
Nila berjalan ke arah kelas, berlenggang Anggun, walau dengan sepatu murah. Karena Nila yang memakai, tak ada yang menyangka atau menebak harga sepatunya, semua tetap padan serasi dan bagus.
Rendi masih berdiri memastikan Nila berjalan tanpa hambatan, sembari tersenyum sendiri. Hati Rendi begitu tenang sekarang, melihat gadis manis nan ayu itu menjadi miliknya.
Walau mungkin dalam beberapa hal Nila masih butuh bimbingan, tapi Rendi yakin, dalam diri Nila banyak sisi dewasa. Nila juga patuh dan Rendi yakin dia akan menjadi istri yang menenangkan. Bahkan Rendi merasa tidak bisa jauh darinya.
Setelah Nila menghilang dari pandangan Rendi pun berjalan ke ruanganya, benar dugaanya, Della, Sania dan Mikki sudah menunggu. Padahal waktu yang Rendi minta masih 15 menit lagi. Rendi pun mempersilahkan mereka masuk.
Sania dan Mikki menunduk takut, berbeda dengan Della, dengan mata nyalanya, Della malah memperhatikan tubuh Rendi bahkan di bagian yang tak semestinya. Melihat ke leher Rendi juga bagian kemeja bawah, Rendi pun peka.
“Apa yang kamu perhatikan, Della. Jaga matamu!” tegur Rendi lugas.
Sania dan Mikki bahkan kaget menoleh, bahkan mereka juga tidak tahu temanya tidak ada gentar sedikitpun. Della malah tersenyum nakal, ditegur Rendi.
“Maaf, Pak.” Jawab Della.
Rendi langsung mengulum lidahnya berfikir, sepertinya Della bermasalah.
“Duduk! Sania ambil bangku yang sebelah sana!” titah Rendi.
Mereka bertiga kemudian duduk di hadapan Rendi.
“Langsung pada intinya saja? Saya malu sebenarnya harus memanggil kalian ke sini. Kalian sudah mahasiswa bukan lagi siswa. Tapi kali ini kalian sedikit keterlaluan. Aku cek, praktek laborat kalian hari ini tidak ada yang menggunakan cairan itu. Darimana kalian dapatkan cairan itu?” tanya Rendi cepat.
“Saya beli di luar!” jawab Della tidak mau mengaku. Sania dan Mikkki hanya menunduk menggigit bibirnya.
“Oh ya? Boleh tunjukan nota belinya!”
“Hilang, Pak!” jawab Della.
“Ok, berarti jelas ya. Kalian sengaja merusak sepatu Nila sampai kalian membeli air itu. Apa motif kalian?” tanya Rendi lagi.
“Saya iri, karena semua barang Nila bagus. Nila juga masuk ke sini rangking satu, tapi perasaan di kelas, nilai Nila nilainya biasa saja, Nila juga bisa ijin bolos sesuka hati.” Jawab Della sangat tenang dan percaya diri, bahkan mengakui kejahatanya begitu lancar.
Rendi menghela nafasnya, lalu menatap Sania dan Mikki, berbeda dengan Della, mereka berdua tampak sangat tegang dan salah tingkah.
Rendi diam sejenak dan berfikir.
"Separah itukah iri kalian? Bukankah mahasiswa kelas kalian mahasiswa terpilih dan mempunyai IQ yang tinggi? Apa sebobrok ini mental kalian?" tanya Rendi lagi.
Della, Sania dan Mikii terdiam.
"Haduh. Saya jadi ragu, mau jadi apa dunia ke depan kalau calon pekerja kemanusiaanya dari pelajar otaknya sudah begini?" keluh Rendi menyandarkan bahunya ke bangku goyangnya sehingga terdorong ke belakang sambil terus menatap mereka bertiga.
“Kami mohon maaf, Pak. Kami akan ganti sepatu Nila. Tapi tolong maafkan kami. Kami mohon maaf juga sudah salah sangka terhadap Nila. Kami janji tidak akan ganggu Nila lagi!” celetuk Mikki keceplosan saking lugu dan takutnya ditatap Rendi.
Della langsung mengernyit kesal.
__ADS_1
Rendi pun melirik ke Della.
“Della kalau boleh tahu, di apotik mana kamu dapatkan cairan itu?” tanya Rendi lagi tidak menanggapi Mikki.
Della pun langsung gelagapan lagi. Sania dan Mikki pun ikut tegang.
Rendi kemudian tersenyum, "Jawab! Atau aku cari jawaban lain?" tawar Rendi.
Mereka bertiga masih membisu.
“Ok. Akan kucari jawaban sendiri ya!” ucap Rendi bicara sendiri. Pusing sekali menghadapi mahasiswa baru yang banyak tingkah.
Lalu Rendi mengambil telepon dan menelpon petugas Lab. Rendi tampak menanyai petugas lab tentang aktivitas hari ini juga ketersediaan barang hari ini.
Seketika itu, Della, Sania dan Mikki langsung menegang.
“Akuilah, maka kalian akan terkena disiplin kampus atau aku akan membawa kasus ini ke jalur hukum!” ucap Rendi lagi menekankan dan sedikit mengancam.
Mereka bertiga tampak menegang dan menunduk.
“Pak, saya sudah akui, saya menyesal dan saya mohon maaf!” ucap Della menyela.
Rendi hanya tersenyum.
