Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Tunggu!


__ADS_3

Sepersekian detik, begitu salam sapa terucapkan, dalam satu tarikan garis lurus, dua pasang mata itu saling tatap, dalam bentangan garis itu, terhubungkan dua hati yang sama- sama memendam beribu kata yang selama ini tersimpan rapi.


Walau tanpa suara dan bahasa, keduanya saling meluapkan rindu yang kuat. Dunia sesaat terhenti bagi Nila dan Rendi. Bahkan siswa yang memenuhi kelas seakan tak ada, dan hanya ada mereka berdua.


"Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh. Pagi juga Dok!" jawab mahasiswa serentak dan menggema.


"Gleg!"


Jawaban salam itu pun menyadarkan Nila, dengan menyembunyikan tanganya yang gemetar Nila menunduk. Tidak berani menatap Rendi lagi.


Entahlah semua kata yang dengan lancar dia ketik banyak semalam, runtutan kalimat yang dia susun rapi hendak dia lontarkan, kini tercerai berai dan hancur berantakan, susut dan surut semua kemarahanya.


Rendi terlihat sangat keren bagi Nila saat mengenakan kemeja dan kacamata lalu berdiri di depan kelas begitu.


Dita yang semangat 45 diajar Rendi, yang biasanya cuning detail memperhatikan Nila hari ini tidak peduli. Nila pandai menyembunyikan debaran jantungnya yang berdetak hebat seorang diri, ya biarkan hanya Tuhan dan dia yang mendengarnya.


Setelah salamnya dijawab, sebagai mana mestinya seorang dosen. Rendi memperkenalkan diri secara resmi siapa dirinya, dan memberitahu, kalau dia yang menggantikan dokter Santi.


"Yeeey .. Alhamdulillah!" Dita dan teman- temannya langsung tersenyum senang dan saling berbisik.


"Gleg!" berbeda dengan Nila lehernya terasa tercekat mendengarnya, tidak bisa dideskripsikan dia senang atau sedih antara akal dan hati bertabrakan.


"Kak Jingga... kenapa dia bisa ngajar di kelas rendah sih? Aku harus gimana?" gumam Nila langsung panik. Sayangnya tak ada satupun yang peduli Nila. Lainya justru bahagia.


Dengan Tubuh tinggi tegap dan parfum wanginya, di depan kelas, bak model yang tebar pesona, setiap gerak Rendi memang berdamage dan mempunyai value yang baik. Padahal dia hanya menunaikan kewajiban sesuai dengan porsinya.


Rendi pun melanjutkan kewajibanya. Berbicara dengan lancar dan profesional tidak menatap Nila lagi.


"Tapi sebelum kuliah bersamaku. Aku punya aturan main yang perlu kita sepakati! Untuk mencapai target dan tujuan, kita harus punya aturan kan? Alright?" tanya Rendi di depan kelas dengan teratur dan lantang.


Mahasiwa lain pun setuju dan mengangguk.


"Ok. Peraturan ini harus disepakati bersama ya? Kalau nggak bersedia, kalian boleh keluar kelasku dan tidak ambil mata kuliahku. Masalah nilai dan kelulusan kalian. Terserah kalian! Aku terkenal pelit nilai soalnya!" ucap Rendi lagi dengan percaya diri menunjukan elektabilitasnya sebagai dosen.


Siswa baru tentu saja semua setuju, segalak apapun Rendi, sudah sejak jaman Jingga, Rendi tetap favorit karena tampan, tegas dan juga penuh kejutan.


"Sebelum saya bacakan, saya absen dulu ya sekalian absen ya!" tutur Rendi.


Di saat yang bersamaan, Farel mengetuk pintu dan meminta maap datang terlambat.


"Silahkan!" ucap Rendi tenang memganggukan kepala mempersilahkan Farel masuk. Tidak seperti saat mos kemarin , karena sekarang masih perkenalan Rendi belum memberikan punishment.


"Oke... Untuk hari ini, karena kita masih kenalan dan kontrak kuliah belum tersepakati, saya masih mentolelir mahasiswa yang telat. Tolong cermati betul aturan di kelasku ya!" tutur Rendi


Mahasiswa hanya mengangguk. Lalu Rendi menyalakan komputer di layar lcdnya berisi tata tertib khusus di kelasnya.



Mahasiswa harus datang 15 menit sebelum perkuliahan dimulai!


Saya tidak akan memberitahu kapan ujian? Jadi persiapkan, seakan setiap saat akan ada ujian!"


