Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Belum Menceraikan.


__ADS_3

Suara Adzan menggema di seluruh penjuru ibukota. Mengajak para insan membuka mata, mengajak bersua pada Tuhanya bagi mereka yang memeluk agama Islam, juga mengajak yang lain bangun memulai hari, memberi tahu semua bahwa cerita baru siap diukir


Tidak terkecuali, bagi seorang Pria yang terbaring sendiri di dalam kamar besarnya. 


“Astaghfirulloh... ternyata sudah subuh,” gumam Rendi membuka matanya.


Walau hidup membujang, karena memang dia seorang Putra Abi Yusuf, terbiasa bangun pagi. 


Rendi pun menggeliat berniat mengusir rasa malas di dalam tubuhnya agar bisa  bangun. Saat Rendi menggeliat dan menggulingkan tubuhnya, tanpa sengaja Rendi mencium bekas aroma wangi tubuh Nila. 


“Hsshhh,” Rendi menajamkan indra penciumanya dan menghirup bekas aroma itu.  


Dalam benak Rendi pun datang bayangan kemarin, saa dia menggendong Nila. Gadis yang sudah tumbuh besar menjadi perempuan sesungguhnya.


Hati Rendi pun bergetar, dia masih ingat merasakan tanganya menggenggam dan mencengkeram tubuh hangat Nila. Juga mata Rendi yang menyaksikan pahatan wajah Nila yang begitu ayu. 


Rasa sakit ingin mengulang waktu itu kembali datang. 


Entah kenapa hal itu membuat Rendi tersadar, tanpa menghitung ternyata sudah ribuan hari Rendi menghabiskan waktunya tidur sendiri. Seharusnya di usianya sekarang dia sudah mempunyai teman tidur. 


“Huuft...” Rendi menghela nafasnya mengusir pikiran buruh itu, dia tidak ingin menjadi pria yang menyedihkan. 


Seperti hari-  hari sebelumnya, Rendi bangun sendiri, ke kamar mandi mangambil wudzu, dan menggosok gigi.


Setelah itu menunaikan kewajibanya menghadap pada sanga Khalik seorang diri. Walau jalan pikiranya tidak bisa ditebak orang lain, tapi Rendi pria yang masih memegang ajaran dan menunaikan kewajibanya.


Dan seperti kebiasaanya juga dia mengambil headset yang tak beraudio, hanya sekedar menutup kuping sebagai teman sepinya. Agar dia tak terlihat menyedihkan karena tak punya lawan bicara.


Rendi menuju taman di dekat rumahnya untuk olah raga dan lari pagi. 


Ternyata di sana sudah ramai, para pedagang asongan yang menyiapkan sarapan bagi mereka yang tak sempat masak seperti Rendi juga sudah berjejer,  memagari jalan menuju taman.


Juga ada banyak manusia yang sengaja menyempatkan waktunya untuk olahraga, dan kebanyakan dari mereka adalah pasangan, baik yang muda atau yang tua. Dan tidak sedikit yang membawa stroller beserta bayinya. 


Sebenarnya itu sudah menjadi pemandangan biasa, mengingat itu memang akhir pekan dan ada care free day. Tapi entah kenapa, hari ini Rendi begitu sensitif melihatnya, hatinya terus terkoyak, merasakan sakit yang tak bisa diraba dimana tempatnya.


Saat gelak tawa canda mesra memenuhi pandangan matanya, juga celotehan anak kecil yang merengek dalam gendongan banyak laki- laki yang sebagian lebih muda darinya, Rendi merasa risih dan kesal. Rendi merasa benci yang tak berdasar.


“Haish...,” Rendi mendesis sendiri, nafasnya terasa terengah- engah walau dia baru satukali putaran berlari. Padahal biasanya dia bisa 5 kali Putaran. 


Dia pun berhenti pada satu pedagang bubur ayam dan memesan satu porsi untuk dirinya. 


“Sendirian aja Pak?” sapa seseorang mengalihkan perhatian Rendi yang tengah menyantap bubur ayam itu. 


Rendi pun menoleh. Gadis itu tersenyum ke Rendi membungkukan kepala.


“Ah ya...,” jawab Rendi tersenyum dingin, menggeser tempat duduknya, memberikan ruang untuk gadis itu. Rendi melihat sekilas setelah itu mengacuhkanya, karena mahasiswinya banyak, Rendi masih tidak ingat siapa lebih tepatnya perempuan ini. Rendi hanya berfikir adalah wajar dia dikenal banyak orang, tapi Rendi tetap dingin dan jual mahal. 


