
”Mau kemana?” tanya Rendi dengan lembut menatap Nila dengan penuh kasih.
Saat Rendi berniat menemui tamunya, Nila berfikir itu urusan orang dewasa. Pemikiranya sama seperti saat dia menjadi putri Baba, kalau Baba ada tamu bisnis, Nila tak keluar dan memilih duduk Bersama orang lain, dia pun ingin begitu. Nila pun membiarkan Rendi berjalan tanpanya, akan tetapi Rendi merasa kehilangan saat sadar Nila tak mengikutinya.
“Mau ke Kak Jingga!” jawab Nila sedikit ketus.
Ya, selain malas menemui tamu pria tak dikenal dan baginya itu orang dewasa, ditambah, sebelum turun kan mereka berdebat. Jadi Nila masih bete sama Rendi.
Hanya mereka yang tahu, kalau mereka berdua saat ini sedang membawa hadas besar. Bagi Nila ini salah, sebab yang Nila pelajari, jangankan menemui tamu dan ikut berpesta, tapi begitu turun Kasur utamanya disegerakan bersuci. Nila jadi badmood.
“Gimana sih? Sini sama Mas, jangan jauh- jauh. Ingat kamu pengantinku!” bisik Rendi ke Nila setengah menekan dengan tatapan tajam. Rendi sedikit kesal juga, kenapa Nila tidak tahu, tamu kan ingin bertemu mereka, Rendi kan juga ingin kenalkan istrinya.
“Ehm…,” Nila berdehem melirik ke tamu- tamu berfikir sejenak, rasanya masih canggung harus menemui orang dewasa yang tak dia kenal.
“Nggak ada alasan malu- malu terus. Kamu udah dewasa!” sergah Rendi agak meninggi, lama- lama Rendi gemas ke Nila.
Nila pun mencebik.
“Bisa nggak ngomongnya lebih lembut? Jangan bentak!” tanya Nila masih sempat mendebat tidak langsung ya. Entahlah kenapa rasanya jadi jengkel.
“Hah?” pekik Rendi heran.
Rendi menghela nafasnya menahan sabar. Ya. Rendi mulai kelimpungan menghadapi anak kecil di depanya ini yang sudah jadi istrinya. Rendi rasanya sudah sangat sabar dan lembut, ternyata masih kurang, baru sah resmi berapa jam kok pusing sekali.
“Mereka siapa sih?” lanjut Nila bertanya sembari cemberut, Nila masih berdiri bukanya segera mendekat. Padahal kan mereka ditunggu dan diliatin orang.
Rendi menelan ludahnya, dalam hati istighfar, sabar sabar.
Rendi ingat pesan Abahnya, tempo hari saat Abahnya menanyakan yakin akan langkahnya mau mempertahankan atau kabulkan permintaan Baba lepas Nila dengan pasti, kira- kira begini kata Abah :
“Abah dan Ummi mengaku salah, kalian menikah dulu kita paksakan. Nila memang masih belum seharusnya menikah. Yakin kamu mau mepertahankan? Kalau kamu mempertahankan demi Abah dan Umi, urungkan saja. Kita tidak lagi marah kok. Abah tidak memaksa, toh keluarga Nila juga meminta akhiri saja!”
Kala itu Rendi menjawab mantap ingin melanjutkan pernikahan, Rendi mulai jatuh hati pada Nila dan tidak ingin cari yang lain. Abah pun menjawab, “Kalau memang sudah yakin, sebenarnya, jika benar yang kamu katakana, kata talak tidak pernah kamu ucapkan, dia masih istrimu, jemputlah, perlakukan dia dengan baik. Tapi ingat, perempuan yang kamu nikahi, adalah seumuran muridmu, dia bukan perempuan yang bisa tahu duniamu dan maumu tanpa kamu beritahu. Dunia sekolah itu berbeda dengan dunia pernikahan. Jalinan hubungan teman dengan jalinan hubungan suami istri pun berbeda. Pernikahan penuh uji, tidak berlangsung satu atau dua hari, tapi seumur hidupmu…,harus banyak sabarnya..” begitu kira- kira kata Abah.
