
“Ya habibi ya Muhammad, Bi Ummi wa Abii..fa daituka Sayyidi, Sholatu Wassalaam ‘alaika ya Nabi…habib yaa Muhammad…,”
Sembari berjalan dan menimang Dipta di teras, Rendi bersenandung lirih ke depan melihat tanaman Adip yang hijau subur dan terkena sinar matahari yang mulai naik.
Meski sedikit kaku, tapi Rendi tidak takut kemeja wanginya kusut, dia berusaha menimang anak Jingga dengan penuh kasih. Mungkin itu adalah ungkapan dari hatinya yang paling dalam, kerinduan akan figure yang seharusnya sudah ia perankan. Karena seharusnya Rendi sudah punya anak, bahkan Fatma dan Aisyah adiknya sudah mempunyai momongan.
Adip hanya tersenyum melihatnya, lalu berbalik mengejar Jingga yang dia tahu ngambek.
Di dalam, Adip memberikan pengertian, cinta dan pernikahan adalah hak prerogative Alloh dan juga Nila. Batas Jingga adalah menasehati Nila.
Jingga harus ikhlas. Kalau Jingga terus bersikap ngambek dan marah, Adip juga ikut marah dan cemburu. Karena Adip malah mengira kalau Jingga masih mengingat masalalu dan menyimpan rasa.
Jingga pun diam tidak membantah lagi, walau hatinya dongkol. Adip pun membiarkan Jingga termenung sendiri di dapur, Adip meminta ART nya membuatkan minum dan camilan, setelah itu kembali menemui Rendi.
“Waah... nyaman sama Om, ya Kak? Tidur Pak!” ucap Adip melihat anaknya sudah bergelantung di tangan Rendi tak berdaya.
Rendi tampak kewalahan bingung meletakan Dipta di strollernya.
“Iya… ponakanku setelah mandi dan menyusu, biasanya juga tidur!” ucap Rendi mengingat anak Aisyah saat kemarin berkunjung ke rumah Ummi.
“Iya, semalam sangat rewel, dia juga bangunnya kepagian jadi jam segini tidur, sini Pak!” ucap Adip meminta Dipta.
Kedua bapak itu tanpa canggung membicarakan kebiasaan bayi, Adip yang tanganya sudah lemas dan luwes mengambil alih Dipta dan menidurkan Dipta di stroller.
“Silahkan duduk, Pak! Mau ketemu Nila ya? Lagi mandi sepertinya, saya panggilkan dulu,” ucap Adip mempersilahkan Rendi karena sedari tadi, Rendi malah menimang Dipta.
“Oh ya sudah biar dia mandi dulu, nanti aku wa dia saja,” jawab Rendi kemudian duduk.
Adip juga ikut duduk.
“Ngggak dibawa masuk dulu?” tanya Rendi.
“Sengaja, Pak, biar kena sinar matahari dan udara bebas,” jawab Adip.
Rendi pun mengangguk setuju, “Iya sih bagusnya gitu,” jawabnya. “Boleh saya ambil fotonya?” tanya Rendi sopan.
Adip sedikit terhenyak, untuk apa Rendi foto, Dipta, tapi Adip yakin Rendi baik, jadi dia pun tersenyum memperbolehkan. "Silahkan!"
Ternyata itu adalah foto untuk wa Nila.
“Pak..,” panggil Adip saat Rendi tampak memfoto.
“Ya..,” jawab Rendi tampak mengirim pesan lalu menyimpan ponselnya dan menatap Adip.
“Saya minta maaf atas sikap istri saya,” ucap Adip lagi.
Dengan wajah berwibawa dan matangnya, Rendi tersenyum kecil mengedikan matanya kemudian menatap Adip.
“Aku yang seharusnya minta maaf, tidak jadi masalah, dan tidak usah dibahas lagi, bisakah kita bicara santai saja, tidak usah terlalu serius,” ucap Rendi lagi sembari menganggukan kepala tanda meminta.
Adip pun cukup cerdas untuk mengerti mau Rendi.
“Ya…,” jawab Adip tersenyum, mereka berdua kan sama- sama tahu watak Jingga.
“Gimana, denger- denger mau masuk ke kementrian,” tanya Rendi membuka pembiacaraan.
“Huh?” pekik Adip kaget, tahu dari mana desas desus Adip dipromosikan jadi menteri peternakan dan pertahanan pangan.
