
Mobil Pajero sport Rendi yang sebenarnya longgar dan dingin jadi terasa sesak, dipenuhi jutaan kupu- kupu yang beterbangan dan menari. Walau mulut Nila terkatup dan tertutup rapat namun irama jantungnya bermelodi.
Sementara Rendi yang bertahun- tahun menahan senyum karena otaknya terisi hafalan, daftar tugas- tugas siswa dan tugasnya sendiri, kini senyum- senyum tanpa sebab.
Rendi melajukan mobilnya dengan semangat, mencengkeram gagang stir kuat, sebab tangan Rendi gatal ingin menyentuh perempuan kecil yang ada di sampingnya.
Sayangnya, Rendi harus menahan itu, jangan sampai Nila meledak dan ngotot minta cerai lagi. Rendi pun hanya bisa melirik Nila yang masih tersipu- sipu memalingkan wajahnya ke arah jalan.
"Ehm...," dehem Rendi gatal ingin bicara. Rendi mendadak jadi centil.
"Hhh...," Nila hanya menghela nafas, pipi kananya terasa sangat berat untuk menoleh.
“Ehm…,” dehem Rendi lagi memancing, agar Nila menoleh sebab sedari tadi Nila menoleh ke luar.
Sayangnya, Nila hanya sedikit menggerakan tubuhnya dan tetap melihat keluar.
“Pemandangan malam bagus yah, lampunya kelap kelip, di bamboo teduh nggak pernah liat begini ya?” sindir Rendi.
“Hmm..!” Nila hanya berdehem.
“Suasananya romantis kan? Mau jalan- jalan dulu? Di taman kota lampunya lebih indah lho. Bisa liat gedung- gedung juga!" tawar Rendi merayu lagi.
“Di Bambu teduh memang hanya liat pepohonan dan sawah. Tapi 12 tahun Nila dibesarkan di Ibukota, udah biasa kok. Udah nggak heran, langsung pulang aja!” jawab Nila datar.
“Hmm, ya kali..," jawab Rendi pelan karena langsung di tolak. "Baiklah, Mas belok ya!” ucap Rendi lagi karena di depan mereka ada perempatan.
“Ya kan emang harus belok…,” jawab Nila lagi.
“Ngomong- ngomong. Nggak sakit lehernya? Noleh ke kiri terus,” sindir Rendi lagi.
“Gleg..,” Nila menelan ludahnya.
Dia tahu sedang disindir, Nila pun malu kalau ketahuan menyembunyikan wajah tersipunya, tengsin banget kalau ketahuan Nila itu senang. Nila harus tunjukan kalau dia biasa saja. Akhirnya Nila pun menoleh ke Rendi.
“Aku eng_gak..,” jawab Nila mau jawab nggak sakit, tapi terhenti.
Sebab tepat saat Nila menoleh, Rendi juga sedang menatapnya tepat di depan mukanya, tersenyum. Ditatap sedekat itu membuat Nila makin mati kutu.
“Kita beneran rujuk kan? Kita baikan kan?” tanya Rendi langsung menembak.
Nila menelan ludahnya tergagap. Tapi dia tidak mau murahan.
“Ck.. bapak gimana sih?” jawab Nila lirih, mencebik malu- malu kucing, “Kan tadi Bapak yang bilang kata Ustad Hikam kita masih suami istri,” sambil manyun kembali memalingkan mukanya.
“Hehe.., yes.” Rendi pun nyengir- nyengir sendiri.
Lalu Nila meliriknya geli. "Apaan sih? Gaje?" cibir Nila.
Dilirik Nila, Rendi kembali tersenyum.
"Gaje itu apa sih?" tanya Rendi kurang gaul.
"Ish...ck!" jawab Nila malas menjawab dan memalingkan wajahnya lagi.
"Jangan labil dong. Di sini aku bukan dosenmu. Panggil Mas terus! Aku kan suamimu, udah biasa aja," jawab Rendi.
"Ehm...," jawab Nila malu menyadari dirinya labil. "Jangan ke GRan dulu. Nila takut sama hukum Alloh. Kalau emang status kita masih suami istri ya Nila kan nggak mau dosa. Tapi kalau ditanya di suruh milih, Nila mau sendiri!" jawab Nila jual mahal lagi.
"Hush...nggak boleh gitu. Bohong sama hati itu menyiksa. Dan kamu tahu, siapa yang paling bahagia kalau kita cerai? Setan!" jawab Rendi lagi.
"Hemm...," kali ini Nila berdehem.
