
Dengan membawa sekantong parcel, Rendi menggenggam erat tangan Nila istrinya, Rendi berjalan dengan gagah menyusuri rumah sakit internasional bak hotel berbintang lima.
Nila pun menerima genggaman suaminya dengan tenang, berjalan mantap dengan percaya diri, menampakan wajah tercantiknya. Nila mengenakan gamis berwarna terang paduan putih dan salem, dengan hijab pasmina yang dibalutkan dengan anggun.
Tuan Roberth yang sudah terlanjur keluar kamar pun memaku diri, sengaja menunggu Rendi mendekat.
"Oh Hai...lihatlah siapa yang datang? Pengantin baru rupanya, suatu kehormatan, aku kedatangan tamu istimewa. Akhirnya Om ketemu juga dengan istrimu Ren!" sambut Tuan Robert dengan sangat ramah.
Nila pun tersenyum menganggukan kepala tanda hormat. Rendi juga tersenyum tersipu, lega, bisa menunjukan ke istrinya, benar kan? Om Robert itu baik. Rendi kan kemarin berniat menghormati Om Robert.
"Om bisa saja. Kehormatan kaya presiden aja?" jawab Rendi.
"Ya terhormat. Dinikahanmu kami tak ada yang datang. Malah kalian ke sini!" jawab Om Roberth.
Nila masih stay dengan posisi manisnya mendengar dan memperhatikan percakapan dua laki- laki ini sembari mencoba mengenali, sosok seperti apa ayah Vallen ini.
Sementara Tuan Robert menatap Nila.
"Whats your name, girl?" sapa Roberth ke Nila mengulurkan tangan.
Tapi Nila langsung menangkupkan tanda hormat dan menolak salaman secara harus.
"Nama saya, Nila, Nila Putri Gunawijaya!" jawab Nila sopan memperkenalkan diri.
"Oh.. Ya. Your Gunawijaya's daughter?" tanya Tuan Roberth tersenyum.
"Iyah!"
"Oh yah. Your father, the greatest businessman," puji Tuan Roberth lagi.
"Thank you, Om!" jawab Nila.
"You are very beautiful, you're pretty wife. Nice to see you. Rendi beruntung sekali beristrikan kamu!" puji Tuan Robert lagi.
"Ehm...," Rendi pun berdehem senang
Nila juga menunduk tersipu. "Terima kasih Om,"
"But. Sepertinya youre so young? Right? Berapa umurmu?" tanya Tuan Roberth lagi.
"Ehm...," kali ini Nila berdehem sedikit tidak nyaman lalu melirik Rendi.
"Nila mahasiswiku, Om! Dia memang masih muda. Kita selisih sekitar 14 tahun," jawab Rendi membela.
"Oh Yah. You still kuliah? Why mau menikah denganya?" tanya Tuan Robert lagi pertanyaannya makin lama makin membuat Nila suasana hatinya sedikit berubah.
"Kita dijodohkan Om. Tapi dia membuatku jatuh cinta. Begitupun dia. Kita saling jatuh cinta. Umur dan status bukan masalah untuk kami. Pernikahan kami bahagia. Gitu kan Dhek?" sahut Rendi lagi.
Nila pun mengangguk dan tersenyum senang suaminya mewakilinya menjawab.
Tuan Roberth balas tersenyum.
"Oh gitu? Its good. You are cute couple!" puji Tuan Robert untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Makasih Om!" jawab Rendi.
Nila ikut tersenyum, walau bagi Nila ini aneh. Nila kan tahu Tuan Roberth hampir berbesanan dengan Abah, tapi ditolak, kenapa tanya- tanya begini dan terus memujinya.
"Ya sudah ayo. Masuk. Vallen pasti senang melihat kedatangan kalian!" tutur Tuan Robert menepuk bahu Rendi untuk masuk.
Rendi dan Nila mengangguk, dan Tuan Roberth membukakan pintu. Rendi dan Robert mempersilahkan Nila masuk lebih dulu membawa sebungkus parsel, Rendi di belakangnya dan Tuan Roberth dengan sangat sopan paling belakang.
