Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Bekerja Sama


__ADS_3

Bagi pasangan pengantin, H+1 adalah hari yang melelahkan. Hari dimana mereka beristirahat, seharusnya mereka mengambil libur kalau perlu ditambah untuk bulan madu. Bahkan karyawan Baba oleh Baba pribadi dan bagian managemen kepegawaianya, diberi cuti 1 minggu.


Akan tetapi, nasib Nila, Putri seorang Baba Ardi Gunawijaya, berbeda. Walau pernikahan mereka baru berlangsung hari lalu, hari ini Nila tetap kuliah dan Rendi tetap melaksanakan tugasnya.


Baik Buna, Oma dan semua anggota keluarga atau para maid iba mendengar saat Rendi pamit, hanya Baba yang terlihat tenang dan menenangkan Nila. Baik memang membuat Nila dewasa, tapi Baba seakan tak punya empati.


Rendi tugas bukan hanya keluar kota, ternyata Rendi ada jadwal isi kuliah umum dan seminar di provinsi luar pulau yang harus naik pesawat.


Jadwal mengisinya memang hanya dua hari, dan dua tempat, tapi perjalananya, tidak bisa ditebak, apalagi konon kota itu di pelosok. Saat menyempatkan pamit ke Abah dan Ummi, mereka lebih emosional.


"Astaghfirullah, kerja ya kerja. Tapi jangan ngoyo. Dibayar seberapa sih? Kenapa harus jauh- jauh ke sana? Emang di kampus sana nggak ada dosen lain?" tanya Ummi marah mendengar putranya mau meninggalkan istrinya.


Nila menunduk, mendengarkan sementara Rendi menghela nafasnya. Sebenarnya bagi Rendi, ini jauh lebih berat dan sesak dari semua orang yang memarahinya.


Betapa tidak, Rendi sangat senang dan semangat- semangatnya di usianya yang sudah 1/3 abad, selama ini dia berpuasa, hanya bisa merasakan lewat mimpi yang acak. Sekarang, akhirnya bisa nyata merasakan harum dan hangatnya tubuh perempuan, apalagi istrinya bak dara yang belia segar dan menawan, terpaksa harus kembali puasa. Bahkan semua inci tubuh Nila masih jelas tercetak dalam ingatanya, wanginya masih terasa.


"Maaf Mi. Pernikahan Akbar kan diadakan dadakan Mi... Sementara kontrak dan jadwal ini sudah sejak 1 bulanan lalu. Mereka minta tolong Akbar menyampaikan ilmu yang Akbar dapat saat Akbar kemarin seminar di luar. Kan tidak semua Dosen ikut."


"Apa nggak bisa diundur?"


"Nggak bisa. Mereka sudah memfasilitasi semua. Akbar yang salah karena kemari. Akbar lupa. Kan acaranya melibatkan banyak orang Mi. Peserta seminar juga bayar untuk dengarkan Akbar!" tutur Rendi memberi pengertian.


"Hmm...., ya udah. Datang ke yang isi seminar. Yang isi kuliahnya jangan!" Ummi berdehem kecewa dan menawar.


"Maaf. Saat Akbar ambil cuti dan libur pulang ke pesantren pekerjaan Akbar sudah banyak terbengkalai dan diwakilkan teman. Sekarang gantian. Harus Akbar yang berangkat!" jawab Rendi sopan. Ya. Pikiran Rendi sangat terfokus pada perniikahanya sampai jadwalnya dia ingat karena ditelepon.


"Hhhh...," Ummi menahan sesaknya hanya bisa dengan mencebik.


"Ya sudah nggak apa- apa. Sabar... Tunaikan apa yang menjadi kewajibanmu dulu. Barang siapa sabar, Insya Alloh nanti banyak senangnya!" sahut Abah.


"Kalau bekerja pada orang lain. Ya begini. Harus tunduk aturan. Pahami suamimu yang hanya jadi abdi ya, Nduk!" tutur Ummi kemudian menoleh ke Nila, mimik Ummi sedikit masam dan penuturan Ummi mengandung sindiran untuk Rendi.


"Iya.. Ummi. Nila nggak apa- apa, kok. Kan Nila juga kuliah!" jawab Nila mengerti tugas suaminya.


"Duh... Kasian. Setelah ini harus selektif pilih kerjaan Kak!" sahut Fatma.


"Iya. Kakak dan Ning Nila harus sempatin honeymoonth. Jangan terlalu keras bekerja. Liburan juga penting lho untuk kalian!" sahut Aisyah


"Aku nggak lama kok. Insya Alloh secepatnya pulang. Pesawat kan cepet. Santai aja!" sahut Rendi menenangkan. Walau dirinya sebenarnya yang gelisah. Rendi kemudian melihat jam sudah waktunya berangkat.


