
Karena Nila kuliah melamun memikirkan Rendi, perkuliahan jadi tidak terasa, tahu- tahu Prof Ina sudah ucap salam.
Apalagi prof Ina sudah tua, metode pembelajaranya banyak dengan ceramah, beda dengan Rendi. Rendi sering diselingi video dan tau- tahu ada kejutan quis. Mahasiswa yang tadinya ngantuk terpaksa harus bangun stand bye menperhatikan, kalau tidak akan kena batunya.
“Ye… akhirnya selesai juga, makan yuk!” ajak Dita semangat menutup bukunya dan memasukan k etas besarnya.
Sayangnya, Nila masih tidak fokus, pikiranya terbagi ke Rendi bahkan omongan Dita tak dia hiraukan.
“Hei…,” pekik Dita menggerakan tanganya, kesal dicueki.
“Apaan sih?”
“Ayo makan, laper nih!” ajak Dita cemberut .
Di otak Dita, makan makan makan.
“Ish… dzuhuran dulu!” jawab Nila enteng.
“Ah Nila, aku udah lapar banget, tadi pagi Cuma minum energen doang, aku udah pening nih. Nggak tahu apa aku? Aku wes angob ping sewu mangatus?” rengek Dita dengan jujur dan polos.
"Huh?" Nila pun mengernyit, "Apa itu angop ping sewu mangatus? Terus tadi apa? Energen?" tanya Nila heran apa iyakah, masih ada di dunia ini mahasiswa yang sarapan dengan minuman instan. Nila jadi kasian.
"Rahasia! Nggak usah tanya- tanya. Aku kan anak kos, kamu nggak akan mudeng!" jawan Dita.
“Ya ya… tapi sholat dulu!"
"Enggak!"
"Kok gitu? Kan sholat cuma bentar!" ucap Nila kini ingin ke masjid, selain memang Nila terbiasa melakukan itu, Nila juga berharap bertemu Rendi. Apalagi habis dzuhur kan masih kuliah lagi.
“Ish.., aku lagi nggak sholat,” jawab Dita lagi .
“Hmm...Ya udah kamu tungguin aku, di kantin. amu boleh makan dulu, aku sholat dulu,” jawab Nila membuat kesepakatn.
“Oke … lets go!” jawab Dita senang.
Nila pun senang, Nila juga butuh sendiri untuk menyapa Rendi.
Mereka kemudian berjalan satu arah, kebetulan kantin letaknya ada di dekat masjid. Dita belok kiri ke kantin, Nila ke kanan ke masjid.
“Aku beritahu lewat wa? Atau ketemu langsung ya? Kalau wa takutnya salah persepsi, kalau ketemu? Ketemu dimana? Kenapa aku jadi pengen ketemu dia sih? Ini bukan kangen kan? Ash.... dia sholat di sini nggak ya?” gumam Nila sembari melepas kaos kakinya hendak wudzu, sepanjang di masjid, Nila jadi celingukan mencari sosok suaminya.
Sayangnya sampai Nila selesai sholat dan ditelpon Dita, batang hidung Rendi tidak keliatan. Nila pun menunduk lesu.
“Astaghfirulloh, aku ibadah malah mikirin dia, jadi nggak ketemu kan?” batin Nila menyesal karena sholatnya tidak fokus memikirkan Rendi.
Nila pun segera merapihkan pakaianya karena Dita sudah berpesan jangan lama- lama.
Sesampainya di kantin. Dita sudah memesankan Nila. Es jeruk 2 air mineral 2 juga nasi dua, tanpa lauk, karena lauknya kan udah ada.
Dita juga sudah membagi lauknya tanpa ijin Nila, bahkan Dita sudah makan lebih dulu meski belum habis. Dasar.
“Hehee aku kelaparan jadi makan duluan, abis tadi kamu aku tunggu nggak datang- datang pas istirahat pertama,,” ucap Dita mencegah dikatai Nila, padahal Nila tidak tanya.
Nila si baik pun hanya tersenyum mengerti.
“Iya nggak apa- apa,” jawab Nila.
__ADS_1
“Enak banget tau ayamnya, gurih wangi, sambelnya juga enak!” ucap Dita lagi semangat?
