
" Cup cup cup!"
Tidak puas hanya walau Rendi sudah melahap habis bibir Nila, setelah dia lepaskan pagutanya, Rendi masih menghujani Nila dengan kecupan, di kedua pipinya, keningnya puncak kepalanya semuanya. Nila pun menerima semua dengan mulut terkunci, rasanya masih seperti mimpi, kalau mereka berdiri di atas tanah tahanan.
Selepas itu pun, Rendi masih belum membuka suara dan membawa Nila dalam dekapanya, rasanya mereka ingin menghentikan waktu hingga mereka bisa berlama- lama begitu. Ya, walau tanpa banyak kata, pelukan lebih berarti dan sudah mewakili semuanya. Pelukan meleburkan semua gundah, mengobati rindunya, juga memberikan ketenangan batinya. Sampai tak terasa 10 menit sudah berlalu.
"Jangan kangen sama Mas ya! Kamu anak yang kuat dan mandiri kan? Belajar yang rajin. Hafalkan anatomi, itu modal pokok kamu bisa memahami materi- materi lain," bisik Rendi parau sedikir terisak, malah memberikan materi kuliah ke Nila, masih dengan memeluk Nila dan mencium kepala Nila
Mendengar perkataan Rendi hati Nila semakin hancur hingga air matanya kembali menetes. Permintaan suami macam apa, yang meminta istrinya tidak merindukanya, tentu saja Nila akan merindukan Rendi. Bagamana Nila bisa menghafal jika dosen yang palinh telaten membuat jembatan keledai menghafal tidak ada.
Nila pun melonggarkan pelukan Rendi dan mendongakan kepalanya agar melihat wajah suaminya yang tinggi.
"Katakan perkataan itu pada diri Mas sendiri? Apa Mas tidak akan merindukan Nila?" ucap Nila sembari terisak meneteskan air mata.
Rendi menelan ludahnya, lalu kedua tanganya tergerak menyeka air mata Nila.
"Tidak akan lama. Alloh pasti akan tolong kita! Kamu hanya perlu belajar dengan baik dan kita akan bersama lagi!" ucap Rendi lagi.
Polisi kemudian datang mengingatkan waktu jenguk Rendi akan habis.
Nila jadi ingat tujuanya, Nila pun gelagapan segera menyeka air mata dan mengatur nafasnya.
"Mas. Ponsel Mas ada dimana? Dimana alamat Kak Dion tinggal. Ingat nggak nama dokter yang rawat Farel. Lalu hasil lab urin Farel gimana? Dimana Nila bisa dapatkan identitas Celine!" celetuk Nila terburu, karena seharusnya dia bertanya itu sejak awal tapi baru ingat sekarang
Nila melirim jam, waktu tinggal 3 menit lagi.
Rendi ditanya Nila dengan gugup jadi ikut gugup.
"Celine? Dokter yang merawat Farel? Dion?"
"Buruan!" ucap Nila tergesa mengambil tas dan ball point. Lalu dengan tergesa memberikan ke Rendi
__ADS_1
Rendi pun menulis acak tidak berurutan dengan pertanyaan Nila.
"Data Celine bertanyalah pada Bu Riana, alamat Dion di perumahan Pagar Indah no 21. Dokter Farel?" tulis Rendi berfikir.
Nila melirik jam tinggal hitungan detik. 4
"Iya. Siapa dokter yang memeriksa Farel. Kita harus undang dia sebagai saksi pemyakit Farel dan bukti Farel mengkonsumsi obat terlarang.
Rendi jadi gelagapan mebdadak lupa.
"Ayo Mas cepat!" ucap Nila kesal.
"dr. Egi!" tulis Rendi akhirnya dan tepat Rendi selesai nulis polisi datang dan langsunh meminta Rendi memgakhiri pertemuanya.
Nila pun segera memasukan tulisan Rendi ke tas. Mau tidak mau Rendi dan Nila saling mengikhlaskan untuk kembali berpisah.
"Kita akan bareng lagi. Percaya sama Alloh. Kamu harus happy, jangan kangen Mas. Fokus belajar ya!" ucap Rendi meraih tangan Nila sebagai pamitan akhir.
"Nila akan baik- baik saja. Tapi mas harus sehat!" jawab Nila
Rendi mengangguk tersenyum dan mengikuti polisi walau tatapanya masih terus ingin menatap Nila.
Nila pun melambaikan tangan pada suaminya yang di dampingi petugas masuk ke sel sembari memaksakan senyum walau matanya merah dan kembali meneteskan air mata.
Nila tidak tahan dan membalikan badan agar tak melihat kenyataan lagi kalau Rendi dibawa petugas penjara.
"Ampuni kami ya Alloh. Tolong Mas Rendi?" lirih Nila dalam batinya.
Lalu Nila menyeka air matanya sendiri, mengambil nafas dan kembali menegakan kepalanya.
"Aku pasti bisa kumpulkan bukti Farel wajar diberi pelajaran. Mas Rendi harus bebas!" batin Nila mengepalkan tangan.
__ADS_1
Nila pun berjalaj tegak menemui keluarganya di luar.
"Ini Ba!" ucap Nila cepat dan tepat menyerahkan memo dari Rendi
Baba menerimanya dan membacanya.
"Dokter Egi? Oke baba akan ke rumah sakit sekarang!" jawab Baba.
"Maaf Pak Ardi. Apa perlu saya ikut? Apa yang bisa kita bantu?" sahut Syamsul.
Ya, Fahri dan Syamsul sebagai adik ipar Rendi ingin berperan.
Baba menghela nafasnya sebentar untuk berfikir. Sepersekian detik Baba tersenyum
"Ini bagianku dan orangku. Tolong beri kami kepercayaan dan berdoa untuk kami. Dan satu lagi. Ngomong- ngomong Nak Syamsul dan Nak Fahri, menginap dimana?" tanya Baba.
"Di hotel!" jawab Syamsul sedikit menunduk.
Baba langsung menepuk bahu Syamsul malu.
"Aduh maafkan saya. Kemarin kepala rasnya pusing. Jadi tidak kepikiran. Saya minta tolong ke kalian. Jaga Nila anakku. Dia kesepian di rumah sendirian!" ucap Baba malah meminta agar keluarga Rendi mendoakan dari rumah dan menjaga Nila.
Tentu saja Fatma dengan senang hati menjawabnya. Akan tetapi, Aisyah dan suaminya sedikt lesu. Mereka punya anak bayi.
Hingga akhirnya, Baba pamit bekerja. Buna ditemani Fatma ke rumah Nila dan Aisyah pulang ke Bambu Teduh.
****
Baba langsung mengcalling anak buahnya untuk bergerak cepat ke rumah sakit.
"Dokter Edynya sudah pindah, Pak!" jawab petugas rumah sakit saat orangnya Baba datang.
__ADS_1
"Pindah rumah sakit?" tanya anak Buah Baba kaget.