Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Ijin


__ADS_3

Hujan mereda, hingga berisik di luar akan tetesan air, mulai menyepi, namun udara dingin masih terasa.


Akan tetapi untuk Rendi berbeda, rasanya panas. Kali ini dia harus pandai memutar kata, agar rahasianya tetap aman, dan aib Baba tetap tertutupi, tidak terlihat oleh Ibu bapaknya. Kalau ternyata Pak Ardi yang terkenal hebat dan disegani sangat kekanak-kanakan, egois posesif dan suka mengingkari dirinya sendiri.


Selain menutupi sifat posesif Baba, Rendi juga tidak ingin membuat hati Ibu dan Bapaknya terluka.


Di ruang tamu yang megah dengan lantai marmer warna krem berkilauan akan pantulan lampu kristal indah yang menggantung, kini Rendi duduk di antara dua pasang orang penting dalam hidupnya. Rendi menghela nafas pelan, bersiap mengambil jalan tengah.


”Ehm… gini, Ba..,” tutur Rendi pelan.


“Hmm…., kamu ingat kan?” tanya Baba mengkode dengan rahang mulai menegang, kalau mau ketemu aja harus ijin. Bisa- bisanya Nila mau dibawa pulang.


“Rendi ingat, Ba. Tapi… maksud Ummi sama Abah. Ummi rindu Nila, kan Nila anak Ummi juga, jadi Ummi ingin Nila malam ini tidur di rumah Rendi! Sebelum ke KUA, mungkin Ummi ingin bersua juga ada banyak yang ingin disampaikan. Pumpung Ummi di sini,” tutur Rendi minta ijin dan menenangkan Baba.


Emosi Baba mereda walau masih sedikit menegang. Tapi sekarang berganti, Ummi yang langsung menyipitkan matanya, kenapa Rendi harus beralasan. Istri ikut suami itu keharusan menurut pendapatnya.


Tidak mau Ummi marah, tidak memberi jeda Rendi langsung tanggap dan menoleh ke Ummi menyambung jaga emosi Ummi.


“Maaf Ummi… Baba sama Buna sebenarnya banyak agenda juga dengan Nila untuk mempersiapkan acara nikah besok. Sebenarnya Baba ingin sampai pencatatan sipil ini selesai, Nila tinggal bareng Baba Buna dulu, jadi gimana nih baiknya? Boleh ya semalam aja, Nila ikut Rendi??" ucap Rendi lagi.


“Ehm… hanya 1 hari?” jawab Ummi mengangguk masam, walau di hatinya merasa ada ganjalan.


“Iya Umm… kan gantian. Boleh kan Ba?” jawab Rendi mendinginkan semuanya.


Ummi hanya menghela nafas mau tidak mau setuju dan keteganganya mulai mereda. Rendi pun menatap ke Baba Buna yang tampak diam juga. Semoga setelah ini Baba kasih ijin, dan semua baik- baik saja batinya.


“Nila tidurnya sama Ummi kan?” jawab Baba kemudian melempar tanya dan membuat Rendi tegang, bahkan Ummi juga ikut membelalakan mata.


“Aush…,” tapi sejurus kemudian, Baba terdengar mendesis kesakitan, rupanya Buna langsung mencubit Baba kencang. “Apa sih?” lirih Baba membulatkan matanya ke Buna.


Hanya Buna yang di sini paham kalau sepertinya Rendi sedang ingin membuat suasana kondusif, tapi Baba menghancurkan semuanya.


Abah Yusuf yang sedari tadi diam memperhatikan kini mulai buka suara menyela.


“Ehm…, ya kalau Nila tidak risih, tidur bertiga bersama kami tidak masalah,” jawab Abah santai sekali, tapi dengan nada menyindir Baba. Baba sepertinya malah menunjukan kebodohanya. Kan tidak mungkin, Ummi meninggalkan suaminya masa tidur bertiga.


Suasana pun kembali menegang.

__ADS_1


“Tring…,” tiba- tiba ponsel Rendi kembali memecahkan suasana. Rendi langsung merogoh sakunya tidak nyaman sedang duduk Bersama orang tuanya, malah lupa menyeting mode silent.


Akan tetapi saat Rendi membuka ponsel hendak mematikan, Rendi melihat notifikasi ternyata pesan dari Nila.


