Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Boleh pergi bareng.


__ADS_3

Mendengar ucapan Baba. Buna yang tadinya sempat merasa bersalah dan simpati ke Babanya langsung menghela nafas dan memijat keningnya.


Kenapa Buna baru sadar setelah hampir seperempat abad menikahi Baba, kalau suaminya ini memang agak aneh. Mungkin karena terlalu banyak menghitung uang jadi begini kan, Baba.


"Hhh... Mas- mas..," pekik Buna menghela nafas dan menggelengkan kepala.


"Mendengar Nila diperlakukan tidak baik dan Nila menangis begitu. Baba sakit Bun. Mas takut Nila tidak bahagia, ternyata Rendi begitu?" lanjut Baba mengutarakan kekhawatiranya.


"Mas kenapa baru mikir sekarang sih? 3 tahun Lalu. Alya dan Jingga udah ngotot ke Mas. Nggak! Nggak ada Nila nikah. Mau siri atau apapun itu? Tapi mas selalu beralasan orang Nila mau!" ucap Buna sekarang jadi ingin ngomel dan keluar sifat emaknya.


"Ya jelas Nila mau. Sejak awal Nila emang jatuh cinta sama Rendi. Puber pertama lagi. Udah gitu Nila dididik hanya boleh jatuh cinta dalam diam dan dengan mahromnya. Ya Nila mau dinikahkan. Pikiran Nila saat itu masih lurus, taunya biar dia halal jatuh cinta. Mentalnya belum. Kan Alya dan Jingga udah bilang ke Mas. Kasian Nila!" lanjut Buna kesal mengingat dulu.


Baba hanya menelan ludahnya menyesali perbuatanya.


"Ya makanya. Udah cerai aja! Kamu juga dukung Nila cerai kan? Kenapa sekarang kamu salahin ide


Mas?" jawab Baba


Buna menghela nafasnya lagi menahan sabar dan menatap suaminya ini.


"Maas...," ucap Buna lembut. "Alya memang dukung Nila lanjut kuliah dan tumbuh menjadi perempuan dewasa yang punya nilai di dalam dirinya. Alya juga ingin Nila menikmati masa mudanya. Alya mendukung mereka tidak menikah. Alya bukan hanya takut. Alya takut banget bayangin Nila anak kecil harus jadi ibu, punya anak kecil juga."


"Nah ya udah setuju. Terus kenapa kamu lawan Mas. Kenapa kamu ijinin Nila ketemu sama si Rendi? Harusnya kamu bantu Mas!" potong Baba emosi sampai manggil Buna aku kamu.


"Tapi caranya nggak gitu? Buna nggak mau nyakitin Nila!"


"Nila nggak sakit!"


"Nila nangis- nangis gitu dibilang nggak sakit?"


"Nila itu masih labil jadi gitu?"


"Tapi dia punya memory dan daya ingat. Dia akan merasa jadi boneka kalau Mas begini"


"Kan kita mengupayakan terbaik untuknya!"


"Mas dulu juga berucap begitu? Jalan terbaik untuk Nila jadi anak Abah Yusuf. Mas dulu ngeyel, bilang Rendi terbaik. Giliran Rendi ngelakuin satu salah, langsung kan? Sakitnya baru terasa!" jawab Buna menyudutkan Baba.


"Tuh kan? Kamu mau nyalahin Mas lagi kan? Ini Mas mau perbaiki salah Mas. Kenapa mas salah lagi?" jawab Baba tersudut.


"Hooh...," Buna memijit keningnya bingung.


Baba terdiam mengepalkan tanganya. Dan untuk beberapa saat mereka saling diam.


Baba dulu terlanjur malu dengan keluarga Abah Yusuf dan Pak Dhe Farid. Akan kelakuan Jingga.


Baba mengambil keputusan tergesa. Baba fikir setelah membuat kesepakatan Nila tinggal di pondok, Rendi LDR di luar negeri juga ibukota, Baba tenang. Jalan semua baik semua rencananua dan Baba yakin Nila bahagia.


Tapi setelah kini melihat Nila cantik, Nila cerdas, dan Rendi membuatnya menangis. Baba jadi sadar, ternyata sesakit itu melihat anaknya disakiti orang lain. Apalagi Oma sampai kesal dan sakit. Baba tidak rela kalau Nila tidak bahagia. Baba menyesal melepas anaknya begitu saja.


"Memperbaiki kesalahan jangan dengan menambah salah Mas! Rendi kan juga sudah berusaha minta maaf," ucap Buna sedikit pelan menahan agar tidak saling bersitegang. Berharap Baba berpikir dengan kepala dingin.


