Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Sedikit Nakal.


__ADS_3

Matahari bersinar terang, karena masih pagi tak terlalu terik, akan tetapi memberikan sinar terang, hingga bunga dan dedaunan bisa menyajikan keindahan yang paripurna. Ya mereka seakan ikut Bahagia, menyertai acara hikmat di halaman rumah Baba, sederhana, namun tetap berkelas dan hikmat.


Bukan hanya Rendi yang menitikan air mata bahagia. Akan tetapi lebih dalam bagi seorang ibu, yang siang dan malamnya dan di setiap hembusan nafasnya, mengharap, merintih dan berdoa untuk kebaikan anaknya. Ya dia yang selalu mengkhawatirkan Rendi, yang paling banyak menyebut nama Rendi dan memintaakan kebahagiaan Rendi di setiap sujud dan isaknya saat terbangun tengah malam, kini seakan terbayar, semua keinginan Ummi terkabul.


Walau tak tersorot kamera, sejak melihat dekorasi indah di rumah Baba, hati Ummi langsung bergetar, dan begitu Nila keluar, menapakan kakinya anggun, mengenakan busana gaun berenda bertaburan mutiara, tidak bercorak berlebihan namun elegan dan berkelas. Wajah Nila pun tampak jelita, mengenakan jilbab dengan riasan mahkota berkilau berlian indah bak putri raja. Ummi tak kuasa menitikan air mata.


Jika Rendi hanya sedikit terisak dan segera memijat pangkal matanya juga mengelap air matanya, tak mau malu dan kehilangan kegagahanya, Ummi sampai sesenggukan dan meminta tissue. Ummi tidak malu kanan kirinya melihatnya sesenggukan menangis bahagia.


Ya. Ummi sangat Bahagia melihat Rendi dan Nila kini benar- benar duduk bersanding menghadap ke penghulu, dan di depanya di hadapkan semua berkas pencatatan sipil. Rendi tidak lagi terombang ambing dalam kesendirian. Ummi tidak lagi khawatir Rendi salah memilih ibu yang mengandung keturunan keluarga mereka.


Setelah Nila dan Rendi bersanding, Bunga dan Jingga ikut duduk di bangku yang tersedia bersiap mengikuti rangkaian acara dengan hikmat. Baba dan saksi- saksi pun merapat mendekat.


Nila dan Rendi yang sudah berdampingan, pemilik hari bahagia yang raja dan ratu di hari itu pun mematuhi tuntunan Petugas KUA. Acara demi acara dimulai hingga tiba waktu mereka tanda tangan di beberapa bagian yang dimintakan KUA.


Kedua lisan Nila dan Rendi pun mengucap lirih bismillah di setiap hendak menggerakan ballpoint di tanganya. Hingga hitam di atas putih yang menjadi bukti sakral perjanjian mereka dan Tuhan juga sebagai senjata di mata hukum negara pun tertoreh.


Setelah Nila dan Rendi, sekarang petugas KUA giliran menyodorkan ballpoint dan beberapa berkas ke Baba.


“Gleg!”


Sayangnya tiba- tiba, Baba yang sedari tadi duduk tenang mengikuti semua proses dengan gagah, tiba- tiba menegang dan pandanganya kosong. Bukanya menandatangani berkas, Baba malah mematung beberapa saat, hingga Nila dan Rendi sempat menegang saling pandang.


“Tuan Ardi Gunawijaya?” panggil pihak KUA mengira Baba melamun.


Saksi saksi dan para hadirin ikut panik dan penasaran menatap Baba semua.


“Ya…” jawab Baba tegas ternyata Baba masih sangat sadar.


“Anda baik- baik saja?” tanya Penghulu memastikan.


“Baik!” jawab Baba tegas.


Saksi- saksi dan hadirin menghela nafas Baba tidak ada masalah, tapi mereka jadi tegang menyimak.


“Ehm…,” Rendi jadi berdehem menunduk, Nila yang mendadak berubah menjadi barbie hidup juga menatap Baba dengan tatapan penuh khawatir, Baba tidak akan membuat masalah kan?


“Silahkan ditandatangani!” ucap penghulu sopan.


Baba masih tidak segera mengambil ballpoint, tapi menatap Nila dan Rendi, hingga semua jadi tambah tegang lagi dan seketika itu tiba- tiba, wajah Baba yang kaku mendadak bergetar, mata Baba memerah, Baba pun tersedak menahan air mata, hingga akhirnya Baba terisak meneteskan air mata.


“Baba…,” lirih Nila tambah khawatir menatap Babanya.


Sementara Rendi jadi bingung, yang lain pun jadi ikut bingung dan menegang bahkan Buna tampak panik dan menurunkan Uung dari pangkuanya hendak berdiri mendekat, tapi terhenti.


