
“Tik...,” satu tetes air mata, tanpa Rendi sadari jatuh, ke pipinya saat dia mengendarai mobilnya. Rendi benar- benar merasa sepi dan sendiri, bahkan sakit yang dia rasakan sekarang terasa lebih sakit dari saat mendengar kabar pernikahan Jingga.
Saat ini, dia bukan hanya ditinggal satu orang tapi semuanya. Lebih dari itu, teman- teman sebayanya semua sudah mempunyai keluarga. Vallen sendiri datang sudah dalam status janda. Padahal bagi Rendi, Rendi tidak melakukan kesalahan besar, hanya perkara sepele yang keluar dari mulutnya ternyata mampu menghancurkan segalanya.
Ya, Rendi juga merutuki hati dan pikiranya yang selama ini salah. Seharusnya Rendi bersikap dewasa, bertanggung jawab atas semua jalan yang dia pilih, juga berpikir realistis terhadap jalan takdir, dirinya sudah tua, bukan waktunya terus terpaku sakit hati pada Jingga dan berniat jahat pada orang lain.
Kini nasi telah menjadi bubur. Rendi harus menerima dan mengikhlaskan jalan hidupnya yang menyedihkan. Dia pun menghibur dirinya untuk datang ke Axel lagi.
“Kok sepi?” gumam Rendi semampainya di tempat yang dikabarkan oleh Axel.
Rendi kemudian menelpon Axel dimana Axel. Jadi ngadain acara atau tidak, sayangnya telpon Rendi dirijek.
“Ini gimana ceritanya sih, Axel kok nolak telpon gue?” gumam Rendi.
Rendi pun mengirim pesan ke Axel.
“Xel... gue udah di hotel yang lo pesen. Kalian dimana?” tanya Rendi.
Sayangnya pesan Rendi tak sampai. Rendi memutuskan untuk bertanya ke resepsionit.
“Tidak ada nama Axel yang mereservasi tempat, ini, Tuan!” jawab Resepsionist.
"Beneran nggak ada?" tanya Rendi lagi
"Tidak Tuan!"
"Oke...terima kasih!" jawab Rendi akhirnya pergi.
__ADS_1
Rendi kembali ke mobil dan memukul stiir mobilnya.
Rendi menelan ludahnya getir, tanganya pun terulur mengambil undangan Axel.
Axel memang ini adalah pernikahan ke dua. Dia beragama non muslim dan akan melangsungkan pernikahan di gereja bukan di hotel itu juga masih beberapa hari lagi. Akan tetapi pesan Axel masih ada. Dia mengundang Rendi datang ke tempatnya berpijak sekarang.
"Apa iya acaranya udah selesai? Aku baru terlambat 20 menit. Sejarusnya mereka masih ada dan ada riwayat kedatanganya," gumam Rendi berfikir.
"Kalau batal seharusnya dia mengabariku kan? Apa terjadi sesuatu?" gumam Rendi lagi.
"Ah ya.. aku tanya Iwan saja!"
Akhirnya Rendi menemukan ide, bertanya ke sesama teman yang diundang Axel. Iwan termasuk kawan dekat Rendi dan hanya Iwan juga yang beragama sama.
Sayanynya telepon Iwan pun tak diangkat. Hari itupun , hati Rendi benar- benar seperti bola bilyard yang di soddok kanan dan kiri tapi tak jatuh juga.
****
Flashback hari lalu.
Vallen berjalan dengan hati yang luka dan malu meninggalkan Rendi.
Tujuan utamanya pun ke Axel. Axel yang selalu berjanji pada Vallen yang masih mencintai Rendi untuk membantu Vallen mendapatkan Rendi.
Bahkan, untuk pernikahan saat ini, Axel mendapatkan kucuran dana dari Vallen.
"Breengsek lo Xel!" umpat Vallen langsung datang ke ruang kerja Axel.
__ADS_1
Axel yang sedang menyelesaikan tugas sebelum Cuti pun kaget dan menghentikan ketikanya.
"Woy.. abis ketemu Rendi kok marah- marah, bukankan ini waktu yang kamu tunggu- tunggu?" tanya Axel.
"Lo udah mempermalukan gue gobblok!" umpat Vallrn lagi..
"Mempermalukan gimana?" tanya Axel syok.
"Rendi udah nikah. Dia udah punya istri! Katamu dia masih sendiri! Lo ngerjain dan morotin gue?" omel Vallen lagi.
Axel yang tidak tahu pernikahan Rendi pun syok dan kaget. Axel segera menggelengkan kepala.
"No. Gue nggak pernah ngerjain lagi. Ini apa maksudnya? Kapan Rendi nikah?" tanya Axel.
"Gue nggak percaya lagi sama Lo. Xel!" omel Vallen lagi dengan sangat kesal dan mengangkat tasnya lalu be siap pergi.
"Len. Tunggu dulu. Gue nggak ngerti apa- apa sungguh. Jelasin dulu gimana?" ucap Axel menjelaskan.
Sayangnya Vallen yang sakit hati tidak mau mendengarnya.
"Hhh...," Axel hanya bisa menghela nafasnya dongkol sendiri.
Axel yang dimarahi Vallen, jadi diam merenung, terlebih jika Vallen yang kaya raya memberhentikan kucuran dananya.
"Rendi... Lo udah nikah. Kok lo bilang single?" guman Axel ikut kesal.
Karena kesal ke Rendi juga mempersingkat iuran. Axel pun sengaja membatalkan semua undangan yang mengajak Rendi kecuali menikah di gereja
__ADS_1