Rendi pun segera pamit pada orang tua dan keluarganya.


"Ya. Ya sudah. Kami juga pamit. Nanti sore kita pulang!" tutur Abah.


Rendi mengangguk lalu mengutarakan kalau dia harus segera berangkat. Mereka pun berpelukan sebagai tanda perpisahan.


Rendi pun hanya diantar Nila dan supir, kali ini meminta bantuan suami Bu Siti untuk mengantar sampai bandara. Karena ada suami Bu Siti, Rendi dan Nila duduk di belakang.


"Beneran nggak marah kan?" tanya Rendi lembut lalu mengambil tangan Nila dan dielusnya pelan. Rendi takut istrinya kecewa.


Nila pun menoleh Rendi, jika saat di rumah Nila selalu tersenyum, kali ini mencebik, kesedihan Nila tidak bisa disembunyikan.


"Kalau memang mau pergi, seharusnya tadi malam tidur di kamar. Kenapa nggak bilang dari kemarin?" tanya Nila akhirnya berani mengutarakan hatinya, kalau Nila juga senang berdekatan bahkan ingin dipeluk Rendi saat tidur. Nila masih ingin menempel dengan suaminya ini.


"Ehm...," Rendi menoleh ke suami Bu Siti yang tampak fokus menyetir, Rendi ingin mengobrol lebih privat, jadi tidak nyaman.


"Maaf banget, mas kemarin lupa ada banyak data yang harus dientry. Mas juga nyesel. Mas akan selalu kangen kamu. Pokoknya nanti kalau mas telepon harus diangkat ya!" ucap Rendi menepuk telapak tangan Nila lembut sebagai permohonan dan penyesalan.


Nila mengangguk dengan wajah manisnya.


Rendi pun tersenyum dan tanganya tergerak mengelus pipi Nila. Ingin sekali Rendi melu mat bibir mungil di depanya ini. Tapi Rendi malu ada Suami Bu Siti. Dia pun memilih terus menggenggam tangan Nila sepanjang jalan.


Hingga tanpa terasa mereka sampai bandara. Tepat saat mereka tiba, pengumuman keberangkatan tujuan Rendi diumumkan untuk bersiap- siap masuk, 15 menit lagi.


Rendi pun cepat turun dan mengambil tiketnya dalam tas. Setelah berpamitan pada Nila dan suami Bu Siti Rendi segera memeriksakan tiketnya. Lalu beranjak hendak masuk area penumpang pesawat.


"Maas?" panggil Nila keras.


Rendi yang berjalan masuk berhenti menoleh.


Nila tampak berlari ke arahnya.

__ADS_1


Rendi pun membalas berlari menyambut. Rendi tahu Nila tidak boleh melewati batas pengantar.


Mereka pun bertemu di depan pintu masuk. Begitu berhadapan, Nila memeluk Rendi dengan cepat.


"Gleg!" Rendi tercekat menelan ludahnya, dia tidak menyangka Nila akan seperti ini.


Bahkan Nila memeluknya erat dan ternyata terisak dalam pelukanya.


Dada Rendi pun bergetar, tubuhnya membeku, kakinya jadi terasa berat melangkah. Merasakan pelukan Nila yang erat dan hangat, juga mendengar isaknya membuat hati Rendi teriris.


Setelah bertahun- tahun, Rendi pulang pergi keluar negeri, bauk untuk ikut seminar, kuliah, ikut simposium atau tugas menjadi utusan dari kampus, Rendi selalu pulang pergi sendiri. Jangankan menangis untuknya, menanyakan kepulangan dan kepergianya saja tidak ada. Semua karena hubungan profesional, bahkan orang tuanya juga tidak tinggal bersamanya, tidak pernah tahu kapan dia pulang dan pergi.


Ya, walau di hadapan Baba dan Abah Nila diam dan nampak tegar, tapi di hati Nila menyimpan banyak rasa, cemburu, kesepian, khawatir, ingin dimanja dan juga rindu yang begitu menyesakan semua beradu jadi satu.


Tanpa berucap, tangan Rendi pun tergerak menepuk bahu Nila pelan.


"Doakan Mas, perjalanan Mas lancar, mas sehat, Mas janji akan pulang cepat. Kalau libur nanti kita pergi ya!" bisik Rendi pelan, walau sesak Rendi, harus dewasa dan memaksa Nila mandiri juga mengerti.


Nila tidak menjawab, hanya mengeratkan pelukanya.


