
Perhatian!!
Kalau Baca yang runtut jangan lompat. Jadi feel dan ceritanya nyambung!!
Terus komen itu bisa ngehidupin otak author biar nyambung lagi!"
Selamat membaca....
*****
"Daaad... Rendi nggak angkat lagi!" keluh Vallen dengan wajah murungnya.
Walau sudah lewat kepala tiga, terhadap ayahnya, Valle tetaplah seorang putri yang selalu dimanja.
Ayah Vallen pun segera mendekat dengan hadir untuk putrinya. Ya, Vallen putri berharga di keluarganya. Semua memperlakukan Vallen bak Putri Raja. Kebahagiaan Vallen adalah yang utama.
"Rendi kan bukan pengangguran Sayang. Daddy liat sejak muda dulu dia pekerja keras. Kamu harus bisa pahami itu. Dia juga sudah punya istri. Mungkin dia sibuk atau sedang bersama istrinya!" tutur Dady Vallen memberi pengertian.
"Ish ..," Vallen langsung mencebik kesal. "Kan pasti karena istri Rendi yang bocil itu. Vallen keseel Dad!" keluh Vallen lagi.
"Ya gimana? She is his Wife! Mengertilah! Daddy belive, Vallen my Princes, you can do it. Wake Up! Ingat kata Rendi kemarin kan?" ucap Tuan Robert.
"Kenapa Rendi harus menikahi bocil itu? Why? Tidak ada yang istimewa darinya. Vallen udah baik kan Dad membiarkan mereka bahagia. Kenapa hanya meluangkan waktu untuk Vallen saja dia keberatan. Vallen benci sama bocil itu Dad!" keluh Vallen lagi.
Tuan Robert hanya menghela nafasnya, mendengar keluhan putrinya.
"Coba tunggu sebentar. May be, sekarang Rendi sedang tidak ingin ganggu. Kita hubungi Rendi nanti lagi!" ucap Ayah Vallen merayu putrinya.
"Tapi Vallen ingin ada Rendi di sini. Vallen ingin ketemu Rendi Daad!" ucap Vallen lagi menuntut Daddynya.
"Sabar Sayang. I am here. Daddy ada untuk Vallen." jawab Tuan Robert lagi.
Vallen hanya mencebik mengkerucutkan bibitnya kemudian menarik selimutnya dan membalikan tubuhnya untuk tidur.
Tuan Roberth hanya bisa menelan ludahnya getir melihat putri kesayanganya berperilaku tak sewajarnya.
*****
Flashback
Ya, Tuan Robert juga mengenal Rendi. Beberapa kali saat mereka kuliah, Tuan Robert dan istrinya sering mengunjunginya.
Mereka pun kenal, Axel, Rendi, Firman, Tiara, dan yang lain. Tuan Roberth sang konglongmerat sering membawakan makanan, memenuhi apa yang dibutuhkan anak- anak juga, walau Vallen dan teman- temanya bersikeras ingin mandiri.
Tuan Robert memang melihat bagaimana Rendi sangat menghormati orang tua, juga menjaga Vallen dan mahasiswi lain, Rendi memang menonjol dan berbeda. Dia juga tak seperti yang lain yang ketika dibantu malah senang. Hingga Vallen jujur mengungkapkan jatuh hati pada kesopanan dan kecerdasan Rendi pada orang tuanya.
Hingga Vallen dan Tuan Roberth memberanikan diri mengungkapkan perasaanya. Ya, Tuan Roberth yang meminang Rendi lebih dulu.
Rendi awalnya syok, tapi mungkin karena mereka sudah terlanjur dekat Rendi menerima, meski begitu Rendi mengungkapkan Rendi tak suka pacaran, jika ingin menikah Rendi ingin yang seiman.
Vallen setuju, sampai bersedia belajar agama Rendi. Sayangnya meski sudah begitu, saat Rendi mengenalkan Vallen pada orang tuanya, dengan tegas mereka menolak.
Saat itu Rendi pun memutuskan untuk mematuhi orang tuanya. Mundur dari Vallen dan mengakhirinya.
Kebetulan mereka juga lulus. Rendi memilih menetap kembali ke tanah air sementara Vallen bersama keluarganya masih tinggal di sana.
Orang tua Vallen menghargai keputusan Rendi, karena keluarga besarnya juga menyayangkan Vallen berpindah keyakinan. Mereka memutuskan menjodohkan Vallen dengan Antoni. Warga lokal yang mempunyai beberapa usaha Casino juga hotel di sana. Pengusaha kaya yang tidak kaleng- kaleng.
