Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Draft


__ADS_3

"Maafin Kakakku ya Mas," ucap Nila lembut duduk manis menunggu Rendi selesai sholat maghrib.


Rendi yang baru saja selesai sholat langsung berbalik duduk bersila di atas sajadah di kamar Nila tersenyum menatap istrinya.


"Amer Kakak yang baik!" ucap Rendi dewasa. Rendi sama sekali tidak marah walau sudut bibirnya yang kemarin bertengkar dengan Farel mulai sembuh sekarang jadi bengkak dan merah lagi.


"Nila obatin memarnya ya?" ucap Nila lembut lagi.


Rendi tersenyum lagi


"Jangan manis- manis lah!" ucap Rendi random


"Huh?" pekik Nila mengernyit bingung. Nila kan kasian sama Rendi mau mengobati memarnya. Manis apanya.


Rendi terkekeh lagi.


"Kalau kamu bersikap manis begini. Mas jadi nggak sabar pengen bungkus kamu bawa ke rumah!" ucap Rendi melanjutkan rayuanya.


"Ish.. apaan sih?" desis Nila baru sadar kalau Rendi sedang merayunya. Nila jadi kesal walau tersipu juga


"Aku juga suka sikapmu yang ngeyel dan teguh pendirian, bersikeras mendebatku dengan pendapatmu. Kemana Nila yang jual mahal dan cuek? Kenapa akhir- akhir ini kamu jadi sangat manis? Apa ini artinya kamu sudah kembali mencintaiku dan sudah siap?" tanya Rendi lagi malah semakin random dan mengerlingkan matanya.


"Apaan sih Mas?" jawab Nila jadi semakin keki. Orang Nila sungguhan khawatir malah Rendi bertanya tidak jelas. "Untuk apa mendebat kalau tidak ada bahan perdebatan!" jawab Nila.


"Iya yah?" jawab Rendi lalu meluruskan kakinya agar duduknya semakin mendekat ke Nila. "Apa ini artinya, kalau Baba nanti setuju, kamu mau pulang ke rumah Mas?" tanya Rendi lagi sedang merayu Nila lagi.


Rendi merasa dengan Nila tadi ketiduran dan tidak marah atau histeris sama sekali saat dia menyadari ada di pelukan Rendi. Itu artinya mereka berdua sama- sama sudah saling membuka diri dan menerima. Rendi tidak ingin malam- malamnya terus kesepian.


"Ehm...," dehem Nila sedikit tergagap jika ditanya agar ikut Rendi "Kita bahas nanti saja bareng Baba," jawab Nila memalingkan wajah dan mengalihkan pembicaraan.


Nila kemudian memilih bangun.


Rendi sebenarnya masih ingin bahas, tapi dari sorot mata Nila dan gelagat wajahnya Rendi tahu Nila tampak tidak siap dan malu. Rendi hanya menyunggingkan senyum menahan sabar memberi kelonggarakan ke Nila


"Mau kemana?" tanya Rendi.


"Ke dapur, bantu Bu Ida siapin makan malam!" jawab Nila.


"Nggak jadi obatin Mas?" tanya Rendi sengaja menahan Nila lagi.


"Huh? Tadi katanya luka kecil?" jawab Nila mencebik.

__ADS_1


"Lama- lama kerasa agak nyeri sih? Oedema juga kayaknya? Kegantengan Mas berkurang nih nanti!" ucap Rendi lagi bermanja dan sengaja.


"Iish...," Nila jadi mendesis geli sendiri tidak menyangka Rendi secerewet dan semanja ini.


"Beneran nih. Duh...ngilu nih ternyata!" ucap Rendi lagi menggerakan bibirnya ke kanan ke kiri seakan sakit.


"Ya udah ayo turun, salep antiradangnya ada di klinik Buna!" jawab Nila memberitahu.


"Hmm? Klinik Buna?" tanya Rendi tidak tahu.


Ya dalam istana rumah Baba ada ruang kecil sebagai klinik khusus yang di kelola Buna dan Jingga untuk pertolongan pertama keluarga pribadi mereka. Ada oksigen, obat- obatan, juga beberapa alat medis lain.


"Ayo ikut!" ajak Nila.


Kali ini gantian Rendi yang bersikap manis, patuh pada Nila. Rendi pun mengikuti gadis kecilnya yang manis ini. Menyusuri rumah besar Baba yang sebelumnya tidak Rendi tahu. Sebelumnya Rendi hanya tau kamar Nila, ruang tamu, ruang makan, kolam taman garasi ternyata masih banyak ruang, bahkan ada tempat gym ada meja bilyard juga.


Mereka pun berhenti di satu ruang, dan begitu masuk Rendi langsung membelalakan matanya. Sangat rapih dan lengkap. Mulai dari alat nebulizer, alat heacting, semua tertata dan tersedia.


