
Nila berjalan tenang dengan tatapan lurus menuju ke ruang kelasnya. Bahkan langkahnya begitu cepat, padahal di grup baru saja diumumkan, dosen ada kepentingan mendadak jadwal maju 30 menit ke depan.
Entah kenapa, kali ini hatinya begitu kosong, langkahnya seperti tak ada asa ataupun greget seperti biasanya. Padahal hari ini cuaca begitu cerah, mahasiswa pun tampak ceria dengan aktivitas masing- masing.
Nila merasa sepi. Tidak ada gelisah, tidak ada debar, tak ada minat Nila tengak tengok berharap bertemu seseorang seperti biasanya. Padahal sebelumnya setiap tapak kakinya menginjak kampus, hati Nila berdebar, mendadak ingin membetulkan hijabnya sudah benar atau belum? Mendadak ingin menoleh kanan kiri. Pikiranya selalu berbayangm Apa dia akan bertemu Rendi atau tidak.
"Nilaa...," panggil seseorang menghentikan Nila yang berjalan cepat.
Nila pun menoleh ke sumber suara dan seketika itu senyumnya merekah.
"Dita?" pekik Nila senang. Setelah 2 hari tidak ada kabar, Dita sahabatnya kembali menampakan muka cerianya.
Nila pun berjalan cepat menyambut. Nila ingin memeluk Dita dan ingin cepat memberitahu statusnya. Nila ingin berbagi berita bahagia.
"Dari tadi dipanggil- panggil, jalan aja terus!" omel Dita seperti biasanya kesal ke Nila.
Nila tidak menjawab dan langsung memeluk Dita.
"Aku kangen sama kamu. Comel!" tutur Nila ceria memeluk Dita erat.
"Iuuuh.. Lebay!" jawab Dita seperti biasanya, nyablak.
"Hehe...beneran!" jawab Nila nyengir kemudian melepas peluknya.
"Masa?" tanya Dita.
"Iyah. Aku telponin nggak diangkat?"
"Hmm. Kamu sendiri kenapa ijin?" tanya Dita lagi
"Harusnya aku yang tanya. Kemarinya lagi kamu nggak berangkat nggak ada kabar kemana?" balas Nila tanya.
Keduanya saling pandang lalu menahan senyum dan seketika memecah bersama dengan raut berbinar.
"Aku mau cerita!" tutur keduanya berbarengan.
"Hmmm...," keduanya mendengus.
"Kamu dulu," ucap Dita.
"Kamu aja!" jawab Nila.
"Kamu!"
"Kamu!"
Mereka malah berebut cerita, umur mereka memang tidak bisa berbohong. Hal kecil saja jadi rame.
"Haish.. suit aja kalau gitu!" ucap Dita akhirnya memutuskan.
"Ya udah duduk sana yuk!" ajak Nila menunuk bangku di bawah pohon
Dita mengangguk. Karena sedari tadi Dita juga duduk di situ. Mereka pun bersuit seru layaknya anak- anak, sedang bermain. Padahal Nila ingin beritahu kalau dia sekarang adalah seorang istri sah dari dosen yang sering Dita cibir.
"Satu dua tiga, suit! Yah sama!" seru Dita kesal karena beberapa kali mereka suit tangan mereka kompak tidak ada yang menang atau kalah.
"Sekali lagi. Satu dua...tiiga!" ucap Nila memberi komando.
"Yang kalah yang duluan cerita ya!" jawab Dita memotong.
"Oke. Yuk. Satu.. Dua.. Tiiii ga?" ucap Nila memejamkan matanya hendak mengeluarkan tanganya, dan seketika itu Dita teriak.
"Yaah. Kalah!" ucap Dita ternyata Nila yang menang. Nila pun membuka mata.
Akan tetapi tiba- tiba, Nila dikagetkan oleh gerakan tangan yang mendarat di bahunya, spontan Nila langsung bergerak menepis tangan yang merangkul dirinya.
"Hai... Seru banget? Boleh dong kita gabung?" tanya Diki. Dia adalah teman sekelas Nila yang tahu- tahu di belakang Nila.
Nila tersentak, tidak banyak bicara tapi langsung menepis dan beringsut menjauh, muka cerianya langsung padam.
"Lhoh kok. Menghindar!" ledek Diki.
"Maaf. Yang sopan dong!" jawab Nila menghindari Diki dan menegur dengan sopan
"Ahahaha...," Della dan Sania yang datang bersama Diki tertawa sinis.
"Kalian apa- apaan sih?" tanya Dita tidak suka perlakuan temanya. "Datang- datang ganggu. Nggak sopan lagi asal rangkul Nila?" protes Dita.
"Lhoh. Kenapa kita kan pren. Ya Nggak, La?" jawab Diki.