Berbeda dengan sambutan Tuan Robert yang begitu hangat, Vallen tampak memejamkan matanya. Namun bibir Vallen tidak pucat seperti orang sakit. Aroma parfum langsung tercium oleh Nila. Vallen juga tampak glow Up, bibirnya tampak segar berwarna merah muda, kelopak matanya juga berwarna walau natural, eyelashnya juga terlihat begitu lentik. Sepertinya baru dandan, cantik. Nila akui.
Untung saja Nila juga tadi sedikit memoleskan make up ke wajahnya. Pokoknya Nila tidak mau terlihat lebih lusuh dari pesaingnya.
Nila pun berjalan hati- hati, lalu berhenti dan menoleh ke Rendi.
"Nggak apa- apa. Silahkan duduk. Om bangunkan!" ucap Om Roberth mempersilahkan Rendi dan Nila duduk.
Rendi memberi kedipan mata ke Nila dan mengajaknya duduk. Tuan Robert tampak membangunkan lembut putrinya, yang Tuan Robert tahu pasti, Vallen belum dan memang tidak tidur kan mereka baru saja mengobrol.
"Sayang... Wake Up. Ada tamu!" lirih Tuan Robert.
"Mmmpt.." Vallen tampak menggeliat lalu mengerjapkan matanya.
Nila pun menganggukan kepala tanda hormat karena Vallen menoleh ke dirinya.
"Rendi datang bersama istrinya menjengukmu kamu senang kan?" tanya Tuan Robert
Vallen pun tampak tersenyum lalu menyibak selimut dan bangun dari tiduranya untuk duduk.
"Baru Kak!" jawab Nila.
"Akhirnya ketemu juga ya kita. Kenalan dong!" ucap Vallen mengulurkan tangan walau sambil duduk di atas tempat tidur dengan ramah, benar- benar di luar dugaan Nila.
Nila juga merasa ada yang aneh. Kata Rendi, Vallen depresi, tapi kenapa terlihat sangat cantik segar dan juga ramah. Nila sedikit canggung menoleh ke Rendi, Rendi pun menganggukan kepala kode, meminta Nila menghormati Vallen.
Nila yang sehat mengalah bangun dan menyambut perkenalan Vallen. Mereka pun bersalaman.
"Nila,"
"Vallen. Oh ya. Selamat yah atas pernikahanya! Semoga langgeng jangan kata aku. Maaf aku belum sempat beli kado. Malah sakit ini!" ucap Vallen lagi, benar- benar tak nampak depresi atau sakit parah dalam penglihatan Nila.
Nila yang sebelumnya sudah menyiapkan banyak kata jadi berubah total dan harus menyesuaikan sikap di luar rencana.
"Makasih Kak. Nggak perlu kado kok. Doanya aja kita bahagia, dijauhkan dari segala goda dan pengganggu, udah cukup kok!" jawab Nila memulai lebih dulu memberikaan sedikit sentilan.
Sepertinya Vallen paham, Vallen sedikit merubah tatapan matanya sambil terdiam, lalu sepersekian detik tersenyum lagi.
"Oh ya tentu dong. Rendi itu sahabatku terbaikku. Doa terbaik dong untuk sahabat. Iya kan Rend?" jawab Vallen menoleh ke Rendi.
Rendi yang ternyata sedang memeriksa ponsel karena ada whatsap malah gelagapan.
"Ha.. Ya ada apa?" jawab Rendi.
"Nggak apa- apa. Ada cicak lewat. Kamu ih dari dulu sukanya gitu? Kagetan ngalamunan!" ucap Vallen sedikit centil dan ingin menunjukan ke Nila kalau mereka dulu dekat.
__ADS_1
Nila yang masih berdiri di dekat Vallen, sedikit mengeratkan rahangnya, dia berdiri dengan nyata di depan Vallen, tapi tatapan Vallen ke arah suaminya terus. Nila jadi kesal tapi masih menjaaga ketenangan, dia pun hanya melirik ke suaminya.
"Aku lagi baca whatsap, sory ijin angkat telepon dulu!" jawab Rendi malah pamit keluar.
