
Walau mempunyai hati yang dingin dan sedikit jutek, akan tetapi sebagai anak Ummi, Rendi tetap mematuhi batasan mengenai pergaulan apalagi yang menyangkut dosa. Rendi segera menarik tanganya.
Vallen yang merasa dulu diperlakukan sangat spesial juga terbiasa hidup di luar negeri bergaul dengan banyak orang dan agama pun kaget dan tercengang. Kenapa Rendi masih tetap kolot begitu pikir Vallen.
“Maaf..., kenapa kamu menarik tanganmu? Bukankah kata Axel kamu masih sendiri? Bukankah itu karena kamu masih belum bisa menemukan penggantiku?” tanya Vallen.
Rendi langsung menunduk dan membuang mukanya. Dia tidak tahu dengan pasti bagaimana perasaanya terhadap Nila, yang jika dia pikir secara rasional itu membuatnya gengsi dan malu. Akan tetapi hati Rendi sekarang terpaut pada Nila.
Dia terus dikejar rasa bersalah oleh pukulan Om Farid, Abinya, Tuan Ardi juga orang tuanya karena dia sudah membuat Nila menangis. Rendi juga merasa asing dan jijik ke Vallen.
“Aku sudah beristri!” jawab Rendi cepat dan lirih.
“What?” pekik Vallen kaget.
“Ehm...,” Rendi pun berdehem tidak nyaman, hatinya sebenarnya sedang limbung dengan perkataannya, karena nasib rumah tangganya juga di ujung tanduk. Tapi Rendi tidak ingin melakukan salah yang sama. Dia pun mantap mengatakan sudah beristri.
“Kenapa Axel bilang kamu masih sendiri? Kapan kamu menikah? Aku minta maaf! Tidak tahu,” jawab Vallen cepat, wajahnya pun langsung murung dan menampakan kekesalan.
Rendi menelan ludahnya karena memang Rendi malu memberitahu teman- temanya kalau dia menikahi anak kecil.
“Aku memang belum mempublikasikan pernikahanku. Aku dijodohkan, istriku juga tinggal di pesantren bersama orang tuaku!” jawab Rendi lagi.
“Oh begitu!” jawab Vallen tersendat rasanya sangat sakit, dia sudah sangat percaya diri kembali mendapatkan cinta dari cinta pertamnya.
“Bagaimana kabarmu? Bukankah aku dengar juga, kamu sudah menikah?” tanya Rendi berbosa basi, mengaburkan kecanggungan.
Usia mereka kan sudah dewasa bahkan sudah dibilang tua. Mereka juga tidak berhubungan sudah bertahun- tahun. Harusnya mereka memang sudah mempunyai anak.
“Aku baik. Aku bercerai dengan suamiku!” jawab Vallen cepat.
“Oh,” jawab Rendi mengangguk.
“Aku juga dijodohkan, tidak ada kecocokan di antara kita, aku tidak mencintainya Ren!” jawab Vallen cepat, seakan memberi tahu Rendi, kalau menikah karena perjodohan tidak akan berjalan baik, dan Vallen juga masih mencintai Rendi.
"Oh. Aku ikut prihatin mendengarnya!" ucap Rendi singkat.
Rendi hanya menelan ludahnya. Namun tak ada sedikitpun simpati di hatinya, pikiran Rendi justru kacau dan gelisah, takut Nila sudah datang. Bukanya menanggapi Vallen lagi, Rendi justru mengedarkan pandanganya takut Nila sudah datang.
Sayangnya taka ada batang hidung gadis mungil dan manis yang beberapa hari ini cukup memukul hatinya dalam rasa bersalah.
Vallen sensitif karena dicueki Rendi dan Rendi justru tampak gelisah melihat ke kanan dan kiri.
“Apa kamu sedang menunggu seseorang?” tanya Vallen.
“Ya... istriku, mau ke sini. Aku akan mengenalkanmu padanya!” jawab Rendi.
Mendengar ucapan Rendi dengan mantap mengatakan kata istriku, Vallen semakin padam. Vallen pun menelan ludahnya getir karena sudah tidak tahu malu dan kegeeran, meski begitu dia memaksa tersenyum.
“Oh... jadi dia mau datang?”
“Iya!”
__ADS_1
“Maaf ya, aku ganggu! Ya sudah aku pergi saja!” jawab Vallen.
“Tidak mau menunggu dan berkenalan denganya?” tanya Rendi.
“Mungkin lain waktu ya? tapi tidak sekarang!”
“Oke!” jawab Rendi.
“Aku pamit ya, maaf!” tutur Vallen dengan elegan.
Rendi hanya mengangguk tersenyum. Vallen yang diliputi rasa sakit terpaksa ambil langkah mundur.
“Semoga pernikahanmu bahagia!” tutur Vallen lagi.
“Terima kasih!” jawan Rendi.
Vallen pun pergi membawa luka.
Sementara Rendi tidak beranjak, karena tadi dia sudah mengirim foto meja tempat dia duduk.
“Hhhh...” Rendi hanya menghela nafasnya dan mengetuk- ngetuk meja membuang gelisah. Rendi pun kembali mengawasi sekitar terutama pintu masuk ke kafe itu. Sayangnya yang berkunjung di kafe itu masih dengan banyak orang yang tidak mengenakan hijab.
