
"Dokter Rendii Akbar... selamat datang kawan!" sapa Axel dengan hangat merentangkan kedua tanganya menyambut Rendi.
Rendi yang kemarin ada bersinggungan masalah undangan pesta malam pernikahan sekarang mulai lega, tentu saja balas menyambutnya. Walau dia tidak peduli jika banyak orang yang membenci, tapi Rendi tidak suka bermusuhan.
"Congrats ya... selamat atas pernikahanmu. Selamat juga atas grand opening restomu, semoga lancar jaya dan sukses terus!" ucap Rendi menepuk bahu kawan lamanya itu.
Axel pun mengangguk senang dan berterima kasih.
"Ya... thank you Bro. Oh ya silahkan nikmati jamuanku! Ya ala kadarnya begini?" ucap Axel merentangkan tangan menunjukan kemewahan.grand opening yang dia siapkan.
"Yaya terima kasih! This is Amazing, kamu hebat!" jawab Rendi memuji dan matanya ikut melirik sekeliling. Rendi tidak tahu, Axel dapat modal dari Vallen dengan imbalan ingin meraih hatinya. Axel menggelar grand opening meriah bahkan mengundang penari perut. Dia mendirikan restoran ala- ala luar Turki.
Saat bola mata Rendi menjelajah sekeliling, fokus Rendi teralihkan saat kedua bola matanya menangkap seseorang yang tampak bercengkerama di meja dekat dia berdiri.
"Maaf kamu datang dengan siapa? sendiri saja?" tanya Axel to the point mengalihkan perhatian Rendi.
"Ya!" jawab Rendi matanya masih fokus melihat seseorang.
"Aku bilang datanglah bersama pasanganmu. Malam ini akan ada dansa bersama pasangan. Ayolah harusnya kau bawa pasanganmu," tanya Axel lagi.
Rendi tersenyum. "Aku tidak bisa dansa. You know that?" tanya Rendi sambil mengedikkan bahu. Rendi kan dari dulu walau teman- temanya berbeda keyakinan selalu menjada tidak minum.
"Aihh... akan kuajarkan!" timbal Axel lagi.
Rendi hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Aku bisa menikmati pesta tanpa berdansa kok!" jawab Rendi
"Oh ya, Mery... come here darling!" seru Axel ke istri barunya.
Perempuan cantik dengan rambut sebahu terurai dan pakaian sedikit terbuka pun mendekat.
"Kenalin, dia Dokter Rendi Akbar Maulana. Sahabatku dulu. Kenalin Ren. ini istriku!" ucap Axel.
"Rendi" Rendi pun mengangguk.
"Merry!" jawab Istri Axel. "Where is your partner?" tanya Merry spontan. Axel memang ingin membuat pesta tema dansa.
Ditanya pasangan Rendi tersenyum melirik ke seseorang yang tadi mengalihkan perhatianya. Dan tepat saat itu orang itu juga sedang menatapnya dengan sorot terkejut.
"Istriku tidak suka keramain, dia pemalu!" jawab Rendi sedikit keras bahkan dengan percaya diri menyebutkan kata istri.
Axel mengulum lidahnya sedikit kesal. Axel yakin Rendi masih sendiri tapi kenapa akhir- akhir ini saat Valen datang mengaku beristri.
"Whoah... kamu sudah menikah?" tanya Axel pura- pura terkejut.
"Ya. Aku sudah menikah!" jawab Rendi sedikit keras lagi.
"Kamu tidak sedang bercanda kan. Kemon Bro. Sejak kapan kamu menyembunyikan sesuatu dariku? Kenapa tidak memberitahuku?" pancing Axel lagi semakin dongkol
"Yes, this is surprise....akan kuundang kalian saat pesta nanti!" jawab Rendi percaya diri.
"Wohoo...jadi belum ada pesta?" tanya Axel semakin menelan ludahnya kecut dan sorot matanya mulai gelisah takut Valen datang dan mendengar. Dia kan sangat percaya diri Rendi masih sendiri. Untungnya dia tidak melihat Vallen, sepertinya Vallen masih bersiap memberikan kejutan.
"Belum!"
"Kalau begitu kenalkan pada kami!" ucap Axel
"Yeah!" imbuh Merry.
"Akan ada waktunya kukenalkan!" jawab Rendi lagi.
"Aih...dari dulu kau selalu begitu. Tapi tak kunjung kau kenalkan. Kau tidak sedang berbohong kaan?" tanya Axel lagi.
"No...!" jawab Rendi sedikit keras dan melirik ke meja sebelah. "Sesuatu yang berharga harus dirawat dengan baik kaan? Akan ada waktunya kubawa keluar!" jawab Rendi
"Sepertinya dia perempuan yang sangat istimewa?" sahut Merry iri dengan perempuan yang Rendi ceritakan karena Rendi menyebutnya berharga.
