan Akbar lagi ke sini. Kasian kalau Nila di rumah sendirian!" jawab Rendi ngeles.
Kalau Rendi beralasan menunggu Nila siap atau mengikuti mau Baba pasti Ummi akan tersinggung sebab sebelumnya juga Nila bersama mereka.
"Ya besok. Ummi ikut kamu. Nila suruh pulang ke rumahmu. Ummi kangen. Ummi nggak nyaman di rumah Pak Ardi lama- lama!" tutur Ummi.
Rendi tambah menegang. Bagaimana ijin ke Babanya membawa Nila pulang sebelum urusan nikahnya beres.
__ADS_1