
“Astagfirulloh, dia beneran ketiduran? Ya Ampun mantuku, kasian sekali,” tutur Buna.
Sesuai dengan inginnya Baba ternyata Rendi ketiduran beneran. Masih dengan laptop belum tertutup, dengan mulut melongo menampakan lelah sangat, Rendi terbaring di karpet ruang tengah rumah Baba.
Baba dan Buna bangun lebih pagi, keramas pula. Mereka ke bawah bersama, Buna ingin ke dapur dan Baba ingin jogging. Saat sampai di ruang tengah mereka terhenti, menemui pemandangan mantunya kelelahan.
“Biasa aja, Baba juga sering kan lembur!” jawab Baba cemburu mendengar istrinya memuji menantunya.
“Hmm… masalahnya kasian bukan hanya ke Rendi, Nila juga kasian kan jadi nggak tidur sama suaminya! Rendi tidurnya di bawah juga, nggak ada yang bangunin!” jawab Buna.
“Ya nggak apa- apa, Nila kan ada Uung, karpetnya tebal kok!" jawab Baba. Uung adalah nama panggilan kesayangan dari Baba untuk anak bontotnya.
“Hmm… ya sudah. Buna bangunin ya!” ajak Buna hendak bangunkan Rendi. Buna tahu semakin Buna simpati ke Rendi semakin Baba memuji dirinya sendiri.
“Jangan, Baba saja!” jawab Baba.
“Ya!” jawab Buna patuh tidak mau ribut.
Buna pun menghadap ke arah dapur, tapi heranya Baba bukan menuju ke Rendi tapi berjalan ke arah tangga.
“Lhoh, Ba katanya mau bangunin Rendi kok malah balik?” tanya Buna.
“Baba mau ambil sesuatu buat Rendi,” jawab Baba.
“Apa memangnya?” tanya Buna penasaran.
“Stok du*ex Baba masih banyak nggak?” tanya Baba berbisik.
Tentu saja Buna mengernyit.
“Baba mau kasih itu buat Rendi?” tanya Buna kaget.
“Ssstt…” Baba langsung membungkam Buna. “Jangan keras- keras!”
“Ba… untuk apa? Dia kan bisa beli sendiri,” bisik Buna malu, masa mertua dan menantu mau berbagi alat yang privasi.
“Ya buat ingetin dia aja, Nila belum waktunya hamil! Dimana Buna taruhnya?” jawab Baba memberitahu dan bertanya. Ya, Baba tidak tahu dimana Buna yang simpan, sebab selalu Buna yang ambilkan juga memakaikan.
“Di laci nakas yang sebelah kiri!” jawab Buna memberitahu.
Baba langsung bergegas ke arah lift sementara Buna berjalan ke dapur sembari melirik Rendi. “Hhh… semoga dia benar jadi suami yang bertanggung jawab, tapi jangan gila kerja, kasian putriku kalau kurang kasih sayang.” Batin Buna berbeda pikiran dengan Baba.
Buna pun segera menemui para ARTnya dan memberi instruksi masak apa aja hari ini.
****
“Kriiing…,” di kamar Nila, alarm subuh pun berbunyi.
Nila mengerjapkan matanya terbangun. Seketika dia menoleh ke sekelilingnya, ada Vio di sampinngnya, tapi tidak ada Rendi.
Nila pun tersenyum, “Cuma mimpi?” gumamnya.
Semalam diam mimpi jadi istri Rendi dan tidur di rumah Rendi, tapi nyatanya hari ini dia bersama adiknya di kamar kesayanganya yang semua ornamenya masih nuansa anak sekolah. Banyak boneka hello kity dan dora emon. Juga ada meja belajarnya.
Akan tetapi sepersekian detik ada ponsel yang menyala dan bergetar di dekat bantalnya. Nila meraihnya dan memeriksa.
“Ini bukan ponselku?” gumam Nila tersadar setelah mengambil ponsel Rendi.
“Astaghfirulloh. Mas Rendi, ya ampun dia dimana?” gumam Nila Akhirnya tersadar, ya dia kan malam ini harusnya malam pertama. Nila jadi ingat kalau harusnya Rendi tidur di sampingnya.
__ADS_1
Nila pun segera sholat subuh, lalu turun mencari Rendi, dan Nila tercekat begitu mendapati suaminya tidur di bawah.
