
"Makasih ya istriku!" ucap Rendi terkekeh puas berhasil mengerjai Nila, lalu melajukan mobilnya keluar parkiran.
Rendi melihat sekeliking sepi, dia lupa mobilnya menghadap ke sebuah bangunan. Rendi senang sekali melihat Nila dengan polosnya mengikuti semua yang dia minta. Tidak peduli ada yang lihat atau tidak.
"Hhh...," Sementara Nila langsung cemberut manyun.
"Mas ngerjain ya?" tanya Nila.
"Nggak! Ngerjain gimana? Kan dimana- mana istri yang bantuin suami memperhatikan penampilan. Iya kan?" jawab Rendi masih dalam rangka ngeledek Nila.
"Tapi orang- orang bukan resleting. Jas, dasi!" jawab Nila.
"Ya, udah biar dipakain istri besok Mas pakai dasi!" jawab Rendi.
"Nggak- nggak!" sahut Nila cepat.
Rendi kembali terkekeh.
"Kenapa? Kan sekarang udah punya istri, mau dong dilayani istri tiap hari!"
"Nggak pakai dasi juga. Udah gini aja! Jangan pakai dasi!" jawab Nila cepat.
"Kenapa?" ledek Rendi.
"Mas cakepan gini? Jadi awet muda. Ngapain pake dasi keliatan kaku sama tua. Kaya Baba!" jawab Nila spontan memuji Rendi dan menjelekan Baba.
"Tunggu- tunggu. Ulang tadi yang pertama bilang apa?" tanya cepat menyela.
"Hoh?" pekik Nila mengingat apa uang dia ucapkan. Seketika itu wajah Nila merona merah, ya dia baru sadar mengatai Rendi cakep.
"Nggak ada siaran ulang." jawab Nila tersipu.
"Ada!"
"Nggak ada lupa. Apa sih?" jawab Nila malu- malu dan memalingkan wajahnya
Rendi semakin terkekeh dan senang sekali saat melihat Nila malu- malu begitu. Tangan Rendi kiri pun iseng tergerak menoel Nila.
"Coba liat sini. Tadi ada yang bilang mas cakep lho!"
"Nggak ada!"
"Ada!"
"Nggak!"
"Beneran tadi ada yang bilang Mas cakep. Iya yah?".
"Iish Bukan! Maksud Nila bukan Mas cakep. Tapi cakepan nggak pake dasi alias sedikit lebih baik begini! Kemeja aja! Mas udah tua, pake dasi tambah terlihat tua nanti!" jawab Nila berkilah
"Halaah bilang aja cakep!" rayu Rendi lagi tanganya sangat iseng menoel- noel.
"Mas apa sih? Nyetir yang fokus!" ucap Nila kesal diledekin terus, sembari menepis tangan Rendi.
Ternyata mereka sudah sampai di depan toko Sepatu. Mereka berdua kemudian turun. Nila dan Rendi langsung memilih sepatu.
"Yang ini aja, Mas!" tutur Nila menunjuk satu flat shoes warna hitam dengan riasan pita diujung, simple manis.
Rendi pun memeriksanya dan seketika itu kaget.
"Yakin kamu mau ini?" tanya Rendi.
"Ya. Manis kan? Pas di kaki Nila kok!" jawab Nila jujur dan polos.
"Kakimu nggak alergi? Nggak lecet pakai ini?" tanya Rendi mengulangi.
Mendapat pertanyaan itu Nila tersenyum.
"Mas apaan sih? Lebay banget. Nggak ada alergi sepatu!" jawab Nila lembut.
"Hoh. Istriku putrinya Gunawijaya kan? Santai aja. Walau suamimu ini tidak punya perusahaan. Mas masih mampu beli sepatu terbaik di toko ini!" ucap Rendi lagi.
Ya, Rendi spechless, walau di situ toko biasa yang tidak menyediakan merek branded, tapi setidaknya di situ berjejer sepatu dengan harga 100 ribu, 300 ribu s.d satu jutaan, tapi Nila memilih dengan harga 50an ribu. Padahal sepatu yang dirusak Della harganya puluhan juta. Sebelum menikahi Nila dan berkaca pada Jingga, Rendi pikir, biaya hidup Anak Baba pasti mahal.
