Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Bertemu


__ADS_3

"Berapa lama ancaman penjara untuk Mas Rendi Ba?" tanya Nila dengan tenang


Setelah mengobrol dengan Buna disertai menguap. Baba masih sempat mengangkat Nila, menggendongnya agar tidur ke kamar.


Ya, walaupun sudah menikah, bagi Baba, Nila masih putri kecilnya yang manis dan lugu. Untungnya Baba rutin olah raga, jadi otot Baba masih kuat, bahkan gendongan Baba tak membangunkan Nila.


Saat bangun, Nila langsung sadar kalau dia ketiduran dan dipindahkan ke kamarnya. Nila bisa menebak hanya Baba yang melakukan itu. Begitu bangun Nila tak menyiakan kesempatan langsung bergegas ke kamar Baba.


Walau dikunci, Nila menunggu dan mengetuknya. Pokoknya jangan sampai Baba keburu pergi. Baba dan Buna tidak bisa bersembunyi lagi karena Nila bukan balita yang fokusnya mudah dialihkan.


Bahkan di luar dugaan Buna dan Baba. Nila paham, langsung pertanyaan buruk lebih dulu ke Baba dan Buna. Nila juga tampak tenang dan matang.


"Berdoa.. Rendi.bebas Nak?" sahut Buna.


Sementara Baba masih mengunci rapat mulutnya.


"Nila tahu Mas Rendi akan kalah, Bun," jawab Nila.


"Belum ada sidang. Kita masih bisa usaha, jangan bilang begitu. Putus asa terhadap rahmat Alloh itu, sama saja kita tidak percaya pada pertolonganNya!" jawab Buna.


"Nila bukan tidak percaya. Tapi Nila tahu bagaimana posisi dan keadaan Mas Rendi sekaran Bun!" jawab Nila. Lalu Nila menatap Baba dengan tatapan sayunya.


"Ba... Kenapa Baba diam? Berapa lama ancaman penjara Mas Rendi. Katakan pada Nila?"


"5 tahun!" jawab Baba dingin


"Gleg!" Nila menelan ludahnya sesaat. Akan tetapi sepersekian detik tersenyum.


"Itu berarti Mas Rendi bebas, Nila sudah lulus jadi sarjana dan Nila bebas boleh hamil kan, Ba?" celetuk Nila tenang.


Buna dan Baba langsung tercengang membulatkan matanya tidak habis pikir kenapa Nila malah bertanya tentang hamil.


"Nila?" pekik Buna.


"Jadi kamu akan biarkan Suamimu dipenjara, lalu kamu akan baik- baik saja dengan kamu menunggunya?" tanya Baba tidak habis fikir dengan pikiran anaknya.


"Tentu saja. Mas Rendi suami Nila Ba. Nila istri Mas Rendi. Nila harus setia kan? Baba kan juga ingin Nila fokus kuliah sampai Nila lulus. Mungkin saja Alloh kasih ini untuk kabulin mau Baba!" jawab Nila lagi sedikit putus asa, marah dan juga menyindir.

__ADS_1


Nila sebenarnya juga takut dan terpukul menghadapi kemungkinan yang terjadi, tapi Nila sok tegar karena saking pusingnya.


"Nila kok kamu ngomong gitu?" pekik Buna.


"Terus Nila harus bagaimana Bun?" jawab Nila lagi kali ini matanya sedikit nanar.


"Masih ada kesempatan? Kita bisa usaha bebasin Rendi!" sahut Buna lagi.


"Nila mau temui Mas Rendi, kapan Nila boleh pergi?" jawab Nila tidak mau dengar saran Buna. Pokoknya Nila hanya ingin ketemu Rendi.


"Siapa dokter yang merawat Anak Laksana saat itu? Tanggal berapa? Jam berapa? Saat dia menyerangmu? Siapa saja yang ada di sana?" tanya Baba membuka suara, mengajukan pertanyaan tak peduli pertanyaan Nila dan racauan Nila yang tidak jelas.


Nila dan Buna diam sejenak, menatap Baba. Walau diam dan galak, Baba tetap memikirkan bagaimana caranya Rendi tertolong.


"Nila nggak tahu Ba. Tapi Mas Rendi kenal dengan semua dokter di sana. Kita tanya Mas Rendi saja. Farel bersama temanya, Ba. Tapi dia bukan mahasiswa. Nila yakin dia yang memfoto semuanya. Tapi yang Nila heran, Celine punya foto Mas Rendi dan Nila," jawab Nila mengingat.


"Celine? Siapa dia?" tanya Baba.


"Dia teman Nila. Dia juga dekat dengan Farel. Nila nggak tahu persisnya siapa Celine? Kenapa Celine punya foto- foto itu padahal setahu Nila saat itu sudah sangat sepi," tutur Nila lagi.


Baba langsung mengangguk antusias.


Nila pun menjelaskan semuanya ada di ponselnya. Buna akhirnya mengaku kalau ponsel Nila ada di Buna. Nila pun meminta ijin ke Buna untuk mengambil ponselnya setelah itu Nila pun memberikan ke Baba semua info tentang Celine yang Nila tahu.


Baba hanya mengangguk mendengarkan cerita Nila, kali ini mau tidak mau Nila diberitahu, kenapa ayahnya melarang dia kuliah dan keluar. Ada banyak wartawan yang mengejarnya dan ingin mengulik tentangnya.


