
“Baba…,!” pekik Buna sembari melepas hijabnya baru masuk ke kamarnya.
Baba terlihat panik dan kelimpungan meletakan ponselnya dalam posisi terbalik.
“Hmm…,” tapi Buna sudah tahu dan dengar. “Baba beneran telepon Nila? Lagi apa dia?” tanya Buna menelisik, langsung duduk mensejajari Baba yang sudah memakai pakaian tidur bersandar di papan bed.
“Lagi ngerjain tugas, sama Bu Yusuf,” jawab Datar.
“Hhh…,” Buna langsung melengos, “Dibilangin jangan telepon, Baba malu- maluin ih! Malu nih Buna sama Ummi,” tutur Buna langsung bersedekap cemberut.
“Malu Kenapa? Baba saying Nila, Nila anak Baba, salah Baba telepon Nila?”
“Ba… Baba itu udah menikahkan Nila. Kita kesanya jadi orang tua yang nggak percaya, suudzonan. Padahal kan nggak ada bukti, terus Nila kan juga hak Rendi, dikira kita orang tua yang nggak paham aturan, Baba udah nikahkan Nila ya udah percayakan Nila ke Rendi!” tutur Buna menasehati.
“Ya… Baba emang nggak percaya sama Rendi!”
“Kalau nggak percaya kenapa dijodohkan?”
“Ya kan dulu,”
“Dulu, Buna udah nasehatin Baba, udah kita kasih tahu, Baba, yang mantap! Sekarang Nilanya udah nurut giliran nggak percaya, terus kalau nggak percaya kenapa disuruh nikah sah?”
“Marah aja terus! Baba salah terus!” ucap Baba malah ngambek.
“Lah Baba, jaga harga diri juga Ba…. Sebagai orang tua kita jangan malu- maluin ke besan dan jaga image. Kita kalau kaya gini sama aja ngrendahin Pak Yusuf!”
“Ya kan Baba bener Cuma pengen jaga Nila agar punya kepastian! Baba juga Cuma perhatian ke Nila. Bayangin kalau Baba nggak ketat. Nila udah diapa- apain sama Rendi. Mereka santai- santai. Tau- tahu Nila hamil, Rendi kecelakaan atau kenapa? Mau gimana?”
“Astaghfirulloh, Baba, dijaga mulutnya!”
“Ya bener kan?”
“Ya kalau gitu kenapa dinikahkan pakai acara siri? Kenapa dulu nggak nunggu Nila kerja dan selesein kuliah?”
“Ya kan dulu niatnya sama Jingga,bukan Nila. Baba merasa malu dan merasa bersalah karena Jingga begitu, makanya sama Nila,” jawab Baba
“Ah udahlah. Pusing Buna ngomong sama Baba. Harus berapa ribu kali Buna ingetin ke Baba. Nasi udah jadi bubur, Nila udah jadi istrinya Rendi. Ya udah kita doain aja. Kita bertindak sesyai jalur kita!”
“Belum jadi Bubur, kita hanya mengawal Nila sampai waktu yang pas!” jawab Baba.
“Pas gimana sih Ba? Kita nggak bisa nyatpamin Nila. Kita juga nggak tahu kan? Nyata nya mereka pernah tidur di hotel Bersama? Kita bisa apa? Kaya nggak pernah muda aja sih Mas? Ngaca ya Mas!” ucap Buna lagi gemes ke Baba.
“Kok sama suami kasar sih?”
“Astaghfirulloh, Alya nggak kasar Mas, tapi Alya itu bingung ngomongnya sama Mas. Latian positif thingking. Pasrah sama Alloh, ini semua sudah konsekuensi tindakan Baba. Jangan bikin Nila malu, jangan bikin besan jadi illfeel ke kita!” tutur Buna menasehati lagi.
“Ck. Illfeel gimana sih?” jawab Baba masih percaya diri.
“Ah taulah, pusing Buna!” ucap Buna ngambek lalu mengambil bantal dan guling.
“He… mau kemana?”
“Ke hongkong!” jawab Buna manyun berjalan cepat menuju ke pintu.
Baba langsung kelimpungan.
“Mas udah minum madu sama telur, mau kemana?” tanya Baba panik.
Sayangnya Buna sudah menutup pintu dan berjalan ke kamar Vio yang letaknya di samping kamar Buna.