“Saranku ambil aja, kamu masih muda, semangat dan pengalamanmu bagus, dengan masuk di dalam ranah pembuat kebijakan, memudahkan kita untuk membantu banyak orang, begitu kan?” tutur Rendi lagi dengan sangat dewasa.
Adip yang dinasehati adik rasa kakak itu tersenyum. “Pak Rendi tahu darimana?” tanya Adip.
“Ck…,” Rendi pun tersenyum melirik dengan tatapan penuh artinya. Walau Rendi lebih memilih aktif di pendidikan dan jadi pegawai biasa, tapi circle Rendi juga orang- orang penting di negaranya, itu sebabnya dulu Baba juga mantap menjadikanya menantu. Banyak pejabat juga yang terkadang meminta doa ke Abah, walau Abah bersikap netral dan melarang anak mantunya terlibat di politik.
“Ya adalah,” jawab Rendi.
“Insya Alloh, sedang Adip istikhorohin, Pak, Mohon doa dipilihkan yang terbaik," jawab Adip.
“Pasti. Tapi kamu sekarang sudah jadi Bapak. Perlu dipikirkan juga anakmu. Kasian juga kan Dipta kalau kamu masih nomaden,” ucap Rendi lagi.
3 tahun pasca menikah, Adip dan Jingga kan LDRan terus, Adip sukanya melancong ke mana dia suka, sampai Jingga pernah keguguran.
“Iya, Pak. Makanya saya renov rumah ini. Inginya mulai menetap!" jawab Adip melirik ke bangunan lantai duanya yang belum selesai digarap.
Rendi ikut melirik, kalau Rendi malah rumahnya sudah siap huni, tapi belum ada penghuninya. “Cepat juga ya pengerjaanya,” puji Rendi menanggapi rumah Adip.
Walau tak banyak berkomunikasi, sebelum Oma marah, Rendi juga cukup banyak tahu apa yang terjadi di keluarga Baba.
“Satu tahunan,” jawab Adip.
Rendi pun mengangguk dengan mata ikut memperhatikan.
“Bapak sendiri, kenapa nggak terima jadi Dekan?” tanya Adip kemudian, tidak kalah dari Rendi, Adip yang dulu jadi aktivis mahasiswa juga banyak tahu desas desus dan sepak terjang Rendi, itu sebabnya dia mendukung Nila.
Mendengar itu, Rendi tersenyum, alasanya kan karena Rendi mengurus diri saja belum beres bagaimana mau mengurus orang banyak. Harus punya pendamping dulu agar hidupnya tenang.
“Masih ada hal lain yang lebih prioritas,” jawab Rendi dengan isyarat lagi.
__ADS_1
Adip mau menanggapi akan tetapi mereka dikagetkan oleh sapaan seseorang.
“Ehm…,” dehem Baba datang.
Rendi dan Adip langsung menoleh dan berdiri menyambut mertua mereka.
****
Flashback sebelumnya,
Mobil Baba terpaksa parkir di halaman kantor usaha Adip bukan di halaman rumah belakang, selain ada banyak matrial, Rendi memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk, bukan di garasi. Itu sebabnya Adip dan Rendi tidak tahu, Baba dan Buna datang. Meski begitu, Baba dan Buna bisa melihat Adip dan Rendi mengobrol dari mobil.
“Rendi?” pekik Baba dan Buna kaget melihat sosok yang sedang bersama Adip, mereka lalu saling pandag, tapi setelah itu mereka berdua langsung menghela nafasnya.
“Alhamdulillah,” satu kata spontan Buna ucapkan sembari bernafas lega.
Buna takut sekali, sangat mengerikan dan menyakitkan membayangkan jika pubertas Nila yang pertama salah jalan.
Mereka sudah memilihkan jalan terhormat, cara agar Nila tidak salah menjatuhkan cintanya dulu, tapi gagal.
Buna dan Baba di situ sudah merasa menyesal dan merasa salah ambil keputusan menjodohkan di usia dini.
Sekarang kalau karena itu semua sampai Nila salah jalan lagi, mereka berdua akan sangat menyesal menjadi orang tua. Bahkan merutuki dirinya sendiri.
Ketakuna Buna bertambah, di yayasan Gunawijaya yang memberikan bantuan pada perempuan dan anak- anak terlantar, sedang marak kasus anak SMA yang salah jalan.
Yang ada di otak Buna dan Baba saat itu hanya satu, dugaan mereka gugur, Nila bukan pelakor. Jika ada Rendi berarti Nila bukan bersama Adip.
“Rendi Bun, Bukan Adip!” tutur Baba spontan.