Karena memang bukan orang asia, secara fisik jauh berbeda dengan Rendi apalagi materi. Tapi tetap saja Vallen tak bahagia. Malah Vallen menjadi seperi tawanan, hidup seperti diatur dan dikuasai Antoni. Antoni juga mempunyai kelainan sek sual, dimana Antoni suka bermain kasar tiap ingin melakukan itu.
Antoni tak menghargai Vallen apalagi menghormati dan menjaganya. Tak seperti Rendi yang sangat sopan terhadap wanita. Vallen pun tidak tahan dan memilih bercerai, hingga dia yakin Rendi adalah yang terbaik dan dia terobsesi dengan Rendi.
Tuan Roberth merenung menunduk, merasa bersalah pernah membawa putrinya hidup di neraka. Dia pun merasa mempunyai hutang, harus membayar itu semua dan memenuhi apa yang bisa membuat Vallen bahagia.
"Daddy akan lakukan apapun yang Daddy bisa, Baby?" gumam Tuan Roberth
Tuan Robert ingat pertemuanya dengan rekan bisnisnya, Tuan Laksana, yang tak sengaja bertemu di kantor pengacara yang sama.
Saat itu Tuan Robert ada urusan terkait perseteruanya dengan Tuan Ardi Gunawijaya tentang kepemilikan tanah yang Tuan Roberth incar.
Di sana Tuan Laksana membawa berkas, meminta pada pengacara untuk laporkan Rendi. Saat mereka mengobrol mereka sama- sama tercengang, karena mereka berurusan dengan orang yang sama. Keluarga Gunawijaya.
"Tahan dulu. Simpan berkas penganiayaan anakmu. Dia menantu Gunwijaya, dia kesayanganku!" ucap Tuan Roberth siang kemarin pada Tuan Laksana.
"Kesayanganmu? Dia membuat anakku cacat! Dia juga berani membuat wanitaku meradang! Aku harus memberinya pelajaran!" jawab Tuan Laksana
"Aku butuh dia untuk putriku. Kamu mau aku ambil sahamku? Atau ikuti aturan dan permainanku?" bisik Tuan Robert memberikan ancaman pada Tuan Laksana.
Tuan Laksana pernah hampir bangkrut karena punya banyak hutang dan suka bermain wanita. Dan Tuan Roberthlah pahlawanya, Tuan Laksana pernah meminta bantuan Baba Ardi malah ditolak.
Ya. Keluarga Farel atau lebih tepatnya keluarga Laksana pernah kalang kabut, baik rumah tangganya ataupun perusahanya. Mereka pernah hancur karena Ayah Farel suka bermain perempuan. Kala itu dia meminta tolong banyak pengusaha, termasuk Baba Ardi. Tapi Baba Ardi tidak suka bekerja sama dengan pembisnis kotor seperti Tuan Laksana.
Baba Ardi hanya bersimpati pada Dion Agashi Laksana, putranya yang berniat menyelamatkan keluarganya dengan membuat bisnis baru.
Merasa ditolak, Tuan Laksana jadi dendam ke Baba Ardi. Di saat itu dia bertemu dengan Tuan Roberth, warga asing yang membangun bisnis di tanah air. Mereka jadi rekan, dan Tuan Laksana menjadi tunduk pada Tuan Roberth
__ADS_1
"Baiklah. Aku ikuti permainanmu!" ucap Tuan Laksana siang itu.
****
"Kartumu ada di aku Rendi. Kamu harus bahagiakan Putriku atau aku akan buat hidupmu dan rumah tanggamu hancur!" batin Tuan Roberth.
"Gunawijaya! Baiklah aku lepaskan tanah itu. Sebagai gantinya Putriku harus kembali tersenyum dan akan kupastikan, kamu merasakan pedih melihat putrimu menangis seperti yang aku rasakan!" gumamnya lagi mengepalkan tanganya.
Melihat Vallen tertidur, Tuan Robert keluar.
Hingga waktu berlalu Tuan Roberth kembali membawakan makanan kesukaan Vallen, berharap agar Vallen senang, mau makan dan sehat kembali.
Sayangnya Vallen masih terlihat murung memegangi ponselnya.
"Hai Baby. Daddy bawakan tenderloin kesukaanmu. Makanlah!"
