
Rendi dan Ummi pergi meninggalkan rumah Baba dengan wajah menunduk, tak berani menampakan mukanya.
Setiap hembusan nafasnya membawa penyesalan sehingga terasa berat dan sesak. Ummi pun terasa tercekik tak dapat berkata- kata lagi. Baik pada Rendi apalagi keluarga Baba.
Bahkan sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil, mereka berdua terpaku diam membisu. Sesampainya di rumah Rendi, Ummi pun bergegas turun dengan langkah gontainya. Umii tidak menghiraukan Rendi dan segera ingin masuk ke kamar.
"Maafkan Rendi... Ummi...," celetuk Rendi mengejar Umminya.
Ummi masih diam lalu menatap Putranya penuh kecewa.
"Bermuhasabahlah kamu! Ummi sudah tidak akan ikut campur dan peduli terhadapmu. Ummi sudah lelah. Kamu sudah dewasa. Tentukan hidupmu sendiri!" ucap Ummi kemudian.
Rendi menelan ludahnya menunduk. Seharusnya dia bahagia mendengar kata Ummi begitu karena dia dibebaskan memilih, tapi heranya Rendi justru merasa tercabik. Seperti ada kasih sayang yang hilang dari Ibunya.
"Mobil Ummi katanua sudah jadi. Ummi nggak jadi nginep. Dia sebentar lagi akan jemput Ummi lagi!" tutur Ummi kemudian.
Rendi pun mendelik
"Ini sudah sangat malam. Ummi.. Tidurlah di sini. Rendi yang akan antar Ummi. Rendi.. Rendi kan juga harus ketemu Abi!" tutur Rendi mencegah Umminya pulang.
"Tumben kamu berfikir untuk menemui Abi ke Pesantren? Bukankah kamu selalu beralasan sibuk dengan semua agenda karirmu?" tanya Ummi menukik Rendi dengan menunjukan kesalahanya.
Rendi menelan ludahnya lagi. Dia memang satu- satunya anak yang paling malas bersilaturrahim dengan keluarganya di Pesantren. Rendi seperti ingin membangun dunianya sendiri.
__ADS_1
"Maaf..!" ucap Rendi lagi.
"Kamu bisa datangi Abimu tanpa Ummi kalau memang kamu merasa perlu menemuinya!" jawab Ummi lagi lalu segera masuk ke kamar.
Rendi menghela nafasnya tidak bisa berkata- kata lagi. Dia pun membiarkan Ummi masuk.
Sebenarnya sikap Ummi terkesan sangat emosional dan amat disayangkan Rendi. Apalagi sekarang waktunya istirahat. Belum lagi esok Rendi pasti akan menemui Farid Kaka sepupunya. Rendi pasti akan disidang mengenai kelanjutan hubunganya dengan Nila.
Meski terkesan Emosional, tapi Ummi mengambil keputusan untuk pulang adalah karena sudah merenungi kesalahanya.
Ummi merasa juga ikut andil menyakiti Putranya dengan memaksa menikahi Nila. Akibatnya, tidak baik bagi Nila dan Rendi. Ummi memilih memberi ruang Rendi untuk bebas menentukan arah hidupnya.
Bagi Ummi status Rendi dan Nila masih perlu di sidangkan. Jika benar niat Rendi tidak bercerai dan tidak pernah mengatakan itu, seharusnya Rendi bisa memperjuangkan itu dan meminta maaf pada Nila.
Dan Jika Rendi hendak berjuang, Ummi ingin Rendi berjuang karena keinginanya. Bukan karena Ummi lagi.
"Thiiing thoong Assalamu'alaikum" Bel rumah Rendi berbunyi. Rendi sangat yakin itu saudaranya uang jadi supir Ummi.
Bukanya membuka pintu. Rendi malah menuju ke kamar Ummi dan meyakinkan lagi, berharap Ummi akan menunda pulang karena kasihan sudah malam.
Dan di saat yang sama Ummi memang sudah siap pulang. Mereka pun berpapasan tepat di depan pintu kamar.
"Ehm.. Ummi ini sudah malam. Menginaplah. kasian Abang juga harus nyetir malam- malam bolak balik. Ini tidak baik untuk kesehatan Ummi!" tutur Rendi mencegah.
__ADS_1
"Lelahnya menahan kantuk tidak seberat menahan lelah hati. Ummi harus pulang. Abi sudah menunggu!" jawab Ummi.
Rendi tidak tinggal diam dan langsung meraih tangan Umminya.
"Rendi mohon.. maafkan Rendi Ummi.. maafkan Rendi sudah membuat Ummi malu dan kecewa!" tutur Rendi meminta.
Walau bagaimanapun Rendi adalah pUtranya. Ummi pun tersenyum dan membalas menggenggam tangan Rendi.
"Sampai kapanpun, kamu adalah Putra Ummi. Ummi pasti akan memaafkanmu. Ummi juga salah. Kamu sudah dewasa. Mulai sekarang Ummi tidak akan ikut campur urusanmu lagi. Selesaikan masalahmu sendiri!" ucap Ummi.
Bel pun berbunyi lagi.
Walau sangat menyesalkan... Rendi pun mengantar Ummi ke depan dan meninggalkan rumahnya walau dini hari.
Kini Rendi kembali terkurung dalam kehiduoanya yang sunyi di rumah besarnya itu.
Sementara di rumah Baba. Baba dan Buna pun menghampiri Nila, meminta maaf, meminta Nila menceritakan semuanya.
Baba harus memperbaiki semuanya.
"Mas Rendi tidak pernah menyentuh Nila sedikitpun. Baba...," tutur Nila terpaksa memberitahu karena Babanya bertanya.
(Maap hanya singkat... ngeburu yang penting Up)
__ADS_1