"Ya. Ya. Nila percaya itu. Tapi Nila beneran suka yang ini!" ucap Nila lagi.
"Nggak yang ini aja?" tawar Rendi mengambil sepatu yang lebih mahal.
"Mas kenapa sih? Beneran Nila mau yang ini!"
__ADS_1
"Aku yang tanya kamu kenapa? Kamu tidak perlu menurunkan level kehidupanmu hanya karena suamimu ini bukan pengusaha. Mas masih mampu kok biayain kuliahmu dan kebutuhanmu!" ucap Rendi lagi merasa terhina mengira Rendi miskin dan tak sekaya Baba.
"Astaghfirullah Mas, Demi Alloh. Nila nggak pernah nurunin standart hidup Nila. Kok Mas mikir gitu? Kak Jingga dan Oma Rita emang suka kasih barang branded ke Nila. Di rumah juga banyak nggak kepake. Nila bisa dan terbiasa make semua barang. Di pondok kan Ummi melarang kita pakai barang branded. Apalagi di pondok kita berbagi. Nila biasa aja!" jawab Nila meyakinkan suaminya.
Ya di pesantren terkadang bisa pinjam- pinjaman.
Rendi mengangguk, lalu tersenyum dan mengusap puncak kepala Nila. Seketika itu Rendi tercekat haru ingin menangis. Rendi lupa, gadis kecilnya ini kan sudah menjadi anak Ummi saat dia titipkan 3 tahun lamanya. Padahal Rendi bekerja keras menabung karena mempersiapkan kalau- kalau istrinya tidak bisa berhemat.
"Makasih. Solikhah ya?" ucap Rendi.
Nila pun mencebik.
"Sepatu Nila di rumah banyak. Punya Kakak juga nggak dipakai kok. Ini kan cuma cadangan!" jawab Nila menghibur.
Rendi tersenyum lagi.
Mereka pun segera membayar dan kembali ke kampus.
"Nila boleh nyalain musik?" tanya Nila di mobil.
"Bolehlah, Dhek. Silahkan!" jawab Rendi.
Walau jarak tempuh mereka sebentar, Nila ingin waktu yang mereka lalui romantis. Nila pun menyalakan musik yang sedang hits di salah satu aplikasi. Belum habis satu lagu mereka sudah sampai parkiran lagi.
"Jangan turun dulu!" ucap Nila tiba- tiba meminta dengan wajah manis dan manjanya.
Rendi mengernyit.
"Ada apa memangnya?" tanya Rendi .
Sayangnya bukan menjawab. Nila merekahkan senyum imutnya.
"Nila pengen habisin lagu ini sama Mas. Romantis kan?" tanya Nila.
"He....yayaya!" jawab Rendi menyeringai dan menelan ludahnya. Nggak penting banget menurut Rendi.
Bagi Rendi lagu yang Nila dengarkan tak ada romantisnya sama sekali, bahkan Rendi baru dengar. Rendi tidak tahu sisi romantis yang diingini gadis kecil di sampingnya ini apa. Tapi demi Nila bahagia, Rendi patuh duduk mendengarkan.
"Yeey.. Sudah habis. Dengarkan lagunya? Mas harus gitu ya!" ucap Nila tiba- tiba.
"Ya!" jawab Rendi asal.
"Ha?" pekik Rendi terbengong. Rendi ngelag, Rendi kan tidak suka.
"Iiih....," keluh Nila cemberut. "Mas denger nggak sih?" tanya Nila.
"Ya. Ya denger kan kita satu ruangan. Ya dengerlah!"
"Diperhatiin nggak isinya?" protes Nila.
"Ya dikit!" jawab Rendi jujur mengusap tengkuknya.
"Apa coba?"
"He.. Lupa!"
"Aahh.. Mas!" keluh Nila cemberut dan memalingkan muka.
Rendi pun dibuat gelagapan. Tidak penting sekali Rendi meresapi lagu. Di kepala Rendi kan sudah banyak pikiran.