“Ya..,” jawab Buna menyandarkan kepalanya ke jok mobil mengendurkan dadanya yang sedari tadi tegang.
“Heh..,” pekik Baba tersadar.
Buna ikut menoleh, seketika itu keduanya sama- sama tersadar dan saling pandang lagi.
“Apa itu artinya semalam Nila dan Rendi tidur bersama?” pekik Buna matanya terbelalak.
Babapun tercekat tidak bisa berkata- kata. “Mereka rujuk? Kok nggak bilang kita?” tanya Buna lagi.
“Haish…,” Baba langsung mengusap rambutnya kasar.
Seketika itu mereka kembali menegang, dadanya kembali sesak. Sakit gagal menjadi orang tua lenyap, tapi kini berganti merasa menjadi orang tua yang dilangkahi dan tidak dihormati.
Meski begitu Baba tidak bisa berkata- kata. Sebab, Rendi ada di rumah Adip, itu artinya Adip dan Jingga juga tahu dan terlibat.
Baba yang sakit hati dan merasa dilangkahi anaknya pundung, Baba malah menyalakan mesin mobilnya.
“Baba mau kemana?” tanya Buna kaget, sedang berfikir, suaminya malah memundurkan mobil.
“Anak- anak dan mantu Baba nggak ada yang takut Baba lagi, Baba nggak penting!” ucap Baba benar- benar sakit hati dan tersinggung oleh Adip.
“Ck,” tentu saja Buna yang mendengarnya langsung berdecak, bayi besar abadinya ini tetap tidak berubah.
Tangan Buna langsung meraih handrem.
“Bun!”
“Baba! Kita udah jadi Opa dan Oma, sadar ih…,” ucap Buna melerai.
“Hhhh…,” Baba kemudian melirik ke teras di depan sana, sembari mengeratkan rahangnya.
Sebenarnya pemandangan yang dia lihat sekarang adalah cita- cita dan mimpi Baba tiga tahun lalu saat Baba memutuskan menjadikan Nila pengganti Jingga, karena Jingga memilih Adip.
Tapi harga diri Baba ternodai dengan pengakuan Oma yang kesal mendengar Rendi mengaku sendiri. Mimpi itu dia buang, tapi sekarang muncul di depan matanya. Baba jadi oleng.
“Kita turun, kita tanyai mereka, sama seperti perkiraan kita terhadap Nila dan Adip, kita hanya berprasangka. Sekarang kita hanya melihat ada Rendi di sini, kita tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka, ayo.., turun!” tutur Buna bijak.
Baba yang masih tidak mengerti apa yang terjadi dan hatinya bergejolak, masih diam.
“Ayo turun Ba!” ucap Buna, “Kita sudah sampai di sini, Buna kangen juga sama Dipta,” ucap Buna, lalu Buna membuka pintu walau suaminya masih mematung.
Baba pun tidak bisa menolak lagi, mereka langsung turun dan menghampiri Adip dan Rendi yang sedang mengobrol.
“Ehm…,” Bukanya ucap salam Baba yang hatinya merasa dihianati Adip hanya berdehem.
Adip dan Rendi langsung bangun menyambut.
“Assalamu’alaikum, Ba.. Bun..,” malah Rendi yang menyapa Baba dan Buna dan mengulurkan tangan hendak meminta bersalaman.
“Ehm..,” sayangnya Baba masih pundung.tidak menoleh apalagi memberikan tanganya.
Rendi menarik tanganya dan memilih menghampiri Buna. Buna sebenarnya juga canggung tapi Buna tetap menerima.
“Silahhkan duduk, Ba!” ucap Adip ikut tegang, karena wajah Baba menegang dan tidak menatap Adip.
“Dimana Nila dan Jingga?” tanya Buna lebih bersikap tenang.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, art Adip datang membawa minum.
“Jingga di dalam Bun, Nila sepertinya masih mandi,” jawab Adip.
“Hhh… ya sudah Buna ke dalam,” ucap Buna.
“Buna tetap di sini!” ucap Baba keluar suaranya menghentikan Buna.
“Panggil Nila dan Jingga kesini!” ucap Baba tegang lagi.
Adip dan Rendi kemudian saling pandang dan diam, mereka tegang melihat Baba yang wajahnya ditekuk dan matanya gerung.
Adip pun mengkode ART memanggil Nyonyanya.