"Yah. Dia perempuan terbaik yang aku temui." Ucap Rendi semakin keras.
Axel semakin tambah dongkolnya. Axel kemudian menepuk bahu Rendi.
"Oke...aku tunggu kau kenalkan dia pada kami. Nikmati pestanya ya. Tapi apapun alasanya kau nanti tetap harus ikut berdansa ya!"
"Aku tidak bisa berdansa dan tidak ada pasangan!" jawab Rendi
"Aku tidak mau tau. Kau hanya perlu ikuti aku dan nikmati pestanya. Oke!" ucap Axel lagi menepuk bahu Rendi.
Rendi hanya menyeringai dan menggelengkan kepala. Sementara Axel pamit menyata tamu yang lain.
Rendi langsung menoleh ke seseorang yang sedari tadi mengganggu pikiranya dan mendekatinya.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Rendi pelan "Bang Amer?" sambung Rendi menatap wajah Amer lebih lekat.
Ya...entah bagaimana ceritanya bisa kenal. Amer merupakan salah satu tamu undangan Axel.
"Hhhuuuft....," Amer yang amat sayang Nila dan patuh pada Babanya menghela nafas karena masih kesal ke Rendi.
__ADS_1
Walau Amer tak mempersilahkan dan menjawab, Rendi tetap mengambil bangku dan duduk di dekat Amer.
"Sebagai pengusaha muda yang cakap, aku yakin kamu pandai mengelola emosi dan memilah, apalagi tentang profesionalitas dalam menjalin relasi dan komunikasi!" sindir Rendi ke Amer.
Rendi dan Amer sebelum tahu cerita Oma, kalau Rendi tidak mengakui Nila juga akrab dan suka mengobrol. Tapi kemudian Amer sangat jengkel, Rendi sudah diberi kepercayaan diterima sebagai adik rasa kakak, tapi malah seenaknya ternyata tidak mengakui Nila.
Rendi pun tahu Amer berubah karena marah. Mendapat sindiran Rendi Amer menoleh.
"Jadi ini alasan Bang Rendi selalu sibuk dan tidak memperlakukan adiku dengan baik. Bahkan tak pernah menyapa? Datang ke pesta dengan bebas?" tanya Amer masih emosi balas menyindir.
Rendi pun menggaruk pelipisnya, yang tidak gatal sembari tersenyum. Walau Amer kakak Nila. Rendi tahu Amer jauh lebih muda, tak ubahnya mahasiswanya yang lain. Rendi pun bisa mengenali kemarahan Amer. Tapi dari situ Rendi justru terharu karena kecewanya Amer berarti masih mengingat dia sebagai orang terdekatnya.
"Aku hanya menghadiri, undangan teman. Kamu sendiri kenapa ada di sini? Setahuku Buna juga tak suka Putra- putranya datang ke tempat seperti ini?" jawab Rendi lagi.
"Aku sudah dewasa dan aku tahu bagaimana aku bergaul. Setidaknya orang tuaku bukan Abah Yusuf!" jawab Amer lagi masih terus menyindir Rendi.
Rendi pun menghela nafasnya. Walau bagaimanapun dia tahu dia salah dan dia sadar juga terima kemarahan Amer.
"Aku minta maaf," ucap Rendi merendah dan mengalah.
Amer hanya tersenyum sinis. "Tidak perlu. Sudah tidak guna!" jawab Amer lirih masih dengan muka kecut, ingin terus mengatai Rendi.
Rendi pun terus mengulur ususnya, dia yang salah, dia yang lebih tua.
"Kita bukan Alloh, yang tahu apa yang akan terjadi besok. Jadi aku rasa aku perlu minta maaf!" jawab Rendi masih tetap bijak.
"Hhhh...," Amer tersenyum lagi. "Aku bukan bayi kali!" jawab Amer lagi.
"Ya bukan memang. Makanya orang dewasa pasti akan mudah kan diajak komunikasi dengan baik ketimbang bayi!" jawab Rendi lagi.
"Udah lah. Bang. Aku udah nggak respek sama kamu. Nggak usah banyak basa basi!" ejek Amer lagi.
Rendi hanya menghela nafas. Sebenarnya Rendi paling malas membuka pembicaraan apalagi merendah seperti itu. Tapi bersama Amer, Rendi tidak menyerah.
"Oke..kenal dimana sama Axel?" tanya Amer.
"Bukan urusanmu!" jawab Amer ketus lagi.
"Oke aku lupa, kamu kan pengusaha muda. Ya!" ucap Rendi lagi.