Sekarang walau sudah di atap yang sama, Nila berani dan memilih komunikasi lewat ponsel diam- diam. Niat mematikan ponsel Rendi urungkan, tentu saja pesan Nila sangat penting.


“Sebbel ih… kok Mas bias udah di rumah? Katanya di sana butuh beberapa hari?” ketik Nila dari kamar dengn mode manjanya.


Tentu saja Rendi jadi ggatal, ingin meninggalkan semua percakapan dan bosa basi menjemukan dengan para orang tua di hadapanya ini. Rendi jadi mengulum lidahnya setelah sadar semuanya sekarang menatapnya.


"Maaf, bukan mengatur atau meniadakan Abah Yai. Kan hanya satu malam Abah yai? Saya hanya ingin memastikan putri saya bagaimana di sana? Kata Nak Rendi, Nila ikut kan karena Ummi mau temu kangen? Kalau memang begitu, Nila tidur bersama Ummi saja, saya ijinkan!" jawab Baba beralasan.


“Tidur bersama Ummi atau siapapun, Nila pulang ke rumahnya sendiri? Bersama suaminya sendiri dan orang tuanya sendiri? Apa ada yang perlu dikhawatirkan, Pak Ardi?” tanya Abah lagi rupanya Abah sedang menyelamatkan Rendi.


“Ehm…” Baba langsung plintat plintut tapi ego Baba tetap tidak turun, rasanya masih tidak benar- benar rela melepas Nila sebelum mempunyai payung hukum yang jelas, setelah pernah dibuat terluka oleh Rendi. Padahal dulu Baba juga yang mendukung Nila nikah agama saja.


“Bukan khawatir, tapi apa tidak bisa lebih sabar lagi? Ngobrol atau bertemu di sini kan tidak apa- apa. Tanpa ikut Abah serombongan? Tinggal beberapa hari lagi kan? Nila akan tinggal di sana,” jawab Baba lagi masih menawar menunjukan keberatan.


“Bersabar bagaimana lagi? 3 tahun kan juga sudah lama sekali?” jawab Abah lagi.


“Lhoh bukankah 3 tahun putriku sudah menjadi putri kalian? Kami yang bersabar menahan rindu, melepas putri kami,” tanya Baba masih tidak mau kalah. Rupanya Baba tidak peduli penilaian Abah.


“Itu kan permintaan Pak Ardi, Nila tidak tinggal bersama Rendi atau kami, tapi di pondok bersama kawan- kawannya!" sahut Ummi juga rupanya paham situasinya.


Sementara Buna dan Rendi memilih diam dan duduknya mulai tidak nyaman karena geregetan ke Baba. Susah sekali tenang, iya dan tidak usah buat masalah.


"Tapi kan kalian bisa lihat Nila kapan saja? Dekat juga. Tiap libur kan pulang ke rumah Ummi dan Abah!" jawab Baba tetap kekeh


"Lhoh... Pak Ardi dan Bu Alya juga menjenguk Nila rutin kan? Kami tidak mengambil hak Pak Ardi dan Bu. Alya?" jawab Ummi lagi.


"Ya Pak. Kami rasa anakku dan keluargaku sudah melakukan apa yang Pak Ardi minta, kata orang banyak meminta itu tidak baik,” jawab Abah lagi semakin menyindir dan memojokan Baba.


Buna, dan Rendi masih diam menunggu respon Baba. Baba sudah agak tersudut sepertinya.


“Kesepakatan kita kan pernikahan siri untuk menyambung silaturahim kita dan menghindari hal dosa, selama putriku menuntut ilmu di sana, tidak banyak yang kami minta kok, hanya bersabar beberapa hari lagi sampai payung hukum putriku didapatkan, selebihnya silahkan Nila pulang bersama kalian,” jawab Baba tetap menyangkal.


“Payung hukum yang bagaimana maksudnya Pak? Hukumnya kan Nila istri Rendi, jadi anak kami," tanya Ummi sekarang jadi emosi.

__ADS_1


"Lhoh ya... Pernikahan yang tercatat di kantor urusan agama ada hitam di atas putih dan ada undang- undangnya, dong. Kan kalau sekarang seperti yang sudah terjadi kemarin, kami nggak bisa ngapa- ngapain, kata Rendi begini begitu saya tidak tahu! Saya tidak bisa membela Nila kalau terjadi apa- apa!" jawab Baba meninggi.