“Iyakah?” jawab Nila iya ikut senang. Nila berfikir berkah juga ayam Rendi. Nila pun penasaran makan dan jika sungguh enak mau tanya beli dimana.
Setelah cuci tangan dan membaca doa, Nila segera menyantap, makananya, karena Dita start lebih dulu, Dita habis duluan.
“Dear Dokter Rendi… please aku mohon. Baca tulisan saya sampai selesai ya Dok,”
“Uhuk..,” Nila langsung tersedak.
Di saat Nila sedang memasukan sesuap nasi sambal dan hendak makan, tangan Dita meraih selembar kertas ucapan di bawah kardus ayam itu, dan Dita membawacakanya sedikit keras.
“Ehm.. ehm…,” Nila langsung mengambil es jeruknya lalu mengatur nafasnya agar tidak henti nafas.
“Pelan- pelan aku tungguin kok!” ucap Dita mengernyit melihat Nila seperti terburu.
“Kamu baca apa sih?” tanya Nila memburu, nafasnya mendadak cepat.
“Ini kayaknya surat dari penggemarnya Dokter Rendi, ini ayam kayaknya dari cewek pak Rendi. Aku baca dulu ya!” ucap Dita dengan santainya memeriksa selembar surat itu.
Nila seketika itu langsung murung dan menatap ayamnya tak selera. Dita yang tidak tahu menahu tentang Nila dan Rendi tanpa dosa melanjutkan membacanya.
“Maaf Dok mungkin saya lancang tulis ini, Tapi dokter harus tahu.
Aku suka dokter Rendi.
Saya juga sudah cari tahu dan memastikan, bapak masih sendiri kan?
Asal Dokter tahu, saya yang dipaksa masuk kedokteran oleh ayah saya, karena Dokyer saya saya jadi semangat. Awalnya saya hanya mengagumi dokter, dari paras. Namun setelah itu semakin hari, setiap dokter menyampaikan materi. Setiap dokter menunjukan ketegasan, kagum saya bertambah. Dan…,” ucap Dita mau melanjutkan, tapi tiba- tiba Nila menyerobot mengambil kertas di tangan Dita.
“Hh..,” Nila menelan ludahnya dan menghela nafas, entah kenapa rasanya jadi jijik ke ayam di piringnya padahal sudah setengah porsi.
“Ini bukan surat untuk kamu. Nggak baik kita baca surat yang ditujukan untuk orang lain!” jawab Nila berusaha bijak memberitahu Dita. Padahal di hati Nila, Nila kesal sekali sama orang yang centil- centil ke Rendi.
“Ish!” Dita hanya manyun. “Salah siapa dikasihkan ke kita! Pak Rendi kasih ke kita berarti kan nggak butuh,” jawab Dita membela diri.
Nila gelaagapan, sebenarnya dalam hati, Nila penasaran siapa yang menulis itu, Nila juga baru tahu kalau ternyata ada mahasiswa Rendi yang senekat itu. Lebih dari itu, Nila jadi kepikiran yang macam- macam. Jangan – jangan banyak mahasiswa Rendi yang lebih dari itu, lalu bagaimana Rendi selama ini menanggapinya. Apa Rendi juga membalas centilnya? Apa Rendi juga suka mengajak mahasiswa ke ruanganya?
“Udah yuk, kita ke kelas, abis ini kuliahnya Prof Hendra kan?” jawab Nila mengalihkan pembicaraaan, yang tadinya menggebu ingin bertemu jadi kesal.
“Masih satu jam lagi, entar dulu kenapa sih? Kamu juga belum abis makanya,” jawab Dita.
“Aku udah kenyang!” jawab Nila.
“Ya udah entar dulu, minumku juga belum abis, kenapa sih?” jawab Dita lagi.
“Ke kelas aja yang dingin, di sini panas!” jawab Nila.
"Panas apanyaa. Anginya kenceng gini?" jawan Dita. Kantin kampus menghadap ke persawahan yang anginya kencang.
Dita tidak tahu kalau di dada Nila sekarang berkobar bara api yang berasal dari ayam goreng, di kepala Nila juga beterbangan bayangan Rendi berduaan bersama mahasiswa lain selain dirinya.