__ADS_1
*****
Nila sungguh menepati janjinya pada Baba, setelah mengerjakan tugas, sholat Isya berjamaah, Nila makan malam Bersama lalu ikut Ummi masuk ke kamar Ummi. Selama itu pula, Nila menjadi anak manis yang kalem, bahkan tidak terkesan seperti seorang istri Rendi, tapi lebih seperti adik Rendi. Karena Nila lebih banyak ikut Ummi.
Rendi pun membiarkannya, Rendi tahu, selama tiga tahun dia sibuk dengan S3 nya dan memenuhi janji Baba. Ummi yang membersamai Nila di setiap jum’at Nila libur di pesantren. Rendi beberapa kali pulang hampir selalu minggu di saat Pesantren ada kegiatan. Saat libur pondok, Nila Bersama keluarganya dan Rendi justru pas ada tugas. Walau Rendi suaminya, Nila memang lebih dekat dengan Ummi.
Biarkan Ummi melepas rindunya Bersama Nila setelah dua bulan ini Nila meninggalkan pondok. Rendi memilih bersua Bersama Abah, mengobrol tentang isu- isu terkini, juga sesekali tentang agama dan tentang berita olahraga. Meski begitu, mata Rendi tak luput sesekali memperhatikan Nila. Sampai Nila masuk ke kamar Ummi dan tidur di sana.
“Besok kuliah jam berapa?” tanya Ummi ke Nila saat Ummi bersiap tidur, Nila malah tamppak meraih ponselnya.
“Ehm… jam 8, Miih…,” jawab Nila sedikit gelagapan karena tadinya mau main ponsel.
“Besok pulang ke sini lagi atau ke rumah bapakmu?” tanya Ummi rupanya masih mau ajak ngobrol.
“Ke rumah Baba, Ummi,”
Ummi pun mengangguk mengerti.
“Semoga semua prosesnya berjalan lancer ya besok, biar Bapakmu lega, kalian sudah tercatat di pencatatan sipil sebagai suami istri dan keluarga,”
“Aamiin, Ummi,”
‘Tapi, kalau nanti sudah begitu, kamu tahu kan? Mana yang lebih utama untuk seorang istri setelah menikah?” tanya Ummi pertanya dengan sedikit menekan.
Nila pun mengerti kenapa Ummi bertanya seperti itu.
“Iya Ummi, Nila akan tinggal di sini menemani Gus Akbar,” jawab Nila.
Ummi mengangguk lega, karena Ummi yakin Nila sudah paham dan tahu apa kewajibanya.
“Ummi menikah lebih muda darimu, Ummi juga langsung tinggal Bersama Abahmu, orang tua Ummi justru marah dan selalu tanya kalau Ummi pulang ke rumah orang tua Ummi,” tutur Ummi lagi menyindir Baba.
Ummi pun tersenyum getir, rupanya Nila tahu maksudnya.
"Maaf ya. Bukan maksud Ummi jelekin Bapakmu!" jawab Ummi. "Ummi tahu, Akbar pernah buat kecewa bapakmu, jadi mungkin begitu. Nanti kalau udah tinggal di sini. Kalau Akbat melakukan kesalahan, kasih tahunya ke Ummi yah," tutur Ummi lagi.
Nila mengangguk. "Ya Semoga, Gus Akbar nggak melakukan kesalahan lagi dan buat kesalahan, Ummi!" jawab Nila.
"Aamiin, tapi namanya rumah tangga, pasti akan ada pasang surutnya. Kamu harus siap. Ingat! Pasangan kita adalah pakaian kita. Jadi harus pandai juga menjaga aib ya!" sambung Ummi lagi. Tapi kemudian disusul Ummi menguap.
Nila mengangguk.
Karena sudah menguap, Ummi menarik selimutnya.
"Ayo tidur!" ajak Ummi.
"Iya Ummi!" jawab Nila lalu ikut menarin selimutnya.
Sayangnya meski sudah menarik selimut, Nila masih terjaga, sembari miring Nila menyalakan ponselnya.
"Sayang...., kangen,"
Diam- diam sembari mendengarkan petuah Abah, Rendi ternyata mengirim pesan ke Nila banyak dan isinya satu kata yang sama Sayang, Rendi benar- benat seperti abg yang hilang kendali dan membuat Nila tidak menyangka.