"No, Daddy. Rendi tidak mengangkat teleponku. Dia mereject teleponku!" ucap Vallen menggerutu.
Tuan Roberth pun mengepalkan tanganya.
"Mungkin dia sedang bersama istrinya. Hari ini kan dia ada waktu longgar di siang hari. Kita coba minta dia datang besok siang, ya!" jawab Tuan Roberth merayu anaknya lagi.
*****
Di tempat lain.
"Oh h ah...h" Rendi mendesis keenakan.
"Ah Mas...," Nila pun tak kalah dengan suaminya.
Hari ini, walau sore mereka warnai dengan tangis dan perseteruan, karena saking cemburunya Nila. Setelah Rendi meminta maaf dan membantu Nila mengerjakan tugasnya. Nila kembali luluh.
Bahkan Rendi mengajak Nila jamaah di masjid juga mengenalkan pada anak- anak komplek. Ternyata Rendi juga punya murid, dia membantu pihak TPQ komplek sesekali mengisi materi. Walau sudah merantau dan menanggalkan gelar gus di dirinya tetap saja ada sedikit darah Abah yang mengalir.
Nila dibuat semakin melupakan salah Rendi. Apalagi Rendi dengan senang hati menyerahkan ponselnya ke Nila, terserah mau Nila apakan. Rendi juga berjanji mengikuti semua mau Nila.
Selepas sholat Isya, mereka kembali memanfaatkan waktunya untuk hal produktif. Rendi membuka laptopnya mengerjakan pekerjaanya. Nila pun membuka bukunya dan belajar.
Namun, kegiatan itu tidak berlangsung lama. Saat kepala Rendi pusing, berdekatan dengan istrinya membuatnya ingin mengobati pusingnya dengan hal lain.
Tidak peduli mereka di ruang belajar, bahkan buku dan laptopnya berjajar berantakan. Rendi mengeksekusi Nila saat itu juga.
Nila pun tak dapat berbuat banyak, karena Nila juga menyukainya. Nila yang sudah menjadi istri, sudah mengenal indahnya bercinta, Nila juga menginginkan itu.
Ya, Nila tidak lagi canggung. Mereka justru suka membuat berbagai percobaan termasuk posisi dan tempatnya. Ternyata semakin bervariasi semakin menambah nikmat rasanya.
"Terus Dhek.... diputar terus.. Ooh.." lenguh Rendi benar- benar tidak menyangka Nila begitu lihai membuatnya merem melek.
"Ah.. Nila udahan Mas!" lirih Nila sekarang dahinya sudah dipenuhi buliran keringat.
"Kok udah..," keluh Rendi kesal. Padahal kan puncak nikmat jika mereka berakhir bersama, tapi Nila malah berakhir dulu.
"Kalau di atas Nila cepet!"
Demi menghargai istrinya, Rendi mengangguk agar segera mengakhiri, Rendi pun meminta Nila turun dari pangkuanya dan pindah posisi.
Sepersekian detik setelah pindah posisi dan Rendi memaksimalkan gerakan, mereka sama- sama berakhir.
Tidak peduli pada ponselnya, tidak peduli dimana tempatnya. Mereka hanya mengerti dunianya indah.
"Tissu Mas!" lirih Nila cepat.
"Tisunya di dapur!"
"Minta tolong ambilkan! Nanti karpetnya bau. Malu kalau ada tamu dan ketahuan!" ucap Nila baru sadar mereka ada di ruang depan Tv, tempat dimana kalau Bu Siti, Fatma dan Aisyah dan tamu lain sukanya berkumpul di situ
"Ya, bentar!" jawab Rendi.
Karena di rumah hanya berdua, hanya menutup bagian intinya Rendi berlenggang biasa saja. Dia mengesampingkan ajaran Abahnya. Di rumah pun kan ada makhluk selain manusia. Dasar, pengantin baru yang kuasai nap su.
Rendi pun membersihkan Nila dengan tisu agar cairanya yang tertumpah tak melebar kemana- mana. Nila pun segera mengenakan pakaianya kembali kemudian bersandar pada sofa dan mengatur nafasnya yang ngos- ngosan agar teratur kembali.
"Makasih ya Sayang!" bisik Rendi sembari merapihkan rambut Nila yang berantakan.
Nila kemudian menatap wajah Rendi dengan penuh pengharapan.
"Nila ingin kita bareng terus, apapun yang terjadi. Nila ingin Mas setia sama Nila dan nggak ninggalin Nila!" celetuk Nila tiba- tiba.