“Apa kabar, Pak Rendi? Sehat?” tanya perempuan itu sebagai mahasiswi bersikap hormat dan ramah ke Rendi.


“Baik, siapa ya?” tanya Rendi akhirnya. 


“Hehe...," Perempuan itu nyengir, pertanyaan Rendi sedikit menyinggungnya dan membuat dia sedikit terhakimi menjadi nahasiswa tak terkenang. "Saya Tari Pak, temanya Jingga!” celetuk Tari tetap percaya diri.


Tari sengaja menyebutkan nama Jingga sebab dia yakin kali ini Pak Rendi akan ingat.


“Uhuk...,” seketika itu, Rendi langsung tersedak malu diingatkan tentang Jingga.

__ADS_1


Tari langsung menyeringai tidak nyaman, melihat Rendi langsung terbatuk. Sementara Rendi langsung mengambil minumnya. 


“Maaf Pak!” ucap Tari. 


“Ah ya.. nggak apa- apa! Apa kabar? Kerja dimana sekarang, apa lanjut spesialis?” jawab Rendi mulai mencoba ramah setelah mencoba mengingat. 


“Di rumah sakit Pelita Pak, cari pengalaman dulu, baru selesai intership juga!” jawab Tari lagi.  


“Oh yaya! Baguslah. Tetap semangat ya!” jawab Rendi lagi.


“Ya udah dilanjut aja makanya, Pak!” 


“Oh ya.. kamu nggak? Ayok sekalian makan? Saya pesankan ya!” ucap Rendi lagi menampakan sisi ramahnya.


“Saya pesan sendiri aja!” jawab Tari. “Bu.. dua ya, makan sini!” pesan Tari ke tukang bubur, rupanya Tari tidak sendirian melainkan bersama suaminya. Tari menyusul Jingga menikah setelah lulus kuliah. 


Rendi awalnya agak bingung karena Tari datang sendiri tapi pesan dua. Baru Rendi bergumam dalam hati, seorang pemuda datang membawa sebungkus kue pancong masuk, rupanya suami Tari tadi antri sebentar ke pedagang kue di dekat tukang bubur. 


Pemuda itu tampak mengangguk sopan ke Rendi lalu duduk di dekat Tari. 


“Yang kenalin, ini Pak Rendi dosen aku!” ucap Tari, 


“Oh ya...Dimas Pak!” jawab suami Tari, mereka pun bersalaman. 


"Ini suami Tari Pak!" tutur Tari.


"Oh...ya.. penganten baru ya?" celetuk Rendi lagi berusaha bercanda walau tetap terasa aneh.


"Enggak. Udah setahun kok. Udah Baby juga!" jawab Tari lagi.


Ya Jingga juga jika tak keguguran karena LDR, sudah mau punya dua anak. Tari juga sudah punya anak. Rendi pun memilih diam.


Tidak banyak mengobrol lagi, Rendi melanjutkan makanya.


Dan kembali lagi, tidak hanya ditegur akan anak oleh mahasiswinya, di hadapannya dengan mata telan jangnya Rendi disuguhi romantisnya pasangan halal yang usianya jauh di bawahnya.


“Oh ya... Pak Rendi kok istrinya nggak diajak?” celetuk Tari spontan.


“Gleg!” Rendi kembali tergagap, mendapati pertanyaan sama dengan tempo hari saat bersama teman- temanya. Rendi jadi bingung menjawabnya.


Jika kemarin Rendi berkumpul dengan teman lama yang baru pada pulang dari luar negeri. Mereka memang berkarir dan tidak mementingkan pernikahan bahkan, beberapa terbiasa dengan hidup bebas. Rendi merasa punya teman saat dia berstatus bujang.


Sekarang posisinya beda, apa dia hendak menjawab hal yang sama seperti kemarin atau tidak? Apalagi, saat ia sadar ternyata sesuatu yang menurutnya sepele begitu menyakiti keluarga besar orang yang dia hormati.


Hati Rendi pun terkoyak, kali ini dia malu ditanya mahasiswanya jika dia jawab masih sendiri. Dan ternyata jauh lebih menyedihkan kedengaranya jika dia masih sendiri. Apalagi, Tari tahu, Rendi pernah patah hati karena Jingga. 