"Baba mencegah terjadi hal yang lebih menyakitkan! Baba ragu sama Rendi!" jawab Baba ternyata tetep pikiranya kekeh.


"Masalahnya, Nila sekarang udah terlanjur terikat sama Rendi, Mas. Mas lhoh, yang bersaksi dan mengucap ijab di menyebut nama Alloh." jawab Buna menyudutkan Baba lagi. Berharap Baba sadar.


"Ya kan pernikahan ini bisa dibatalkan!" jawab Baba lagi masih belum mengerti.


"Kalau mau batalin itu, dari awal?" jawab Buna.


"Mas malu sama Abah Yusuf. Apa alasanya? Kalau Sekarang kan ada alasan! Sekarang waktu yang tepat! Karena Rendi buat salah!" jawab Baba lagi.


"Mas ingat kan? Kita kemarin udah bicara dengan Ummi? Rendi udah minta maaf." jawab Buna lagi


"Ya ingat. Ibunya Rendi juga diam menerima kan? Maaf di maafkan tapi udah cerai aja. Udah berarti clear. Kita berdua dukung Nila dan Rendi cerai, batalkan pernikahan mereka, beres. Kamu harusnya dukung Mas. Jangan kasih ketemu mereka! Yang bikin masalah kan kamu? Kenapa kamu malah bikin gara- gara bolehin Nila kuliah. Itu artinya kamu mendukung mereka balikan? Sebenarnya mau kamu apa? Katanya nggak setuju? Tapi pas Mau misahin mereka malah lawan Mas?" jawab Baba mengeluarkan emosinya yang kesal ke Buna.


Buna yang berhasil tenang jadi terpancing lagi.


"Mas, setuju mereka bercerai bukan berarti mengekang Nila nggak lanjut kuliah. Nila udah terlanjur sekolah. Kalau Nila keluar sekarang pendaftaran ya tahun depan lagi. Kasian Nila. Ini semua tentang kebahagiaan Nila. Ya yang utama itu bagaimana Nila menjalaninya. Kalau ambil keputusan itu jangan yang nyakitin orang lain! Dengarkan Nila juga!" jawab Buna tidak kalah panjang.


"Ya kan bisa sekolah di universitas swasta. Kita tinggal tembusi dosenya. Nila bisa kejar? Intinya kalau memang kamu ingin Nila tetap cerai. Bantu Mas dong!" jawab Baba lagi.


"Kok masih nggak mudeng sih?" tanya Buna gemas ke Baba "Jangan emosi. Dengerin Buna dulu. Setuju bukan berarti menghalalkan segala cara. Setuju bukan berarti kita membenarkan semua tindakan kita. Kemarin saat Alya dengar kata Nila. Nila menyampaikan dia ingin pisah. Alya dukung Mas. Tapi setelah Rendi jelaskan duduk perkaranya. Kita lihat dimana kita berdiri? Ya kita salah kalau memisahkan? Apalagi sekarang Nila juga berbalik!" jawab Buna membela diri dan mencoba berfikir tenang.


"Yang salah itu? Kenapa Nila bisa berbalik mau jalan sama Rendi?" jawab Baba menyesalkan kesal karena Baba merasa kecolongan.


"Ya Alya nggak tahu Mas? Nila kan sekarang udah dewasa!"


"Ya Buna nggak boleh jawab Nggak tahu. Harusnya Kamu Bantu mas, biar Nila nggak berbalik dan tetap setuju cerai!" jawab Baba masih ingin mengikuti egonya.


Di sini Buna gelagapan, susah ngomong sama Baba.


"Ya nggak gitu Mas!"


"Tuh kan? Berarti Kamu nggak konsisten!" tuduh Baba emosi.


"Bukanya nggak konsisten. Yang nggak konsisten itu Mas!" jawab Buna balik menuduh.


"Mas sedang berusaha memperbaiki kesalahan!" jawab Baba membela diri.


"Dan Alya sedang mencari jalan tengah atas semua keputusan mas, TANPA salah jalan dan menyakiti orang lain!" bantah Buna tidak kalah ngegas.


Baba dan Buna sama- sama bersitegang dan saling mempertahankan pendapat mereka.


Baba tercekat mendengar pernyataan Buna. Namun Buna sedang menyala dan terus ingin tekankan ke Baba.


"Mas. Alya setuju Nila cerai dan akan Alya bantu sekuat Alya, KALAU Nila menginginkan itu dan Nila bahagia dengan keputusan itu!" ucap Buna dengan penekanan.


