Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Nila kamu sama Siapa?


__ADS_3

Vio sudah tidur, Iya dan Iyu juga sudah masuk ke kamarnya masing- masing. Oma juga sudah diantar suster istirahat di kamarnya. Sementara Baba, yang waktu awal malamnya dihabiskan untuk ibadah bersama Oma, terpaksa harus lembur, memeriksa sebagian tugas kantor yang masih Baba pegang.


Buna jadi sendirian, Buna hendak memejamkan matanya, tapi Hati Buna gelisah, walau sudah terpejam, tetap masih terjaga.


“Hh.. aku kok kepikiran Nila, tumben banget anak- anak, ditelpon nggak pada angkat, di wa juga nggak di balas?” gumam Buna ternyata kepikiran Nila.


Buna kemudian menelpon Nila lagi. Buna pikir, Nila kan single, nggak apa- apa bangunin malam- malam, kalau telpon Jingga mungkin sedang beribadah bersama Adip atau menyusui Dipta.


****


Di rumah Jingga.


“Hooh, Kenapa dia malah tidur?” gerutu Nila syok, begitu masuk ke kamar mendapati Rendi tidur dengan pulasnya, memenuhi kasur karena merebahkan tubuhnya melintang tepat di tengah kasur.


“Hhhh gimana inih?” gumam Nila memilin jarinya sembari memandang tubuh tinggi tegap lelaki matang yang mendengkur keras itu.


“Mana keras banget dengkurnya? Kok cepet banget sih tidurnya? Kamar siapa juga? Pede banget asal tidur!” gumam Nila kesal.


“Dia tidur beneran, kaan?” gumam Nila mendekat dan memeriksa.


Seketika itu, saat Nila mendekat, melihat dengan jelas, tubuh yang biasa bergerak dengan membawa wibawa di depan kelas, kinu tak berdaya karena sedang tidur. Hal itu membuat pipi Nila memanas.


“Aku tidak salah kan? Jika memaafkanya? Dia suamiku?” batin Nila malah memandangi wajah Rendi.


Wajah Rendi jadi lucu, walau hampir tidak ada komedo atau pori- pori, Nila bisa detail melihat setiap inci wajah Rendi.


Bahkan sekarang Nila bisa melihat sisi terjelek tampang Rendi. Dari dulu, Nila kan hanya memandangi wajah tampan Rendi saat berkunjung pd kate Jingga dari kejauhan.


Nila jadi tersenyum sendiri. Mungkin dari ratusan siswa Rendi, hanya Nila, mahasiswa yang tahu bagaimana Rendi yang dikatai mahasiswi tampan, kini lucu sekali tidur melongo.


“Kayanya lucu kalau aku foto? Hihi!” Nila kepikiran mengambil ponselnya.


“Astaghfirulloh, kan tadi waktu Buna telpon mati? Belum aku charge?” gumam Nila baru ingat. Ternyata selain liat jam, saat Rendi hendak pegang tangan Nila, malah Nila masukin tangan ke tas ambil ponsel karena ponsel bergetar ditelpon Buna.


Nila kemudian mengambil ponselnya dan mencharge dengan charger Jingga.


Niatemfoto Rendi jadi hilang teralihkan dengan ingatan Nila akan telpon Buna. "Buna ada apa ya telpon aku?" gumam Nila.


Nila pun menyalakan ponselnya walau sambil dicharge. Walau belum bisa untuk telpn balik, setidaknua kalau ada pesan masuk bisa dibaca.


Sembari mencharge, Nila berfikir bagaimana membangunkan Rendi.


“Ish..., masa aku harus tidur di sini sama dia? Nggak, nggak? Aku belum siap," gumam Nila


"Baba, Buna pasti marah? Tapi dia suamiku? Ahh.. gimana ini?” gumam Nila lagi, walau 3 tahun menjadi menantu di rumah Abah Yusuf, tapi kan Nila tidak pernah kumpul bersama Rendi


Nila menunaikan kewajiban sebatas menyiapkan kamar, mengurus pakaian Rendi yang ditinggalkan di keranjang kotor saat Rendi pulang tanpa menemui Nila. Nila baru sekarang bersama Rendi. Nila jadi canggung dan kikuk seperti anak lulusan MA lainya.


"Aku bangunkan apa biarin kasian juga kalau disuruh pulang? Udah malam. Aku panggil Bang Adip aja kali ya?" gumam Nila mau minta tolong cari solusi.


Nila kemudian keluar kamar dan berniat minta tolong Adip. Walau di kota, karena ada anak bayi, juga penghuni rumah berlatar belakang orang kampung, rumah sudah sepi. Saat Nila sampai kamar Jingga, pintunya pun tertutup, bahkan nyala lampu sudah tidak ada lagi.


“Hhh…,” Nila pun menghela nafasnya lemas, Bang Adip sepertinya sudah tidur.


Nila kembali ke kamarnya.


“Jahat nggak ya? Kalau aku suruh dia pulang? Masa aku harus tidur sama dia? Oh iya dia juga belum Isyaan kan?" gumam Nila.


Nila kemudian memberanikan diri menyentuh Rendi. Pelan- pelan Nila menggoyangkan kakinya. Sayangnya bukan bangun, Rendi hanya menggeliat, walau dengkuranya berhenti sejenak.

__ADS_1


“Mas.. bangun!” ucap Nila berusaha.


"Hmmm," dehem Nila gagal


Menggoyangkan kakinya tidak bangun Nila berinisiatif menepuk pipi Rendi. Tangan gemetar, karena dia tidak pernah menyentuh pria apalagi bagian wajahnya. Terlebih pria yang dia kagumi ini.