“Nekad juga ya mbak- mbak ini. Kira- kira siapa ya yang nulis aku jadi penasaran? Berani amat ke Pak Rendi yang serem gitu?” tanya Dita malah tetap membahas.
Nila jadi melirik kertasnya. “Namanya livi,” ucap Nila. Walau tadi memberitahu Dita untuk jangan kepo, tapi sebenarnya kepo Nila berkali kali lipat lebih besar.
“Tapi dokter Rendi kasih ini ke kamu, berarti dia nggak suka sama tuh siswa,” jawab Dita menyimpulkan lagi.
__ADS_1
Nila menelan ludahnya lagi, kini mendadak jadi meredup apinya, tapi tetap saja kesal. Nila tidak tahu bagaimana Rendi menyikapinya.
“Bukan urusan kita, terserahlah,” jawab Nila sekarang mendadak jutek. Sayangnya Dita tidak peka kenapa Nila jutek.
"Aku penasaran secantik apa yang namanya Livi," ucap Dita lagi.
"Ish.. udah ah ayo ke kelas!" ajak Nila
"Bentar aku masih penasaran," jawab Dita mencari di internet.
"Ngapain sih urusin hidup.orang?"
"Ya heran aja. Betah banget Pak Rendi jomblo? Kira- kira secantik apa ya istrinya nanti? Teru kenapa dia nggak nikah- nikah?" celetuk Dita lagi.
“Uhuk- uhuk..,” Nila jadi ingin batuk lagi. Dita tidak tahu kalau Rendi belum nikah karena menunggu jodohnya yang masih kecil, di depanya.
“Dita ngapain sih bahas orang nggak penting!” jawab Nila lagi.
“Kamu nggak asik ih, diajakin gibah juga,” jawab Dita.
“Ya apa untungnya bahas Pak Rendi?" jawab Nila.
Di saat yang, teman kelas mereka ikut datang, mereka pun bergabung. Juga bertanya Nila sedang apa.
Dita pun dengan polosnya cerita kalau Nila abis dikasih ayam srundeng dari mahasiswa yang kelewat berani itu
Nila jadi menyeringai, payah juga Dita, bocoran. Bahaya juga kalau Nila curhat ke Dita. Saat Dita dan teman- teman Nila menggunjing kejelekan Rendi, Nila jadi tambah tidak nyaman.
"Eh aku duluan ya!" ucap Nila tidak tahan.
"Tunggu entar dulu!" ucap Dita. Tapi Nila nekat pergi dan marah ke Dita. Dita jadi bingung sendiri, perasaan dimana- mana kan wajar siswa ngomongin dosenya atau bawahan ngomongin atasnya.
Bahkan selama kuliah prof Hendra. Nila jadi cemberut. Bahkan Rendi sempat menelvon video. Tapi Nila kesal jadi dimatikan bahkan Nila kembali blok nomer Rendi.
****
"Bentar ya Oma. Sambungan ke Nila terputus!" ucap Rendi masih santai di rumah Oma
Rendi malah diajak Oma membuat jus tomat juga melihat kucing- kucing Bunga.
"Ya sudah kalau nggak diangkat, mungkin lagi kuliah. Kamu ajak dia kesini ya besok!" tutur Oma Mirna lembut
"Iya Oma siap!" jawab Rendi.
"Ini. Bawa pulang kamu. Kamu di rumah tinggal sendirian kan? Jus tomat segar diminum siang hari pas terik. Taruh kulkas ya!" ucap Oma memberikan tiga botol ukuran 500 ml jus tomat untuk Rendi.
"Makasih Oma!" jawab Rendi. .
Saking senangnya dan bangganya, Rendi memfoto jus buatan Oma, ada background wajah Oma yang keriput. Rendi langsung kirim ke Nila.
Bahkan Rendi berani memanggil Nila sayang
"Sayang Mas lagi sama Oma, Nih. Dikasih jus," tulis Rendi pamer
"Kok centang satu sih?" gumam Rendi mendadak jadi lesu.
Ternyata setelah Rendi banyak kirim foto dirinya dan Oma. Sedari tadi centang satu.
__ADS_1