Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Hari ini saja.


__ADS_3

"Cup...," satu kecupan hangat mendarat di kening Nila, saat Nila menggeliat terbangun dari tidurnya.


"Hmmm...," pekik Nila kaget, membulatkan matanya dengan sempurna lalu memeriksa dirinya.


Rendi hanya tersenyum lalu ikut merentangkan tanganya.


"Mas angkat Nila? Mas pulang jam berapa semalam?" tanya Nila baru sadar.


Saat Nila ditinggal pergi Rendi, Nila pundung. Walau sempat terlelap di atas meja belajar di depan ruang tivi, karena sendirian, Nila malah tidak bisa tidur. Nila kembali belajar dan mengerjakan tugasnya.


Nila memilih bertanya pada Dita dan teman lain. Akhirnya mereka belajar bersama walau via phone hingga larut malam. Dan tetap saja Nila ketiduran di depan laptopnya.


Kini Nila terbangun sudah berada dalam dekapan hangat Rendi. Bahkan selimut tebal telah melindungi mereka berdua. Ternyata Rendi yang mengangkat Nila dan membawa Nila tidur dalam dekapanya.


"Pletak!" bukanya menjawab Rendi malah menyentil puncak kepala Nila.


"Anak kecil dibilangin ngeyel. Kalau belajar jangan larut malam. Laptop dan bukunya diberesin. Tidur di kamar, nanti cepet rusak lhoh kalau laptop kebiasaan dinyalain sampai lowbat gitu!" tutur Rendi malah ngomel seperti emak- emak.


Nila pun hanya meringkuk manyun diomeli suaminya. Padahal Nila yang harusnya marah.


"Ayo bangun!" ajak Rendi kemudian menyingkap selimut Nila.


Nila sebenarnya masih malas bangun dan ingin membalas kesalnya. Suruh siapa Rendi pergi Nila kan ingin dibelai sebagai penghantar tidurnya.


Sayangnya Rendi bergegas bangun duluan, dan langsung masuk kamar mandi. Sebagai istri, Nila tengsin dan rasa bersalah kalau suaminya sudah bangun tapi dia malas.


Nila pun ikut bangun dan menyibak tirai kamarnya. Ternyata fajar memang sudah naik dan waktu subuh sudah di ujung waktu. Nila pun ambil air wudu di tempat lain. Karena sedang terburu- buru Nila dan Rendi tidak jamaah.


Selepas sholat sendiri- sendiri. Tidak peduli apa yang dilakukan Rendi, Nila pergi ke dapur, menyiapkan sarapan setelah itu menyiapkan keperluan kuliah dirinya sendiri.


"Mas...," panggil Nila mencari Rendi. Dirinya sudah siap sarapan pun sudah.


Rendi tenang tak ada suara tapi di kamar jiga tidak ada. Rupanya Rendi justru ketiduran di ruang kerja.


"Lhoh. Kok nggak mandi? Ayo sarapan! Nila ada kuliah sama Prof Hendra pagi lho!" ucap Nila mulai ngedumel kesal


Bukanua menjawab Rendi malah menguap masih dengan celana kolornya.


Nila tambah cemberut. "Sebenarnya pergi kemana semalam? Mereka itu siapa sih? Nila nggak suka Mas pergi- pergi malam- malam!" omel Nila akhirnya.


"Cup!" bukanya menjawab, Rendi malah mendekat, memeluk Nila dan menciumnya.


Nila jadi meleleh walau masih dongkol. Untung kesabaran Nila sudah diuji oleh rewelnya Iya Iyu tiap pagi dan rempongnya anak pondok berebut sarapan saat pagi. Jadi Nila masih menahan diri menghadapi Rendi.


"Nila telat nanti Mas, kalau Mas belum apa- apa! Buruan Mandi? Sarapanya di mobil aja!" omel Nila lagi meski nadanya merendah.

__ADS_1


"Mas antar sekarang. Cepat sarapan. Nggak telat nggak!" jawab Rendi santai.


Nila kemudian mengernyit


"Mas belum mandi? Mas mau berangkat pakai pakaian begini?"


"Ya kenapa?" jawab Rendi singkat. Nila tambah mengernyit.


"Mas! Mas masih ngimpi apa gimana? Liat bajunya?"


"Mas nggak ngajar kok. Mas antar kamu aja!"


"Ohh.. Gitu?"


"Udah buru sarapan!" titah Rendi lagi.


Nila semakin tidak mengerti, tapi karena dia mau kuliah. Sarapan dan berangkat cepat lebih penting. Mereka pun segera menyantap sarapan dengan cepat.