“Ehm…,” Nila tengak tengok. Nila ragu hendak membangunkan Rendi, tapi sejenak dia ingat, kemarin siang, ya mereka kan sudah tidur Bersama.
Nila pun langsung mendekat, sesaat tangan Nila terasa membeku sulit digerakan. Dia mematung sejenak lalu dipandanginya dosen tampanya ini yang sudah jadi suami dan merenggut mahkotanya ini. Walau melongo tapi tetap tampan.
Nila melirik ke laptopnya yang dipinjam suaminya. Nila pun tersenyum, hatinya berbunga, suaminya keren sekali, bekerja sampai lembur.
“Mas… bangun!” ucap Nila menggoyangkan tangan Rendi akhirnya.
“Hmm…,” seketika Itu Rendi tergagap bangun lalu menoleh ke Nila sembari mengerjapkan mata.
Nila pun melebarkan bibirnya mengembangkan senyum.
“Kenapa tidurnya di bawah? Ayo bangun. Udah subuh, sholat!” tanya Nila perhatian.
Rendi masih berbaring hanya membetulkan posisinya menatap Nila.
“Maaf, mas ketiduran, cium dulu biar bangun!” tutur Rendi manja, menepuk pipinya ingin diberi kecupan Nila.
Nila jadi tersipu.
“Biar semangat bangunya!” pinta Rendi lagi dengan muka bantalnya.
“Ya…,” jawab Nila malu- malu, kemudian Nila menundukan kepalanya memberikan kecupan semangat pagi. Rendi senang dan memposisikan muka ingin menci um balik Nila, tapi terhenti. Padahal wajah mereka saling berhadapan sangat dekat.
“Ehm…,” Baba yang baru ambil senjata pencegah kehamilan, berdehem, ternyata keduluan Nila membangunkan Rendi, dan Baba melihat anaknya yang manis sudah cium- cium laki- laki lain. Baba rasanya cemburu.
Nila dan Rendi langsung menoleh, Nila langsung gelapagan malu ke gep baba.
“Sudah bangun kalian? Subuh waktunya sebentar, sudah sholat belum?” tanya Baba langsung menegur, tapi tangan yang membawa kotak bungkusan disembunyikan di belakang.
“Belum” jawab Rendi.
Baba menyunggingkan senyum sedikit bahagia, jika Nila sudah sholat itu berarti mereka tidak junub.
“Ya sudah sana sholat dulu, buatkan suamimu sarapan, biasakan seperti bunamu, sarapan untuk suami, istri yang kasih jangan pembantu, sarapan itu bekal aktivitas, beda sama makan siang dan malam yang bebas dimana saja!” tutur Baba mengeluarkan sisi bapaknya dan sok bijak.
“Iya Ba!” jawab Rendi dan Nila kompak.
Nila dan Rendi pun bergegas mengurungkan cium an yang hendak Rendi inginkan. Nila membereskan laptop dan pekerjaan suaminya dulu, sementara Rendi langsung bangun hendak sholat.
“Ren!” panggil Baba menghentikan mantunya saat berjalan.
“Iya Ba!” jawab Rendi menoleh.
“Selesai sholat temui Baba!” ucap Baba "Baba tunggu di dekat kolam ya!"
“Ya, Ba!” jawab Rendi.
Rendi pun menuju ke mushola di rumah Baba, dan menunaikan sholat subuh, setelah selesai Rendi memenuhi panggilan Baba. Dan di pagi itu, Baba dan Rendi yang sudah akur akhirnya mengobrol mesra.
“Kalau belum punya anak, tidak baik memakai obat- obatan untuk mencegahnya, pakailah ini!” ucap Baba berbisik agak canggung membahas hal seperti itu dengan menantunya. Baba menyodorkan kotak kecil yang dia sembunyikan.
“Ehm…,” Rendi berdehem sedikit terbelalak membaca apa yang Baba berikan. Rendi belum berkomentar karena malu dan canggung. Ternyata Baba kepikiran Nila sedalam itu. Itu kan privasi dan hak mereka.
“Memakai ini lebih mudah ketimbang, menahan harus dicabut!” lanjut Baba meyakinkan, karena Rendi sempat terdiam. Baba takut ditolak.