Rendi selalu ingat pesan itu dan harus siap konsekuensinya. Pokoknya Rendi harus terus sabar.
“Makanya, ayo ikut, Mas. Mas kenalin kamu ke mereka! Biar kamu tahu siapa mereka,” ajak Rendi lembut mengulurkan tangan dan mengedipkan matanya dengan tatapan sayang.
Nila celingukan sesaat, masih tetap ragu hendak menangkup tangan Rendi, meski akhirnya Nila menggerakan tanganya mereka berjalan bergandengan, Nila ikut Rendi menembus kerumunan tamunya.
Keluarga mereka pun langsung menoleh, dan berkomentar, kok Nila malah ganti baju biasa, untungnya Nila cantik, dan pakaian Nila juga memang gamis elegan jadi tetap tertolong.
Nila tidak komentar dan hanya senyum, Rendi sendiri seperti setelan awal, banyak diam hanya membalas senyum mahal yang jarang dia keluarkan tapi sekali keluar membuat orang lain tersihir.
Rendi menyapa tamunya yang tak lain adalah Kakak Farel dan pengacaranya. Juga berkenalan dan mengenalkan istrinya.
“Selamat ya!” ucap kakak Farel memberi selamat ke Rendi dan melirik Nila.
Nila tersenyum tanpa menampakan giginya diikuti anggukan kepala kemudian menunduk lembut masih memegang tangan Rendi.
“Makasih ya, udah makan belum? Tahu dari siapa acara ini dan kesini?” tanya Rendi.
“Udah, payah ya kamu Nikah nggak undang- undang dadakan lagi! Aku tadi ke rumahmu, penjaga rumahmu yang bilang,” jawabnya lagi.
Rendi menggaruk jidatnya, tersenyum.
“Bukan nggak undang, nanti ada resepsi kok. BTW makasih ya! Jadi malu nih gua,” ucap Rendi lagi.
“Ehm…,” kakak Farel berdehem kemudian melirik ke pria dewasa yang dia bawa.
“Sory gue nggak bisa lama- lama, udah ketemu kita pamit ya,"
"Lhoh kok gitu."
"Aku pingin sampaiin sesuatu!"
"Apa?" tanya Rendi
"Sebenarnya nggak pas aku bilang gini ke kamu," ucap Kakak Farel serius.
“Ck. Ngomong apa sih. Santai aja?” tanya Rendi menegang.
Kakak Farel melirik ke Nila.
“Mungkin lain kali kita perlu ngobrol lebih santai ya, intinya gue cuma mau ingetin, kalau Bokap gue tiba- tiba hubungin lo, tolong, lo sabar dulu. Gue akan bantu kok!” ucap Kakak Farel.
__ADS_1
Seketika itu Nila yang menunduk jadi mengangkat wajahnya menatap Rendi suaminya khawatir dan kemudian menatap Kakak Farel. Tapi Rendi hanya mengernyit sejenak.
“Oh… oke. Atur aja waktunya!” jawab Rendi santai, sama sekali tidak tegang.
Kaka Farel pun menepuk lengan Rendi pamit.
"Hei kok buru- buru sih? Ayolah santai dulu,” tanya Rendi saat Kakak Farel pamit.
“Buru- buru gimana? Aku udah cicipin semua, mulai dari kambing guling sampai soto babad udah kuputerin! Aku udah lama! Maaf ya ganggu! Sok dilanjut,” jawabnya.
“Ehm…,” Nila sedikit berdehem, iyalah tamunya nunggu lama, Rendi dan Nila kan juga udah menyempatkan waktu setoran.
“Oh gitu, makasih banget ya!” jawab Rendi.
Kakak Farel pun pergi, Rendi dan Nila kemudian menoleh ke sekitar, ternyata rombongan dosen juga sudah tak kelihatan batang hidungnya, sepertinya mereka pergi saat Rendi dan Nila di kamar juga.
“Mau makan, apa? Mas ambilin?” tawar Rendi peka, kesalnya ke Nila hilang, kalau sedang diam begini Nila tampak sangat manis.