"Doain, Alloh bantu Mas. Semoga ilmu yang mas sampaikan membawa kebaikan? Jadi amal dan bawa keberkahan untuk rumah tangga kita. Kamu juga belajar yang benar. Ingat pesan Baba!" lanjut Rendi memberi pengertian istrinya yang manis ini. Walau hatinya sendiri juga sesak, inginya terus bersama melihat Nila yang terkadang terlihat dewasa tapi ternyata banyak sisi manja dan kekanakan.


Pengumuman dari pihak Bandara kembali terdengar, sehingga Nila melepas pelukanya.


"Kalau ada mahasiswa yang cantik, jangan ngobrol! Pokoknya nggak boleh liat- lihat apalagi dekat- dekat. Kalau isi kuliah diam. Jangan jalan- jalan. Kasih tahu Mas udah punya istri," celoteh Nila dengan mulut manyunya, walau sedikit malu, keluar juga isi hatinya yang mulai ditumbuhi cemburu dan khawatir.


Rendi sedikit menyunggingkan senyumnya, lalu mengangkat dagu Nila, dan tanpa malu atau peduli orang lain, Rendi mendaratkan bibirnya mema gut Bibir Nila lembut dan menumpahkan semua sayangnya.


Tidak banyak berucap dan berjanji, Rendi hanya ingin Nila tahu, bahwa cintanya, nap sunya, perasaanya, rindunya hanya untuk dia.


Nila sekarang sudah mengerti. Nila tidak lagi canggung atau menolak. Tubuh Nila melemas, menerima dan membiarkan apapun yang Rendi inginkan darinya.


Setelah sepersekian detik, Rendi melepasnya pelan, kemudian menatap Nila lembut.


"I love you. Percaya sama Mas. Hmm?"


Nila pun mengangguk sembari mengelap ujung bibisnya yang basah terkena air liur Rendi.


"Jaga diri. Belajar yang bener ya. Kalau di rumah kesepian. Tidurlah di rumah Kak Jingga atau Baba!" tutur Rendi kemudian mengusap kepala Nila memberi pesan.


Nila mengangguk tidak banyak berkata. Rendi tersenyum lagi lalu berbalik, memberikan lambaian tangan dan begitu melihat jam, langsung berlari membawa tas punggungnya karena waktunya sudah mepet.


Nila pun melambaikan tanganya tak beranjak walau satu langkah. Matanya menatap lurus, terasa sulit berkedip sampai sosok suaminya benar- benar hilang dari pandanganya. Tanpa terasa air matanya pun menetes lagi.


"Kenapa hatiku rasanya sesak begini? Aku dan Mas Rendi biasa berjauhan kan? Ingat, kuliah yang utama Nila!" tutur Nila meneguhkan dirinya. "Ya Alloh lindungi suamiku." lanjut Nila berdoa.


Ya, Nila sendiri memang tidak tahu apa sebabnya, saat bersama Baba, Buna, Abah, Ummi dan keluarga yang lain, ada rasa tenang di hati Nila. Tapi sekarang Nila merasa sendiri. Rasanya seperti ditinggal separuh dirinya. Terasa sangat berat. Nila ingin terus ada Rendi, ikut Rendi, bisa marah- marah, merasakan debar hangat saat bersama Rendi.


Dan yang membuat tambah sesak, entah bisikan dari mana, hati Nila seakan berkata akan ada banyak yang akan dia hadapi.


"Sabar, Non." tutur suami Bu Siti mengagetkan Nila dan menyodorkan tissu.


Nila pun meraihnya tanpa berucap. Kemudian mengelap air matanya.


"Pak Rendi memang biasa keluar. Rumah juga seringnya kosong, apalagi 3 tahun belakangan ini. Sering keluar negeri. Beli Rumah, tapi nggak ditempati. Kayanya rumah cuma jadi tempat singgah. Kalau di rumah juga di depan komputer terus Non! Baru- baru ini lho Pak Rendi jadi mau makan di rumah, nginep di rumah, olahraga di rumah. Ini juga katanya cuma dua hari. Kali ini Pak Rendi akan merindukan rumah. Kan Ada Non. Insya Alloh cepet Non!" lanjut Suami Bu Siti jadi bercerita dan menghibur Nila.


Nila mendengarkan, lalu, menoleh ke suami Bu Siti dan tersenyum.


"Iya, Pak. Semoga perjalanan Mas Rendi lancar!" jawab Nila.


"Nah gitu dong. Jangan nangis lagi ya!"


"Iya Pak. Nila cuma kasian. Mas Rendi man pasti masih capek. Tapi harus kerja!" jawab Nila lagi alasan.


"Ehm...," Suami Bu Siti jadi berfikir, apa Rendi dan Nila sudah mencetak gol. Pengalaman mereka kan setelah resepsi memang badan terasa letih lesu dan lunglai. Tapi pikrian itu pun segera ditepis. Tidak sopan memikirkan hal pribadi tuanya.