"Ya. Maaf! Iya udah deh di putar ulang. Biar mas ingat- ingat!" ucap Rendi.
"Tau ah. Mas gitu! Nggak romantis!" keluh Nila cemberut dan ngambek lalu membuka pintu mobil turun.
"Aih..." keluh Rendi buru- buru ikut turun dan mengejar Nila.
Baru saja tadi terharu dan bersyukur karena Nila ternyata tak memberatkan, tapi ternyata Nila punya sisi rempong yang membuatnya pusing.
"Hei tunggu. Mau kemana? Jangan ngambeklah!" ucap Rendi mensejajari Nila.
Nila hanya diam, terus berjalan.
"Ya. Mas akan belajar romantis. Nanti tiap lagu mas dengerin deh. Mas resapi biar romantis!" ucap Rendi merayu.
"Ya. Jangan tiap lagu juga!" jawab Nila cepat. "Masa nanti lagu mendua atau patah hati diresapi juga!".
"Ya. Maksudnya yang kamu suka!"
"Beneran?"
__ADS_1
"Iya!" jawab Rendi. "Waktu nikahan kemarin. Romantis kan?" tanya Rendi, kemarin kan Rendi juga sempat nyanyi, ya meskipun lagu band yang hits belasan tahun lalu.
Nila mengangguk tersenyum.
Rendi pun ikut tersenyum, rupanya perempuan kecilnya ini suka digombali dengan lagi. Rendi pun mengulurkan tanganya. Sayangnya Nila tak meraihnya dan justru memandanginya.
"Ayo!" ajak Rendi menggerakan telapak tanganya yang dianggurkan.
"Ini di kampus Mas. Nggak sopan mahasiswa gandeng- gandengan tangan sama Dosen!" jawab Nila mencebik.
"Haish....," desis Rendi mengambil tangan Nila dan menggandengnya. Ya, nggak sopan tapi kan kalau suami istri beda.
"Ih.. Mau kemana? Mas nggak enak kalau ada yang liat!" ucap Nila terpaksa ikut Rendi.
"Mahasiswa aja pada jago pacaran, pasang- pasangan dua- duaan, masa sama istri halal dibatasi sih!" gerutu Rendi sambil berjalan.
"Bukan dibatasi. Jaga sikap!"
"Ya kan ini nggak di kelas!" jawab Rendi lagi.
"Terus mau kemana ini?" tanya Nila.
"Ke ruangan Mas!"
"Mau ngapain? Nggak! Nila mau ke kelas. Bentar lagi kuliahnya Prof. Hendra!" jawab Nila berusaha melepas tangan Rendi.
"Masih 30 menit lagi. Teman- temanmu pasti udah nungggu di depan ruangan Mas, kamu nggak mau denger penjelasan mereka?" tanya Rendi ingat Della dan yang lain.
Seketika itu, Nila malah menghentikan langkahnya diam.
"Kenapa berhenti?"
"Mas mau apakan mereka? Nila nggak mau kita banyak masalah Mas. Nila masih kepikiran masalah Farel. Ikhlasin aja ya? Sudahlah. Nila nggak apa- apa kok!" ucap Nila meminta.
Rendi pun menghela nafasnya tersenyum masam, lalu membelai pipi Nila.
"Mas bukan cari masalah Dhek. Mas di sini dosen yang diamanahi managemen, urus kalian. Ini bukan tentang kamu. Mahasiswa itu bukan siswa lagi. Kamu dan yang lain sudah dewasa dan seharusnya bertanggung jawab atas apa yang kalian lakukan. Sebenarnya Mas nggak dan nggak pantas hukum kalian," tutur Rendi panjang dan kali ini sifat nakalnya hilang berganti dewasa.
"Ya sudah kalau gitu. Nggak usah dihukum dimaafin aja! Nggak usah ditanya- tanya" jawab Nila pelan dan ragu karena Nila tahu itu solusi pengecut.
"Nah. Justru itu. Mas nggak akan hukum mereka. Sudah bukan ranah dosen memberi hukuman perilaku kriminal, kita hanya mendisiplinkan! Itu terserah polisi!"
