Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Nyaris, bukan sempurna


__ADS_3

“Yes...,” desis seorang Pemuda bernama Bima di depan komputer sembari menggerakan kedua tanganya yang mengepal ke belakang pinggangnya. 


“499 nyaris sempurna, gue pasti tertinggi,” gumamnya mengangkat sudut bibir kanannya ke atas. 


Ya, Farel, si pemuda congkak dan penuh emosi yang berwajah manis itu baru saja selesai mengerjakan soal ujian masuk perguruan tinggi yang berbasis computer asisted test, jadi hasil nilainya langsung keluar. Skor tertinggi jika semua benar adalah 500 mengingat satu soal benar sempurna bernilai 5 dan soal ada 100 soal. Ada 80 soal pilihan ganda, yang benar nilai 5 dan salah 0, dan ada 20 soal kepribadian yang setiap jawaban mempunyai nilai, 5,4,3,2,1. Itu artinya Farel 99 soal benar dan satu soal menyerempet, nyaris sempurna. 


Farel memang bintang kelas dan bintang sekolah di salah satu SMA ternama di Ibukota. Dia juga aktif mengikuti les masuk perguruan tinggi, lebih tepatnya kedokteran. Dari SD sampai lulus SMA hampir tidak ada yang pernah bisa mengunggulinya. Itu sebabnya Farel terbiasa meremehkan orang dan merasa dirinya paling benar. 


Farel pun langsung mengedarkan pandanganya mencari gadis yang dia yakin lebih rendah darinya. Farel juga tidak sabar ingin menunjukan kehebatanya dan siapa dirinya. 


Dan tepat saat Farel menoleh, Nila sedang menangkupkan kedua tanganya mengusap wajahnya seraya bersyukur.


“Heleh... paling mentok dapet 450, segitu doang bangga!” batin Farel. 


Nila pun tampak membereskan alat tulisnya dan beranjak bangung. Farel yang tidak sabar menghina langsung memanggilnya. 


“Eh cewe sogokan!” panggil Farel. 


Nila yang merasa tidak pernah melakukan sogokan pun tetap berjalan tenang tanpa menoleh, apalagi Farel, Nila dan segelintir peserta termasuk yang akhir karena yang lain sudah lebih dulu keluar dengan berbagai ekspresi. 


“Sialan, itu kain penutup kepalanya membuat dia budeg apa gimana sih? Dipanggil nyelonong aja!” gumam Farel kesal. 


Farel pun segera bangun dan mengejar Nila. 

__ADS_1


“Eh cewek berkerudung!” panggil Farel menyusul Nila sembari menarik ujung jilbab segiempat Nila, Nila pun tersendat kaget dan langsung reflek menoalh. 


“AU... kurang ajar kamu ya!” keluh Nila langsung berusaha menangkis tangan Farel. 


“Ehm... maaf, abis kamu kupanggil nyelonong aja!” jawab Farel. 


“Hah, manggil?” tanya Nila menampakan muka tegasnya dan menatap Farel berani. “Maaf ya, saya merasa tidak mendengar nama saya dipanggil,” jawab Nila. 


“Hhh..,” Farel pun menghela nafas kesal hendak mencibir, tapi melihat Nila yang manis tapi menatap tajam, entah kenapa nyali Farel menciut , Farel melirik papan nama Nila. 


“Nilaimu berapa heh? Kamu mau tau nilaiku nggak?” serbu Farel sangat berambisi menunjukan nilainya ke Nila. 


“Hmm...,” Nila pun hanya menghela nafasnya dan berdecak lirih. 


Tentu saja Farel yang sebelumnya selalu dielu- elukan baik oleh guru dan teman- temanya merasa direndahkan. Dadanya pun semakin terbakar dan semakin ingin memamerkan kehebatanya. 


“Kamu pasti akan terdiam dan melongo dengar nilaiku! Aku nyaris sempurnya. Pointku 499. Ah... gadis yang mengandalkan nama orang tua sepertimu pasti tidak bisa. Kamu pasti nggak percaya kan? Kamu masih mau mengataiku bodoh?” ucap Farel dengan bangga. 


Sayangnya, Nila hanya tersenyum. 


“Masih nggak percaya?” tanya Farel tidak terima. 


“Nyaris kan? Bukan sempurna!” jawab Nila semakin mengejek dan hendak pergi. 

__ADS_1


Farel langsung menarik tangan Nila agar tiak pergi. Nila pun mendelik marah. 


“Lepas!” ucap Nila. 


“Kamu sombong banget sih!” ucap Farel marah sekali dilecehkan. Dan mencekal Nila agar meladeninya dan mengakuinya hebat.


“Aku? Sombong?” Pekik Nila terheran, padahal kan jelas- jelas Farel yang sombong. 


“Ya! akui kalau aku hebat!” ucap Farel. 


Nila pun mengeratkan rahangnya sembari memelintir tanganya agar terlepas dari Farel.


“Kamu sakit jiwa apa punya masalah apa sih? Lepas!” ucap Nila semakin geram. Bahkan mereka terhenti di tengah jalan ke luar di antara deretan meja dan komputer yang berjajar rapih.


“Akui dulu! Kasih selamat ke aku!” ucap Farel ngotot tidak terima dirinya lebih rendah dari siapapun. 


“Kamu nggak liat kita ngalangin jalan!” desis Nila geram dan menoleh ke belakang Farel. 


Farel ikut menoleh. 


“Maaf... boleh minggir sebentar saya, mau lewat. Ini jalan umum dan kampus bukan tempat pacaran atau bertengkar!” ucap seseorang yang hendak lewat. 


Farel langsung menelan ludahnya dan reflek melepas tangan Nila. 

__ADS_1


__ADS_2