
Flashback di kamar Jingga.
“Ssstt…. Cup cup…,” dengan timangan hangan dan suara lembutnya, Jingga mengangkat Dipta, menidurkanya. Naluri Ibu Jingga, keluar, rasa sayangnya pada buah hatinya pun redam seketika, terhempas, diganti dengan rasa sabar, memberikan kenyamanan terbaik untuk anaknya.
Melihat itu, Adip tidak mau mengulangi pertengkaran sore tadi, yang berujung Jingga mengunci kamar tidak mau bertemu Adip, Adip memilih menutup pintunya, lalu menyimpan kuncinya sendiri.
“Mau gantian gendongnya, nggak Sayang?” bisik Adip tahu- tahu di belakang Jingga, menyentuh bahu, Jingga lembut.
“Sstt…, jangan ganggu!” jawab Jingga lirih.
Adip mengangguk mengerti.
Adip pun sigap, agar istrinya tak kesal dia menyiapkan tempat tidurnya agar nanti istrinya nyaman, juga tempat tidur Dipta.
Adip juga ingat kalau Jingga belum makan, kan tadi pundung.
Adip kemudian inisiatif turun ambil kan makan. Bahkan Adip saat turun sempat mampir ke kamar Nila untuk tawarkan minum, tapi Adip lihat Nila sedang duduk memandangi Rendi. Adip jadi memutuskan untuk membiarkan privasi mereka.
Adip langsung ambil makan ke dapur, Adip urung menawarkan Nila makan.
Jadi sebenarnya saat Nila mengetuk pintu kamar Adip, Adip sedang di dapur.
****
Di tempat lain.
Buna langsung syok mendengar putrinya yang polos dan lugu itu bersama pria. Buna lupa kalau tiga tahun lalu dia juga sudah menyerahkan Nila pada keluarga Rendi.
“Nila…, Buna nggak salah dengar dan salah mimpi kan?” gumam masih mau berpositif thingking, saat pertama dengar dengkuran Rendi.
"Nila sama laki- laki? Siapa?" gumamnya.
Buna menelpon Nila lagi untuk memastikan dan kini semakin jelas suaranya, sayangnya di telepon Buna tak begitu mengenali Rendi. Begitu telepon Nila mati, Buna langsung lemas.
"Jingga dan Adip nggak mungkin biarkan Nila bersama laki- laki. Ikun dan Amer baru pada pulang. Lalu siapa suara laki laki ini. Kenapa terdengar mesra? Astaghfirulloh?" Buna langsung menutup mulutnya.
“Astaghfirulloh, ini nggak mungkin, apa iya Nila patah hati lantas jadi pelakor untuk kakaknya sendiri?” gumam Buna salah sangka.
“Ini gimana? Nila.. apa Buna salah ngedidik, kenapa kamu jadi begini? Haduh??” gumam Buna jadi panik sendiri.
__ADS_1
Buna yang tadinya duduk langsung bangun menggigit jari jemarinya sendiri saking kalutnya. Buna sangat pusing.
Buna tidak berfikir sama sekali kalau Nila bersama Rendi, jadi Buna berfikir kalau itu Adip. Apalagi mereka di rumah Adip. Rendi kan rumahnya lumayan jauh, tidak masuk juga bagaimana Nila bisa bersama Rendi.
“Tapi Adip sangat sayang Jingga, Jingga dan Nila juga saling sayang kan? Tidak! Anak- anakku tidak sesat? Ini gimana? Aku harus konfirmasi ke siapa? Apa Nila terlalu akrab dengan Adip jadi begini? Ya Alloh astaghfirulloh. Ini salah? Gimana ini?” gumam Buna jadi kebingungan sendiri.
Buna kemudian menelpon Jingga dan Adip, karena mereka baru saja menidurkan Dipta juga sedang menikmati makan malam masih belum melihat ponsel.
“Bagaimana aku bicara ke Mas Ardi tentang ini? Nggak aku harus bicara dengan Nila besok, mereka mematikan ponsel pasti karena malu, ya Alloh semoga aku mimpi?” gumam Buna menepuk- nepuk pipinya sendiri.
Buna merasa musibah dan aib besar jika Nila menjadi selingkuhan Adip. Buna harus hati- hati menyampaikan ke Baba. Buna pun memilih menyembunyikan walau dadanya terasa sesak, Buna harus bijak dan bertanya pada Nila dulu.
Buna malah berinisiatif hendak menjemput.Nila esok pagi.
****
Di kamar Nila.
“Mas…,” pekik Nila memalingkan wajahnya dan menahan Rendi.
Jantung Nila seperti mau lompat didekati Rendi begitu, Nila menebak Rendi mau menciiumnya sehingga dia mengalihkan mukanya lalu mendorong Rendi kasar agar menjauh. “Jangan kurang ajar!” lanjutnya kesal ke Rendi.
