Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Kado pernikahan


__ADS_3

“Baba..,” pekik Nila.


Jika Rendi dan Adip menunduk, mengulum lidahnya menahan tawa, takut Baba tersinggung, Nila yang anak kandung, akhirnya buka suara.


Takut Nila, hilang, sebab perkataan ayahnya menurut dia keterlaluan tak berdasar pula.


“Nila!” bentak Baba tidak terima omonganya disela, apalagi oleh Nila, satu- satunya anak yang selama ini bak malaikat, selalu penurut dan mau menjadi seperti inginya Baba.


“Ba...,” lawan Nila lagi berusaha untuk diijinkan bicara.


“Diam kamu, sejak kapan kamu berani jawab Baba ngomong dan bohong sama Baba! Tidak sopan!” bentak Baba lagi.


Nila pun semakin terluka hatinya dituduh buruk. Buna masih menyimak, walau hatinya menegang, tapi Buna berusaha tenang karena ini hak Baba bicara ke anaknya.


Sementara Jingga yang sudah khatam berdebat dengan Baba memilih diam, membiarkan Nila tahu bagaimana rasanya menghadapi Baba yang terkadang pengen dici um.


“Baba salah,” jawab Nila tetap berusaha meluruskan.


“Kamu sudah salah, masih salahin Baba, Baba sekolahin kamu keluar negeri, masuk pesantrren bertahun- tahun, begini? Hah? Apa Baba salah pilihkan pesantren?” bentak Baba semakin melebar kemana- mana dan berniat menyindir serta menyakiti hati Rendi.


“Astaghfirulloh Baba,” tutur Nila semakin tidak kuasa untuk diam, Baba keterlaluan melebarnya sampai bawa- bawa pesantren Abah yang bahkan Baba sendulu selalu memuji.


Sementara Rendi yang sudah menebak lebih dari ini marahnya Baba, masih mencoba menunduk dan mengulum lidahnya membiarkan Baba mengeluarkan semua emosinya dulu, sebab Baba benar- benar seperti api yang meletup- letup. Kalau dijawab semakin berkobar.


Adip dan Jingga saling pandang dan melirik ke Nila. Mereka sedang membaca situasi dan memberi ruang Nila mandiri menghadapi Baba. Buna sepertti biasa menjadi rem pengendali.


“Baba…,kontrol.emosi Ba” lirih Buna berusaha mengelus lengan Baba agar tidak kelepasan. Tapi karena Baba marah, Baba langsung menepis. “Buna diam, Baba lagi ngomong sama anak yang mulai durhaka!” ucap Baba lagi.


“Ba… Nila dan Mas Rendi tidak berzinah!” ucap Nila akhirnya nekad, nerobos menjelaskan, sebab kalau nunggu jeda Baba, Baba selalu menyela dan marah.


“Tidur berdua dengan laki- laki dalam satu kamar, bahkan kamu centil- centilan, siapa yang ajarin! Memaalukan! Ini yang kamu dapat di pondok selamaa 6 tahun!” omel Baba lagi, karena emosi jadi bicaranya ngelantur bahkan cerita Buna Baba tambahi.Padahal Baba sendiri yang menikahkan Nila dulu.


Nila semakin mengernyit, dia tahu sekaarang apa masalahnya, fiks ini kesalah pahaman semalam, lalu Nila menatap Rendi dan Adip.


Sayangnya kedua laki- laki itu malaah seperti mau sembunyi tangan, mengunci pintu mulutnya tidak mau membelaa Nila, alias ingin Nila yang jelaaskan ke Baba sendiri dulu.


“Ba… Nila dan Mas Rendi tidak tidur bersama,!” ucap Nila.


“Masih juga bohong! Bun ceritakan!” ucap Baba sedikit mulai gelaagapan kaarenaa kan Baba Cuma denger cerita.


“Bun… Buna salah paham, yang Buna denger itu tidak seperti yang Buna kira!” sahut Nila lagi langsung menatap Buna sebelum Buna menjawab.


“Diam kamu! Biar Buna ngomong!” bentak Baba lagi.