"Bener kan?" tanya Rendi lagi.
Belum Nila menjawab, Lampu apil kembali menyala hijau. Rendi pun melajukan kembali mobilnya sembari bersiul, hatinya sangat senang, walau masih jual mahal, tapi Nila mengerti penjelasanya.
"Tapi, benar, tapi kita tetap bahas ini lagi nanti sama Bang Adip dan selesaikan dengan Baba!" jawab Nila.
“Ya siap. Tentu, pasti Mas bilang ke Baba!" jawab Rendi meyakinkan. "Tapi janjinya, kamu jangan mintai cerai lagi, ya!” tutur Rendi lagi.
“Tergantung!” jawab Nila.
“Kok tergantung, kamu maafin Mas kan?”
“Maafku tergantung, Baba dan Oma!” jawab Nila lagi.
“Hhh…, kok gitu?” Rendi jadi berdecak.
"Ya tergantung Mas juga, niatnya dan itikadnya gimana?" jawab Nila.
“Baiklah, Mas akan minta maaf ke mereka! Mas juga akan berusaha jadi suami yang baik!" jawab Rendi meyakinkan lagi sembari menggombal.
Nila duduk tenang mendengarnya, pokoknya Nila harus jaga image dan membuat Rendi memberikan bukti, bukan omongan. Hingga suasana hening.
Rendi pun gatal, sudah dirayu, tapi Nila tetap diam dan memalingkan wajahnya. Isi otaknya berputar, walau hatinya sudah sangat senang bahkan jantungnya seperti mau lompat, tapi rujuk saja tidak cukup.
Rendi harus membangun cemistry dan membangun hubungan yang sebenarnya dengan Nila. Alamat rumah Jingga yang Nila beritahu masih agak lama, jam pulang kerja malam juga jalanan padat. Rendi kemudian menyalakan musik romantis.
“Ehm…,” Nila rupanya sedikit merespon dengan lagunya, tapi masih tetap diam dan lebih suka melihat ke luar.
Lampu apil kembali menyala merah, dan antrian begitu panjang sehingga terpaksa mereka terhenti. Rendi kembali menoleh ke Nila, dengan otak yang terus bekerja mencari ide, hingga tatapan Rendi beralih ke tangan Nila yang begitu lentik, tergeletak lembut di atas pahanya.
Rendi menelan ludahnya dengan dada, yang detak jantungnya semakin cepat, “Dia istriku kan?” gumamnya, “Kenapa canggung begini? Dimulai dari memegang tanganya, coba, ah,” batin Rendi nakal. Walau sudah pernah bersentuhan tapi kan menarik kasar, bukan menggenggam lembut.
Tangan Rendi pun bergerilya, bergerak pelan melewati handrem. Sayangnya Rendi juga tidak begitu pengalaman sehingga gerak jarinya begitu pelan, hampir menyentuh.
Entah karena bisa menangkap gerak gerik Rendi atau memang ada perlu, Nila menggerakan tanganya masuk ke atas dan mengambil ponselnya.
“Hhh…,” Rendi pun mengehela nafas dan menelan ludahnya, mau pegang tangan romantic aja gagal.
Rendi menarik tanganya lagi, kembali memegang handrem, karena lampu mulai nyala kuning.
__ADS_1
Rendi kan tidak pandai mengajak ngobrol, kebetulan saja tadi nekat dan lancar jaya mendesak dan mengungkapkan Nila agar bisa menegakan statusnya. Dia pun sekarang jadi mati kutu lagi dijuetiki, Nila.
“Ehm…,” dehem Rendi lagi.
Nila tetap dingin dan malah sibuk dengan ponselnya, entahlah sedang apa dengan ponselnya, padahal kan katanya ponselnya mati dan dicharge baru beberapa menit.
Rendi jadi ikut melihat sekeliling jalanan dan otaknya kembali bekerja, saat dia melihat minimarket di depan. Rendi langsung menepikan mobilnya tanpa pamit.
"Ciiit!" mobil Rendi berhenti tiba- tiba.
“Mau ngapain, Mas?” tanya Nila kaget, karena sedari tadi liat ponsel tabu- tahu berhenti.
“Mau BAB!” jawab Rendi asal sembari melepas seatbelt.
“Rumah Bang Adip udah deket, di rumah aja! Udah malam, ini,” jawab Nila ternyata ambil ponsel liat jam.
“Percaya? Aku cuma mau Bab aja?” jawab Rendi ternyata ngelawak.
“Huh?” pekik Nila kaget.