"Tapi masalahnya. Sekarang posisinya Rendi itu masih suami Nila. Dan Nila masih ingin bersama Rendi. Kita tidak bisa menelan ludah sendiri. Kita tidak bisa membuat Rendi dan Nila cerai kalau bukan Rendi dan Nila sendiri yang menyepakati itu? Yang suami istri itu mereka bukan kita!" tegas Buna mengulangi dengan menggebu dan emosi.


Pokoknya Baba harus paham.


Entah Baba sudah berkurang pendengaranya atau bagaimana. Baba masih belum mengiyakan.


"Tapi kemarin kata ustad, mereka bercerai!" jawab Baba masih kekeh.


"Nila tidak datang. Diwakilkan oleh Amer kan? Ustad bilang begitu, karena Ustad tahunya Rendi meninggalkan Nila. Padahal kenyataanya Baba sendiri yang buat kesepakatan itu. Kita semua juga terbawa emosi karena Mamah sakit. Cerai itu maunya kita. Mereka cerai kalau memang Rendi setuju dan tidak ada baikan di antara Nila dan Rendi. Nyatanya mereka berbaikan, terus kita mau apa?" jawab Buna lagi.

__ADS_1


"Terus kalau Nila tiba- tiba hamil. Anak kita jadi ibu rumah tangga gimana?" jawab Baba lagi.


"Ya harusnya Mas mikir itu sejak dulu! Bukan sekarang!" jawab Buna ngegas lagi Baba masih juga tidak mengerti.


"Diulangi lagi? Terus aja salahin Mas!"


"Ya emang Mas salah!"


"Ya oke aku salah. Terus sekarang solusinya apa? Intinya Mas nggak mau Nila menderita! Mas nggak mau Nila nyesel!" jawab Baba akhirnya.


"Dan intinya Buna juga nggak mau, keputusan Baba nyakitin Nila!" jawab Buna tidak mau kalah.


Hingga akhirnya Baba dan Buna sama- sama terdiam. Suasana jadi hening sejenak. Keduanya sama- sama merasa benar. Mereka kemudian berfikir sejenak karena belum menemukan titik temu.


"Sepertinya Nila masih perawan lho Mas?" ujar Buna kemudian memecah keheningan.


"Ya memang dulu Baba minta begitu? Dan Rendi setuju!" jawab Baba.


"Ya maksud Buna. Berarti Rendi baik dong?" ucap Buna lagi.


"Kamu mau bilang sudah lanjutkan perjanjian dan segera kita nikahkan mereka secara resmi? Iya?"


"Bukan!".


"Rendi baik itu dulu? Sekarang nyatanya dia tega biarkan Nila pulang nangis- nangis dan kemarin berduaan di kamar! Nggak! Pokoknya yang buat anak Baba nangis enggak baik."


"Ya Adip juga sering buat Jingga nangis?"


"Ya karena Jingga emang bawel!" jawab Baba berkilah.


"Kok gitu?"


"Pokoknya Rendi nggak baik. Nila itu sangat manis. Tidak seharusnya dibuat nangis!"


"Buna juga baik. Tapi Baba juga sering Buna nangis!" jawab Buna tidak mau kalah dan ngeles


"Kenapa Kamu jadi belain Rendi sih?"


"Ya bukan gitu. Gini Ba. Baba marah ke Rendi karena Rendi salah. Rendi udah minta maaf. Ya udah jangan dipisahin lagi. Daripada Nila patah hati salah jalan? Buna yakin, Nila masih perawan Mas! Kita ambil jalan tengah aja!" ucap Buna mau memberikan ide.


"Nggak ada jalan tengah. Jangan kasih celah Rendi lakuin kesalahan lagi. Sebelum terlanjur nikah sipil. Suruh Rendi ceraikan Nila aja!" potong Baba balik lagi tetap kekeh.


"Ish. Tunggu Aku ngomong. Jangan asal suruh mereka cerai. Dosa! Nanti Nila sakit hati juga, kasian!" jawab Buna.


"Patah hati sebentar! Kita paksa. Kita pisahin mereka. Nanti dia move on. Bawa Nila ke Amerika atau pondok lain?"


"Nggak! Udah dibilang. Jangan dengan cara paksa begini! Ada jaminan Nila lupa? Kalau ternyata Nila malah down? Buna nggak mau nyakitin Nila. Baba lupa tadi pagi Nila berderai air mata menganggap kita buang dia! Buna sakit Ba dengernya! Nggak. Ide Baba nggak bener!" ucap Buna ngegas lagi.


