Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Banyak sekali


__ADS_3

"Gede sih rumahnya... tapi gaya lama. Sekaya apa sih keluarga Gunawijaya?" gumam Farel.


Saking tidak tahan bertemu Nila dan mengajaknya bicara. Juga merasa sangat dongkol sudah dikalahkan info tentang Nila tidak juga dia dapatkan, Farel nekat bangun subuh dengan dalih gowes, dengan memakai pakaian olahraga yang trendi, dengan sepatu olah raga yang mahal, bertopi dan mengendarai sepeda mahal Farel berkeliling ke depan pagar kediaman keluarga Gunawijaya.


Pepohonan di halaman rumah Baba, karena sudah tua, beberapa di tebang walau masih disisakan. Jadi istana rumah Baba yang dulu tak terlihat dari pagar, kini istana tiga lantai itu bisa diintip dari celah pagar.


Istana Baba memang sangat luas dan megah, bangunan kualitas tinggi, saking tingginya walau istana itu sudah berdiri sejak Baba belum lahir, sampai Baba kini mulai beruban dan punya cucu, istana Baba masih tetap sama bentuknya. Hanya berganti cat untuk beberapa waktu.


Jadi memang benar kata Farel bangunan rumah Baba bergaya klasik dan kuno. Bangunan selera eyangnya Nila.


"Aku baca di liputan majalah mereka. Keluarga mereka suka menghabiskan waktu olahraga pagi di taman depan situ? Siapa tahu gadis berjilbab itu di sana juga kan?" batin Farel kemudian mengayuh sepedanya ke arah taman dekat rumah Baba.


Memang benar, bahkan sejak ada Opa Nando, Oma Rita, Oma Nurma, Buna, Jingga sering berolahraga ke luar rumah. Bahkan tanpa sengaja saat yayasan Baba memenangkan sebuah perlombaan, wartawan yang ingin mewawancarai Baba mengambil kesempatan saat Buna dan Baba lari pagi.


Farel yang kehabisan ide pun sampai berfikir akan ketemu Nila di tempat itu. Padahal di taman kota itu ada banyak sekali warga yang berolahraga.


****


Di tempat lain.


"Pokoknya Bang Rendi dan Abang harus pandai berkespresi nanti, okeh!" ucap Fatma mengatur suami dan Abangnya bersandiwara.


"Ya... Sayang!" jawab Suami Fatma.


"Memang kamu yakin kamu bisa membawa Nila keluar rumah?" jawab Rendi masih ragu rencana adiknya membuat dia ketemu dengan Nila berhasil.


"Hhh... astaghfirulloh Bang Rendi!" jawab Fatma menghela nafas dan menggigit bibirnya gatal ke kakanya.


"Hmm...," Rendi hanya melengos.


"Bang Rendi kenapa psimis gitu sih? Kita usaha Bang. Usaha! Akui perasaanmu Bang Bang Rendi jatuh hati kan ke Nila. Bang Rendi nyesel dan nggak mau kehilangan dia kan? Bang Rendi harus yakin. Apapun hasilnya, harus semangat. Kalaupun Nila bukan jodohmu. Ingat, pesantren kita maju juga karena Alloh buat mereka sebagai jalan. Kita harus tebus kesalahan kita dan perbaiki hubungan kita. Setidaknya niatkan Bang Rendi meluruskan masalah. Sejak, Nila keluar dari rumah ini, Bang Rendi dan Nila belum pernah bertemu bertatap muka dan ngomong dari hati ke hati untuk minta maaf kan? Minta maaflah secara terhormat!" ucap Fatma menasehati kakaknya menggebu.


"Tapi kamu juga dengan trik dan bohong begini memang terhormat?" jawab Rendi masih ngeles.


"Ya habis gimana lagi? Orang mereka tidak membiarkan Nila ketemu sama Bang Rendi? Menurutku perceraian dengan alasan yang tidak jelas, juga Bang Rendi kan tidak berniat melakukan itu? Itu masih lampu kuning. Sebelum habis masa iddah dan Nila dimiliki orang lain. Bang Rendi harus...eghh semangat!!" ucap Fatma mengepalkan tangan menyemangati Rendi.