"Nila nggak akan depresi Ba. Nila juga nggak peduli penilaian orang. Nila hanya ingin bertemu Mas Rendi. Nila juga akan tetap berangkat kuliah!" jawab Nila.


"Nak... Omongan mereka begitu liar. Mereka jahat dan akan menyerangmu dengan banyak tuduhan. Yakin kamu sanggup menghadapi mereka?" tanya Buna masih ragu melepas Nila kuliah. Pasti teman- temanya akan mengejeknya


"Buna...Buna juga anak Kedokteran kan? Dengan materi kuliah kita aja kita udah pusing Bun. Teman- teman Nila nggak sempat julid dan peduli ke Mas Rendi. Santai aja!" jawab Nila menenangkan walau dengan sedikit berbohong. Padahal tak peduli di lingkungan apapun sifat manusia itu ya hampir sama, ada yang julid dan ada yang baik


Buna dan Baba saling tatap, masih ragu, tapi karena Nila menunjukan kedewasaan dan keseriusan. Baba dan Buna pun mengangguk.


"Maafin Buna dan Baba yang sudah membatasimu. Baba dan Buna cuma berfikir kamu harus sembuh dulu dan meredakan orang yang menyerang kita dengan berita buruk. Ya sudah pergilah kemana kamu mau, tapi pakai supir ya." tutur Buna akhirnya


"Buna, Baba. Mohon maaf. Nila ingin pulang ke rumah Suami Nila!" celetuk Nila lagi.

__ADS_1


Baba dan Buna kembali menelan ludahnya, mereka masih tidak mengerti dengan isi otak anaknya ini.


"Kenapa Nak? Kamu tidak betah di sini? Baba dan Buna mohon Maaf. Kami bukan mengekangmu. Kami hanya khawatir! Kamu kan baru saja kecelakaan?" jawab Buna.


"Bun... Nila istri Mas Rendi. Bukankan tugas seorang istri adalah menjaga harta dan martabat suami saat suami pergi. Mas Rendi membeli rumah itu dengan jerih payah yang dia cita- citakan sebagai tempat kami membangun keluarga. Nila harus menjaganya kan?" jawab Nila lagi


Buna dan Baba tercekat sama sekali tidak menyangka gadis kecilnya benar- benar di luar pemikiran mereka. Bahkan rasanya mereka tak kenal Nila yang sekarang.


"Tapi kamu sendirian di sana? Kalau kamu ada apa- apa gimana?" sahut Buna.


"Kedua adik Rendi kemarin ke kantor polisi!" celetuk Baba akhirnya.


Mendengar betapa Nila tulus menunjukan cintanya pada suaminya, walau sakit dan cemburu, Baba mencoba mengerti. Ya, walau berat melepas Baba jadi sadar, seperti Baba ingin Buna menjadi miliknya sepenuhnya, Baba juga harus ikhlas membiarkan Nila berbakti pada Rendi.


Baba pun memberitahu Buna dan Nila kalau Fatma dan Aisyah di Ibukota sebagai tanda kalau Baba mengijinkan Nila pulang ke rumah Rendi.


Buna pun ikut saja. Pagi itu pun Nila dan Baba bergegas mandi dan sarapan. Mereka pun bertolak ke tempat dimana Rendi ditahan.


Dan benar saja Fatma dan Aisyah juga hendak menjenguk. Mereka pun langsung menyambut dan memeluk Nila erat.


Buna dan Baba tertegun, ternyata begitu dekat Nila dan saudara iparnya. Tapi sepertinya polisi yang jaga hari ini lebih disiplin dari yang kemarin.


Karena mereka sudah 15 menit disuruh menunggu tapi belum ada yang dipanggil. Nila, Baba dan Buna jadi ikut menunggu


Tapi tidak seperti keluarga yang sangat sopan dan tertib pada polisi, Baba langsung mendatangi polisi yang berjaga dan menyampaikan maksudnya.


Polisi yang berjaga tampak menelpon seseorang dan bertanya. Rupanya sebenarnya ada aturan hari menjenguk dan batasan jumlah orangnya.


Akhirnya setelah bernegosiasi beberapa saat diijinkan menjenguk satu orang diberi waktu 15 menit.


Semua pun mengangguk dan menatap Nila. 15 menit yang berharga itu pun diberikan ke Nila.


Nila meneguhkan hatinya agar tidak menangis untuk bertemu dengan Rendi. Nila ingin manfaatkan waktu yang singkat itu untuk bertanya dan cerita banyak.


Tapi tetap saja, begitu mata mereka saling tatap, mata Nila tidak mau berkompromi, dadanya terasa begitu sesak, Nila ingin mengurai semua yang menyesakan itu. Kelopak matanya jua begitu berat untuk membendung airnya.


Begitu mereka bertemu dan mendekat, pita suara Nila terasa terikat, tak bisa berucap apalgi bersuara. Tidak berbeda dengan Nila, Rendi pun begitu.

__ADS_1


Tanpa suara dan kata, Rendi hanya langsung memeluk Nila. Tak bisa dijabarkan dengan kalimat, betapa dia sangat rindu dan khawatir akan Nila.


Tak peduli pada polisi yang berjaga, merasa dunia hanya ada mereka, selepas memeluk Rendi langsung menangkup kedua pipi Nila dengan kedua tanganya. Diciumnya bibir Nila, penuh dengan ribuan rasa, yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata dengan itu Rendi menyampaikanya.


__ADS_2