"Ehm..." Ummi berdehem menghela nafas gantian tersudut. "Tidak terjadi apa- apa kan dengan Nila. Kami semua sayang ke Nila!" jawab Ummi.


"Pernikahan tetaplah pernikahan, Pak Ardi. Kita menggenapi semua rukunya dan semua terlaksana dengan kesadaran, tidak ada kata siri dalam agama kita, lha wong keluarga kita juga tahu, kita juga mengumumkan ke sanak saudara dan sekeliling kita, hanya belum tercatat secara negara. Ini Namanya misyar, tapi hukum dan ketetapanya sama. Kalau memang Rendi menyakiti Nila, Kita pasti akan menghukumnya. Dan kami pastikan Nila akan baik- baik saja. Rendi hampir membuat kesalahan itu juga wujud menahan sabar, karena kasih sayang dan hormat ke anda, Pak. Masa Pak Ardi masih mau mempersulit?” tanya Abah Panjang dan sopan, sepertinya tanpa dijelaskan Abah sudah tahu apa yang Baba khawatirkan.


Baba menelan ludahnya, sedikit tersentil, juga sungkan ke Abah.


“Jangan sampai kita menjadi orang tua yang ingkar dan mengambil hak anak,” jawab Abah menambahkan.


"Ehm....," Rendi jadi semakin risih tidak tahan kedua orang tuanya bertengkar. "Hanya tidur di rumah bersama kami Ba. Nila tidak akan kami bawa kemana- mana. Itu kan juga rumah Nila juga!" sambung Rendi meminta.


Baba masih diam mengeratkan rahangnya. Buna sedari tadi sudah gelisah menggigit bibirnya gemash ke suaminya. Sepertinya melepas Nila satu malam bersama Rendi sangat berat.


"Bagaimana kalau kita tanya ke Nila saja. Atau... atau? Ummi dan Abah juga Nak Rendi menginap di sini saja. Kan sekalian biar kita tambah akrab dan hangat iya kan? Kita juga bisa diskusi nanti mau bagaimana pestanya? Kapan? Dimana? Atau yang lainya?" usul Buna memecahkan ketegangan dengan wajah ramah dan hangat ke besanya.


Ummi dan Abah lalu saling tatap dengan senyum masamnya. Ummi tidak suka menginap di tempat orang lain walau begitu megah. Ummi ingin di rumah Rendi.


"Maaf, saya tidak bisa tidur kalau menginap di rumah orang. Kalau Pak Ardi khawatir, nanti Nila tidur bersamaku juga tidak apa- apa, pumpung saya berkunjung ke sini. Saya ingin ngobrol banyak bareng Nila!" jawab Ummi merendahkan suaranya jika bicara dengan Buna. Ummi pun mengalah.


"Ehm...," Buna pun berdehem menunduk rasanya tidak nyaman sekali jadi orang tua yang seperti pelit padahal anaknya sudah diijabkan.


"Saya ijinkan, tapi bener ya, saya titip Nila Ummi. Sampai selesai urusan pencatatan sahnya," ucap Baba, tidak berani menatap Ummi dan Abah.


"Ehm...," Abah dan Ummi saling mengeratkan rahang mau kesal tapi sama besan. Rendi kan anak mereka, perkataan Abah seperti menuduh anak mereka tidak benar.


"Terima kasih Ba!" jawab Rendi.


"Ya sudah.Ummi Abah, Nak Rendi. Kita masuk yuk, makan dulu dari tadi ngobrol terus...," ucap Buna lagi menetralkan kekesalan Umi dan Abah dengan keramahan.


"Tadi baru aja makan, Bu. Lain kali saja. Terima kasih sekali. Ini makan kue nya saja! Rasanya sudah pengen mandi sama selonjoran," jawab Ummi ramah, mengkode ingin cepat pergi bersama Nila.


"Ya sudah kalau begitu mandi di sini saja. Ayo selonjoran di dalam sambil nunggu Nila, biar saya panggilkan Nilanya!" jawab Buna.


"Nila udah siap katanya Bun!" jawab Rendi menyela.


Baba langsung mendelik ke Rendi. Baba kan pengen terus mengulur.

__ADS_1


"Tahu darimana kamu?" tanya Baba.cll


__ADS_2