Baba tercekat ingat tadi pagi. Ya memang Baba tersentil Baba dibandingkan dengan Abah dan mendengar Nila merasa dibuang.


"Kita ajak Nila dan Rendi ngobrol lagi aja Ba! Kita buat kesepakatan lagi, sambil tes kesungguhan Rendi sebelum nikah resmi," ucap Buna kemudian.


Baba mendelik tapi mulutnya masih rapat, rasanya masih berat bilang iya.


"Salah nggak sih kalau kita minta syarat lagi ke Rendi terkait pernikahan mereka!" ucap Buna menambahkan tanpa menunggu Baba menyela. Buna sedikit tersenyum seakan di otaknya ada. lampunya.


"Ya misalnya kayak dulu, Mas minta Rendi LDR sama Nila. Sekarang juga gitu! Oke kita setuju mereka lanjutkan pernikahan mereka. Tapi Nila tinggal di sini, termasuk yang lainya.." ucap Buna memberi ide dan mengkode meminta Nila tetap ori.


Mendengar ide Buna, Tentu saja Baba langsung setuju.


"Oke! Ya. Kita orang tua Nila. Kita berhak lakukan yang terbaik untuk Nila. Jangan sampai Nila nangis lagi!"


"Tapi kita salah nggak kalau terlalu ikut campur. Kalau orang tua Rendi dengar pasti salahin kita. Kita udah banyak minta aturan. Dosa juga nggak?!" tanya Buna lagi.


Walau Buna yang memberi ide. Buna rasa itu salah dan keterlaluan. Tapi mereka juga terlanjur sayang ke Nila.


Baba menelan ludahnya sebenarnya Baba dan Buna sama- sama sadar mencampuri urusan RT anaknya itu tidak boleh. Apalagi merampas hak Rendi. Terbukti meminta Adip dan Jingga tinggal juga Adip tidak mau.Tapi Baba Buna tetap melepasnya.


"Ya udah. Panggil mereka ke sini saja!" jawab Baba akhirnya. Kini Baba menurun nada bicaranya.


Buna pun tersenyum lega. Entahlah dosa atau tidak. Dan esok seperti apa. Yang penting sekarang mereka berbaikan dan tidak saling bersitegang.


"Sekarang?" tanya Buna


Baba melirik jam ternyata mereka bertengkar menghabiskan waktu berjam- jam dan sudah hampir jam 9.


"Besok sore apa pas makan malam, suruh Rendi ke sini! Kalau Nila sekarang. Baba mau tanya dulu," ucap Baba.


Karena suaminya sekarang mereda marahnya Buna senang. Buna pun mengangguk patuh.


"Oke. Buna panggil Nila ya!" ucap Buna.


"Maafan dulu!" ucap Baba meminta bermaafan, Baba sadar mereka seharian ini marahan.


Buna pun tersenyum malu. Baba kemudian mendekat. Jika anak kecil berbaikan dengan bersalaman. Baba dan Buna berbaikan dengan saling memberikan kecupan. Bukan hanya kecupan tapi saling me magut bibir.


Bahkan sembari mencium, Baba sempat memencet mainan Uung dan berbisik ke telinga Buna memberi kode.


"Ish!" Buna pun mencubit suaminya gemas. "Udah tua juga!"


Buna kemudian berjalan ke kamar Nila. Ingat bisikan Baba, sembari berjalan di otak Buna jadi berputar pikiran.


Jahat nggak ya mereka kalau mau beri aturan ke Rendi. Baba saja yang menikah di usia 25 tahun sangat bersemangat menyalurkan kebutuhan biologisnya. Masa terhadap Rendi mereka melarang.?


"Ah pikir nanti. Yang penting mereka bertemu saja!" batin Buna sekarang tiba di depan kamar Nila


Buna pun mengetuk kamar Nila.


"Nggak dikunci Bun!" jawan Nila dari dalam.


Buna pun masuk


Ternyata di dalam Nila masih mengerjakan tugas. Buku- buku masih berserakan di atas kasur. Nila duduk menghadap ke laptop dengan rambut di ikat ke atas sedikit berantakan. Sepertinya Nila sedang pusing.


"Belum tidur?" tanya Buna bosa basi dan mendekat.


"Bentar lagi!"

__ADS_1


Buna pun melihat ke laptop Nila. Benar Nila sedang membuat makalah. Buna jadi berfikir tidak mau ganggu Nila.


"Ya sudah lanjutkan tugasmu!"


"Emang kenapa Bun?" tanya Nila.


"Baba mau ngomong sama Nila!"


