Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Kak Fatma.


__ADS_3

“Tuan Nyonya, ada tamu,” tutur Bu Ida asisten rumah tangga Buna.


Acara keluarga Gunawijaya sudah selesai acara. Tamu – tamu juga Opa nando dan keluarganya juga sudah pulang. Nila sedang membawa Oma Rita ke kamarnya, Amer dan Ikun juga sudah lama ke atas bersama adik- adiknya. Tinggal Baba, Buna, Bang Adip, Jingga dan bayinya yang masih di bawah, karena bayi Jingga sempat rewel.


Mendengar penuturan Bu Ida, Baba yang sudah sampai di depan lift berhenti dan menoleh.


“Tamu siapa Bu Ida?” tanya Bang Adip ramah.


Jingga yang anaknya menangis ingin disusui tampak menimang dan menenangkan bayinya.


Bu Ida tampak gemetaran dan menunduk sejenak.


“Siapa? Kok nggak jawab?” tanya Bang Adip lagi.


Bu Ida menelan ludahnya dan kemudian mengangkat wajahnya, “Non Fatma, Den!” jawab Bu Ida ragu sembari melirik ke Baba.


“Fatma?” tanya Adip dengan bola matanya berputar, Adip tidak begitu mengenal siapa Fatma, akan tetapi Baba dan Jingga tahu langsung merespon. “Fatma siapa?” gumam Bang Adip melirik ke Jingga.


“Fatma kesini? Mau apa dia?” tanya Jingga.


“Haish..,” desis Baba langsung mendekat ke Jingga. “Adip Jingga, urus anakmu, kasian sana ditidurkan, sudah biarkan saja!” sahut Baba keras dan dengan emosi.


“Ba...,” panggil Buna mengingatkan agar Baba jaga tensi, Buna mulai tidak suka dengan respon Baba.


Baba mengeratkan rahangnya wajahnya sedikit memucat melirik ke Buna, Buna menarik bibirnya dan mengangkat matanya sebagai kode, meminta Baba menepati janjinya.


Saat Jingga lahiran, di kamar besarnya, setelah menunaikan kewajibanya, Buna meminta sesuatu dari Baba. 1, Buna meminta Baba mengijinkan Buna berKB memakai alat, tidak KB alami lagi dan menyudahi untuk punya anak lagi, Viona sudah yang terakhir. Kedua, Baba sudah punya cucu, Buna meminta Baba mulai menghilangkan sifat keras dan semaunya sendiri. Baba pun menarik nafas dalam langsung diam.


“Fatma kesini sama siapa?” Jingga yang di dekat Bang Adip dan bayinya sudah tenang langsung ikut penasaran.


“Sendirian Non!” jawab Bu Ida.


Jingga kemudian melirik ke Baba dan Bunanya. Baba masih tampak cemberut dan Buna tersenyum.


“Nggak apa- apa, disuruh masuk aja kasian, jauh kan?” jawab Buna.


“Buna, istriku Sayang!” sahut Baba tetap marah tapi merayu Buna, “Baba sudah bilang kan? Stop berhubungan dengan mereka. Sudah kita tidak ada hubungan apapun lagi dengan mereka!” jawab Baba memelankan intonasi bicaranya meski isinya masih tetap berisi kemarahan.


“Ehm...,” Bang Adip dan Jingga yang tahu situasi orang tua mereka mulai memanas memilih cari aman mengunci mulut menunggu titah pemenangnya.


“Tapi ini kan Fatma, Ba... yang nemuin kan juga Jingga dan Adip bukan Nila,” jawab Buna meyampaikan pendapatnya berfikir secara kemanusiaan.


“Tetap saja, Fatma itu adiknya pria kurang ajar itu!” jawab Baba mulai kelepasan masih tetap emosi.


“Ya kan Fatma nggak pernah kurang ajar ke kita, Fatma baik, dia juga sudah jauh- jauh ke sini kan?” jawab Buna merayu Baba lagi.


“Ya tetep ajalah, paling disuruh, paling ada niat tersembunyi, sudah biarkan saja!” jawab Baba kumat penyakit semaunya lagi.

__ADS_1


Buna menghela nafasnya dan menggaruk pelipisnya, sepertinya Baba memang akan terus seperti itu. Baba kemudian mendekat ke Baba dan meraih tannganya.


“Biar Buna yang temuin ya? kasian Nak Fatma jauh- jauh ke sini masa diusir. Barangkali dia pengin nengokin cucu kita,” tutur Buna lagi.


“Kamu nggak berubah sih Bunn, jangan terlalu baik sangka sama orang, kalau ternyata dia punya niat jahat dan ingin mencelakai cucu kita gimana?” jawab Baba lagi.


“Baba...,” pekik Buna, tidak suka Baba berfikir jauh.


“Ya nyatanya, kakaknya begitu kan? Kita sangat percaya, kita sudah sangat baik dia ternyata menyakiti Putriku yang cantik dan baik!” jawab menggebu dan emosi.


Buna kembali menghela nafasnya lagi, Buna mengerti perasaan suaminya masih sangat sakit hati terhadap Rendi.


“Tapi ini Fatma, bukan Rendi, Buna Cuma nemuin tamu, dosa lho Pah usir tamu!” tutur Buna lagi.


Baba tampak diam, Buna kembali memegang tangan Baba “Buna janji tidak akan lama- lama!” sahut Buna.