Siswa yang terlambat 0-5 menit akan diberi tugas ringan.


Siswa yang terlambat 5-15 menit ada tugas berat. Semua tugas berkaitan dengan mata kuliah. Bisa makalah, menghafal, menggantikan saya mengajar, koreksi nilai intinya semua berkaitan mata kuliah.


Siswa terlambat lebih dari 15 menit tidak diperkenankan ikut kuliah. Jika berhalangan darurat, harus sertakan bukti dan ikut kuliah di perkuliahan kelas lain


Tugas dikumpulkan oleh satu orang baru dikumpulkan ke saya. Saya tidak mau mengkoreksi hasil tugas atau makalah jika masih ada yang kurang atau ada yang belum mengumpulkan. Jadi kekompakan juga dituntut di kelasku. Kecuali ujian langsung.


Tidak ada katrol nilai dan semua harus lulus sesuai standar ketetapan.


Jika saat ujian, tertangkap ada kecurangan. Tidak dianggap ujian. Jadi selama ujian wajib tenang dan mengerjakan sendiri.


Tidak diperkenankan japri, kecuali jadwal bimbingan bagi mahasiswa skripsi. Semua pertanyaan mengenai perkuliahan disampaikan di kelas atau dikumpulkan ke ketua kelas.


Dibentuk grup diskusi perkuliahan khusus mata kuliahku. Model perkuliahan akan bertema diskusi, sedikit ceramah banyak demo, praktek dan juga presentasi.


Jelas ya?"



Semua siswa langsung speechless membaca dan mendengarkan peraturan Rendi. Sebagian memijat kepalanya menegang, sebagian mengangguk dan merasa tertantang.


Nila yang sebelumnya menyimpan emosi pribadi jua mulai terurai mendengar semua penuturanya. Kini mulai beralih, mencoba menelan kenyataan dan terbentuk sekat rasa, sekarang adalah momen dosen dan siswa, Nila harus bisa mengendalikan diri.


"Benar kata Kak Jingga, dia dosen yang tegas, dan cenderung kaku? Tujuanya sih ini bagus dan keren? Tapi kaku sekali dia, pantas Kak Jingga kesal?" batin Nila hati kecilnya mengakui kalau apa yang dilakukan Rendi bukan kesalahan.


Nila kan sedikit lugu, tidak pemberontak seperti Jingga, jadi baginya walau terkesan kaku, aturan Rendi itu hal yang wajar.


"Bagaimana setuju? Siap mengikuti kuliahku?" tanya Rendi profesional lagi.


Semua murid tampak diam dan berfikir. Heranya, Farel tidak peduli dan setuju saja.


"Saya hitung sampai tiga. Yang tidak setuju dan keberatan ikut kelasku bisa tunjuk jari ya!" ucap Rendi lagi.


Dita yang sering telat langsung mendengus minder.

__ADS_1


"Hhh... Masa iya aku harus ketinggalan kuliah Dokter Rendi terus? Aku harus bangun jam berapa biar dapat bus awal? Seringnya penuh lagi, aku harus berebut sama orang pabrik," bisik Dita ke Nila.


Untuk pengguna angkutan umum seperti Dita, ancaman tepat waktu sangat berat dan menakutkan. Rendi mau 15 menit sebelum jam kuliah sudah ada, terlambat 15 menit berarti kan jam ajar sebenarnya. Masa kalau belum datang dianggap bolos?


"Ya udah protes aja! Kalau keberatan!" jawab Nila.


"Protes gimana? Masa iya aku mau melawan?" jawab Dita.


"Ya bilang aka kalau aturan ini terlalu memberatkan!" jawab Nila lagi.


"Sepertinya aslinya Pak Rendi galak. Aku takut. Kamu deh yang protes," ucap Dita lagi.


"Biasanya juga kamu pemberani! Nggak apa- apa itu dibuka pertanyaan?" jawab Nila lagi


"Ehm!" tiba- tiba tanpa sadar, di hadapan Nila, terdengar deheman yang keras.


Dita dan Nila yang tadinya sedang berbisik dan diskusi langsung diam, dengan muka kaget. Di depan Nila persis pria tinggi berbadan tegap itu bersedekap menatap Nila seram.


Walau sebelumnya Nila berani marah, bahkan, saat di rumah, di warung bakso, juga di handphone Nila mengatai- ngatai Rendi, kali ini Nila menunduk.