“Nila akan jelaskan semuanya Ba!” potong Nila lagi.

__ADS_1


“Biarkan orang tua bicara dulu, Baba pukul kamu!” bentak Baba lagi bahkan kali ini emosi, mau ancam mukul.


Semua yang tadinya diam menjaga suasana jaadi laangsung menegang terutama Rendi dan Buna.


“Ba!” pekik Buna meraih tangan Baba. Sementara Rendi spontan tanganya reflek tergerak merentang di depaan Nila, melindungi Nila.


Bahkan Baba dan Buna ikut menyaksikan bagaimana raut Rendi yang khawatir. Dan heranya entah kenapa hati Baba yang bergemuruh seperti ada yang redam melihat itu, tapi gengsi Baba kan besar, Baba sedang marah jadi harus lanjut marah agar dia tetap dihormati sebagai Baba, begitu fikir Baba.


“Siapa yang ajari kamu menyela dan jawab orang tua bicara?” omel Baba melirik ke Rendi.


Rendi pun peka.


“Saya tidak tidur bersama Nila, saat Buna telepon kebetulan Nila sedang membangun kan saya untuk pulang dan mencharge ponselnya, saya minta maaf,” ucap Rendi cepat buka suaara membela Nila.


“Gleg,” menndengarnya Baba dan Buna malu, tapi bukan Baba kalau mudah mengaku salah.


“Siapa yang mengijinkanmu, menemui putriku? Dan kalian bertiga! Berani lawan Baba!” bentak Baba masih lanjut marah.


“Hhh…,” Nila akhirnya benar- benar melawan. Nila yang tadinya diam, tiba- tiba menghela nafas kasar lalu bangun.


Sampai yang lain ikut kaget. Nila ternyata bangun dan pergi.


“Nila…,” teriak Baba sangat marah. “Baba belum selesai bicara! Duduk!" bebtak Baba.


Sayangnya Nila tetap berjalan masuk kamar lalu kembali lagi membawa sekardus kado,


“Wooh…,” Rendi sendiri terbengong semakiin terpesona dengan gaya marah Nila.


“Apa maksud ini semua?,” tanya Baba nadanya mulai merendah dan plintat plintut. Nila tidak menjawab, mukanya cemberut dan meletakan kado- kado itu kasar.


Buna dan Jingga ikut terbengong memperhatikan.


“Sreeeet…,” Nila tidak menjawab, tapi langsung menyobek kertas kadonya kasar, “Sreeet…,” Nila buka lagi dengan penuh emosi dan sengaja menunjukan ke Baba meletakan isi kado di depan Baba, termasuk mozaik bamboo kado pernikahan Nila dan Rendi yang Nila sendiri belum lihat, ada juga sepasang handuk, meski sederhana itu adalah pemberian terbaik dan penuh cinta dari anak pondok yang notabenya ekonomi rendah.


Lalu ada pula sepasang mangkuk indah, ada jilbbab tapi tepinya di renda, ada tas rajut, ada baju juga.


“Sayang… ini apa?” tanya Buna ketegangan mulai mencair jadi merasa bersalah dengan Nila.


Nila tidak menjawab dan terus menyobek bungkus kado teman- temanya. Bahkan Nila saking emosinya walau diam menitikan air matanya apalagi setelah dia lihat isi kado teman- temanya adalah kado pernikahan.


“Nila berhenti! Ini apa? Darisiapa?” ucap Buna akhirnya tidak tega dan bangun mencegah tangan Nila mengambil kado.


“Hugh… hughs…,” Nila terhenti, di depan Baba Jingga , Adip dan Bunanya.


Seketika itu tangis Nila pecah. Nila menangis tersedu- sedu dengan di bawahnya berserakan kertas kado teman- temanya.

__ADS_1


“Maafin Buna, Nak!” ucap Buna langsung memeluk Nila.


Tepat di saat itu, Dipta yang sedari tadi dengan suara Baba hanya bergerak acak kini benar- benar bangun, Adip pun mengkode agar Jingga cepat bawa Dipta masuk.