"Oh. Ya udah, Nila ke Baba!" jawab Nila patuh. Nila berniat mendahulukan Baba.


Buna yang sayang Nila langsung menggelengkan kepala.


"No no! Udah selesaikan aja tugasmu!"


"Kok gitu. Katanya mau ngomong sama Nila."


"Hhh...," Buna menghela nafasnya tersenyum.


"Sekarang udah jam 9 tugasmu belum selesai. Selesaikan saja tugasmu! Ngomongnya besok aja!" jawab Buna lembut


"Emang mau ngomong apa? Nila nggak mau kalau suruh kuliah di luar negeri!" jawab Nila menebak.


"Oh nggak- nggak bukan itu!" jawab Buna


"Tentang Mas Rendi?" tanya Nila menebak lagi


Buna pun tersenyum.


"Apa kamu benar mencintainya?" tanya Buna seketika.


Nila menunduk tersipu. Nila kan sedang cemburu dan baru saja ditelpon Rendi.


"Nila masih istrinya Mas Rendi, Bun!" jawab Nila lirih dan menunduk.


Buna tersenyum, walau tidak menjawab lugas. Buna bisa melihat Nila masih suka Rendi.


"Baba ingin ketemu dan ngobrol sama Rendi!" ucap Buna


"Huh?" pekik Nila mengangkat wajahnya.


"Suruh suamimu ke sini besok sore yah?" jawab Buna


Nila langsung menelan ludahnya.


"Baba mau ngobrol sama Mas Rendi?"


"Ya. Pulang kuliah ajak Rendi kesini!"


"Nila boleh pulang sama Mas Rendi?" tanya Nila lagi tidak menyangka.


"Boleh!" jawab Buna lagi mengangguk.


Seketika itu, Nila mengembangkan senyum manisnya


"Tapi kata Mas Rendi. Oma juga pengen ketemu Nila dan Mas Rendi!" sambung Nila memberitahu.


Buna langsung mengernyit.


"Oma?"


"Mas Rendi main ke rumah Oma Mirna!" jawab Nila cerita.


"Hoh?" Buna pun kaget mendengarnya.


Nila pun buru- buru mengambil ponselnya yang sedari tadi dimatikan. Nila menyalakanya di depan Buna sehingga Buna jadi tahu kalau Nila mematikan ponsel.


Begitu nyala walau signal belum masuk, Nila langsung membuka riwayat wa ke Buna. Meski terhadap Rendi Nila gengsi memuji, terhadap Buna, Nila membanggakan Rendi.


"Rendi ke rumah Oma!" ucap Nila menyerahkan ponselnya ke Buna agar Buna lihat foto Rendi.


Buna menerima dan memeriksa.


Sayangnya ketika, Buna memegang ponsel, signal mulai aktif dan pesan terkirim masuk. Buna yang tadinya hanya fokus ke foto jadi baca pesan Rendi. Buna jadi tersenyum sendiri.


"Livi itu siapa?" tanya Buna baca pesan Rendi yang tanya Livi.


"Huh?" pekik Nila mendelik dan langsung menyerobot ponselnya.


Ternyata Rendi kirim pesan ke Nila kalau Rendi dan Livi tidak ada hubungan apapun. Rendi meminta Nila jangan cemburu. Rendi juga mengirim emot kis dan peluk.


Nila langsung gelagapan malu dan tersipu.


"Maaf Buna nggak sengaja baca!" ucap Buna bijak.


"Hehe... Nila nggak kenal Livi siapa. Tapi dia kecentilan kasih surat cinta ke Mas Rendi di makanan. Tapi makananya dikasihkan ke Nila. Kan Nila jadi baca," jawab Nila malu- malu mengadu.


"Hh...," Buna pun tersenyum jadi malu sendiri.


Nila ternyata benar- benar jatuh cinta. Buna pun semakin tidak tega kalau memisahkan Rendi dan Nila.


"Nggak masalah orang kecentilan. Yang penting Rendinya jangan!" ucap Buna mengajari Nila.


Nila hanya menunduk.


"Ya sudah. Temui Oma dulu aja. Ke sininya abis dari Oma juga boleh. Nanti Buna bilang ke Baba!" jawab Buna.


Nila pun tersenyum.


"Berarti Nila boleh pergi barenga Mas Rendi?"


"Ya boleh kan dia suami kamu?" jawab Buna.


Pipi Nila kembali memerah mendengar perintah Buna.


"Cepat selesaikan tugasmu. Jangam begadang! Buna balik ya?" pamit Buna.


.

__ADS_1


__ADS_2