Rendi pun mengangguk.
"Ya!" jawab Rendi singkat, Rendi tidak suka membual banyak kata.
"Pernjanjian sama Baba jangan dipedulikan. Nila nggak mau ada kata- kata cerai lagi. Nila nggak apa- apa kok jadi ibu di usia muda. Ummi juga ternyata kuliahnya tinggi kan?" ucap Nila lagi.
Rendi mengangguk lagi.
__ADS_1
"Iya!" jawab Rendi lagi.
"Pokoknya mulai sekarang Mas harus jujur sama Nila!" lanjut Nila lagi masih terus menuntut sembari mengkerucutkan bibirnya.
Bagi Nila, Nila sudah memberikan apa yang Rendi mau, Nila harus mendapatkan harga yang mahal berupa kesetiaan.
"Iya, Sayang. Mas udah jujur banget ke kamu!"
"Mas nggak boleh terlalu baik sama perempuan selain Nila. Sama perempuan itu cukup sewajarnya aja!" sambung Nila ternyata belum selesai.
"Ya!"
"Nggak boleh deket- deket. Nggak boleh chattingan kecuali urusan kerja!"
"Ya!"
"Nggak boleh ramah- ramah sama perempuan siapapun!"
"Ya!"
"Kalau ngajar pakai batik aja. Pakai celana kain. Pakai kacamata. Nggak boleh pakai sneakers dan kaos kaya kemarin!"
"Ya!"
"Sahabat dan teman Mas sekarang Nila! Nila aja!" tegas Nila lagi ternyata sangat bawel.
"Ya!" jawab Rendi lagi hanya singkat.
"Jangan iya iya aja. Beneran!"
"Iya, Sayang astaghfirulloh!"
"Nggak boleh pergi kalau Nila nggak kasih ijin!" jawab Nila lagi semakin bertambah bawelnya.
"Lhoh kalau perginya kewajiban mas kaya ngajar gimana?"
"Ya kan Nila nggak bodoh. Kalau kewajiban ya Nila ijinin. Pokoknya harus ijin Nila. Emang cuma Mas dan laki- laki yang bisa bikin aturan!" sambung Nila masih dengan wajah manyun manyun memberikan banyak aturan.
"Iya iya..Iyaaa adhek bawel!" jawab Rendi sedikit mencibir, ternyata Nila sangat cerewet pendiam hanya keliatanya saja, heranya Rendi takut dan tunduk.
"Ih ko bawel sih!" jawab Nila tidak terima
"Iya Maaf. Iya salah!"
"Ingat nggak coba. Apa aja tadi yang Nila bilang?" tanya Nila ternyata melebihi Rendi menguji meminta Rendi buat simpulan.
Rendi langsung gelagapan. Sedari tadi kan Rendi iya iya aja sekedar menyenangkan Nila yang masih marah- marah. Setelah mengeluarkan seluruh tenaganya untuk bercocok tanam kan Rendi ngantuk.
"Ha?" Rendi malah hanya melongo.
"Tuh kan? Dengerin nggak sih dari tadi? Coba sebutin apa yang Nila minta tadi!" bentak Nila kesal.
"Mas ngantuk, Dhek. Udah tidur yuk!"
"Nggak! Jawab dulu. Tadi Nila minta apa!"
"Apa sih?"
"Ya apa?"
"Pokoknya Mas nggak boleh pergi kalau nggak sama kamu dan seijinmu!" jawab Rendi terrnyata ada yang nyantel.
"Lagi!" pinta Nila bawel, Rendi harus ingat semua point yang mau dia.
"Udah mas ngantuk. Yuk tidur yuk. Pokoknya Mas cinta sama kamu. Titik!"
"Nggak. Harus jawab dan jelasin semuanya!"
"Jelasin apalagi. Mas udah ngantuk banget!"
"Pokoknya harus jelasin!"
"Hoaam!" Rendi malah menguap.
"Iih. Kesel. Nila udah panjang kali lebar kali tinggi lho. Mas, nggak boleh tidur di kamar sebelum ulangi permintaan dan janji mas!"
"Lho kok gitu?"
"Bodo. Pokoknya ulangi!"
"Haish...,"
Karena Rendi tidak mampu menjelaskan ulang seperti mau Nila, Nila marah dan berlari ke kamar. Ngambek dan mengunci pintu.
Untungnya Rendi sudah dapat yang dia mau, tidak masalah tidur kedinginan di sofa.
__ADS_1