"Hish...tidur Mas!" jawab Nila.
"Mas maunya sama kamu, pusing kepala Mas belum selesai yang tadi!" jawab Rendi menggoda Nila. Lalu belakangnya ditambahkan stiker love banyak.
"Ish..." desis Nila spontan kesal ke , hendak membalas.
__ADS_1
"Tidur... Nduk. Besok kuliah kan? Ummi pingin dimasakin kamu. Ummi liat Bu Siti belanja ikan, Ummi kangen sarden buatanmu," tutur Ummi ternyata tau Nila sedang bermain ponsel.
Nila jadi gelagapan malu.
"Iya, Ummi!" jawab Nila terpaksa meletakan ponselnya.
"Lampunya dimatikan saja ya!" sambung Ummi.
Nila mengangguk mematikan lampu lalu ikut tidur.
Di luar kamar tepatnya di ruang tamu, Rendi pun duduk tidak nyaman, sesekali bergerak ke kanan ke kiri sok iya iya aja saat Abah bicara. Tanganya terus memeriksa ponselnya, tapi tak kunjung ada balasan dari Nila.
Karena Rendi tidak fokus bercerita, dan Abah bercerita tanpa adanya timbak balik, tau- tahu Abah tertidur sebelum acara bola dimulai.
"Hhh...," Rendi hanya menghela nafasnya saat dia sedang fokus mengetik pesan dan tetiba terdengar dengkuran lembut.
"Bah... Bah... seharusnya Abah tidur di dalam saja bersama Umma, ck... Baba Ardi ribet banget!" gumam Rendi mengusap tengkuknya jadi kasian ke Abah, karena Abah harus terlentang di lantai depan televisi.
Rendi pun manyun karena Nila sudah tak menjawab lagi pesanya.
Rendi pun memutuskan mematikan televisinya, lalu memberikan bantal untuk Abah.
Akan tetapi saat Rendj berdiri, tetiba terdengar deru mobil di depan. Rendi pun segera memeriksa dari jendela.
Rendi pun membelalakan matanya. Di depan pagar terhenti mobil dengan lampu menyala dan sepertinya di belakang mobil itu masih ada mobil.
"Fatma? Aisyah?" gumam Rendi memperhatikan mobil itu milik adik- adiknya.
Dengan segera Rendi pun membuka pintu.
Benar rupanya adik- adik Rendi sampai lebih cepat.
Rendi pun segera keluar membukakan pintu pagar. Lalu mengatur parkir mobil adik- adiknya. Karenq ternyata bukan hanya Fatma dan Aisyah sekeluarga yang datang, ada juga beberapa santri Abah dan besan Abah juga.
"Assalamualaikum Bang!" sapa Fahri.
"Walaikum salam! Katanya kesininya besok? Kok nggak ngabarin?" protes Rendi ke adiknya.
"Mamah pengen jalan- jalan dulu Bang. Kita belanja dan siap- siapnya dari sini saja!" jawab Fatma turun dari mobil lebih dulu. Lalu diikuti Mertuanya.
Rendi mengangguk dan menyalami keluarganya.
"Tapi nggak ada persiapan? Mau tidur dimana?" bisik Rendi ke Fatma kesal.
"Bisa diaturlah!" jawab Fatma.
Fatma berlenggang masuk, dan di mobil lain, Aisyah tampak repot membawa tas sementara suaminya membawa anaknya.
Rendi benar- benar kelimpungan mau disuruh tidur dimana adik- adinya kamarnya belum ada yang dibersihkan.
"Ke kamar tamu aja di samping kamar Ummi!" tutur Rendi memberi tahu Aisyah agar anaknya ditidurkan di kamar tamu sendiri
Abah yang baru tertidur pun bangun, dan langsung menyambut anak mantu, cucu juga santrinya.
Untungnya Bu Siti malam ini menginap sehingga langsung sigap membuat minum. Fatmapun segera bertanya dimana Ummi dan memikirkan tempat tidur untuk mertuanya dirinya juga.
Fatma lalu masuk ke kamar Ummi.
"Lhoh kok Kak Nila? Mana Umma? Kak Nila tidur bareng Umma?" pekik Fatma kaget saat mengetuk pintu dan yang membukakan malah Nila.
__ADS_1
Mm