Tak banyak percakapan di antara keduanya, bahkan sampai di mobil dalam perjalanan. Nila berfikir mereka diam karena Nila sedang buru- buru dan Rendi tampak masih ngantuuk.


"Mas abis ini pulang lagi?" tanya Nila melirik ke Rendi yang masih memakai pakaian tidur saat sudah mulai dekat dengan kampus.


"Iya!" jawab Rendi singkat


"Mas nanti mau pergi!" jawab Rendi lagi.


"Pergi? Kemana? Sama siapa? Berapa lama? Untuk apa?" tanya Nila kepo dan entah kenapa tidak suka kalau mendengar kata pergi lagi.


Rendi hanya tersenyum, lalu menatap Nila tajam, dan tangan satunya terulur membelai pipi Nila.


Tidak bisa Nila artikan apa maksudnya, tapi hati Nila selalu bergetar saat diperlakukan dan ditatap seperti itu.


"Mau kemana? Nginep lagi? Jangan nginep lagi lah. Nila nggak suka!" tanya Nila cemberut


"Nggak, Dhek. Mas pulang. Mas pergi bentar doang!"


"Oh. Kemana?"


"Ke rumah sakit. Teman Mas ada yang sakit! Jadi mau jenguk!" jawab Rendi.


"Oh.. Gitu!" jawab Nila lega.


"Iya! Nanti kabari selesai kuliah jam berapa!" tutur Rendi lagi.


"Mas nggak ngajar sama sekali beneran hari ini?" tanya Nila lagi mengulangi.

__ADS_1


Nila kan senang kalau ada Rendi.


Rendi menggeleng.


Tidak lama mereka sampai di parkiran kampus. Obrolan mereka terhenti. Bagi Nila sudah lega mendengar Rendi pulang dan hanya pergi sebentar apalagi hanya menjenguk orang sakit. Nila tidak kepo lebih banyak.


Rendi pun turun, membukakan seatbelt Nila, lalu pintu mobil untuk istrinya dengan manis. Tidak lupa mengulurkan tanganya untuk dicium Nila. Lalu memeluk Nila dan mencium keningnya.


"Fokus kuliah. Jangan suka suudzon dan berfikir aneh- aneh!" bisik Rendi.


"Iya Pak Dosen!" jawab Nila centil. "Semoga cepet sembuh buat temanya ya!" ucap Nila ceria


Rendi tidak menjawab hanya mengangguk lalu membiarkan Nila masuk. Setelah memastikan Nila masuk ke kelas, tidak ikut masuk seperti biasanya. Rendi segera pulang ke rumah.


Rendi masih sempat melanjutkan tidurnya. Karena ternyata semalam Rendi pulang pukul 2 dini hari.


Rendi bangun saat bel pintu rumahnya berbunyi dan teleponya berdering, di depan rumahnya temanya sudah menunggunya lagi.


Rendi terpaksa bangun dan mandi.


"Aku udah punya istri dan tanggung jawab. Aku nggak bisa gini terus, Xel!" ucap Rendi pada temannya yang semalam jemput Rendi yang tak lain adalah Axel dan Firman. Rendi keberatan pergi.


"Gue tahu kok. Ya sama gue juga punya keluarga. Vallen teman kita. Dia butuh kamu. Temani dia setidaknya sampai dia bisa nerima kenyataan dan membaik. Gue tahu Ren, kenyataanya memang nggak harus kita ikuti semua maunya. Tapi apa lo tega liat teman begitu?" ucap Axel lagi meminta.


"Hari ini doang! Ya!" ucap Rendi.


Axel mengangguk lalu meminta Rendi ikut dia ke sebuah rumah sakit.


*****


Kaaak..


Kalau nggak suka. Boleh koment, boleh tinggalin. Tapi jangan kasih bintang jelek.


Aku mikirin kok konflik penutup biar bisa buat mereka bahagia. Tapi nyusun kata dan peristiwa tidak mudah.


Kalau kakak kecewa aku hargai, kakak berhak pergi. Itu hak kakak.


Tapi kalau masih mau baca.


Saling hargai juga dong.


Kasih bintang itu sama saja melabeli seluruh isi karya dan jadi patokan org lain yg mau mampir. Aku nulis juga usaha mikir yang terbaik, tapi nggak ngerugiin atau minta bayar ke kakak kan?


Atau kalau kakak merasa punya ide lebih bagus. Sok aja bikin sendiri Kaak. Kasih saran di koment juga aku baca kok.

__ADS_1


__ADS_2