
Nila mengernyit dengar jawaban Rendi. Baginya terlalu berlebihan dan mengada- ada. Meski begitu malu juga.
"Buku?" tanya Nila
Rendi hanya tersenyum.
"Buku hanya sebuah tulisan.Bagaimana kalau aku nulisnya nyontek? Hanya mengutip dari buku lain? Atau aku berbeda tak sesuai buku yang kutulis?" tanya Nila tidak puas dengan jawaban Rendi.
Rendi mencebik dengan menggerakan bibirnya. Lalu menatap wajah Nila dengan tersenyum lagi.
"Apa kau sedang ingin Mas menjawab pertanyaanmu dengan Mas bilang, aku mencintaimu, jatuh cinta denganmu karena kamu cantik? Kamu pintar?" tanya Rendi malah menggoda.
"Ish..." desis Nila ikut mencebik.
"Biasanya kan anak muda dan perempuan sukanya begitu kan?" tanya Rendi lagi
"Hmmm... Nila tanya serius!"
"Kenapa kamu harus menanyakan ini?"
"Sebelum bertemu Oma dan Baba. Nila tidak ingin salah jawab!" jawab Nila cepat.
"Lalu apa yang kamu lakukan tadi? Kenapa kamu membuka pakaianmu dengan berderai air mata?" tanya Rendi lagi sekarang dengan wajah serius menatap ke Nila.
Nila jadi gelagapan, iya kenapa tadi Nila membuka pakaianya, giliran sekarang Nila jual mahal.
Nila menunduk.
"Sekarang, Nila yang aku nikahi 3 tahun lalu jelas sudah bukan Nila yang tahunya membahagiakan Baba dengan cara selalu berkata iya kan? Mas yakin. Nila yang sekarang bukan Nila yang tahu hubungan laki- laki perempuan itu cukup saling melempar kata cinta kan?" tanya Rendi lagi.
Nila menunduk masih belum jawab.
"Kok diam?" tanya Rendi menatap
Nila pun mengangkat wajahnya dan menoleh ke suaminya.
__ADS_1
"Kan Nila yang tanya. Kenapa malah Nila yang ditanya!" jawab Nila
"Ya kan Mas udah jawab. Kamu nggak puas dengan jawaban Mas. Ya udah mas balik tanya. Coba mas tanya. Kamu, tadi mau apa buka pakaianmu? Heh?" tanya Rendi lagi.
"Udahlah nggak usah dibahas!" jawab Nila jadi keki sendiri. Dan berniat menghindar.
"Jawab! Ini penting!" ucap Rendi meraih tangan Nila dan menahan agar tetap duduk di sampingnya.
Nila gelagapan.
"Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu ingin aku menye tubuhimu? Apa kamu tergoda melihat senjataku dan tubuhku? Kamu kasian terhadapku? Atau kamu merasa bersalah pada TuhanMu karena kamu melalaikan kewajibanmu, sampai suamimu ini melakukan hal hina?" tanya Rendi masih ingin membahas.
"Gleg!" Nila menelan ludahnya. Pertanyaan Rendi benar- benar menohoknya. Tapi hati Nila berdesir, kenapa Rendi selalu membuat hatijya terus berdesir dan membuatnya terus merasa bersalah karena tidak mempercayai Rendi. Kenapa Rendi selalu menjawab prasangka Nila dengan cara yang membuat Nila semakin mengaguminya.
"Jawab!"
"Nila minta maaf!" ucap Nila singkat.
"Apa yang salah dari kamu? Kamu merasa berdosa juga, atas apa yang Mas lakukan?"
"Ini alasanya. Kenapa Mas ingin mempertahankanmu, dan mas yakin, Insya Alloh kamu adalah ibu terbaik untuk anak- anak Mas nanti. Mas juga yakin, kamu akan menjadi teman ibadah Mas sampai Waktunya mas pulang tiba!" ucap Rendi panjang.