"Aku sudah dewasa tidak muda lagi!" jawab Amer lagi terus ketus ke Rendi.
"Oh ya. Ini malam pesta dansa. Hampir semua orang membawa pasangan. Mana pacarmu?" tanya Rendi bosa basi lagi.
Amer masih terus tersenyum kecut. "Aku bukan pecundang seperti kamu. Aku menghargai dan menyayangi perempuanku!" jawab Amer tegas lagi. Amer sangat emosi sehingga pertanyaan Rendi ditelanya sesuai persepsinya
"Oke baguslah!" jawab Rendi tidak tahu malu meski dibentak dan diketusi tidak menyerah ajak bicara.
"Iyalah aku bukan bajingan sepertimu. Baru saja bercerai sudah memuji perempuan lain. Pakai acara di sembunyikan segala. Kenapa nggak dari awal sih. Tanpa harus nyakitin Omaku dan adiku! Gentle dong bawa istrimu ke hadapan Baba dan adikku! Jadi jelas semuanya! Berani!" ucap Amer lagi menggebu penuh emosi
"He...," sayangnya perkataan Amer justru membuat Rendi terbengong dan ingin tertawa.
Sepertinya Amer salah paham. Istri yang ingin Rendi tunjukan ke Axel kan adiknya Amer.
"Ehm...," Rendi jadi berdehem geli.
Sayangnya Amer masih terus emosi.
"Udahlah. Mendadak gerah aku di sini!" ucap Amer lagi, jadi ingin pergi.
"Tunggu. Sepertinya kamu salah paham!" cegah Rendi ke Amer menahan tanganya untuk tetap duduk.
"Apa sih?" jawa. Ameer mengibaskan tangan Rendi.
Dan di saat yang sama, acara dansa sudah dimulai. Bahkan MC memanggil nama Rendi sehingga Amer dan Rendi langsung menoleh.
Saat Rendi lengah menoleh, Amer pun mengambil jaketnya dan bergegas pergi.
"Amer tunggu!" panggil Rendi. Sayangnya Amer tetap berjalan.
"Haish!" desis Rendi ingin mengejar. Rendi pun mengejar dan menahan Amer di tengah keriuhan pesta..
"Perempuan yang kunikahi hanya adikmu!" ucap Rendi dengan jelas di depan Amer.
Entah Amer dengar atau tidak, tapi Amer hanya menatap Rendi benci dan kemudian berjalan sedikit menabrak Rendi agar menyingkir.
Saat itu juga Axel yang sekarang memegang moc terus memanggil Rendi untuk ikut berdansa. Bahkan menyebut Rendi tamu istimewa dan sahabat terdekat Axel yang katanya memotivasinya.
Kepada teman- temanya. Axel juga cerita, kalau dia membuka toko di negerinya ingin tetap bersahabat dan dekat dengan orang- orang baik seperti Rendi. Tidak seperti saat di negeri orang.
Rekan- rekan Axel selain Amer pun jadi terpusat ke Rendi sehingga mau tidak mau Rendi yang tersipu mendekat.
Akhirnya walau pasanganya Axel, mau tidak mau dan meski kaku. Rendi berada di tengah- tengah temanya yang menari ikut menghormati teman- temanya, berpasangan sejadinya.
Dan di tengah tarian, sang DJ mematikan lampu juga musik sebagai isyarat untuk tukar pasangan secara acak. Rendi yang tidak pernah menari hanya berdiri kaku dan bingung sebab lampunya dimatikan. Hingga Rendi memilih ingin mundur tapi tiba- tiba tanganya seperti ditarik tangan halus untuk kembali menari, dan pyar lampu dinyalakan.
"Valen!" pekik Rendi kaget.
__ADS_1
"Rendi!" jawab Valen pura- pura ikut terkejut.
"Ehm...," dehem Rendi canggung dan kikuk seperti hendak melepaskan tangan Valen. Tapi Valen justru mengencangkan peganganya.
"Tidak apa- apa. Ini pesta. Kita berteman kan. Ayo kita menari!" bisik Valen malah tersenyum.
"Ehm.. aku tidak bisa menari," jawab Rendi merasa canggung dan tidak nyaman.
"Aku ajari!" jawab Valen lagi bersikeras mengajak Rendi untuk menggerakan kakinya mengikuti musik.
Rendi tetap kaku.
"Santai saja. Istri pasti paham kan? Ini pesta. Dia juga tidak mengenalku kan? Semua orang juga menari?" ucap Valen lagi merayu Rendi, meyakinkan Rendi yang mereka lakukan adalah hal wajar dan tidak perlu membuat Rendi canggung.