"Lhoh Kok polisi? kriminal gimana?" tanya Nila.
"Dengar ya! Mereka, kamu itu mahasiswa yang seharusnya bekerja keras belajar banyak materi dan tugas. Tapi mereka sibuk merusak barang teman bahkan memfitnah kamu sampai kepikiran tentang sugar Baby. Otak mereka udah salah, Dhek. Itu satu. Kedua. Ini juga perlu mas tertibkan, cairan berbahaya kenapa sampai ada di luar. Berarti ada staf yang harus didisplinkan juga! Apotik saja melarang lho jual beli begitu!"
"Yang jadi catatan penting. Orang pintar tanpa adab bahaya. Ingat, Adab itu lebih tinggi dari ilmu. Kalau hanya pintar dan dia tahu banyak hal tapi tidak tanggung jawab. Mereka bisa memanfaatkan kepintaran dan kewenangan mereka untuk hal buruk, bahkan kejahatan!" ucap Rendi tegas.
Nila menelan ludahnya mengangguk.
"Ingat apa yang menimpa Kak Jingga dengan Tama kan?" tanya Rendi seketika ingat Jingga.
"Ehm ..,ya" dehem Nila raut wajahnya langsung berubah.
Sebenarnya Nila ingat dan sekarang paham maksud Rendi. Tapi menyebut nama Jingga, walau kakaknya sendiri, entah kenapa Nila rasanya sakit. Nila kemudian berjalan maju.
Rendi mengernyit berfikir, Nila paham penjelasanya atau tidak? Apa masih takut. Rendi tidak tahu kalau Nila cemburu.
"Dhek..." panggil Rendi mengejar lagi.
"Kamu kenapa sih? Kamu ngerti kan maksud Mas. Tidak ada yang perlu kamu pikirkan tentang Farel. Mas juga nggak akan, apa- apakan temanmu! Kalau mereka tidak salah." ucap Rendi.
"Nila paham kok Mas. Nila cuma takut Mas kenapa- kenapa. Dicap jadi dosen rempong! Nila percaya Mas udah lakukan semua buat kebaikan. Tapi nggak usah bawa- bawa Kak Jingga. Mas masih belum ikhlas dan ingat Kak Jingga, ya?" jawab Nila matanya berkaca- kaca.
Tentu saja Rendi jadi terbengong.
"Haish...," Rendi langsung menggelengkan kepala dan sekarang mengerti, Nila cemburu.
Rendi langsung sigap menarik Nila dan memeluknya.
"Dengar. Mas sangat ikhlas atas semua ketentuan Alloh, Dhek. Tanpa kejadian itu, Mas nggak akan punya istri seperti kamu. Mas bilang itu, sebagai ajaran buat kamu. Jangan seperti Tama. Ilmumu kelak, bisa jadi pahala untuk nolong banyak orang jika kamu menggunakanya untuk bertanggung jawab. Begitu sebaliknya. Itu sebabnya pelajaran dan pembentukan mental menurut Mas penting!" tutur Rendi panjang sembari memeluk dan mengusap Nila.
"Iyah," jawab Nila singkat.
Rendi kemudian melepas pelukanya lalu meraih bahu Nila dan menatap Nila tajam.
"Dengar. Kalau kamu percaya takdir, kamu harus tanamkan, semua yang terjadi itu ada baiknya. Sakit atau senang. Alloh tahu apa yang kita butuhkan. Bahkan hal yang terburuk yang mungkin akan kita lalui. Selama niat kita baik dan benar jangan takut. Jangan overthingking terhadap apa yang belum terjadi. Jadi hadapi. Jangan pikirkan tentang Farel lagi. Dia dikeluarkan bukan karena Mas. Tapi itu tanggung jawab atas apa uang dia lakukan! Mengerti?" tanya Rendi.
Nila mengangguk walau senyumnya getir
__ADS_1
Rendi tersenyum dan mengusap kepala Nila. Karena Nila terlihat lesu, Rendi mengijinkan Nila ke kelas bersama Dita. Rendi pun menghadapi Della n friend sendiri.