Tangan Rendi kemudian bergerak menyusuri dompetnya, lalu menoleh ke Nila dan bergerak cepat mengambil tangan Nila yang terbengong.
“Tak!” akhirnya tanpa ijin, Rendi berhasil memegang tangan Nila, mengambil tangan Nila dan meletakan dompet di atasnya.
Nila pun kaget dan gelagapan, tangannya dipegang, dikasih dompet pula.
“Mas mau BAB, belanjalah untuk ponakanmu dan Kakak Ipar!” ucap Rendi.
"Dipta masih bayi, dia tidak butuh jajan!" jawab Nila.
"Beli jajan untuk Jingga, dia lagi mengAsihi kan?"
"Ehm...," Nila jadi berdehem Rendi menyebut nama kakaknya
"Jangan cemburu. Aku bukan perhatian ke Jingga, tapi aku nggak mau istriku jadi tamu yang merepotkan. Mau menginap bawa oleh- oleh!" jawab Rendi lagi.
Nila terus dibuat mengembang dadanya oleh perkataan Rendi. Tapi Nila tidak mau menunjukanya.
"Ya udah Nila belanja sendiri. Nila ada uang kok!" jawab Nila hendak mengembalikan dompet Rendi.
Tapi Rendi langsung menolak.
“Ck. ingat aku suamimu? Pakailah! Aku udah mules! Kunci mobilnya ya” jawab Rendi lalu membuka mobilnya cepat, bahkan meninggalkan Nila di dalam mobil juga kuncinya.
Nila hanya menelan ludahnya, dan memandangi dompet Rendi. “Astaghfirulloh, benarkah aku masih jadi istrinya? Aku bukan mimpi kan? Bagaimana caranya aku jelaskan ke Baba dan yang lain?” gumam Nila bingung.
Nila masih terus memandangi dompet Rendi ragu, tapi kemudian membukanya. “Gleg!” Nila menelan ludahnya melihat foto yang terpampang di dompet Rendi. Nila membulatkan matanya. “Darimana dia dapat foto ini?” gumam Nila langsung manyun dan tersipu.
Rupanya Rendi menyimpan foto Nila saat tertawa lepas di atas panggung, saat mos kemarin. Nila kan dicorang coreng mukamua seperti badut lalu pentas seru- seruan.
“Ish.. dia kan di bamboo teduh? Kenapa punya foto ini? Dia memataiku? Atau dia datang dan bersembunyi? Ish ternyata selama ini ada paparazi?” gumam Nila jadi kesal ke Rendi ingin jitak.
Tangan Nila pun gatal, yang tadinya enggan hanya mengintip jadi ingin, memeriksa dompet Rendi lagi, teryata foto Nila bukan hanya satu, tapi ada sekitar 5. Semua foto aib, candid Nila saat tertawa bersama teman- temanya.
"Kuno banget caranya?" desis Nila, memberikan dompet ke Nila ternyata adalah trik Rendi mengungkapkan cintanya yang sulit dia utarakan.
“Apa ini artinya dia sedang mengungkapkan kalau dia cinta ke aku?” gumam Nila dalam hati. “Huuft… benarkah? Jadi perasaanku selama ini tidak bertepuk sebelah tangan? Tapi kenapa secepat ini? Ini sungguhan nggak sih?” Nila menepuk- nepuk pipinya sendiri, dheg- dheganya semakin kencang. Nila bahagia tapi bingung bagaimana harus bersikapnya.
Nila pun memutuskan untuk turun, karena kelamaan melamun, ternyata sampai dalam, Rendi sudah selesai BAB dan sudah memilih barang- barang belanjaan.
“Lama sekali? Ada apa? Oh ya, Adip nggak ngerokok kan?” tanya Rendi pura- pura. Padahal Rendi juga tadi senyum- senyum liat Nila dari kejauhan kan pintu mobil depan masih bisa dilihat.
“Nggak, nggak ada apa- apa!” jawab Nila.
“Segini cukup nggak?” tanya Rendi mengalihkan, menunjukan beberapa barang pilihanya, isinya camilan ibu menyusui, seperti almond susu, yoghurt, lalu ditambah camilan bapak- bapak.
Nila pun melirik, tambahin buah, Kak Jingga lagi risau masalah berat badan,” jawab Nila.
“Oke.. kamu yang lanjutin ya!” ucap Rendi.
Nila mengangguk.
Akhirnya mereka pun belanja bersama layaknya suami istri. Setelah itu mereka berjalan ke arah kasir.