Selepas itu, Buna patuh ikut duduk, tapi Baba masih tidak mau menatap Adip dan Rendi, Baba masih diam. Rendi dan Adip jadi bingung mau menyapa tapi takut disemprt, aik Adip dan Rendi keduanya sudah tahu sifat Baba, jadi mereka sangat berhati, hati.
Bahkan Rendi yang dulu jadi calon mantu kesayangan jadi menggigit bibirnya menunduk, otaknya berpikir keras, bagaimana memulai sapaan agar kali ini ada kesempatan buatnya berbaikan, jangan sampai salah kata dan membuat hancur. Meski pertemuan ini memang tujuanya, dia hari ini berencana menemui Baba, bersama Nila, datang ke rumah selepas kuliah.
****
“Buna?” pekik Jingga dan Nila saling pandang.
Bukanya langsung keluar mereka yang baru berpelukan dan berbaikan malah saling obrol.
“Kamu katanya mau nemuin Baba dan Buna ke rumah? Kamu suruh Buna ke sini?” tanya Jingga.
“Enggak,” jawab Nila menggelengkan kepala, “Kan Nila pulang kesini juga biar Baba nggak marah, Nila pergi sama Mas Rendi,” jawab Nila.
“Terus kenapa Buna kesini?” tanya Jingga
“Bukan kakak yang kasih tahu?” jawab Nila balik tanya.
“Kakak masih setia kawan, Bang Adip sita hp Kakak,” jawab Jingga menegaskan.
Nila dan Jingga sama- sama menegang, mereka semua tahu watak Babanya. “Apa ini karena semalam?” gumam Nila kemudian.
“Kenapa memang?” tanya Jingga.
Belum dijawab Nila, ART kembali mengingatkan. “Tadi Tuan besar minta Mbak Jingga dan Mbak Nila keluar, Mbak,” ucap Mbok Jingga.
Jingga menatap Nila, “Ayo keluar!”
Nila mengangguk.
Dengan langkah dheg- dhegan kedua saudara itu berjalan beriringan menemui Baba dan Bunanya.
Di luar suasananya mencekam, bahkan Buna ikut menegang, sementara Rendi dan Adip nyalinya menciut, takut salah ucap kalau Baba masih bermuram durja.
“Baba, Buna, udah lama?” sapa Jingga berusaha mencairkan suasana sesampainya di teras.
Sayangnya bukanya menjawab, Buna malah pandanganya focus ke Nila yang masih memakai baju tidur.
“Nila kamu belum mandi?” tanya Buna.
Nila menggelang dengan polosnya, sembari melirik Rendi sejenak malu karena wajahnya masih kucel.
“Kamu sholat kan?” tanya Buna lagi.
“Sholat Buna, Nila ngerjain tugas dulu, sama belajar, jadi belum mandi, maaf” jawab Nila dengan polosnya.
“Hhh…,” Buna terlihat menghela nafas dengan gerak tubuhnya yang aneh dan melirik ke Rendi.
Jingga cuning peka, kenapa Buna bertanya begitu. Jingga pun langsung tersenyum, tegangnya menghilang, Jingga tahu apa yang Buna pikirkan.
“Ini tegang banget, boleh Jingga dan Nila duduk?” ucap Jingga lagi.
Buna melirik ke Baba yang masih pundung.
Baba dan Buna tidak menjawab tapi Jingga nekad memberi kursi ke Nila, "Duduk La!" ucap Jingga dia malah memeriksa Dipta.
Nila yang junior dan takut Baba, patuh ikut duduk.
“Kayaknya mau ada rapat besar, Jingga bawa masuk Dipta, ya Ba!” ucap Jingga dengan berani dan tengilnya sempat menyindir Baba.
“Tidak!” jawab Baba ternyata masih mau menyahut.
“Kenapa Ba?” jawab Jingga tetap berusaha mencairkan ketegangan Baba.
“Biar Dipta tahu, kalau orang tuanya, nggak ngehargai Opanya lagi, membiarkan orang berzina tanpa ijin,” ucap Baba.
“Ngek..,”
Kali ini Rendi, Adip dan Nila langsung mengangkat wajahnya saling pandang dan kaget. Adip yang tadinya canggung dan takut langsung gatal bicara.
“Berzina gimana maksudnya Ba?”
“Kenapa kamu biarkan pecundang ini tidur dengan adikmu? Siapa kamu? Melangkahi Baba! Kamu sudah tidak anggap Baba lagi!” tanya Baba emosional.
__ADS_1
Mendengar kata Baba, Adip dan Rendi yang tadi takut sekarang malah jadi ingin tertawa.