"Diik. Nila kan ukhti. Bukan muhrim. Jangan dekat- dekat!" jawab Sania menyindir.
Diki seketika tersenyum sinis dan menatap Nila tajam. "Oh ya? Aku lupa. Kamu Ukhti ya La?"
Nila mengeratkan rahangnya menahan diri untuk tenang, hendak menjawab tapi sudah diserobot Della.
"Ya kecuali kalau kamu bisa bayar mahal Dik. Beda lagi! Kamu boleh pegang mana aja. Termasuk buka hijabnya..." imbuh Della tambah kurang ajar.
"Della! Sania! Kalian ngomong apa sih?" tanya Dita tidak terima dan langsung membentak.
Sayangnya tidak ada yang takut pada Dita.
"Begitu kan Nila?" tanya Della malah semakin menyudutkan Nila tidak memperdulikan Dita.
Semua jadi menoleh ke Nila. "Jangan- jangan kamu nggak tahu Dit? Ati- ati lho Dit. Orang diam itu menghanyutkan!" sambung Della lagi.
Nila masih berusaha tenang tanganya mengepal dan mengangkay wajahnya hendak menjawab. Sayangnya dari belakang Nila, Dita lebih dulu emosi.
"Apaan sih? Kalau ngomong dijaga ya!" sergah Dita kesal maju menjambak. Della.
"Dita jangan!" seru Nila mencegah Dita menjambak Della.
Della malah tersenyum menatap Nila mengejek.
"Kenapa. Dia melecehkanmu. La. Gue jambaak aja!" ucap Dita geram masih ingin meraih rambut Della.
"Heii....ada apa ini?" tepat di saat yang sama. Celine datang melerai.
Nila dan Dita jadi berhenti menoleh. Della dan yang lain juga langsung menyingkir memberikan jalan untuk Celine. Ya, Celine memang disegani.
__ADS_1
Celine dan Nila kemudian saling tatap.
"Kalian semua pergi. Aku ada perlu sama Nila!" ucap Celine kemudian.
Diki dan yang lain sedikit mengernyit.
"Pergi kalian!" seru Celine. Teman- teman pun patuh pada Celine, untuk beringsut mundur dan pergi tidak mengganggu Nila, kecuali Dita , dia memilih Stay.
"Lo nggak pergi?" tanya Celine ke Dita.
"Kenapa emangnya aku harus pergi. Sedari tadi aku di sini sama Nila!" jawab Dita kekeh. Dita kan sayang ke Nila, Dita jadi khawatir ke Nila.
"Nggak apa- apa. Dita. Kamu tunggu aku di depan ya!" ucap Nila lembut ke Dita. Nila tahu Celine masih punya banyak misteri yang ingin Nila buka. Jadi Nila akan hadapi Celine.
Karena Nila yang suruh, Dita pun patuh dan kini tinggal Nila dan Celine.
"Mau sampai kapan kamu bersandiwara dan menutupinya?" tanya Celine to the point begitu anak- anak pergi.
Nila seketika mengernyit. "Apa maksudmu bersandiwara?"
"Ayolah Nila. Katamu kita berteman kan? Selamat ya atas pernikahanmu?" ucap Celine datar.
Nila menunduk sejenak, kemudian menatap Celine tersenyum.
"Terima kasih. Apa Farel yang beritahu kamu?" jawab Nila.
"Tidak penting aku tahu darimana. Sebagai teman aku cuma ingetin. Kalau kamu ingin suamimu baik- baik saja. Kuncinya ada di alamat rumah sakit yang pernah aku tunjukin!" ucap Celine lirih dan serius.
Nila mengernyit lagi. Celine benar- benar tidak bisa ditebak.
"Satu lagi. Kalau kamu tidak ingin dilecehkan. Akuilah statusmu dan pernikahanmu! Apa memang sengaja biar kamu dihina? Ntar nyesel lhoh!" imbuh Celine berbisik ke telinga Nila, tidak menunggu jawaban Nila. Celine langsung beranjak pergi setelah selesai bicara. Ya. Celine selalu seperti itu, aneh.
"Celin tunggu!" seru Nila masih ingin bicara dengan Celin.
Celin pun berhenti, walau dirinya tidak berbalik ke Nila tapi tetap menatap ke depan membelakangi Nila.
"Aku akan beritahu teman- teman. Niatku sekalian kasih kalian undangan resepsi kami! Tidak ada niat apapun apalagi sengaja. Aku juga tidak peduli apa yang kalian tuduhkan pada kami. Kami sudah dijodohkan sejak 3 tahun lalu," ucap Nila sekarang Nila berani terbuka, setelah mempunyai buku Nikah. Nila percaya diri.
Celine kemudian menyunggingkan senyum masam, tidak menanggapi lebih juga tidak menoleh ke Nila. Celine kembali melanjutkan langkahnya.