"Saya belum memulai kelas diskusi. Saya bertanya baik- baik. Tapi kalian diskusi sendiri? Ada yang mau disampaikan? Sampaikan!" tanya Rendi profesional.


"Ehm..," Dita yang biasa suka bertanya berdehem ragu.


Dita keberatan dengan aturan telat karena Dita sering telat. Tapi Dita tahu pasti jawaban Rendi, kalau tidak mau telat ya berangkat lebih awal, adapun darurat kan sudah disertakan konsekuensinya. Jadi Dita ragu mau protes.


Rendi yang memang dalam hatinya sedang rindu Nila dan ingin mengerjai Nila, tidak menghiraukan Dita, tapi terus menatap Nila.


"Angkat wajahmu? Siapa namamu? Mbak Berjilbab?" tanya Rendi pelan, sengaja mengerjai Nila.


"Hhh...," Nila menghela nafasnya malas, Nila kemudian mengangkat wajahnya dan menatap ke Rendi dengan tatapan kesal.


Nila tahu suaminya ini sedang mengerjainya, dan sekarang dirinya jadi pusat perhatian. Nila harus pandai bersembunyi, kan Nila sendiri yang jaga jarak dan memulai untuk pura- pura tidak kenal.


"Nama Saya Nila, Dok!" jawab Nila profesional.


"Kamu keberatan dengan aturan kelasku?" tanya Rendi.


"Siap, Tidak Dok!" jawab Nila malas berdebat.


"Kenapa diskusi sendiri? Kalian ngobrolin apa?" tanya Rendi kali ini melirik ke Dita bersikap fair tidak hanya ke Nila terus.


"Maaf Dok!" jawab Dita terdengar takut.


"Nggak usah takut, kalau tidak bersedia katakan saja. Iya nggak? Mbak Nila?" tanya Rendi menoleh ke Nila lagi.


Akhirnya Nila pun buka suara


"Maaf Dok. Izin menyampaikan!" ucap Nila akhirnya.


Rendi mengangguk mempersilahkan.


"Sebelumnya, saya apresiasi aturan Dokter Rendi, bagus karena mendidik kita untuk disiplin mandiri jujur dan tanggung jawab. Tapi ya Dok. Apa tidak ada kebijakan lagi untuk yang telat lebih dari 15 menit? Kenapa harus tidak boleh masuk ke kelas kuliah? Kenapa tidak disamakan dengan aturan darurat? Harus menyertakan bukti! Dan aturan darurat kenapa harus ikut kelas lain? Darurat kan berarti bukan mau kita dan di luar kehendak kita?


Kalau ternyata kelas kita udah yang akhir. Terus kita ikut kelas siapa? Kuliah kan hak kita Pak. Padahal mungkin telatnya karena naik angkutan umum macet atau ada kecelakaan? Itu kan bukan kuasa kita? Kan nggak semua mahasiswa dekat atau punya kendaraan pribadi? Kenapa nggak dikasih tugas tambahan aja?


Kalau boleh saya usul. Kan sekarang ada grup diskusi, untuk yang telat darurat? Menurut saya sertakan bukti alasanya dan ijin di grup saat itu juga. Dokter boleh kasih hukuman. Tapi ijinkan tetap masuk Dok!" usul Nila panjang mencoba mengerti posisi Dita.


Rendi pun mendengarkan kata Nila dengan seksama, bahkan tatapannya tidak lepas dari kedua bibir Nila yang menjelaskanya dengan detail. Rendi tahu betul Nila disiplin dan punya supir pribadi. Juga banyak kendaraan, kekaguman Rendi pun bertambah, Nila tidak hanya berfikir untuk dirinya, tapi empati pada orang lain sangat kuat.


Meski begitu, Rendi tidak langsung menjawab, melainkan menyerahkan keputusan ke teman- teman lain karena ini sifatnya kesepakatan bersama agar disikapi dengan tanggung jawab bersama.


Tentu saja semua setuju usul Nila. Dita dan Nila pun tersenyum senang.


Utuk pertama kalinya setelah 5 tahunan aturan Rendi dirubah oleh usulan mahasiswa. Padahal sebelumnya Rendi sangat kaku.


Setelah kesepakatan deal. Rendi memulai perkuliahan. Tentu saja Rendi berbeda dari yang lain. Rendi meminta anak- anak mengerjakan pre test sebelum ceramah.


Dan kali ini tidak menggunakan media elektronik, melainkan menggunakan soal kertas dan Rendi sendiri yang membagikan. Termasuk soal untuk Nila.