"Ayo Nak. Nila. Sit down. Please!" ucap Tuan Roberth ternyata peka memberikan kursi ke Nila
"Ah iya Om, makasih!" jawab Nila.
"Vallen dan Rendi itu bersahabat dekat kita sudah seperti saudara. Kamu jadi istrinya. Itu berarti kamu dan Vallen juga jadi saudara kan?" tutur Tuan Roberth masih begitu ramah.
Tapi entah kenapa walau Tuan Roberth ini sangat ramah hati Nila tetap tidak bisa menerima keramahanya dengan nyaman.
Vallen pun melirik Nila yang malah terdiam mendengar ucapan Tuan Robert yang begitu hangat.
"Kamu mau kan jadi saudaraku? Aku senang punya saudara," tanya Vallen lagi.
Nila sedikit tergagap, tapi belum sempat menjawab sudah disahut lagi.
"Vallen di sini sendirian. Om bolak balik ke LA untuk urus bisnis kami. Vallen sangat bergantung pada kawan- kawanya seperti Rendi, dan yang lain. Vallen sangat senang jadi tambah saudaranya," sambung Tuan Roberth sok akrab.
Akan tetap saja Nila merasa tidak suka. Nila melirik ke Rendi yang sepertinya acuh dan masih berkutat dengan teleponya.
"Saudara saya banyak Om. Saya nggak perlu saudara lagi. Tapi kita bisa berteman kok!" jawab Nila sedikit ketus.
"Oh...," Tuan Robert dan Vallen yang tadinya ramah mendapat jawab Nila langsung padam dan menatap Nila sedikit tajam. Begitupun Vallen, lebih terlihat menampakan muka murung mendapat jawaban Nila.
Akan tetapi sepersekian detik mereka kembali menyunggingkan senyumnya.
"Oh yaya. Maksud Om. Om besok harus LA. Sementara Vallen masih harus menjalani perawatan. Om sangat senang jika Rendi ataupun kamu ada untuk Vallen, menemaninya!" jawab Tuan Roberth lagi.
"Maaf Om. Nila dan Mas Rendi nggak bisa temani Kak Vallen. Kita hanya jenguk aja kok. Nila ingin tahu keadaan Kak Vallen dan Nila doain Kak Vallen cepat sembuh. Kalau ayah Nila. Sesibuk apapun kalau anaknya sakit pasti ditungguin dan yang lain cancel Om!" ucap Nila lagi dengan lancar dan langsung memadamkan aura hangat dan ramah dari keduanya.
Tepat di saat yang aama Rendi masuk.
"Maaf Om. Len. Aku ditelpon dadakan, harus ke kampus, ada kerjaan mendadak. Kita nggak bisa lama- lama jenguknya. Cepet sembuh ya. Ayo Dek!" ucap Rendi tidak peduli sebelumnya istrinya dan dua orang rekanya membahas apa- apa. Rendi tampak tergupuh.
Nila langsung sigap bangun. Vallen dan Om Roberth menelan ludahnya dan sedikit mengeratkan rahangnya.
"Ya. Terima kasih sudah menjenguk. Nak Rendi!" ucap Om Robert memaksakan senyum dan menepuk bahu Rendi
Sementara Vallen masih tampak murung.
"Kita pamit ya Kak Vallen Om. Semoga Kak Vallen cepat sembuh!" ucap Nila sopan dan tersenyum.
Vallen sudah hilang mood hanya diam. Rendi yang diburu- buru tidak peduli yang lain langsung meminta Nila buru- buru pergi
"Praaang....," begitu Rendi dan Nila pergi Vallen langsung melempar gelas meja makan rumah sakit yang mobil. Om Roberth sampai kaget mendengarnya.
"Daddy lihatkan seberapa menyebalkan bocak ingusan dan tengil itu. Dia berani menantangku Dad?" ucap Vallen kesal.
Tuan Robeth yang sebelumnha sangat ramah pun kini kembali bermuram durja dan mengeratkan rahangnya.
"Dia persis seperti ayahnya. Harus diberi pelajaran! Kurang ajar!"
__ADS_1