"Apa maksud kamu tentang Rumah Sakit Jiwa itu. Ada hubungan apa dengan Mas Rendi?" seru Nila lagi menuntaskan tanda tanya nya.
Sayangnya kali ini Celine tidak berhenti dan terus melangkah.
Nila dibuat termenung. Sepertinya Celine suka memberinya teka teki. Termasuk dirinya, apakah dia baik atau hendak mencelakakan Nila.
"Apa maksud dia. Mas Rendi baik- baik saja kan? Dia menjebakku atau memberi petunjuk aku?" gumam Nila jadi khawatir, tapi sekarang kemungkinan Rendi sedang dalam perjalanan terbang. Nanti saja ceritanya.
Setelah melihat Celine pergi, Dita langsung mendekat. Dita pun menatap Nila dengan serius.
"Kalian obrolin apa sih? Kamu punya urusan apa sama Celine? Kenapa teman- teman pada ngatain kamu?" tanya Dita seperti biasa ceriwis.
Nila pun langsung tersenyum menatap Dita.
"Gimana tadi lanjutanya? Mau kamu dulu yang cerita? Atau aku? Semua tanyamu ada di cerita yang ingin aku kasih tahu!" jawab Nila terhadap Dita kembali tenang dan ceria. Rasanya dheg- dhegan dan tidak sabar memberitahu Dita. Nila penasaran respon Dita. Apa Dita marah atau syok.
Ditanya begitu, tiba- tiba pipi Dita malah merona merah, Dita jadi salting dan membuat Nila mengernyit penasaran.
"Happy banget kayanya? Apa sih?" goda Nila ke Dita.
"Hehe. ada dua happy dan sedih. Kamu mau mana duluan?" tanya Dita malah kaya mau kasih kuis. Nila pun mencebik.
"Gimana sih? Ceritain semualah!"
"Hehe. Tapi kamu jangan iri? Jangan kaget!" ucap Dita lagi
Nila tambah mengernyit. "Apaan sih. Untuk apa juga aku iri. Buruan cerita?"
"Yakin nggak iri?" tanya Dita.
"Yee...Enggak. Ada kabar bahagia apa emangnya?" tanya Nila tidak sabar.
"Hehe...," Dita pun tertawa malu- malu tersipu sambil menutup matanya, lucu sekali.
"Apa sih buruan!"
"Yang sedihnya dulu deh!"
"Ya udah apa?" tanya Nila.
"Bapakku sakit!" jawab Dita.
"Hoh. Sakit? Sakit apa? Gimana keadaanya? Tapi kok kamu seneng?" tanya Nila syok mau iba tapi juga bingung.
"Kan belum selesai!" jawab Dita
"Oh yaya."
"Karena Bapak sakit. Bapak minta aku turutin Bapak. Aku dilamar Nilaa... Aku tunangan...," tutur Dita setengah menjerit kegirangan bahkan meraih tangan Nila dan kakinya menginjak- injak bumi.
"Ooh.. Tunangan?" jawab Nila berespon biasa saja.
Seketika itu Dita pun terdiam dan manyun, sebab sebelumnya kan Dita kira Nila akan exited.
"Kok kamu cuma gitu?"
"Ya udah iya. Selamat," jawab Nila.
"Aih. Kok gitu doang. Aku yang katamu nggak feminin ini di lamar cowok ganteng tahu! Kamu nggak kaget?" tanya Dita berharap Nila berekspresi lebih
"Yaya. Emang siapa yang lamar kamu? Tapi kan belum nikah. Kapan nikahnya?" tanya Nila.
Dita pun langsung mencebik. "Ck. Ih kamu gitu doang. Ya. Nikahnya nanti lah. Aku belum siap!" jawab Dita.
"Hmm...Tapi nggak baik tunangan lama- lama. Banyak godaanya!" jawab Nila malah kasih nasehat.
"Santai aja orangnya baik kok?"
"Oh ya. Kalau boleh tahu siapa dia?"
__ADS_1
"Namanya Irawan?"
"Bagus? Dia satu daerah sama kamu?" tanya Nila lagi
"Tetangga 5 langkah malah!" jawab Dita.
"Woaaah?" pekik Nila heran. "LDR dong?"
"Nggak. Dia di sini juga kok. Makanya kita dijodohkan." jawab Dita.
"Oh gitu? Kuliah juga?" tanya Nila.
"Enggak. Dia prajurit di kesatuan deket situ?" jawab Dita.
"Oh tentara?" tanya Nila.
Dita mengangguk senang.
"Ciee.. Sama yang Pak Tentara?" goda Nila. "Umur berapa?"
"Dia udah dewasa kok. Ada kali 15 tahun di atasku?" tutur Dita lagi.