Nila pun menggerakan bibirnya maju mundur sambil mengurutkan barisan makanan yag tersedia, di pandangan Rendi saat Nila begitu pun tambah imut.
“Mas mau makan apa?” jawab Nila ujungnya malah tanya Rendi, padahal Rendi sudah menunggu beberapa saat jawaban Nila. Untung Nila imut jadi saat menunggu jawaban Rendi sambil menikmati wajah Nila.
Rendi kembali menelan ludahnya, benar- benar ya harus sabar.
“Mas pengin kambing guling, katanya enak!” tanya Rendi coba berikan solusi.
“Nila nggak begitu suka!” jawab Nila menolak.
“Hmm...Terus mau apa? Biar mas ambilin sekalian, kamu duduk aja sini!” tanya Rendi lagi memastikan lagi apa yang Nila ingin.
“Ya udah terserah Mas aja!” jawab Nila, tidak jelas lagi.
Rendi menelan ludahnya lagi jadi tambah bingung. Mau bentak tapi nanti nangis dan cemberut lagi.
“Ya apa, Dhek? Kalau Mas pengen kambing, kamu tadi katanya nggak suka! Terus kamu apa?” tanya Rendi.
“Ya, yang penting jangan kambing, terserah mas mau ambilin Nila apa!” jawab Nila.
“Beneran ya terserah? Nanti salah lagi?” tanya Rendi.
“Awas kalau nggak dimakan!” ucap Rendi.
Nila hanya mencebik.
Rendi meminta Nila duduk, segera mengambil beberapa dimsum dan kentang goreng. Sementara untuk dirinya kambing guling.
"Kok dimsum?" tanya Nila cemberut. Rendi jadi mengeratkan rahangnya. Benar- benar, kok Nila jadi begini.
"Tadi kan katanya terserah. Ya udah sini Mas makan. Kamu ambil sendiri!" jawab Rendi ngambek.
"Iya maaf!" jawab Nila.
Rendi kali ini hilang kesabaran langsung ambil makanan di tangan Nila.
"Jangan!" ucap Nila.
"Doyan nggak kalau enggak Mas aja yang makan!" jawab Rendi.
"Iya, Nila doyan. Tapi kalau hanya dimsum kurang kenyang!" ucap Nila lagi.
Rendi menghela nafasnya.
"Kamu pengen nasi berarti? Daritadi ngomong ya!" ucap Rendi.
Nila hanya mencebik manyun.
"Udah makan dulu. Nanti kita ambil nasi bareng!" ucap Rendi.
Nila diam dan mengambil dimsun hendak dimakan, begitu juga Rendi.
Sayangnya baru tiga suapan, MC ternyata melihat mereka sedari tadi. MC malah melihatnya mereka begitu sweet. Ya, usia Nila yang muda tak bisa ditutupi, dia masih polos, lugu dan bersikap imut begitu jujur. MC pun gemas, Rendi seperti sedang mengasuh adiknya. MC pun memanggil mereka.
Rendi dan Nila saling tatap, dan keluarga yang lain semua bersorak meminta Rendi naik ke panggung. Hingga akhirnya mau tidak mau Rendi ikut naik. Rendi kemudian menyumbangkan satu lagu di hari istimewanya itu.
Dan begitu Rendi membuka suara, semua terpana, bahkan vokalis band kalah dengan pesonanya. Rendi berdiri tegap memegang mic dengan tangan jantanya, matanya lurus menatap Nila, dan suara Rendi yang penuh dengan aura laki- laki, serak- serak besar ternyata saat menyanyikan lagu begitu indah. Apalagi lagu yang dinyanyikan Rendi berisi pesan dia mencintai istrinya apa adanya.
__ADS_1
Bunga sampai melongo dan langsung menyalakan ponsel menjadi paparazzi mengabadikan momen termasuk menshoot Nila yang jadi menunduk salah tingkah.