Rendi mengangguk sesaat dan mengiyakan mau Valen untuk sementara. Mengikuti teman yang lain menari dan mengikuti gerakan Valen. Akan tetapi karena Rendi tidak suka, tetap saka gerakanya tidak pernah kompak. Rendi juga berusaha melirik jam tanganya sehingga tanpa sengaja mereka terjatuh.
"Ah..," pekik Valen mengaduh memegang dan bertumpu pada tangan Rendi.
Rendi pun menahanya.
"Sudah kubilang aku tidak bisa menari sudah saja ya. Aku mau duduk!" jawab Rendi menghentikan tarian mereka.
Valen pun mengangguk.
Rendi kemudian mencari bangku dan duduk di sana. Valen pun tak mau menyiakan kesempatan dan ikut menemani duduk.
"Kenapa kamu mengikutiku?" tanya Rendi.
"Nggak boleh ya? Oke aku balik!" jawab Valen menunjukan wajah tersakiti dan tersinggung.
"Ehm...," Rendi jadi tidak nyaman. "Maksudku bukan begitu. Sepertinya kamu masih ingin menari. silahkan saja. Aku tidak bisa!" jawab Rendi.
"Oh.. nggak sih. Udah cukup. Aku sedikit lelah. Jadi ingin ikut duduk saja!" jawab Valen beralasan
Rendi pun tersenyum kecut. Sebenarnya tidak nyaman, tapi mau bagaimanapun Valen teman lama nya, pernah ada di hidup Rendi. Dan Rendi tidak bisa kasar tanpa sebab.
"Oh. Oke!" jawab Rendi dingin. Mereka pun duduk di tempat Rendi tadi duduk.
"Kamu datang sendiri?" tanya Valen mengulangi.
Rendi mengangguk dan menunduk sesaat. "Ya!" jawab Rendi.
"Katamu kamu punya istri. Tapi kenapa selalu pergi sendiri?" tanya Vallen lagi memancing.
Rendi hanya tersenyum. "Suami istri bukan berarti harus selalu bersama kan?" jawab Rendi ngeles.
"Aku sahabatmu kan? Kenalin dong sama aku!" ucap Valen lagi.
Rendi jadi gelagapan. "Ya!" jawab Rendi singkat.
Valen pun menatap Rendi penuh selidik. "Kamu tinggal dimana?" tanya Vallen menanyakan alamat rumah Rendi.
"Hah?" jawab Rendi tersentak.
"Kata Axel. Kamu udah pindah dari rumah yang dulu. Tinggal dimana sekarang?" tanya Valen sok akrab.
"Oh..," jawab Rendi mengangguk. "Aku tinggal di perumahan Permadani Indah!" jawab Rendi.
"Waah...kamu sekarang benar- benar hebat ya. Itu kan perumahan elit," puji Valen lagi.
"Alhamdulillah, tapi masih seujung kuku dibanding kamu," jawab Rendi merendah. Valen kan memang anak konglongmerat seperti Nila.
"Kamu bekerja keras sendiri. Aku hanya tinggal meneruskan. Hebatan kamulah. Aku harus banyak belajar darimu!" ucap Valen lagi terus memuji Rendi.
Rendi hanya mengangguk tersenyum.
"Kamu buktikan omonganmu? Aku masih ingat saat dulu kamu dimarahi orang tuamu dan kamu cerita ke aku!" ucap Valen lagi dengan tersenyum ria berusaha mengingat nostalgia mereka.
"Ehm...iya!" jawab Rendi hanya tersenyum kikuk.
Rendi dulu memang sempat ditentang orang tuanya saat lolos kedokteran. Orang tua Rendi kan ingin Rendi jadi Kyai, menurut mereka jalan jihad menebar ilmu. Dan dimotivasi Vallen Rendi tetap menentang. Hingga Rendi berujar sendiri. Lewat jalur dokter dia juga akan jadi orang yang bermanfaat.
"Apa kabar orang tuamu?" tanya Valen lagi.
Ditanya orang tua Rendi sedikit kikuk dan jadi malas.
"Baik!" jawab Rendi singkat lalu melihat jam tangan. "Valen maaf. Sudah malam. Aku besom harus ngajar. Aku pulang ya!" ucap Rendi tegas.
Valen pun mengangguk menelan ludahnya kecewa, tapi tetap mempersilahkan.
"Ya. Pamit dulu sama Axel!" ucap Valen.
Rendi melirik ke Axel tampak sedang menikmati musik.
"Pamitin ya! Aku pulang!" ucap Rendi tetap sopan.
Valen mengangguk dan membiarkan Rendi pergi.
__ADS_1
"Tidak berubah!" guman Valen dalam hati. "Sepertinya kata Axel benar. Aku tidak boleh percaya sebelum aku melihat dengan mataku sendiri," batin Valen bertekad.