"Oh iya. Non. Ini mau kemana? Ke kampus? Ke rumah, orang tua Non. Atau ke rumah Pak Rendi?" tanya suami Bu Siti lagi.


Suami Bu Siti mengerti, istri majikanya ini masih sangat belia, terlihat dari wajahnya yang seperti anaknya yang duduk di bangku SMA, anak Bu Siti juga masih tergantung dengan orang tuanya. Suami Bu Siti pun sudah diberi pesan kalau harus jaga Nila juga biarkan Nila memilih kemana termasuk ke rumah orang tuanya.


"Nila ada kuliah, Pak!"

__ADS_1


"Siap Non. Berarti ke kampus ya?"


"Iya Pak!"


"Ya udah. Hayuk mangga, Non!" ajak suami Bu Siti.


Nila mengangguk dan berbalik, berjalan ke parkiran diikuti Suami Bu Siti.


"Oh iya Non. Nanti pulangnya sama saya atau supir Bapaknya Non?" tanya Suami Bu Siti mengkonfirmasi mengira Nila akan pulang ke rumah Baba.


"Di jemput Pak Rahmat saja. Saya pulang ke rumah Pak." jawab Nila.


"Gleg!" Pak Rahmat pun mengangguk sedikit tercekat.


Ternyata Nila memilih pulang ke rumah suaminya. Padahal Bu Siti berharap Nila pulanh ke rumah Baba agar Bu Siti dan Pak Rahmat malam ini bisa pulang menemui anak- anaknya.


"Ehm... Tapi maaf Non. Kita. Apa kita masih harus menginap atau bagaimana kalau Non pulang ke rumah?" tanya Pak Rahmat jujur.


Nila pun tersenyum, Nila memang oernah dikasih tahu Rendi, kalau mereka hanya bersih- bersih dan tidak menginap. Mereka menginap kalau seperti kemarin saat ada acara dan dibutuhkan.


"Bapak sama Bu Siti pulang aja. Kan udah dua hari nginep kan? Kasian anak- anak Bu Siti!"


"Beneran Non?"


"Iya!"


"Non di rumah sendiri nggak apa- apa?"


"Ya!" jawab Nila mantap.


Suami Bu Siti pun tersenyum kagum ke Nila.


"Oh ya minta nomer hapenya Pak. Biar nanti kukabarin kalau udah selesai!" pinta Nila lembut.


"Oh iya. Sbentar Non! Kayaknya di mobil hapenya. Saya nggak hafal!" jawab Pak Rahmat.


"Oh!" jawab Nila mengangguk. Mereka pun sampai di mobil dan segera masuk.


*****


Di tempat lain.


Seorang ayah sedang menghadapi putri kesayanganya yang beberapa hari ini mengurung diri kamar.


Bahkan botol minuman keras berserakan di lantai kamar indah itu.


"My Baby...," panggilnya pelan. "Oh my good," lirihnya getir tak kuasa menahan pilu melihat putri cantik yang dia banggakan dan begitu berprestasi hari ini sangat kacau dan lusuh.


Duduk di lantai menekuk lututnya menatap ke luar jendela besar di apartemen pencakar langit, tampak perempuan berambut panjang berantakan menatap kosong ke deretan gedung- gedung tinggi di luar. Perempuan itu pun menoleh saat ayahnya mendekat.


"Daddy mau apa ke sini. Ingin menertawaiku? Dadi ingin marah? Pergilah!" tuturnya ternyata dia masih sadar.


"Oh No. Daddy love you. Nak. Jangan buat Dady tersiksa dengan keadaanmu begini?" Ayah itu ikut duduk di lantai mensejajari putrinya.


"Tidak ada yang bisa berubah. Rendiku sudah bersama orang lain, Dad! Dia merebutnya dariku," ucapnya parau.


Ayah itu pun mendekat dan membelai rambut putrinya yang acak- acakan.


"Daddy tidak akan membiarkan kamu seperti ini Nak. Daddy akan lakukan apapun untukmu! Bangun Nak. Bangun!" ucapnya.


"Gadis itu, putri Gunawijaya. Apa yang bisa kita lakukan?"


"Dady tidak takut. Kita lebih kuat!"


"Tapi kita bisa hancur Dad!"


"No Vallen. Daddy akan bekerja sama dengan Laksana!" jawab Ayah itu mantap. "Bahkan Gunawijaya tidak akan bisa membantunya!"


Seketika itu, Valen menoleh.


"Laksana?"

__ADS_1


"Ya!"


__ADS_2