“Saya hitung, hitungan ke tiga, kamu tidak jujur, aku kirim laporan ke polisi dan tidak akan menarik laporanku. Aku tidak segan. Pertama aku sebagai suami Nila tidak terima atas perilaku kalian merusak hadiah pernikahanku untuk istriku yang kubeli dengan kerja kerasku. Kedua, peristiwa ini terjadi di kampus dan ini masih tanggung jawabku. Satu… dua…!” tutur Rendi tegas.
Miki dan Sania gemetaran dan menitikan air mata.
“Kami mencuri Pak! Kita melakukan spontan. Saat melihat sepatu Nila bagus kami kesal. Saat itu di seberang tempat ganti, kami lihat anak fakultas lain sedang menuang cairan itu. Della yang punya ide, kami hanya ikutin Della,” ucap Sania akhirnya mengaku.
Della pun langsung mendengus kesal ke kedua temanya.
Rendi pun tersenyum.
Ya, setelah meminta data dari orang lab, saat praktek, Della ijin masuk ke ruang alat dengan dalih mau mencari kamar mandi kosong. Ternyata Della mengambil Sebagian cairan yang sedang disiapkan oleh pegawai Lab untuk praktek mahasiswa dari fakultas lain.
“Apa janji dan jaminan kalian agar tidak mengulangi perbuatan kalian?” tanya Rendi menawarkan.
Rendi masih bermurah hati.
Rendi ingat permintaan Nila. Isakan dan kejujuran Mikki dan Sania membuat Rendi mengingat istrinya, Rendi tahu, Nila juga akan sedih kalau teman- temanya masuk penjara karena dia.
“Terserah, Dokter Rendi, asal jangan penjarakan kami, sungguh kami mohon maaf Pak!” lirih Mikki sudah sesenggukan.
Rendi mengangguk.
Akhirnya Rendi memberikan disiplin sesuai peraturan kampus, yaitu, meminta maaf pada Nila, mengakui di depan kelas, mengganti sepatu Nila, skorsing dan pelanggaran mereka bertiga ikut praktikum di laborat.
__ADS_1
Walau itu akan membuat ganjalan kelulusan mereka, Sania dan Mikki lega. Setidaknya mereka tidak masuk polisi, sementara Della masih murung, bahkan memaki Sania dan Mikki tidak mendukungnya untuk berbohong.
Tapi Sania dan Miki tidak hiraukan. Mereka memilih menghampiri Nila, meninggalkan Della dan minta maaf.
"Ehm..., aku maafin kalian kok. Aku yang salah. Kami telat memberi tahu tentang status kami. Niat kami akan undang kalian saat resepsi kami nanti. Maaf ya, udah buat teman- teman semua salah sangka!" jawab Nila lembut.
Tepat pada saat Sania dan Mikki meminta maaf, Nila pun mengumumkan secara resmi pada teman- temanya. Sebagian merespon positif, sebagian biasa saja dan datar seperti Celine. Akan tetapi tetap ada yang tidak suka dan menggunjing.
Hari itu pun, Nila memaafkan Della, Sania dan Mikki. Bahkan dengan senang hati menerima Miki jadi sahabatnya. Nila juga tidak meminta ganti, karena sepatu Nila sudah banyak.
Jam kuliah pun selesai. Kini teman- teman Nila menghormati Nila sebagai istri Rendi. Nila sendiri tidak canggung dan malu lagi saat Rendi menunggunya dan menghampiri di depan kelas.
Nila mencium tangan Rendi lalu berjalan bersama ke mobil. Meski begitu terhadap terbukanya Nila dan Rendi bersama muncul berbagai respon. Tapi Rendi sudah tidak peduli.
"Makan yuk!" ajak Rendi.
"Ayuk!" jawab Nila
"Di depan toko baju ada warung ayam yang sambalnya enak lho. Ke situ yuk!" ajak Rendi.
Sayangnya Nila mengkerucutkan bibirnha dan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Nggak pengen ayam? Ya udah pengen apa?" tanya Rendi.
"Ke rumah aja!" jawab Nila.
Rendi kemudian mengernyit.
"Tapi ini udah siang belum makan lho!"
Nila kemudian menunduk tersipu menatap Rendi. Bahkan tangan Nila terulur meraih tangan Rendi.
"Mas nggak kangen sama Nila? Nila pengen cepet kita sampai di rumah! Pulang yah!" ucap Nila.
"Gleg!" Rendi terhenyak dengan ucapan dan sikap Nila, seketika itu antena Rendi menyala. Rendi pun langsung mengangguk tersenyum.
"Ya mas juga pengen banget kita sampai rumah. Tapi kita juga butuh energi untuk "itu" biar kita bisa lama nggak terburu- terburu kaya kemarin!" jawab Rendi nyambungnya kangen Nila ke aktivitas yang ingin Rendi lakukan di kamar.
Nila pun mengernyit.
"Maksud Mas. Itu apa? Emang kita buru- buru ngapain Mas?" tanya Nila dengan polosnya.
"Haish... Ya udah pulang- pulang!" jawab Rendi ngambek, Rendi kira Nila sudah ada kemajuan memberi kode ingin cepat sampai rumah dan disentuh. Tapi malah tidak nyambung.
"Tuh kan? Nila di rumah udah masak buat Mas. Nila mau kasih kejutan buat Mas!" ucap Nila akhirnya memberi tahu.
Rendi yang tadinya ngambek pun melirik masam tapi masih gengsi.
__ADS_1
"Habis makan ya!" ucap Rendi memberi kode.
Nila tidak menjawab, pipinya langsung memerah dan mengalihkan tatapan ke jendela.