“Hampir saja aku buat masalah lagi,” gumam Rendi khawatir.
Rendi melihat jam tanganya. Waktu yang mereka janjikan dengan Nila masih kurang 5 menit, Rendi pun menenangkan hatinya kalau Nila memang belum datang.
Rendi kemudian memesan minum untuk menemaninya menunggu Nila.
****
Nila yang disupiri Adip, juga berangkat cepat. Jingga pernah cerita kalau Rendi sangat disiplin. Ummi dan Abah juga memang sangat menghargai waktu.
Jadi Nila berniat tidak mau membuat Rendi menunggu. Dan benar saja, Rendi sudah tiba lebih awal.
Akan tetapi langkah Nila terhenti, saat melihat suaminya duduk di meja berdua dengan perempuan cantik dan juga tampak matang. Apalagi saat Nila melihat tangan Perempuan itu terulur meraih tangan Rendi.
Nila memang tidak mendengar dan tidak melihat yakin bagaimana ekspresi Rendi. Tapi Nila melihat meja itu meja yang Rendi tunjukan. Rambut, kemeja, kuping juga sebagian wajah Rendi Nila hafal. Itu memang suaminya. Hati Nila terbakar, dan memaksa kakinya untuk berhenti.
Tidak ingin mendengar apa yang mereka bicarakan karena hati Nila yang dipenuhi kebimbangan, ditambah mendapati pemandangan ini membuatnya berasumsi sendiri.
“Terima kasih, ya Alloh, ternyata ini jawaban dari istikhorohku? Kenapa rasanya sesakit ini? kenapa semalam aku begitu yakin untuk berupaya damai dan mencoba dari awal? Baba ayahku, Kak Jingga kakakku, mereka tidak akan pernah salah.” batin Nila meneteskan air matanya, merasa menyesal datang ke situ.
Nila pun berbalik arah berlajan cepat ke arah kamar mandi dimana tadi Jingga dan Bang Adip pergi.
“Nila...,” pekik Bang Adip mendapati Nila celingukan di depan area kamar mandi dan mushola kafe.
“Kak Jingga mana Bang?” tanya Nila ke Adip uang duduk di depan tempat sholat.
Area toilet cowok dan cewek yang berbeda.
“Di kamar mandi, nggak keluar- keluar, Bang Adip mau nyamperin takut di demo orang- orang! Coba tolong liatin, Bang Adip khawatir,” jawab Adip.
__ADS_1
“Iya Bang!”
“Eh, tapi kamu emang udah selesai ketemu Pak Rendi?” tanya Adip.
“Udah!” jawab Nila singkat dan tersenyum.
“Cepet amat ketemunya?” tanya Rendi.
"Iyah!" jawab Nila.
Nila tidak menanggapi Adip abangnya, dia pun masuk ke toilet area perempuan mencari Jingga.
Nila ketok satu persatu toilet.
“Kaak Jingga!” panggil Nila.
“Nilaa...!” jawab Jingga cepat dan terdengar panik.
“Iya Kak , ini Nila. Kakak kok nggak keluar- keluar. Kakak baik- baik aja kan?” tanya Nila .
Jingga pun segera membuka pintu.
“Untung kamu datang, La.. tolong Kakak!” ucap Jingga.
“Kakak kenapa?” tanya Nila syok, gamis yang dikenakan Jingga tampak basah itu sebabnya Jingga bingung mau keluar kamar mandi, malu.
“Kayaknya ketuban kakak pecah, hp Kakak di tas di pegang Bang Adip. Kasih tau Bang Adip suruh beli baju sama pampers. Kita ke rumah sakit!” ucap Jingga paham akan keadaan dirinya.
“Tapi kakak nggak apa- apa?” tanya Nila lagi.
“Insya Alloh nggak apa- apa, makanya cepet kasih tahu, Bang Adip ya.kakak malu keluar basah begini? Bau juga!” jawab Jingga. "Airnya juga kaya merembes terus!" sambung Jingga panik.
Nila ikut panik melihat Jingga.
Nila pun mengangguk mengikuti pesan kakaknya untuk memmberi kabar Bang Adip.
Begitu mendengar kabar istrinya, Adip langsung sigap, dan untungnya, Adip memang sudah menyimpan baju dan alat mandi cadangan di bagasi mobilnya.
Mengesampingkan niat awal menemui Rendi mereka menuju ke rumah sakit.
****
“Udah satu jam, kok dia nggak datang?” gumam Rendi dengan mukanya yang kacau. Untuk pertama kalinya, Rendi mengalah menunggu seseorang bahkan sampai satu jam.
Seluruh tubuhnya terasa kelu, bahkan dia sudah menghabiskan tiga gelas minuman. Jadwal mengajar dia yang sudah dimundurkan juga sudah semakin dekat.
“Apa dia mempermainkan aku? Apa begini caranya memperlakukan suami? Dia murid Ummi dan Abi kan? Aku kan lebih dewasa dan aku suaminya? Hssh,... dasar anak kecil, memang ya?” gumam Rendi malah jadi emosi dan suudzon.
Rendi menelpon Nila.
Sayangnya, sambungan telepon yang tadi pagi muncul foto profil Nila, kini kembali terlihat gambar orang tanpa warna.
__ADS_1
“Aku diblokir lagi?” gumam Rendi tercengang dan menelan ludahnya getir.