“Hoh!” tiba- tiba, Nila membekap mulutnya sendiri, lalu balik badan dengan cepat, hingga hampir memeluk Rendi. Rendi terhenti dan kaget.
"Kenapa?" tanya Rendi.
Nila tidak menjawab, tapi langsung menarik Rendi agar bersembunyi di balik lemari pendingin minuman.
Nila pun mengajak Rendi menyandarkan ke tembok agar tidak terlihat.
“Ada apa?” tanya Rendi lagi.
“Sssstt…,” tangan Nila spontan membekap mulut Rendi dan bahkan tubuhnya hampir berhimpitan.
Sebenarnya Rendi sesak, tapi dia senang dekat- dekat Nila begitu, dibalik bekapan tangan Nila, Rendi pun tersenyum.
Nila terlihat panik dan sedikit melirik ke arah kasir dari celah rak.
Rendi ikut melihat, rupanya, ada Celine dan gengnya, sedang membeli pembalut. Rendi semakin tersenyum. Tapi dia menikmati suasana berdekatan dengan Nila, jadi dia pura- pura.
Setelah Celine dan teman- temanya terlihat keluar dari toko, Nila langsung melepaskan Rendi.
“Huuuft…,” Nila langsung menghela nafasnya
“Itu tadi teman kelasmu kan? Kenapa sembunyi?” tanya Rendi.
“Kenapa? Mas masih tanya?”
“Ya. Kenapa? Katamu dan keluargamu kamu ingin aku mengakuimu? Ya udah, ketemu teman harus nyapa bukan bersembunyi,” jawab Rendi.
__ADS_1
“Nggak! Nila nggak mau ada teman kita yang tahu! Pokoknya, jangan sampai teman di kampus tahu tentang kita!" jawab Nila menekankan ke Rendi.
“Nah… kan sekarang yang nggak mau akui pernikahan kita siapa? Aku atau kamu?” jawab Rendi membalikkan keadaan.
“Ya masalahnya, waktu dan kasusnya beda!”
“Sama, mas gitu juga waktu, itu, jadi ngerti kan sekarang? Udah clear ya.. impas!” jawab Rendi lagi.
“Hmm. Udah cepat kita pulang, nanti kak Jingga marah!” jawab Nila mengalihkan pembicaraan sekarang berani berjalan tegak menyeret keranjanh belanja meninggalkan Rendi.
Rendi hanya menggelengkan kepala, dasar jaim, batinya.
Nila pun cepat- cepat membayar dan setelah itu masuk ke mobil. Nila jadi gugup dan berjalan buru- buru, sementara Rendi terlihat jalan santui, Rendi kan ingin lama- lama bersama Nila.
"Ayo cepat. Kalau kemalaman Kak Jingga marah!"
"Ya udah kalau marah, kita kan punya rumah! Pulang ke rumah kita aja," jawab Rendi nyengir
"Mas!" pekik Nila mendelik dan manyun ke Rendi.
"Hehe...nggak! Bercanda. Ayo ke rumah Adip!" jawab Rendi menyalakan mesin mobilnya. Meski Rendi ingin mengulur waktu, tapi kenyataan kalau sekarang sudah malam dan Jingga punya anak bayi menyadarkan Rendi untuk cepat melaju ke rumah Adip.
Nila kembali atur nafasnya karena hampir ketahuan jalan bersama Rendi.
Nila tahu betul, Celine itu di kelas nekad, berani, juga licik dan Nila pernah dengar kalau Celine mengungkapkan kalau Rendi itu ganteng dan menarik. Bahaya kalau tadi mereka bertemu.
Karena masih mengatur nafas, mereka tidak mengobrol lagi, bahkan domper beserta kembalian uang Rendi masih di tas Nila. Setelah beberapa saat, mereka pun sampai rumah Adip.
Dari gerbang di teras rumah, terlihat Adip sedang ngopi sendirian, mungkin menunggu, Nila, dan dari kamar lantai dua, juga terdengar suara Pradipta menangis.
Nila dan Rendi pun turun.
“Mas kadonya dimana?” tanya Nila mengingatkan.
“Oh iya hampir lupa, ada di bagasi!” jawab Rendi.
“Hmm…,” jawab Nila berdehem, sembari menenteng belanjaan.
Rendi memencet tombol buka bagasi, lalu mengambil kado Nila yang hampir dua kardus.
“Kadonya segini banyak?” tanya Nila syok karena baru liat.