“Istriku tidak suka jalan- jalan!” jawab Rendi cepat. 


“Oh...!” jawab Tari mengangguk. 


Tidak ingin ditanyai banyak lagi Rendi langsung pamit pergi duluan dan kembali pulang. 


Meski hari ini badanya bergerak sangat sedikit dari biasanya, tapi Rendi meras sangat lelah. Dia kemudian merebahkan badanya di sofa rumahnya yang sepi. 


“Apa yang harus aku lakukan? Kenapa kelapaku terasa sangat pening?” gumam Rendi. 


"Aku memang sudah tua?" gumam Rendi menyadari kegalauanya.

__ADS_1


"Benar kata Ummi, aku harus segera menikah?"


"Huuuft...," Rendi kemudian bangun dan mengusap mukanya kasar.


Tidak peduli dapur sisa Nila masak semalam masih berantakan dan rumahnya belum disapu, Rendi memilih bersua dengan laptopnya.


Di hari libur seperti sekatang ditambah suasana hati gundah tak berarah Rendi, memilih melampiaskannya dengan bermain game.


Rendi tak punya teman nongkrong karena teman sebayanya sudah mempunyai keluarga dan anak. Mereka menghabiskan hari libur bersama keluarganya. Sementara Rendi sendirian. Biasanya Rendi mengoreksi tugas mahasiswanya, tapi hari ini dia terlalu penat.


Dia pun ngegame dengan penuh emosi Sampai waktu berlalu tidak Rendi rasakan sudah pukul 11. Dan telponya berdering mengingatkan kalau dia harus segera berhenti.


“Mas Farid?” gumam Rendi mendapatkan telepon dari Kakak sepupunya. 


Dia adalah sahabat Baba Ardi. Pria yang pertama kali mengantarkan Baba Ardi ke pondok Bambu Teduh milik keluarga Rendi. Om Farid pula yang membuat Baba Ardi menyayanginya.


“’Halo. Assalamu’alaikum... Mas!” jawab Rendi. 


“Datang ke rumah sekarang!” tutur Farid tegas dan dingin. 


“Ya!” jawab Rendi juga tak kalah singkat. Tidak ada percakapan lain, sambungan telepon mereka terhenti. 


Rendi tahu pasti Farid hendak menanyakan keadaanya. 


"Mungkin Mas Rendi bisa menolongku mencari jalan tengah?" gumam Rendi.


Rendi pun segera bergegas menuju ke rumah Farid. 


Sesampainya di rumah saudaranya itu, Farid sudah menunggu di teras. Tapi bukan senyum hangat seperti biasanya yang dia dapat. Wajah Tuan Farid tampak menegang. Rendi pun siap menerima semua omelan yang dari saudaranya itu. 


Di atas meja, terdapat dua cangkir teh, belum dibereskan. Sepertinya sebelum Rendi, Tuan Farid kedatangan tamu.


"Siang, Mas!" sapa Rendi ke Tuan Farid


"Duduk!" ucap Tuan Farid dingin.


Rendi pun patuh untuk duduk.


“Aku kira, Ardi datang untuk membahas resepsi pernikahanmu? Seharusnya 3 tahun cukup untuk kamu membangun hubungan yang baik, dengan Nila. Apa ini? Aku kecewa mendengarnya.” tutur Om Farid memberitahu.


Ternyata Baba Ardi sudah datang dan menceritakan semua sakit hatinya. Rendi langsung menelan ludahnya menyadari kesalahanya.


“Maafkan aku Mas!” jawab Rendie. 


“Aku mengerti, jodoh memang bukan perkara mudah. Ini hakmu, aku tidak perlu ikut campur, hanya saja, seharusnya tidak begini cara kamu bersikap jika tidak menyukainya! Ini memalukan, menjatuhkan wibawa dan namamu juga keluarga kita!” jawab Om Farid lagi mengungkapkanya masih dengan nada bijak.


“Aku minta maaf Mas!” jawab Rendi lagi, 


“Nasi sudah menjadi bubur! Ren! Ardi bukan orang yang mudah melupakan kesalahan orang!" jawab Farid lagi memberitahu.


"Bantu saya. Mas!" ucap Rendi memberanikan diri.


Tuan Farid langsung mendelik.


"Bantu apalagi?"


“Rendi belum menceraikan Nila, Mas! Aku harus bicara dengan dia!” jawab Rendi lagi. 

__ADS_1


__ADS_2