"Hooh?" pekik Nila terperannjak kaget. Ternyata calon Dita lebih tua dari Rendi.
"Kenapa?" tanya Dita
"Nggak apa- apa!" jawab Nila menelan ludahnya.
Dita kemudian menatap Nila. Yang menggigit bibirnya tersipu.
"Sekarang gantian kamu!" tanya Dita.
"Ha!" pekik Nila kaget karena masih melamun senang, kalau jarak Dita 15 tahun, berarti Nila dan Rendi tidak terlalu jomplang.
"Cepat cerita. Gantian!"
"Gleg!" Nila menelan ludahnya gelagapan.
"Buru. Kan aku udah cerita!" tutur Dita memaksa..
"Ehm..." dehem Nila bersiap. Dita pun mengambil posisi manis siap mendengar.
Nila tampak gugup mau berucap dan Dita terus menggerakan matanya seperti mengomando Nila untuk bicara.
"Aku .. Aku!"
"Iya.. Aku apa?"
"Aku...aku udah menikah?" tutur Nila akhirnya.
"What?" pekik Dita melongo dan kali ini Dita syok, dia kira dia tunangan itu sesuatu yang luar biasa.
"Ya. Aku kemarin mengesahkan pernikahanku secara sipil. Dan sebelumnya aku udah nikah agama 3 tahun lalu," sambung Nila.
"Hoooh. Nilaa?" Dita tambah spechless mendengarnya. Bahkan tenggorokanya terasa tercekat dab raut wajah Dita langsung berubah. "Kamu udah nikah? 3 tahun lalu? Pantes kamu biasa aja denger aku tunangan. Ehm...ehm..." dehem Dita tak menyangka dan Dita mendadak pucat karena kaget.
"He...iya. Mau minum dulu?" tanya Nila menyeringai.
Dita pun mengangguk dan Nila mengambilkan air mineral bawaanya. Nila menunduk menelan ludahnya menunggu Dita minum, hati Nila jadi berdebar keras apa respon Dita kalau ternyata suaminya itu dosen mereka.
"Kok bisa sih? Berarti kamu nikah pas smp dong. Kamu kecelakaan apa gimana? Terus kenapa teman- teman ngatain kamu?" tanya Dita sekarang sembuh syoknya dan memberondong Nila pertanyaan lagi dan malah berfikir buruk.
"Hmmm...," Nila pun mencebik.
"Enak aja kecelakaan. Nggak! Aku di pesantren. Aku dititipin di Pesantren kok. Aku tinggal di asrama. Aku sama kaya kamu dijodohin! Jadi yang penting status kita dulu!" jawab Nila jadi ngegas.
"Oh. Di pesantren. Dia kyai yah? Kamu dipoligami? Jadi istri kedua. Jangan- jangan kamu malah jaraknya 30 tahun?" tanya Dita lagi menyerbu.
"Yeee.. Sembarangan! Dia bukan kyai, lebih tepatnya anaknya! Kita jarak 14 tahun kok!" jawab Nila lagi mencebik. Dita asal nuduh aja.
"Kirain. Biasanya kan yang doyan begitu kan kyai- kyai tua! Makanya teman- teman ngatain kamu!" jawab Dita.
"Nggak. Sepertinya dari mereka ada yang pernah liat aku bareng suamiku pas di hotel!" jawab Nila.
"Uhuk...uhuk...," mendadak Dita serak dan tersendak.
Nila jadi mengernyit. "Apa sih nggak minum juga?" tanya Nila.
"Kamu udah sering ke hotel. Berarti kamu udah... Gitu?" tanya Dita lagi.
Nila jadi menunduk tersipu. Rupanya Dita tidak exited tahu siapa suami Nila tapi yang lainya.
"Pernah. Baru kok!" jawab Nila dengan jujurnya.
"Hooh... Nila. Ternyata kamu ya? Beneran kamu udah pernah em el?" tanya Dita lagi.
Nila pun spontan menutup mulutnya.
"Ishh... Nggak usah keras- keras!" Dita langsung membuang tangan Nila dan melongo. Lalu memeriksa tubuh Nila
"Gimana rasanya? Kamu nggak takut hamil?" tanya Dita.
"Ish apaan sih? Nikah buruan ya makanya biar tahu!" jawab Nila.
"Yeeey..." pekik Dita..
Akan tetapi perkataan Dita membuat Nila termenung. Iya, yah. Nila sudah melakukan itu, kalau hamil bagaimana.
"Kok diam?" tanya Dita melihat Nila terdiam.
"Udah yuk ke kelas udah mau masuk!" jawab Nila mengajak mereka masuk kelas.
"Tunggu!"
"Apa?".
"Kasih tahu siapa suami kamu?" tanya Dita.
"Gleg!" seketika itu Nila terdiam.
__ADS_1