Sebab Pak Penghulu tetap professional dan memberikan tissue ke Baba. Akan tetapi rupanya Baba masih bersikap Gagah, Baba menolak dan berusaha meneguhkan dirinya sendiri menegakan kepalanya menahan isak.

__ADS_1


“Sebelum tanda tangan, saya titip pesan demi putriku?” ucap Baba meminta sembari terisak.


Rendi mengangguk mantap, lalu Dokter Gery, Pak Menteri sekaligus sahabat dan Kakak tiri juga saksi sigap memberikan mic untuk Baba.


Pak Dhe Farid, Kakak sepupu Rendi, sebagai saksi dari pihak Rendi yang merupakan sahabat Baba juga seorang professor, pemilik universitas swasta juga ikut mengangguk mempersilahkan.


"Dengarkan Rend!" bisiknya Pak Dhe Farid ke Rendi.


Baba memijat pangkal kedua matanya sebentar dan menetralkan nafas, sembari menahan isakan, Baba meraih mic dan mulai membuka suara.


“Nila adalah putriku yang manis," ucap Baba terjeda menahan air mata yang hendak keluar.


"Nila adalah putriku yang hatinya sangat tulus. Dia pandai memasak dia juga pandai menenangkan Bapaknya dan sangat lembut. Aku sangat menyayanginya melebihi hidupku sendiri,” tutur Baba memaksa berbicara walau terisak, air matanya tetap menetes walau dia sudah tahan.


Hingga semua termenung mendengarkan Baba dan ikut merasakan apa yang Baba rasa.


Rendi dan Nila pun tercekat, dadanya bergetar menatap Baba dengan rasa haru.


“Aku nikahkan putriku yang aku sayangi ini denganmu, Rendi Akbar Maulana,” lanjut Baba walau terisak tetap melanjutkan bicara.


“Aku tahu dia mencintaimu, bahkan dia merelakan waktu mudanya untukmu. Setelah ini, kuasaku jatuh lebih rendah dibanding dirimu terhadapnya. Dia akan ikut denganmu, dia akan menghabiskan waktunya, bersamamu. Saat bersamamu tolong, tolong, sayangi dia, jangan pernah sakiti,” tutur Baba kali ini benar- benar sesenggukan.


Entah karena Baba sudah tua atau bagaiamna Baba jadi melankolis begini, Jingga pun mencebik. Sebab saat nikahan Jingga Baba tak sealay ini. Akan tetapi yang lain tetap diam mendengarkan bahkan pengiring Rendi ikut terisak. Oma juga termenung tak bisa bicara.


Rendi spontan mengangguk, mau menjawab Iya tapi mendadak suaranya serak tercekat karena haru.


“Kamu harus ingat, satu tetes air mata putriku, itu adalah satu sayatan untukku, jika kamu menyakitinya, kamu akan berhadapan denganku. Jika dia salah, tegurlah dia dengan baik. Bimbing dia lebih baik dari bimbinganku. Jika dia tidak membuatmu ridzo dan membuatmu Bahagia, beritahu dia dengan cara yang baik, kalaupun kamu tak sanggup menghadapinya, kembalikan padaku!” lanjut Baba sekarang tanpa terbata tanpa air mata dengan lancar keluar pesan yang banyak ke Rendi.


Rendi masih mengangguk mau menjawab, tapu rupanya Baba masih punya permintaan.


“Ada banyak mimpi masa depan Nila yang aku tidak bisa menunaikanya, hari ini aku gantungkan di pundakmu, tolong jangan kubur mimpinya! Wujudkan mimpinya!” tutur Baba menutup permintaanya.


“Insya Alloh, Ba. Di hadapan Baba orang tua saya, serta saudara dan semua undangan. Saya terima permintaan Baba!” jawab Rendi setelah terjeda waktu akhirnya bisa menjawab dengan mantap dan tegas.


Baba pun menjabat tangan Rendi mantap. Baba sekarang merasa lega, hingga Baba dan yang lain ikut menghela nafas.


Nila menunduk terharu, bingung mau bagaimana mengungkapkan bahagianya, matanya sudah memerah sangat ingin menangis, tapi terus dia tahan, karena riasan di matanya terasa begitu mengganjal. Nila juga tidak mau ribet.


Sepersekian detik Baba pun menandatangani berkas yang diajukan pihak KUA, pihak KUA pun melanjutkan tugasnya, hingga semua rangkaian acara syukuran, juga pencatatan sipil pernikahan Nila Rendi berjalan lancar.


Kini Nila dan Rendi sudah sah secara agama ataupun negara, menjadi suami istri yang diharapkan hanya maut yang memisahkan dan tibalah pesta.