“Buna minta maaf,” lirih Buna membelai Nila lembut.


“Adip mohon maaf Ba. Nila dan Pak Rendi tidak tidur bersama kok, Adip yang antar Pak Rendi pulang,” jawab Adip akhirnya turun tangan ikut bicara.


“Baba dan Buna jahat sekali nuduh, Nila!” lirih Nila terisak.


Buna pun menguraikan pelukanya merasa bersalah lalu menyeka air mata Nila lembut, Buna masih memperlakukan Nila sama seperti saat Nila dulu, saat Nila menjadi gadis kecil yang selalu menangis kalau Jingga dan Amer tidak mau mengajaknya main.


“Buna dan Baba minta maaf, sini duduk, cerita sama Buna dan Baba, apa yang terjadi, kalau Rendi tidak tidur di sini kenapa sepagi ini sudah ada di sini? Kenapa kalian bisa bersama,” tanya Buna dengan suara lembut.


Nila masih menunduk terisak, Rendi menatap Nila dengan tatapan penuh sayangnya ingin sekali memeluk dan menyekanya lembut, tapi ada Buna dan Baba, sekarang yang diperlukan darinya adalah menjelaskan ke Baba yang sedang terdiam tercekat.


“Ijinkan saya jelaskan semuanya, Ba… Bun!” tutur Rendi pelan dan sopan.


“Ehm…,” Baba sebenarnya sangat malu sudah menuduh Rendi, Kalau boleh bilang Baba ingin lari dan ngumpet saking malunya tapi Baba berusaha memasang mode muka tembok dengan tetap menjaga gengsinya. Sebab hatinya juga lega tapi juga lega, itu berarti anak- anaknya tidak melakukan kesalahan


“Jelaskan saja!” jawab Buna.


Adip mendengar, Dipta di dalam menangis keras, Adip pun sigap, menyela meminta undur diri mau bantu Jingga menenangkan Dipta. Selain Baba dan Nila mengangguk mempersilahkan.


Kini hanya ada Rendi Baba, Buna dan Nila.


“Saya minta maaf sebelumnya karena saya tidak ijin Baba dan Buna menemui Nila, juga tidak antar Nila ke rumah,” ucap Rendi sopan.


Entah kenapa, mendengar Rendi kembali bertutur kata dengan sopanya, nyali dan emosi Baba seperti tertekan ke bawah, tidak bisa menyela, tapi Baba kan memang salah.


“Satu bulan ini saya meninggalkan ibukota, saya pulang ke Bambu teduh karena Abah sakit keras,” tutur Rendi.


“Abah sakit?” tiba- tiba kompakan Nila, Baba dan Buna spontan mengeluarkan kecemasan yang sama.


“Ehm…” Rendi jadi berdehem bingung sendiri.


Baba juga langsung kembali terdiam, Baba dan Abah kan memang sebenanrnya dan sesungguhnya sangat kental dekat hormat segan patuh dan sayang mendengar itu, hatinya memang jujur khawatir.


Sementara Nila langsung mengernyit. sedari kemarin kan Rendi tidak menyinggung Abah.


“Kenapa baru bilang Abah sakit? Abah sakit apa?” tanya Nila.


“Ehm… Abah jantung dan asthmanya kumat, sempat di rumah sakit lama, tapi Alhamdulillah sudah sembuh, dan ini saya dititipi kado dari teman- teman kamar Nila, itu sebabnya saya menemuinya,” ucap Rendi lagi.


“Oh gituu,” jawab Buna.

__ADS_1


Lalu semua menoleh ke tumpukan kado yang Nila letakan di depan Baba. Sangat terlihat jelas, kalau di kado itu adalah kado pernikahan bahkan ada tulisan barakallah Gus Akbar dan Ning Nila.


Baba dan Buna pun menatapnya dengan mata yang nanar dan teriris, begitu juga Nila dan Rendi. Seharusnya saat ini kan memang mereka tidak bertengkar tapi bersama- sama membahas penikahan Nila yang sah.


__ADS_2