Sementara Jingga, yang anaknya menangis memilih meninggalkan acara. Keluarga yang lain ikut mendekat layaknya penggemar yang mengiringi idolanya saat konser, kurang dari 5 menit Rendi mengakhiri lagunya dan semua bersorak memuji. Walau sudah membasuh mukanya, wajah Nia kembali memerah tersipu, Rendi ternyata keren. Saat Rendi mendekat, Nila jadi tersenyum tidak marah lagi.
Setelah Rendi artis undangan Baba melanjutkan peranya, lagu demi lagu pun dibawakan, hingga tamu- tamu satu persatu berpamitan. Dan cara selesai.
Keluarga Rendi pulang tanpa Nila dan Rendi. Baba meminta mereka malam ini menginap di rumah dulu. Malam itu pun keluarga Baba berkumpul. Uung langsung menempel Rendi menggeser Nila. Padahal setelah dibawakan lagu, marah Nila hilang, bahkan mereka sempat sholat jamaah juga makan malam suap- suapan.
"Vio...tidur sama Buna. Yuk!" ajak Buna peka. Sepertinya putri dan menantunya butuh waktu berdua dan ingin segera ke atas.
"Gamau!" jawab Vio.
"Nggak apa- apa Bun. Vio tidur sama kita aja!" jawab Nila.
"Ish kok gitu. Ini kan malamnya kalian!" celetuk Oma.
"Besok kan Nila dan Rendi pulang ke rumah. Kasian Vio masih ingin sama kakaknya biar saja!" jawab Baba ternyata malah senang kalau ada Vio di antara Rendi dan Nila.
Buna jadi mengernyit sepertinya suaminya ini sengaja nggak peka.
"Ehm..." Rendi berdehem. "Benar kata Baba. Biar Vio sama kita aja!" jawab Rendi bijak.
Baba pun tersenyum menang. Sementara Buna mengernyit heran.
Buna dan Baba kan pada tidak tahu kalau mereka sudah menyempatkan waktu di siang bolong.
"Beneran nggak apa- apa Nak?" tanya Buna.
"Beneran!" jawab Rendi.
Buna pun mengangguk lega. Hingga satu persatu keluarga Baba masuk ke kamar masing- masing. Dan Vio ikut Nila dan Rendi.
"Kriiing...," saat sampai kamar telepon Rendi berdering keras. Rendi pun menyerahkan Vio berpindah gendongan ke Nila.
Nila kemudian membawa Vio ke kasur.
Selang beberapa waktu Rendi kembali.
"Dhek, Mas pinjam laptopnya dong!" ucap Rendi.
"Untuk apa?" tanya Nila.
"Mas harus buka email. Ada masalah m," jawab Rendi.
"Hhh...masalah apa?,"
"Mas jelasin juga kamu nggak ngerti. Pinjam laptop dulu ya!" pinta Rendi.
Nila menghela nafasnya kemudian mengambilkan laptop. Karena Vio berisik Rendi keluar kamar.
Tidak berlangsung di lama Vio tidur, tapi sekarang berganti Nila melihat ponselnya, di grup ada banyak draft tugas.
Nila jadi bangun dan terpaksa mengerjakan tugas di malam itu.
Ya malam itu akhirnya mereka sibuk dengan tugas masing- masing.
Sekitar jam 11 malam Baba dan Buna keluar kamar, mereka pun melihat Rendi di depan tv menyalakan laptop.
Buna mengernyit kasian sementara Baba tersenyum senang.
"Ini jam berapa Mas. Rendi sempet- sempetnya sih ngerjain tugas?" ucap Buna.
"Bagus... Kerjakan sampai selesai, kalau perlu sampai ketiduran!" ucap Baba malah tersenyum.
"Baba kenapa sih?"
"Udah Bun. Vio nggak usah diambil. Yuk kita masuk yuk!" ajal Baba malah senang malam ini mereka tidur berdua.
Sebab walau sudah punya kamar sendiri, Vio suka kecarian Buna dan seringnya tidur bersama Buna.
*****
Oh ya Kaak.
Editan cerita Amer udah pe episode 5 lhoo. Diintip yaa. Hehe
__ADS_1