"Puk!" karena dheg- dhegan, seharusnya menepuk keras tapi malah lembut. Tentu saja Rendi tidak bangun, yang ada Nila malah jadi panas dingin sendiri.


"Aish...," desis Nila kesal sendiri. Ternyata jatuh cinta semenyebalkan ini.


Saat Nila menrutuki diri sendiri, telepon Nila berbunyi.


"Huh...Buna?" gumam Nila menebak itu Buna.


Nila pun bergegas mengambil telepon yang terhubung ke stopkontan di dekat kasur. Benar Buna yang telepon.


Buna langsung tanya kenapa teleponya mati.


"Tadi lowbat Bun! Maaf!"


"Oh ya udah nggak apa- apa. Udah dicharge kan?"


"Udah Bun! Oh ya Buna telepon ada apa?"


"Buna sama Om om kecil kangen Baby Dipta. Lagi apa dia?"


"Oh. Dipta udah tidur Bun!"


"Kakakmu mana?" tanya Buna lagi.


"Di kamarnya?"


"Lho kalian nggak bareng?"


"Ya udah besok aja!" jawab Buna.


"Ya Bun!" jawab Nila.


Buna pun mengucapkan selamat tidur. Sayangnya, Rendi yang sempat menutup mulut dengkurnya berhenti, kini berdengkur lagi. Mau tidak mau Buna jadi dengar, apalagi Nila duduk.sangat dekat.


"Aish..," desis Nila kaget.


"Nila.. siapa yang ngorok?" tanya Buna panik


"Gleg!" Nila langsung mematikan ponselnya.


"Haduh...kenapa bersuara lagi sih?" gumam Nila kesal, karena emosi Nila jadi hilang takutnya dan spontan mendekat ke Rendi tanpa canggung menutup mulut Rendi.


"Iih jangan ngorok!" keluh Nila


Kali ini Rendi yang terbekap jadi bangun betulan bangkan respon reflek tubuh Rendi, tanganya langsung memgang tangan Nila.


"Huh." pekik Nila tersadar. Kini mereka berhadapan sangat dekat di atas kasur.


Rendi juga terhenyak kaget menyadari dirinya ketiduran.


Nila pun menarik tanganya. "Mas Bangun!"


Bukannya bangun, Rendi malah tersenyum melihat Nila ada di dekatnya sangat dekat.

__ADS_1


"Kamu sedang apa? Pegang- pegang aku ya?"


"Ish.. ck. Bangun Mas. Jangan tidur di sini! Sana pulang!"


"Hoam... aku ngantuk banget!" jawab Rendi malah menguap.


"Ya tapi jangan tidur di sini!"


"Kenapa memangnya?"


"Ya aku nggak mau?" jawab Nila cemberut.


Melihat itu Rendi jadi tertawa, Rendi malah memiringkan tubuhnya dan bertopang dagu menatap Nila.


"Kan kita suami istri. Nggak apa- apa kita tidur bareng!" jawab Rendi.


"Ish...,Nggak boleh," Nila bergidik ngeri, Nila masih merasa seperti sebelumnya, menjadi istri yang hanya status, juga LDR dan fokus sekolah.


"Kenapa nggak boleh?" ledek Rendi lagi.


"Ingat, kita selesaikan dulu sama Baba, Oma dan Buna!" jawab Nila.


"Ya nggak apa- apa. Besok kita selesaikan. Kan cuma tidur. Emang kita mau ngapain sih? Nggak, nggak apa- apa!" rayu Rendi lagi.


Dirayu begitu, Nila hanya mendesis tiba- tiba ponsel Nila bunyi lagi. Rupanya Buna masih penasaran.


Nila jadi melotot bingung. Sementara Rendi nyengir penasaran.


"Buna telpon angkat!"


"Nggak!"


"Kenapa? Mas yang angkat ya!"


"Jangan!"


"Kenapa emangnya?"


"Buna nggak boleh tahu kita bareng!"


"Ck.. kapan masalahnya selesai kalau kita sembunyi? Kita nggak salah kok!" jawab Rendu nekat ambil ponsel Nila.


Melihat Rendi ambil ponsel, Nila pun mencegah


"Mas jangan!" ucap Nila merebut.


"Kenapa sayang? Nggak apa- apa, kita angkat telepon Buna!" jawan Rendi.


"Enggak!" jawab Nila menyembunyikan, mereka berdua malah berebut ponsel seperti anak kecil hinggat tanpa sengaja, tangan Rendi melingkar dan memeluk Nila.


"Gleg" saat menyadari tubuh mereka bersentuhan, Nila langsung menelan ludahnya dan menjatuhkan ponselnya, Nila berniat mundur, menguraikan lingkaran tangan Rendi. Sayangnya Nila malah mentok dan tersandar di tumpukan bantal dan boneka.


Rendi pun tersenyum tidak membuang kesempatan. Dia malah semakin mendekatkan wajahnya.


"Mas!" pekik Nila memalingkan wajahnya.


****


"Nilaa..." pekik Buna kaget. Ternyata saat mengambil ponsel dari charger, Rendi sudah menyentuh layar jawab. Di balik telepon sana, Buna mendengar semuanya. Kuping Buna langsung memanas mendengar putri polosnya bermesra di kamar bersama pria.

__ADS_1


"Nila kamu sama siapa?" tanya Buna sedikit membentak.


Sayangnya Buna terabaikan bahkan karena Nila chargenya baru sebentar. Telepon kembali mati.


__ADS_2