“I- iya Ba!” jawab Rendi terbata, menerima. Rendi terbata karena Rendi baru ingat, waktu di rumah Rendi dan kemarin siang, mereka kan tidak pernah pakai apapun. Yang Rendi pikirkan hajatnya harus tertunaikan. Tidak sempat memikirkan bagaimana memenuhi permintaan Baba tentang Nila.
__ADS_1
“Baba pakai ini kok, Nyaman!" lanjut Baba malah iklan. "Ibumu sangat subur, tapi dia juga tidak mau memakai yang obat- obatan apalagi operasi. Makanya dia sehat terus. Baba yang ngalah!” ucap Baba lagi berbagi cerita.
Rendi mengangguk, menghargai njat baik Baba, walau sebenarnya tanpa dikasih tahu, Rendi jauh lebih pintar.
“Terima kasih, Ba!” jawab Rendi mengambil.
Saat Rendi mengambilnya, Nila datang membawa minuman hangat.
Baba dan Rendi pun terdiam.
“Mas, ini ponsel Mas, bunyi terus!” ucap Nila memberitahu, setelah menyajikan minum merogoh ponselnya dan memberikan ke Rendi tanpa Nila memeriksanya, Nila tidak berani membuka ponsel Rendi.
“Oh ya. Terima kasih, ya!” ucap Rendi di depan Baba jadi sopan.
Rendi pun memeriksa.
“Astahgfirulloh, Mas baru ingat!” ucap Rendi spontan memekik kaget membaca ponselnya.
“Apa?” tanya Baba dan Nila.
“Maaf Ba. Dhek. Hari ini, jadwal Mas jadi dosen tamu di kampus luar kota! Mas harus Pergi,” tutur Rendi ke Nila.
“Nggak bisa dibatalin?” tanya Nila lesu dan cemberut.
Rendi menyeringai menggelengkan kepala. Sementara Baba menyimak dan menonton.
“Maaf, Dhek. Mas kemarin lupa nggak ngebatalin atau konfirmasi. Mas mikirin acara kita. Padahal ini sudah janjian sejak 1 bulan lalu, sudah dipesankan tiket pesawat dan hotel juga!” ucap Rendi lagi memberitahu dengan kecewa ke Nila. Bukan hanya Nila, Rendi pun sedih harus pergi di masa yang seharusnya untuk honeymoonth.
Telepon Rendi yang berbunyi ternyata konfirmasi dari pihak kampus. Rendi yang masih muda dan energik tapi sudah mengantongi ijazah juga banyak sertifikat pelaatihan, jadi sering diundang menjadi dosen tamu, atau menjadi pengisi seminar diberbagai kegiatan, baik di kampus sendiri, kampus tetangga bahkan luar kota dan luar pulau.
Nila menunduk sedih, sementara Baba tampak Bahagia tapi menahan senyum mencoba menampakan empati.
“Hh… ya sudah nggak apa- apa. Berapa hari memangnya?” tanya Baba
“Dua hari!” jawab Rendi.
“Jangan sedih La. Kamu juga kuliah kan? Cuma dua hari, Bunamu sering Baba tinggal, semingguan kalau ke luar negeri. Laki- laki memanng harus kerja dan tanggung jawab juga. Keluargamu sudah balik apa masih di rumah? Jam berapa tiketmu?” tanya Baba
“Jam 8 Ba! Sore ini Insya Alloh, Abah pulang!” jawab Rendi.
“Ya sudah cepat mandi sarapan, jalanan macet. Sebelum ke bandara, pamit dulu sama Abahmu, Nila kalau nggak berani di rumah sendirian, nanti Baba yang jemput! Nggak usah sedih- sedih!” tutur Baba memberi solusi dengan gagahnya.
Rendi mengangguk dan menatap Nila sendu sembari menggerakan tanganya. “Maafin Mas ya!” ucap Rendi.
“Ya. Nggak apa- apa kok” jawab Nila lirih.
Rendi pun pamit untuk bersiap, Baba tersenyum sangat senang mengira, penyatuan Nila dan Rendi tertunda lagi. Hehe.
****
Kaak.
Cerita Amer itu judulnya Bukan Dia
Caranya bukan dilihat episode terakhir lanjutan yang kemarin. Tapi dari episode pertama. Yang udah terlanjur di Up kemarin kan tidak bisa dihapus. Jadi diedit.
Nah. Aku editnya baru sampai episode 6.
Itu sebabnya diintip ya Kaak. Hehe. Makasih.
__ADS_1