
“Urusan hati dan jodoh, apalagi sebuah rumah tangga, jangan terlalu mengintervensi, Sayang!” tutur Adip ke Jingga seusai sarapan begitu sampai di kamar.
Jingga sangat gemas, dan kesal mendengar Nila meminta ijin, untuk tetap hadir mediasi dengan Rendi sebelum benar- benar bercerai. Baba dan Jingga kan meminta Nila untuk tidak bertemu lagi dan cukup Amer yang memwakilinya bertemu.
“Bang... Nila itu masih kecil, kita semua udah ngelakuin kesalahan dengan ijinin perjodohan ini, dan sekarang adalah jalan untuk kami keluarga Nila tebus kesalahan kami, selamatkan hidup Nila dari pernikahan dini!” ucap Jingga.
“Memang kamu siapa mau selamatkan hidup orang? Jodoh itu di tangan Alloh, sudah biarkan jalan apa adanya. Kalau memang jodohnya mereka akan ketemu lagi, kalau nggak ya biar Nila tentukan tanpa intervensi. Nila kan hanya meminta menyelesaikan sendiri dan bertemu!” jawab Adip tetap melarang Jingga ikut campur.
“Tapi Jingga harus temani Nila!” jawab Jingga lagi.
“Kamu lagi hamil gede, udah tenangin pikiran kamu, Buna aja selow kok. Ya...,” tutur Adip lagi meminta ke Jingga.
Jingga diam, masih tidak terima, tapi Jingga juga tidak berani melawan suaminya.
“Berdoa, Nila diberi jalan terbaik aja, Alloh lindungi dia! Percaya sama Alloh dong!” lanjut Adip menasehati.
“Tapi kalau Jingga nemenin dan liatin dari jauh boleh kan?” tanya Jingga tidak menyerah.
“Hhhh...,” Adip menghela nafasnya. Sepertinya Jingga benar- benar khawatir terhadap Nila, dari pada sepanjang hari Jingga ngmole nggak jelas, akhirnya Adip setuju.
“Abang yang supirin!” jawab Adip.
“Beneran?” tanya Jingga wajahnya berbinar.
“Mereka mau ketemuan dimana sih?” tanya Adip.
“Kafe deket kampus,” jawab Jingga.
“Oke!” jawab ADIP mengangguk.
Jingga pun segera berlari memeluk Adip dan menciumnya gemas. Adip pun hanya memejamkan matanya pasrah.
Setelah mendapat ijin dan persetujuan dari Adip, Jingga segera melapor ke Baba dan Bunanya juga Nila, kalau Jingga akan temani Nila temui Rendi. Saat ijin tadi, Baba dan Amer sempat bersitegang menolak. Mereka tidak mau biarkan Nila pergi sendiri tapi mereka hendak ada pertemuan penting di perusahaan.
Hingga Nila tertunduk menangis, entah, Nila terlihat sangat tertekan, dia hanya ingin memastikan keputusanya benar dan tidak menyesal.
“Baba... Buna... Nila...,” teriak Jingga.
Baba yang sedang badmood hanya menoleh tidak menjawab.
“Ada apa Nak?” tanya Buna.
Jingga pun menyampaikan maksudnya. Sesuai yang Adip dan Buna katakan, mereka tidak bisa juga membuat Nila tertekan. Kasih kesempatan Nila untuk mengakhirinya sendiri. Jangan sampai Baba dan keluarga bertindak salah. Mereka percaya Nila akan bisa memilih jalan yang benar.
__ADS_1
“Jingga akan pastikan Nila baik- baik saja, Ba!”
“Baba nggak mau Nila masuk ke rayuan pria pengecut seperti dia!” ucap Baba bersitegang.
“Tapi Nila nangis gitu, kan Nila Cuma pengen ketemu, bukan balikan Ba!” ucap Buna.
“Ngapain sih ketemu?” ucap Baba.
“Jingga akan temani Nila Ba!” ucap Jingga meyakinkan.
Buna pun juga mendukung, mereka juga tidak tega jika memaksakan kehendak ke Nila. Baba diam sejenak menimbang.
“Awasi baik- baik adikmu!” ucap Baba akhirnya.
Mereka pun setuju, hari ini mengijinkan Nila dan Rendi bertemu berbicara empat mata untuk memastikan mereka hendak bercerai atau membuka jalan yang baru.
Setelah mendapat ijin, Nila dan Jingga pun bersiap pergi dengan diantar Adip.
****
"Dia balas juga?" ucap Rendi menyunggingkan senyum membaca whastap Nila.