Saat Nila membaca lembar soal itu. Mata Nila pun terbelalak, di pojokan kertasnya ada tulisan dengan huruf arab kecil, khas anak pondok. Bukan bahasa arab, hanya tulisanya saja. Nila pun membacanya dengan seksama.


"Jangan suudzon dan marah. Ambil titipan temanmu, jam 16.00 di lorong mini hospital,"


"Gleg!" Nila langsung mengkerucutkan bibirnya. "Kenapa nggak balas wa ku aja, malah nulis beginian sih. Udah tua sok-sokan kaya remaja," batin Nila kesal, padahal Nila yang abg juga tidak melakukan hal- hal kuni seperti Rendi


Nila pun celingak celinguk, dirinya dheg- dhegan seakan seperti sedang melakukan misi dan takut ketahuan. Tapi teman- teman Nila tampak fokus mengerjakan.


Nila mengambil penghapusnya dan segera menghapus pesan Rendi. Sesaat Nila menatap Rendi, sayangnya Rendi tampak fokus ke tempat lain dan tidak memperhatikanya.


"10 menit ya. Sudah berjalan 5 menit. 5menit lagi!" ucap Rendi tiba- tiba bak alarm mengingatkan.


"Aiiih...," keluh Nila.


Waktu dan jumlah soal Rendi tidak seimbang, teman lain sudah mengerjakan soal dengan cepat, Nila ketinggalan karena ada soal pribadi tambahan dan harus menghapusnya.


Alhasil saat waktu mengumpulkan, Nila belum selesai dan termasuk yang nilainya jelek. Untung itu pretest bukan ujian.

__ADS_1


Saat itu juga, Rendi meminta Asdosnya yang ternyata sedari tadi ada di depan kelas mengoreksi hasil jawaban anak- anak. Kebetulan asisten dosenya perempuan juga cantik.


Sejenak, meski tak diinginkan kedatanganya, ada rasa sesak yang datang di hati Nila, seperti jengah. "Lebay banget, hanya pretest, harus ada asdosnya y? Kenapa nggak pake spreedsheet google drive sih? Kuno! Bilang aja modus," batin Nila jadi mencibir tidak suka Rendi punya asdos cantik.


Selagi menunggu asdosya. Rendi pun membuka ceramah materi. Nila jadi malas mendengarkan padahal mahasiswa lain antusias.


Hingga tanpa Nila sadari waktu berlalu dan jam kuliah habis, berganti mata kuliah yang lain.


Di jeda pergantian kuliah Nila pun memeriksa ponselnya. Seketika itu Nila kembali mencebik. Akhirnya ada pesan dari Rendi.


"Jangan kebanyakan ngelamun kalau lagi kuliah. Nilai masuk seleksi tertinggi, pretest doang nggak lulus!" ketik Rendi mengejek Nila, ternyata diam- diam selama kuliah, Rendi curi- curi pandang ke Nila dan ternyata Nilai Nila paling rendah.


"Ish...nyebelin banget sih?" desis Nila bicara sendiri, Nila jadi tambah kesal. Kan Nila nilainya jelek gara- gara pesan Rendi.


"Kenapa La?" tanya Dita bingung melihat Nila mendesis sendiri.


"Nggak apa- apa!" jawab Nila masih tidak mau terbuka dengan Dita.


Mereka pun kembali fokus mengikuti kuliah hingga akhir. Semua berjalan lancar dan Rendi tidak terlihat batang hidungnya lagi, padahal namanya kembali menjadi bahan gosipan anak- anak. Nila juga celingak celinguk saat ke kantin dan masjid, tapi tetap saja tidak terlihat.


"Kenapa aku gerogi gini sih mau ambil kadonya? Aku minta ditemani Dita nggak ya? Ah tapi nanti Dita jadi tahu lagi?" gumam Nila mulai gelisah saat mengikuti kuliah terakhir menjelang jam pulang.


"Kamu kenapa La?" tanya Dita lagi.


"Nggak apa- apa!" jawab Nila selalu menyembunyikan masalahnya.


"Nggak sabar pengen pulang ya?"


"Iyah!" jawab Nila.


Dita dan Nila pun kembali memperhatikan materi kuliah hingga waktu selesai dan menunjukan pukul 15.30.