__ADS_1


Rendi hanya menelan ludahnya dan mengangguk. Fatma pun mematangkan rencanya.


*****


Di rumah Baba.


Walau suara bayi sudah bersahabat di rumah Baba mengingat anak- anak Baba banyak, tangisan anak Jingga tetap istimewa.


Adip berniat mengajak Putranya melihat matahari terbit dan bergantian dengan Jingga yang hendak mandi dan buang air besar.


Sayangnya, Baby Dipta langsung menangis keras dan membuat seisi rumah mendekat.


Nila yang terbiasa menjinakan Iya dan Iyu langsung tanggap. Adip, Ikun, Baba dan Amer tidak berhasil menenangkan. Rupanya Dipta ingin dipegang ibunya, karena Jingga masih mandi dan Buna masih dikuasai Vio, begitu Nila yang pegang Baby Dipta langsung tenang dan diam.


Nila mengajak Dipta keluar rumah


"Kaak... Nila ajak keluar boleh?" tanya Nila ke Bang Adip yang menyusul Nila membawakan susu.


"Mau kemana?" bukanya Adip sang Ayah yang menjawab, Baba yang ikut memastikan cucu pertamanya tenang langsung menjawab posesif.


"Jangan!" jawab Baba tegas.


"Kenapa Ba?" jawab Nila.


"Di luar banyak kuman. Bahaya juga!" jawab Baba seperti biasa overthingking.


"Baba... kurangi negatif thingkingnya Ba...!" jawab Nila.


"Kenapa kamu sekarang jadi pembantah sih?" jawab Baba malah salah paham ke Nila.


"Maaf Ba...bukan begitu maksud Nila!" jawab Nila langsung melempem dikatai pembantah.


Sementara Adip diam menyimak. Adip jadi serba salah dan merasa tidak nyaman karena Baba terus melarang.


Padahal sebenarnya meski tanpa Nila, Bang Adip pun berjanji pada Jingga memberikan waktu ke Jingga untuk me time dengan diri sendiri di kamar setelah semalaman Baby Dipta terus menangis dan membuat Jingga begadang.

__ADS_1


"Coba sini dhek!" tutur Adip meminta.


Nila pun memberikan Baby Dipta ke Adip. Sesaat Dipta tenang digendongan Adip.


"Kasian Dipta dia kan masih bayi, bawa masuk, belum mandi juga kan? Nggak usah keluar- keluar dulu!" ucap Baba lagi.


Nila dan yang lain tak dapat menolak. Mereka kembali masuk. Sayangnya begitu masuk Dipta kembali menangis keras.


Tangisan Dipta kembali membuat heboh dan mau tidak mau Nila kembali yang menggantikan Jingga.


Akhirnya setelah dijelaskan Adip, Baba mengijinkan mereka jalan- jalan keluar akan tetapi dengan Syarat, tetap membawa baby sister juga Iya Iyu dan Vio diajak.


Semua pun setuju dan mereka jalan bersama dengan anak- anak kecil.


Karena Dipta ditaruh stroller menangis mau tidak mau Dipta digendong Nila sepanjang jalan.


Sementara yang memakai stroller Vio. Iya dan Iyu memakai otopet.


****


Di taman.


Farel masih setia menanti.


"What?" pekik Farel kaget melihat Nila menggendong Baby Dipta.


"Apa gadis itu sudah beranak? Banyak sekali anaknya?" gumam Farel salah paham.


Farel menelan ludahnya, membulatkan matanya. Wajah Nila terlihat masih sangat muda saat di kampus dan di rumah sakit tempo hari.


Tapi hari ini Nila mengenakan daster tidur dan menggendong Dipta. Belum lagi ada Vio juga Iya dan Iyu.


Wajah Baby Dipta Nila tutupi jadi Farel tidak melihat seberapa besar dan siapa bayi yang ada digendongan Nila.


"Waah... dia sudah ibu- ibu ternyata pantas saja? Kenapa aku tidak terima jika ternyata dia ibu- ibu?" gumam Farel entah mengapa dia sangat kecewa

__ADS_1


__ADS_2