Tidak bisa Rendi jelaskan kenapa, Rendi dadanya mengembang sempurna begitu melihat pesan dari Nila.
Karena semangat , hanya butuh waktu 20 menit Rendi sudah sampai di kafe. Bahkan Rendi merubah jadwal dia mengajar dan meminta mahasiswanya masuk ke kelas 2 jam ke depan. Untung tidak bentrok dengan jadwal lain.
Rendi juga datang lebih awal dari waktu yang Nila tetapkan
"Kenapa dadaku berdebar begini? Aku benar kan? Aku butuh istri? Dia sudah akhil baligh? Dia cantik. Dia juga disukai Ibuku dan keluargaku? Kapan lagi aku menikah?" gumam Rendi.
Tapi tiba- tiba Rendi ingat kata Axel lagi.
"Istri kan teman hidup? Apa bisa aku mencintainya dan dia membahagiakan aku? dia kan anak kecil?"
Umur panjang, sperti ada ikatan batin. Saat Rendi melamun Axel tampak berbinar melihat Rendi.
"Lo di sini Ren?" tanya Axel.
"Kalian!" pekik Rendi terkaget.
"Hai...Ren?" sapa seorang perempuan cantik memakai kacamata hitam dan membukanya
Rendi pun gelagapan.
__ADS_1
"Vallen?" gumam Rendi mendadak gemetaran. Perempuan yang 6 tahun lalu dia bawa ke hadapan ibunya dan ditolak mentah- mentah kini ada di depanya.
Vallen tampak tersenyum, dirinya semakin cantik walau sudah masuk ke kepala tiga. Vallen pun mengulurkan tanganya.
"Senang ketemu kamu di sini? Bagaimana kabarmu?" tanya Vallen.
Rendi masih tidak mengerti kenapa Axel bersama Vallen. Tapi karena Vallen menyapanya, Rendi pun menyambut sapaan Vallen.
Sementara Axel tampak tersenyum.
"Baik.. kalian kenapa di sini?" tanya Rendi.
"Aku baru pulang. Kudengar Axel mau menikah. Dia katanya mau antar undangan jadi kita janjian di sini!" jawab Vallen
"Oh..," jawab Rendi.
"Ya sudah karena keperluan gue udah selesai. Aku pergi. Sok kalau kalian mau bernostalgia!" ucap Axel malah hendak membiarkan Rendi berduaan dengan Vallen.
Tentu saja Vallen senang sementara Rendi gelagapan bingung. Dia kan sedang menunggu Nila.
"Boleh kan aku duduk di sini?" tanya Vallen menarik kursi di depan Rendi
"Ehm...," Rendi berdehem tampak kacau. Dia sangat canggung bertemu dengan Vallen yang dulu mengisi hatinya. Masa iya setelah 6 tahun tidak bertemu Rendi mengusir Vallen.
Rendi pun hanya mengangguk
"Makasih ya. Kamu tidak pernah berubah. Selalu cool dan pendiam!" ucap Vallen menyunggingkan senyum manisnya.
"Aku sebenarnya sedang menunggu seseorang di sini. Apa kabarmu?" jawab Rendi tidak mau bosa basi dan hendak menyusun kata mengusir Vallen.
Sayangnya Vallen bukan lagi mahasiswi seperti yang dia kenal 6 tahun lalu. Vallen justru dengan agresif tanganya terulur memegang tangan Rendi.
"Aku sangat senang ketemu kamu di sini. Aku merindukanmu selama bertahun- tahun Rendi. Aku merasa ini adalah takdir kita. Tuhan mempertemukan kita di sini. Bukankah ini mukjizat?" tanya Vallen dengan mata berbinar.
Rendi yang selalu menjaga tanganya, meski dia sudah tua, tapi Rendi terlihat gelagapan. Sayangnya Vallen tetap percaya diri.
"Kudengar kamu belum.menikah sampai saat ini? Apa kamu masih belum melupakanku?" tanya Vallen.
Tanpa Rendi dan Vallen tahu ternyata hanya berjarak beberapa meter, gadis cantik berhijab tampak memegang dadanya kencang menahan tangis dan melangkahkan kakinya mundur.
"Benar kata Kakak dan Baba. Bisa- bisanya aku percaya bualanya. Ummi kan ibunya tentu saja Ummi akan melindungi putranya?" gumam Nila berbalik badan. Nila pun sekarang yakin untuk tetap bercerai.
Saat hendak turun tadi. Jingga yang sedang hamil membuarkan Nila masuk duluan, sementara Adip dan Jingga ke kamar mandi dulu.
__ADS_1