Sebelum pesta tentu saja dipanjatkan doa, dari ustad pengiring Rendi yang baru tiba siang tadi. Lalu ada sambutan dari pihak Baba yang disampaikan oleh Om Dino sekertaris setia Baba, dari pihak Rendi diwakilkan oleh salah satu Ustad di pesantren Abah juga.


Setelah itu dilanjut acara sesi foto, didahului foto berdua. Foto Bersama keluarga inti, keluarga besar juga kerabat lain. Karena pesertanya sangat sedikit terbatas bahkan tidak lebih dari 100 orang semua kebagian foto, termasuk pihak WO dan catering dan semua berjalan cepat, tidak seperti saat acara Jingga, tamunya begitu banyak jadi tidak semua berkesempatan foto.

__ADS_1


Sayangnya teman kuliah Nila tidak ada yang datang, tapi teman pondok tentu saja ada. Meski begitu dosen Nila sekaligus teman Rendi ada yang datang, intinya pihak kampus sudah tahu, Rendi dan Nila adalah suami istri.


Nila pun sangat malu saat para dosen yang dia segani mendekat memberikan ucapan selamat tepat di depanya.


“Ini yang seleksi masuknya nilainya 100 bukan ya?” tanya Rektor Nila menggoda.


Nila hanya tersenyum menunduk malu pipinya yang diblash on lembut jadi tambah merah.


“Iya, Prof! Makanya Pak Rendi semangat banget, kroscek tiap hari mantau angkatan baru!” sambung Dokter Santi bercanda menyindir, padahal mereka berdiri di pelaminan. Untung pelaminanya bukan dibuat panggung.


“Wah pantes, diajarin terus pasti sama suhu, abis ini belajar yang lain ya, harus ada peningkatan belajarnya!” gurau Prof Hendra mengerlingkan mata ke Rendi.


“Siap senior…,” jawab Rendi sembari senyam senyum, sementara si manis Nila sama sekali tak menjawab dan hanya tersipu malu. Mereka pun foto Bersama.


Setelah itu pihak WO yang sudah menggandeng aktris Ibukota, yang juga digandeng oleh perusahaan Baba di beberapa event siap menyajikan lagu.


Artis yang diundang sengaja oleh Baba didatangkan akhir sehingga saat musik dinyalakan dan artis memulai menyajikan suaranya semua kager menoleh, bahkan tanpa Nila duga Baba juga mengundang vokalis luar negeri yang Baba suka.


Kesukaan Nila apa, tidak ada yang tahu jadi Baba mengundang yang Baba suka tidak peduli anaknya suka atau tidak. Yang pasti berbeda saat resepsi Jingga di hotel yang ramai Baba jaga image, kali ini karena di rumah Baba naik ke panggung dan bernyanyi.


Suasana yang tadinya haru berubah jadi gedek- gedek kepala tidak menyangka Baba berdiri menyambut penyanyi itu. Akan tetapi rupanya suara Baba bagus juga. Hingga semua terkesima dengan suara Baba.


Sembari menikmati suara Baba yang berduet dengan artis, ternyata pihak fotografer masih meminta Rendi dan Nila untuk take foto lagi.


Bahkan mereka meninggalkan tempat acara demi mendapatkan pemandangan bagus di setiap sudut rumah Baba. Mereka kan belum ada foto prewedd, jadi mereka foto Postwedding.


“Jangan terlalu kalem, nakal sedikit!” bisik Rendi mengulurkan tangan meminta Nila menggandengnya.


“Huh?” pekik Nila mendongakan kepala menatap Rendi.


“Ayolah." ucap Rendi dengan menganggukan kepala meminta Nila cepat menyambut tanganya.


Nila masih sempat toleh kanan kiri, Rendi pun geram dan langsung meraih tangan Nila agar dia gandeng.


"Kamu mahasiswa. Lihatlah di Instagram dan teman- temanmu, jangan kalem terus. Sedikit lebih nakal!” ucap Rendi lagi sembari berjalan.


Nila pun mendadak menarik matanya ke dalam dan memanyunkan bibir menatap suaminya.


“Gimana sih? Baru tadi bersedia menerima permintaan Baba, kok sekarang malah ajarin Nila nakal sih?” tanya Nila dengan polosnya.


“Haish…” desis Rendi geram, maksud Rendi terhadap Rendi tidak usah malu- malu untuk berpose mesra, bukan nakal yang lain.


"Udah... pegang tangan Mas. Jalannya hati- hati. Ikuti perintah tukang foto ya!" ucap Rendi sedikit meninggi karena geram ke Nila.


"Ish!" Nila hanya mencebik masih tidak sadar mau Rendi.

__ADS_1


__ADS_2