
Setelah tamu pergi, walau Iya Iyu dan Uung masih ramai berceloteh Bersama anak- anak dokter Anya juga keluarga yang lain Nila, naik ke atas atas perintah Oma. Nila pun masuk ke kamar bertujuan untuk istirahat. Sayangnya sampai larut malam, Nila tidak tidur. Bahkan tidak hanya tidak menyapa Nila, Rendi juga tidak menghubungi Nila.
“Hhh… apa benar yang dikatakan Kak Jingga? Kenapa Mas Rendi sama sekali tidak menghubungiku? Padahal dia tadi pagi siang bilang kangen? Minta aku dandan yang cantic, untuk apa aku dandan dia menolehku saja tidak? Ck. Menyebalkan?” gumam Nila sepanjang malam.
Nila gelisah, mencoba memejamkan mata, tapi hatinya sangat dongkol guling kanan guling kiri, bahkan Nila meninggalkan sunnah yang biasa dia lakukan juga Nila tertidur tanpa baca doa dan dengan posisi marah.
Karena tidur kemalaman, Nila bangun sampai dibangunin Bunga. Bahkan Bunga gedor- gedor pintu dan semua hampit panik karena Nila malah mengunci pintu dari dalam tidak mau kamarnya dirias atau dijadikan tempat merias.
Bangun juga Nila masih dengan posisi lesu. Nila bangun langsung sholat dan ditunggu Bunga.
“Ayo buru mandi, sarapan, MUAnya udah siap!” tutur Bunga memburu.
Nila masih memakai mukena bakda sholat malah duduk cemberut.
“Hei… ayo. Buruan!” ucap Bunga lagi.
Bahkan Bunga yang siap jadi pengiring sudah mandi walau belum dimake up.
“Acaranya jam berapa sih? Aku masih ngantuk. Kok pagi banget MUAnya udah sampai!” jawab Nila malas
“Haish… lihat Nila ini jam berapa? Pengantin itu biasanya sebelum subuh harus udah siap- siap! Dandanin pengantin kan lama. Untung kamu nggak pakai riasan sanggul atau adat, insya Alloh nggak pakai lama. Buru!” ucap Bunga lagi.
"Ck...," decak Nila.
"Kamu mau nikah nggak sih?" tanya Bunga lagi.
"Iya!" jawab Nila. "Nila mandi Kak. Kak Bunga kalau mau turun turun duluan aja!" jawab Nila.
"Nggak. Kakak tunggu kamu. Biar cepet!" jawab Bunga.
__ADS_1
Nila pun dengan malas membuka mukenahnya, lalu masuk ke kamar mandi dan mandi.
Tidak lama Nila keluar dari kamar mandi dan Bersama Bunga mereka turun ke ruang rias di lantai bawah.
“Gleg!” seketika itu Nila menelan ludahnya begitu keluar lift.
Di ruang keluarga yang luas sudah disulap menjadi ruang make up. Buna, Ummi, juga kedua saudara iparnya sudah duduk menghadap kaca dan memasrahkan wajahnya dilukis oleh sang Ahli. Satu hal yang membuat Nila tercengang.
Bahkan Rendi duduk rapi memakai kemeja, begitu segar. Karena tidak di hotel Rendi ikut bergabung menunggu pengantinya gemas karena dengar ribut- ribut Nila belum bangun.
Nila pun menyeringai, malu karena turun terakhir padahal yang lain sudah cantik.
“Akhirnya turun juga, gimana sih ini, pengantinya malah belum siap!” ucap Aisyah, sudah selesai didandani. Aisyah punya bayi jadi dia hanya minta polesan sedikit tidak mau yang ribet.
“Maaf…, he...” jawab Nila menunduk tersipu. Tapi mata Nila sempat melirik ke Rendi dan tepat saat itu Rendi juga sedang memperhatikanya, seperti lirikan tajam siap memberi pelajaran seperti kesal. Sampai Nila tidak berani menatap. Nila berniat menyapa mertua dan iparnya tapi langsung didekati MUA.
“Sini… sini…,” ucap MUA utamanya baru selesai memakaikan hijab Buna. Mengajak Nila duduk di tempat khusus.
“Tidur jam berapa sih Nduk?” tanya Buna juga sudah selesai didandani.
Nila melirik ke Rendi yang kemudian berdiri bersedekap menatapnya terus. Sepertinya Rendi ingin cepat melihat Nila siap.
“Lupa, Buna. Maaf kesiangan!” jawab Nila.
“Nak Rendi udah datang dari tadi lho! Ini sama Ummi juga!" ucap Buna.
"Maaf, Bun!" ucap Nila.
"Menghadap ke depan ya Kak! Dibuka ya hijabnya?" sahut MUA membetulkan Nila.
__ADS_1
"Ya udah Buna ke depan ya!” ucap Buna pamit tidak mau mengganggu. Buna melewati Rendi dan menepuk lengan Rendi lembut.
Begitu Buna pergi, Rendi mendekat ke Nila.
"Kamudah sarapan belum Dhek? Sarapan dulu kali Bu,!" ucap Rendi tiba- tiba nyeplos memberikan perhatian ke Nila meminta ijin ke MUA.
"Oh iya. Benar!" jawab MUA jadi menunda. Sementara Nila malah hanya menyeringai masih merasa gugup dan bingung.
"Ecieee....," Bunga pun mendadak melirik ke Nila akhirnya lihat Rendi perhatian. "Belum Pak. Baru bangun banget!" jawab Bunga.
"Ambilkan makan dulu Kak!" jawab Fatma menyahut menoleh ke Aisyah.
"Biar Mas aja." sahut Rendi perhatian meminta mengambilkan.
"Eh... Nggak masa udah ganteng mau ke dapur. Saya aja Pak!" jawab Bunga.
"Nggak apa- apa!" jawab Rendi
"Biarin!" jawab Fatma.
Rendi pun bergegas mengambilkan makanan. Tidak lama. Rendi balik membawa sarapan.
"Suapin nggak?" celetuk Rendi tanpa malu.
Tapi Nila tengak tengok dan malu. "Makan sendiri, Mas ngapain di sini? Sana ke bapak- bapak!" jawab Nila malah mengusir padahal semalaman Nila nyariin Rendi.
MUA Nila pun senyum senyum karena denger.
"Iya Mbak. Disuapin aja. Biar dicicil saya yaa!" jawab MUA sudah memegang make up yang siap disemprotkan
__ADS_1
Nila tidak bisa menolak dan hanya menelan ludahnya. Hingga mau tidak mau sambil dirias Nila disuapi Rendi. Sementara Aisyah dan Fatma hanya berdehem lalu keluar.
Bunga pun tidak mau melihat apalagi mengganggu. Bunga memilih fokus minta dimake up.