Bahkan di dindingnya juga tertempel banyak poster tumbuh kembang anak juga beberapa poster kesehatan lain. Ternyata Buna Alya walau tidak bekerja, di rumah mengaplikasikan ilmunya.


Dengan cekatan Nila mengambil salep juga alat pembersih luka.


"Ehm...," Nila berdehem memegang alat itu.


"Salepnya oles sendiri!" ucap Nila memberikan salepnya mendekat ke Rendi menyerahkan salepnya.


Rendi menoleh dan tersenyum lagi.


"Lhoh. Aku kan pasien Dok. Olesin dong?" ucap Rendi manja


"Ck!" Nila hanya mencebik. Simpatinya benar- benar hilang sekarang.


"Pasienya lebih pintar kok! Nila tarus sini. Nila mau ke bawah!" ucap Nila ngambek tidak mempan digombali lagi. Menaruh salepnya sedikit dengan hentakan. Lalu berjalan cepat meninggalkan Rendi.


Rendi hanya menatap Nila dalam tanpa komentar apapun. Hanya melihat Nila ngambek begitu saja baginya menyenangkan.


Begitu Nila pergi. Rendi pun duduk, mengobati lukanya sendiri. Tepat saat Rendi membereska obatnya pintu terbuka, Rendi me noleh, rupanya Amer datang.


"Hai Kak..." sapa Rendi sengaja menyapa Amer dengan sedikit menyindir.


Amer tidak menjawab dan tidak berekspresi lalu Amer mendekat.

__ADS_1


"Apa yang kamu tahu tentang Siska?" tanya Amer dingin.


"Kita bersaudara. Sapalah aku dengan baik!" ucap Rendi santai.


"Apa kau sedang mengancamku dengan Siska? Agar aku merestuimu menjadi adiku? Tau darimana tentang Siska? Apa kamu mengenalnya?" tanya Amer lagi emosi.


Rendi mendengar pertanyaan Amer dengan menundukan kepala diam, setelah Amer selesai bertanya Rendi menghela nafas lalu mengangkat wajahnya menatap kakak iparnya ini.


"Sepertinya kamu sudah jatuh cinta dengan perempuan itu? Apa kau tidur denganya?" tanya Rendi santai.


"Sshh...," Amer malah emosi menarik pakaian di tepi leher Rendi hendak memukul Rendi lagi. "Jawab pertanyaanku apa yang kau tahu tentangnya!" ucap Amee emosi.


Rendi berusaha menangisk Amer santai.


"Tanpa aku mengancammu. Sejak dulu Baba yang memintaku menikahi adikmu. Dan sampai detik ini. Tidak ada kata cerai yang yang aku berikan pada adikmu. Aku masih adik iparmu. Kamu mengerti artinya apa?" tutur Rendi menjawab.


Amer menelan ludahnya kesal tapi dia sadar, Rendi memang lebih dewasa darinya bahkan lebih dewasa dari Bang Adip. Selain dewasa Rendi juga lebih jago berkelahi.


"Aku tidak akan ikut campur jika kamu memang ada hubungan denganya. Tapi aku adikmu. Aku kenal denganmu dan keluargamu. Aku hanya tidak ingin kamu salah langkah. Jangan sakiti Buna dan Baba!" ucap Rendi menasehati.


"Aku tidak tidur denganya. Aku hanya ingin menyelamatkanya!" ucap Amer lirih akhirnya mau cerita ke Rendi.


Rendi mengangguk mencoba memahami Amer, tidak ingin ikut campur dan mencoba memberinya ruang.


"Aku lihat uploadan Roger kamu bersama denganya. Niatmu baik. Tapi pikirkan lagi apa yang kamu lakukan! Jangan sampai tertipu!" ucap Rendi memperingati lagi.


Ya, biidznillah, saat sebelum Amer datang, tanpa sengaja Rendi memang menscroll story teman- temanya. Amer ada di tengah- tengah teman- temanya ini di sebuah Bar.


"Mas Rendi kenal dengan mereka?" tanya Amer kini mulai merendah dan memanggil Rendi sopan.


"Sebenarnya aku tidak begitu kenal siska. Tapi Roger dan Axel aku kebal.Mereka teman- temanku dulu di luar. Walau beda jurusan kita as!satu kampus. Kamu juga tahu duni90 a luar, kan?" ucap Rendi lagi.


"Siska dimanfaatkan oleh Kakaknya." ucap Amer lagi memberitahu.


Rendi hanya menunduk mencerna. "Keluarganya punya hutang!" lanjut Amer ingin cerita.


Rendi mengangguk... lalu mengajak Amer duduk. Disitulah Amer menceritakan semua masalahnya ke Rendi. Rendi pun mendengarkan dengan cermat dan seketika itu mereka jadi akrab.


Belum puas mereka bercerita, Nila datang ke kamar.


"Baba...sudah datang!" ucap Nila memberitahu.

__ADS_1


*****


Sambung lagi nantii.. Maap kepotong.


__ADS_2