“Jangan biarkan mereka temui, Nila! Jangan percaya dan terkena bujuk rayunya!” tutur Baba memperingati.


“Ya...,” jawaB Buna tersenyum akhirnya mendapatkan ijin Baba menemui Fatma.


Bang Adip dan Jingga pun hanya saling pandang menunggu Buna.


Baba tampak dingin dan duduk tidak jadi ke kamar, Buna menemui tamunya.


Di ruang tamu rumah besar nan megah itu, duduk perempuan berhijab sendirian dengan satu bingkisan kado besar di sampingnya. Dia tampak menunduk sembari memilin jarinya, Fatma menunggu cukup lama untuk disambut sang empunya rumah. Fatma sangat berharap bisa bertemu Nila, tapi bahkan suara anggota keluarga inti belum juga terdengar.


“Assalamu’alaikum Nak Fatma..., lama nunggu yaa?” tanya Buna lembut.


Fatma segera mendekat dan meminta tangan Buna untuk bersalaman, “Waalaikum salam, Bu Alya, nggak lama kok!” jawab Fatma.


“Ayo duduk!” ajak Buna kembali mempersilahkan Fatma duduk.


Fatma pun mengangguk ikut duduk dan mereka kini duduk berseelahan di atas sofa empuk nan wangi di rumah Buna.


“Sendirian?” tanya Buna tidk banyak bosa basi.


Fatma mengangguk tersenyum lagi, “Saya dengar dokter Jingga sudah lahiran, kami ikut berbahagia, Ummi dan Abi juga ikut bahagia, Bu Alya!” jawab Fatma juga langsung mengutarakan niat datangnya tanpa banyak bosa basi.


“Ah iya... Alhamdulillah, dengar dari siapa?” jawab Buna.


“Dari Mas Farid!” jawab Fatma tidak berbohong.


“Oh iya...,” jawab Buna. “Ini berarti dari pesantren? Sendirian?” tanya Buna lagi memastikan.


Fatma tampak sedikit menyeringai dan tergagap, tapi kemudian segera dinetralkan. “Suami Fatma ada pertemuan pengurus pesantren di seluruh negeri. Jadi Fatma sekalian ikut!” jawab Fatma lagi.


“Oh gitu... yaya!” jawab Buna sekarang mengerti dan hilang suudzonya.

__ADS_1


“Boleh saya ketemu, Kak Jingga?” tanya Fatma ragu dan tergagap.


Buna pun tergagap bingung mau jawab.


“Maaf mengganggu, sepertinya saya telat datang, saya Cuma mau antar hadiah ini, ke Kak Jingga, Bu!” sahut Fatma cepat dan tahu diri. Apalagi Fatma melihat suasana sepi walau di tong sampah depan tampak menggunung sampah sisa makanan.


“Ehm..., sebentar ya!” jawab Buna hendak bangun sembari tersenyum.


Fatma membalas anggukan dengan wajah bahagianya, tebakanya benar, Bu Alya pasti menerimanya.


Buna pun bangun dan tampak hendak berjalan masuk, Fatma pun berfikir cepat,


“Bu Alya..,” panggil Fatma menghentikan langkah Buna.


“Ya!” jawab Buna berhenti dan menoleh.


Fatma pun tampak gelagapan.


“Ada apa?” tanya Buna lagi.


“Apa kabar Nila, Kak Nila? Apa... apa... Kak Nila di rumah, ehm.. maksud saya, apa sya bisa bertemu dengannya? Maksud saya, saya merindukan Kak Nila...,” tutur Fatma gelagapan dan gemetaran.


Buna menghela nafasnya, lalu menatap Fatma dalam. Walau Buna berbaik hati menemui Fatma dan menyanggah sangkaan Baba, tapi Baba juga tetap patuh dan mengikuti apa yang dikhawatirkan Baba. Buna juga sangat hati- hati.


“Jadi kamu ke sini? Mau kasih hadiah ke Jingga? Atau ke Nila?” tanya Buna kali ini bertanya dengan nada datar dan dingin sembari menatap Fatma.


Fatma pun tampak gemetaran dan bingung. "Saya.. saya...," jawab Fatma gelagapan tapi Fatma terhenti oleh suara seseorang.


"Kak Fatma...," panggil Nila ternyata berjalan nyelonong dari pintu samping.


Buna dan Fatma menoleh. Fatma pun tersenyum haru bahkan saking harunya setelah dia menahan dheg- dhegan, mata Fatma langsung berkaca- kaca.


Sementara Buna kaget kan tadi Nila pamit antar Oma ke kamar.


Tidak peduli Buna secara spontan Nila mendekat dan memeluk Fatma.


Buna pun tak dapat mencegahnya. Fatma pun memeluk Nila erat dan air matanya pun lolos.


"Kakak kangen banget sama kamu," bisik Fatma sembari menitikan air matanya.


Nila yang mendengarnya tidak berkomentar, meski Nila diam akan tetapi hatinya tergetar. Nila pun mengurai pelukanya.


"Kak Fatma ke sini sama siapa?" tanya Nila kemudian.


"Sendirian..," jawab Fatma melirik ke Belakang Nila.


"Ehm..." ternyata Baba sudah berdiri bersedekap dengan tatapan tidak suka

__ADS_1


__ADS_2