Hari ini, Pak Iman dan Baba tahunya Nila pulang bersama Ikun, jadi tidak ada yang menjemput Nila. Nila sendiri belum mengabari Ikun, sebab Nila pikir, Nila ingin menemui Rendi dulu jangan sampai Ikun tahu. Nila takut jika mengabari Ikun terlebih dulu, Rendi dan Ikun bertemu malah bertengkar.


Sebelum ke gedung mini hospital yang isinya alat- alat praktek, Nila ke masjid untuk sholat ashar terlebih dahulu.


"Jemputanmu belum datang?" tanya Dita.


Nila pun tersenyum mencari alasan. Padahal Nilq yang belum minta dijemput.


"Lagi ada perlu sepertinya. Kamu duluan aja!"


"Oke... Daah!"


"Ati- ati!"


"Siip!" jawab Dita.


Setelah Dita pergi, Nila pun menuju ke tempat yang dijanjikan Rendi. Dengan hati yang dheg- dhegan, Nila pun berjalan tegap menuju ke gedung yang ada di pojokan wilayah kampus, gedung itu adalah laboratorium yang menyerupai rumah sakit tapi isinya hanya alat- alat praktek. Ada mayat yang diawetkan untuk pembelajaran juga, gedung itu hanya dikunjungi siswa saat praktek saja. Juga beberapa petugas kebersihan.


Saat Nila berjalan, Nila berpapasan dengan mahasiswa lain yang justru berjalan pulang. Nila pun berfikir mungkin alasan Rendi memilih tempat itu karena dia baru selesai praktek bersama mahasiswa.


Dan tepat saat Nila sampai di depan gedung itu, Nila melihat penjaga sedang mengunci pintu masuk.


Nila pun berfikir. "Kalau pintu sudah dikunci berarti Rendi tidak di dalam, tapi kenapa dia menyuruh di situ tidak di ruang lain?"


"Ah mungkin dia juga tidak ingin orang lain tahu tentang hubungan kita, terhadap teman- temanya saja dia juga tidak mengakuiku kan?" mendadak Nila jadi sakit lagi ingat kelakuan Rendi. Padahal Nila sendiri juga menyembunyikan itu dari teman- temanya.


Walau hatinya tetiba rasa sakit, Nila sudah terlanjur tiba di tempat itu dan ingin segera mengambil tanda cinta yang teman- temanya berikan dengan sepenuh hati. Dia pun tetap berjalan ke gedung itu.


Suasananya sepi sunyi, apalagi gedungnya tinggi dan lorongnya panjang. Di lorong itu terdapat kursi- kursi. Nila pun berniat menunggu di lorong itu.


"Tak...," terdengar benda terjatuh padahal tak ada orang.


Nila yang sebelumnya menahan deguban jantung karena nerveous mau ketemuan dengan Rendi, yang dia sendiri tidak bisa mengontrolnya, jadi tambah merinding mendengarnya.


"Ehm... ini masih siang kan?" batin Nila menenangkan diri. Bahkan tetiba bulu kuduk Nila merinding. Nila tengak tengok tidak ada orang, lalu Nila membaca doa.


"Tak...," suara benda terjatuh dan menggema terdengar lagi.


Nila tambah merinding, tapi Nila tidak mau dikalahkan rasa takut. Dia kemudian menoleh lagi.


"Mas Rendi...," panggil Nila akhirnya mengira itu Rendi. Tapi tak ada jawaban. "Ups!" pekik Nila baru sadar dia di kampus, kenapa manggilnya Mas, bahaya kalau ada orang lain yang dengar.


"Gus Akbar!" panggil Nila lagi. Nila berharap orang lain tidak tahu kalau dia mencari Rendi tapi Rendi akan tahu kedatanganya, kan di kampus hanya Nila yang tahu nama kecil Rendi.


Sayangnya tetap tidak ada sahutan.


Nila kemudian membuka ponselnya berniat mengabari Rendi kalau dia sudah di tempat yang Rendi mau.


"Astaghfirullah aku lupa ngecharge lagi?" gumam Nila ternyata bateraynya low.


Akhirnya Nila pun bangun dari duduknya, memeriksa lorong di sisi yang lain, mengira kalau Rendi ada di situ dan mengerjainya.


"Gleg!" seketika itu langkah Nila terhenti. Matanya terbelalak dan deguban jantung yang tadi panas dingin berubah menjadi gemetaran takut dengan apa yang dia lihat di depanya.


Nila pun berbalik hendak pergi.

__ADS_1


"Hei... tunggu!" panggil orang itu mencegah Nila berbalik.


__ADS_2