Nila menelan ludahnya, mendadak salah tingkah dan bingung mau apa.
"Mas yang minta maaf ke kamu! Bukan kamu!" ucap Rendi lagi bahkan sekarang mengambil tangan Nila.
Nila semakin gelagapan.
Rendi yang melihat wajah Nila mendadak merah dan salah tingkah malah tertawa dan kemudian melepas lagi.
"Ish...," Nila jadi mendesis lagi. Kenapa Rendi suka sekali membuat jantungnya naik turun tidak jelas. Sebelumnya membuatnya jengkel, jengah, lalu membuatnya mati kutu dan berkembang kenapa sekarang membuatnya malu lagi.
"Jangan tegang gitu wajahnya. Mas keren ya?" tanya Rendi lagi.
"Bisa nggak sih bicara serius!" jawab Nila kesal lagi. Orang beneran lagi mau senang dan dheg- dhegan malah diketawain
__ADS_1
"Hhh...," Rendi menghela nafasnya dan menyandarkan tubuhnya ke sofa lebih tepanya di belakang tubuh Nila.
"Mas sudah tua, Dhek!" ucap Rendi lagi
"Kamu pernah dengar kan? Tentang hadist mencari kriteria jodoh dalam islam?" tanya Rendi lagi tanganya malah iseng memainkan ujung hijab Nila.
"Tau!"
"Ya udah. Jawabanya itu! Sekarang bukan waktunya kenapa kita membahas alasan tentang pernikahan kita. Kita sudah menikah,"
"Tapi kan perempuan yang memenuhi syarat itu banyak. Mas bisa dengan mudah mengabulkan kata Baba untuk meninggalkan aku dan melepas ikatan ini? Kenapa Mas memilih tetap bertahan. Dan mas sekarang bilang cinta?"
"Walau bukumu bisa musnah, walau bukumu mungkin jiplakan. Tapi itu kamu yang menulisnya kan? Mas jatuh cinta dengan kepatuhan dan ketakutanmu pada Alloh. Kita juga punya tujuan yang sama kan? Mas salah menilaimu, malam itu! Mas minta maaf ya!" jawab Rendi.
"Cinta itu kan tentang rasa, bisa datang kapan saja dan bisa pergi kapan saja. Tapi dalam hidup kita butuh tujuan dan arah yang dicapai bersama. Itu kan yang kamu katakan di bukumu? Mas setuju dengan mu. Ya. Ada banyak teman Mas yang menikah hanya karena cinta mereka saat mereka muda, tapi apa yang terjadi di pernikahan mereka masuk usia 5 tahun banyak cobaan. Cinta bukan jaminan. Apalagi yang lain? Tidak usah kamu tanya itu. Dan percayalah. Mas berusaha komitmen dengan ucapan dan janji mas. Apalagi janji terhadap orang tuaku dan janji ke Alloh," jawab Rendi lagi
"Hmm..., janji apa?"
"Kenapa masih tanya? Tentu saja menjadi suamimu dan hidup bahagia bersamamu!" jawab Rendi bangun.
"Ehm..." dehem Nila tersipu lagi.
"Udah ah. Yuk ke rumah Oma!" jawab Rendi.
mereka kemudian bangun beberes dan meninggalkan hotel yang sudah mereka bayar mahal.
*****
Di tempat lain.
"Pak Rendi dan Nila ada hubungan!" ucap Celine di kamar rawat Farel.
Farel tidak menjawab. Dia hanya memandang kosong ke depan menahan sakit di telapak tanganya dimana salah satu jarinya patah juga mukanya yang lebam. meski begitu Farel sadar, mendengarkan dan bisa komunikasi dengan baik
"Kemarin aku liat kakakmu ke kampus. Aku ngerti apa kelanjutan kasusmu ini?" lanjut Celine lagi.
__ADS_1
"Kalau sampai aku di keluarin. Aku akan bilang Papah. Aku akan balas mereka. " jawab Farel akhirnya menjawab.