“Iya, kado dalam rangka apa sih? Kok banyak banget?” tanya Rendi mendekat dan berbisik sengaja menunjukan kemesraanya ke Nila. Rendi melirik ke lantai dua, sembari menidurkan Dipta, ternyata Jingga mengintip.
“Rahasia,!” jawab Nila berbisik. Itu kan kado pernikahan Nila dan Rendi.
Adip yang sudah di teras lantai bawah langsung menyambut baik, iparnya itu. Adip pun tidak ketinggalan, memperhatikan gerak- gerik Nila dan Rendi yang terlihat akur dan mesra.
“Assalamu’alaikum… Bang Adip!” sapa Rendi.
“Waalaikum salam, Pak Dokter. Waah mimpi apa ini? Malam – malam kedatangan tamu Pak Dosen, Alhamdulillah, mari masuk, Pak,” sapa Adip tetap menghormati Rendi. Rendi kan dulu juga jadi pemateri pembekalan sebelum Adip turun ke pulau P.
Rendi yang disanjung begitu jadi diam dan ilang cerewetnya lagi, dia tidak suka disanjung. Dia hanya mengangguk sembari membawa kado Nila.
“Ini kok bawa barang banyak? Gimana ceritanya? Apa ini?" tanya Adip lagi.
“Nggak tahu ini, Nila. Aku jadi porter aja, apa isinya, Yang?” jawab Rendi melirik Nila dan memanggilnya “Yang,” sengaja sekali menunjukan ke Adip.
“Ngek..,” Nila yang malu ke Adip langsung menoleh kesal sembari mencebik ke Rendi.
Adip yang memperhatikan dan mendengar semakin tersenyum.
”Ehm..,” Nila hanya berdehem saat mengetahui sedang diperhatikan Adip. “Ini kado Nila Kak, nggak apa- apa kan? Titip di sini?”
“Nggak apa- apa, taruh di kamarmu aja! Silahkan Pak!” jawab Adip mempersilahkan. Di rumah Adip kan ada kamar nila.
Nila yang mendengar taruh kamar langsung mendelik, tidak boleh Rendi masuk. “Taruh sini dulu aja!” bisik Nila ke Rendi.
Sayanya Rendi tidak mau mendengar Nila dan berjalan masuk, malah mengacuhkan Nila.
“Dimana kamarnya? Berat nih!” jawab Rendi semakin sengaja ingin cepat ditunjukan kamar Nila.
Adip pun mengerti dan menunjukan kamarnya. Rendi langsung gerak cepat masuk ke kamar Nila walau Adip tidak mengantarnya sampai dalam.
“Ish…, kenapa dia masuk sih?” desis Nila kesal.
Bukanya menemani Rendi, Adip malah berjalan ke dapur.
“Bang Adip mau kemana?”
“Pak Rendi minum kopi nggak?” jawab Adip malah balik bertanya.
“Hmmm… nggak usah dibuatin kopi, Bang, nanti nggak pulang- pulang!” jawab Nila.
“Ish kamu ini? Kamu bilang ada masalah yang harus diselesaikan? Kayanya masalahnya udah selesai, yakin dia mau pulang?” jawab Adip malah ngeledek Nila.
“Maksud Bang Adip apa?” tanya Nila mengernyit.
Adip hanya tersenyum penuh arti.
“Nggak apa- apa, mau kamu apa Bang Adip yang buatin kopi?” tawar Adip mengalihkan pembicaraan.
Nila pun mencebik, kenapa Bang Adip ikut- ikutan nyebelin. “Kak Jingga dimana?” tanya Nila mengalihkan.
“Tau, sejak lahiran, aku nggak nemenin waktu sholat subuh itu? Kakakmu kalau lagi ngambek kunci pintu dari dalam!” jawab Adip ngadu,
“Woah?” pekik Nila kaget, ternyata manjanya Jingga belum sembuh. “Bang Adip nggak boleh masuk kamar maksudnya? Emang kakak ngambek kenapa?” tanya Nila kepo.
Adip hanya mengelus tengkuknya yang sudah sangat ekstra sabar ke Jingga.
“Sepertinya, sebaiknya, kamu tolongin Bang Adip rayu kakakmu buat buka pintu, biar Bang Adip yang bikinkan kopi, pak Rendi ya! Tanya sendiri kenapa ngambek!” jawab Adip mengambil keputusan.
__ADS_1
Nila hanya mengangguk patuh. Lalu Nila naik ke atas ke kamar Jingga, dan Adip membuatkan kopi untuk Rendi.