“Jangan kurang ajar Mas!” ucap Nila lalu mendekap tubuhnya sendiri, pikiran buruknya sudah melayang kemana- mana. Rendi kan tadi sore bilang sendiri, “Kamu tidak tahu kan seberapa liar naaf su syah watku, apa aku bisa menahanya atau tidak jika aku menemuimu di rumah Abah setiap pulang kampong, itu sebabnua aku tak ingin mengganggumu dan minta kamu pulang saat aku ke rumah Abah. Mas nggak mau kita tidur sekamar lalu mas ingin macam- macam”
“Kurang ajar, gimana?” tanya Rendi lagi membuyarkan lamunan Nila
"Jangan sentuh aku! Jangan melebihi batas!" ucap Nila menggebu.
Rendi mendengarnya malah tersenyum keki.
“Aku memang memaafkan Mas, aku juga mau kita rujuk, tapi tetap saja, aku harus minta ijin Buna dan Baba, aku juga masih ingin mengajukan beberapa syarat dan pertanyaan jika memang mas mau aku kembali,” jawab Nila menunduk dan kini bicara serius. Nila masih mengira kalau Rendi tidak sabar meminta halmua seperti katanya. Tapi kan mereka baru rujuk sendiri berdua, Nila yang polos tetap ingin tunggu Baba.
Bukanya menjawab, Rendi malah membenarkan duduknya, agar duduk bersilah dengan tenang dan menatap Nila dengan sisi tatapan teduhnya.
“Siapa yang mau nyentuh sih? Nih. Mas akan jawab apa yang akan jadi pertanyaanmu, Mas juga akan usaha penuhi apapun yang kamu mau. Mas banyak salah ke kamu, Mas akan usaha jadi suami yang baik buat kamu,” jawab Rendi juga bicara serius.
“Gleg,” Nila jadi terdiam, tersipu, dadanya mengembang mendengar penuturan Rendi, tapi juga malu, bayangan Nila Rendi hendak menjadi buas dan menerkam Nila, tapi kenapa jadi sopan dan tenang begini.
“Ini kerudung siapa sih? Ini ada apanya?” tanya Rendi lalu mengusap kerudung Nila.
__ADS_1
“Hoh!” pekik Nila lagi semakin malu.
Ternyata Rendi itu mendekat bukan mau mencium melainkan mengambil seperti debu di kepala Nila. Nila jadi ikut memeriksa, ternyata Jilbab Jingga yang tadi di taruh di dekat sofa adalah Jilbab yang terkena lotion Dipta, Adip dan Jingga karena saling emosi tidak ada yang peka kalau jilbab yang Nila pinjam jilbab kotor.
Rendi senyum lagi.
“Waktu di rumah kamu juga nggak pakai kerudung, ini kita di kamar, kenapa nggak dibuka aja!” ucap Rendi lagi.
“Ehm…” dehem Nila malu, waktu itu, kan Nila masih datang dengan harapan yang besar, menyambut Rendi dengan penuh patuh dan Rindu, belum mengenal emosi dan marah seperti sekarang. Nila memang ingin berdanddn untuk Rendi. “Posisinya kan sekarang beda!” jawab Nila.
“Oke baiklah, terserah kamu. Mas Cuma mau ngingetin aja, mau tidur pakai kerudung nggak sehat, kasian rambutnya!” ucap Rendi lagi.
“Siapa yang mau tidur di sini!” jawab Nila.
“Ya terus ngapain kamu ke sini?” tanya Rendi lagi.
“Aku Cuma mau ingetin, Mas belum isyaan!” jawab Nila.
“Oh iya, astaghfirulloh, Mas belum isyaan, belum makan juga kan?” jawab Rendi ingat makan dan terkekeh.
“Ish..,” desis Nila ingin tertawa tapi tengsin. Tetiba, perut Nila bunyi.
Mereka lalu saling pandang malu.
“Lapar kan? Kakakmu masak nggak?” tanya Rendi tanpa malu mau minta makan.
Nila yang suudzon dan malu- malu tambah malu lagi.
“Aku cek di dapur!” jawab Nila.
“Oke… mau isyaan dimana?” tanya Rendi.
Nila kemudian memberikan sajadah di kamar dan membiarkan Rendi sholat. Karena di kamar, mereka tak berjamaah. Sementara menunggu Rendi sholat. Nila menyiapkan makan, untung masih ada sisa.
Selesai sholat di rumah kakanya mereka berdua makan tanpa ditawari, hingga saat Adip turun membawa piring kotor Jingga bertemu kedua adik iparnya. Rendi pun sadar diri, dia minta maaf ketiduran. Walau Nila dsn Rendi halal dan sudah di rujuk atas pernikahan siri mereka, tapi Rendi menghargai Nila. Mereka belum bertemu Baba. Rendi kemudian pamit.
“Tadi aku parkirin, Pak, ini kuncinya!” ucap Adip.
“Makasih ya.. maaf mengganggu!” ucap Rendi sopan pamit.
__ADS_1
Nila semakin bertambah yakin ke suaminya ini, dia malu sendiri selalu berfikir buruk, karena terpesona dengan Rendi, Nila sampai lupa kalau dompet Rendi masih di Nila.