Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Jangan Cemburu.


__ADS_3

"Anak Gubernur.. ditemukan tewas, setelah diperkosa...," eja Jingga membawa time line berita di Internet.


"Ya Ampun. Astaghfirulloh ini apaan sih?" gumam Jingga menutup mulutnya.


"Apa sih Yang?" tanya Adip ikut menyahut.


Suami istri itu berada di kamarnya. Jingga baru selesai mengAsihi Baby Dipta, lalu bersantai duduk di sofa samping suaminya yang sedang sibuk dengan laptopnya memeriksa hasil jualan pabrik makananya.


"Ini lho Bang. Ngeri banget sih. Mahasiswa coba. Mati dibunuh sama teman kencannya sendiri masih muda pula. Ini lagi nih Tersangka pemganiayaan umurnya15 tahun mengaku sudah dua kali berhubungan. Masa anak pejabat 15 tahun udah pacaran udah pada kaya gini. Ngeri banget sih pergaulan jaman sekarang! Astaghfirulloh.." omel Jingga lagi marah- marah sendiri baca berita.


"Hh...," Adip pun menghela nafasnya. Lalu meninggalkan laptopnya.


Adip kemudian merapat ke istri tersayang, yang badanya sekarang menggendut karena sedang mengAsihi buah hati mereka.


Dengan tangan hangatnya, Adip merangkul Jingga.


"Itulah pentingnya pondasi agama untuk kita Dan anak- anak kita. Kita juga harus jadi orang tua yang dekat dengan anak kita. Jadi figur orang tua sekaligus sahabat," tutur Rendi.


"Itu alasan Baba over protektif?" tanya Jingga.


"Ya jelas! Iya. Baba itu sebenarnya baik?" jawab Adip.


"Bingung aku Abang kadang pro Baba, tapi juga menentang Baba!"


"Ya kan Abang liat masalahnya dulu dan bagaimana Baba bersikap!"


"Hmmm...terus Abang mau memperlakukan Dipta kaya Baba ke aku?"


"Ya nggak Yang. Kita kan mendidik anak sesuai zaman, liat anak kita juga kelak sifat nya seperti apa? Yang penting kita usaha jadi orang tua yang baik untuk anak kita!"


"Maksud Abang. Sifat yang kek mana? Jingga kenapa Baba perlakukan Jingga over?"


"Ya kamu koreksi diri Sifatmu gimana sampai Baba kasih bodyguard. Khawatirnya seorang ayah terhadap anak perempuanya itu berkali- kali lipat!" ucap Adip pelan memberitahu Jingga.


"Ishh... Jingga baik kok..," jawab Jingga manyun.


"Baik. Tapi kalau dikasih tahu tanya baliknya sampai busa busa!"


"Hehe!" jawab Jingga terkekeh.


"Gini Yang. Baba sebagai laki- laki dengan pergaulan yang luas itu ngerti isi otak laki- laki itu gimana? Di luar sana seperti apa. Beda kalau anaknya laki- laki! Baba itu tahu kelemahanmu!" lanjut Adip lagi.


"Terus kalau anak laki- laki dibiarin? Anak laki juga ngeri Abang. Pedofil juga banyak perilaku penyimpangan orientasi seksu al juga banyak! Apalagi berantem- berantem gitu? Tetep aja Baba nggak adil!" lanjut Jingga lagi.


"Ya anak laki- laki tetep kita perhatikan juga. Tapi caranya beda?"


"Tetep aja! Harusnya nggak dibedain. Amer sama Ikun lebih bawel!" cibir Jingga.


Dulu Jingga merasa iri ke adik- adiknya yang oleh Baba cenderung diberi kepercayaan banyak.


"Nggak adil gimana?"


"Ya dulu Amer sama Ikun dibolehin pergi- pergi kemana- mana. Bergaul dengan siapa aja. Dibolehin naik motor juga. Sekolah juga bebas memilih!" adu Jingga lagi.


"Ya pasti Baba punya alasan! Terus sekarang bahas ini apa untungnya buat kamu? Kamu sekarang udah jadi ibu? Mau balik jadi remaja lagi? Mau ketemu sama cowok kaya yang diberita yang kamu baca?"


"Ish ya enggak! Jingga lagi mikir buat Dipta ke depan dan Nila juga!"


"Oh. Nih Abang kasih tahu. Baba bolehin Amer dan Ikun bebas. Sebab kelak Amer dan Ikun akan jadi kepala keluarga, pemimpin perusahaan juga, lindungi kamu, keluarganya Buna juga. Dia butuh cakap dunia luar. Jadi wajar Baba begitu! Anak kita kelak juga gitu! Beda sama kebutuhan kamu!"


"Ya perempuan juga keren Bang kalau begitu!" jawab Jingga lagi. "Kan emansipasi?"


"Aih. Ya emansipasi, tapi kalau anaknya bisa bergaul. Lihatlah diri kamu. Amer dan Ikun Baba beri kepercayaan, dia bisa bela diri dan bertanggung jawab. Nah kamu nggak pernah kenal dunia luar digombalin Tama aja luluh. Gimana kalau Baba bebasin? Kamu diajak dugem? Diajak main bebas?" ejek Adip lagi.


"Iih lecehin aku? Apaan sih Tama- Tama" cibir Jingga kesal.


Adip kemudian tertawa.


"Lah iya kan bener. Kenapa Baba larang kamu kenal ini itu main itu ono! Ya karena Baba tahu kamu, mudah dibohongi. Harus kenceng dikasih tahunya dan dijagainya!" ucap Adip terang- terangan ejek Jingga.


Jingga pun hanya diam manyun. Tapi Adip masih lanjut ceramah.


"Kalau anak cowok kan yang gombali Sayang. Yang penting kita kasih bekal yang kuat agar hidup baik. Biar dia tangguh hadapi dunia luar! Tanggung jawab. Dan sebagai orang tua. Jadilah sahabat anak cowok kita biar kita bisa jadi teman yang awasi dia!" lanjut Adip lagi.


"Hmmm... yaya semoga Dipta jadi anak baik!"


"Insya Alloh baik. Tapi kita juga baik dulu, insya Alloh, Alloh jaga kok!"


"Abang lagi ngatain Jingga?"


"Nggak! Abang lagi ngasih tahu kamu jangan suudzon sama Baba. Juga belajarlah kita jadi orang tua yang baik. Katanya kamu nggak pengen anak kita kaya di berita itu!


"Iya iya.. ish amit- amit. Naudzubillah. Ngeri nggak nggak! Oke Jingga belajar!" jawab Jingga.


"Satu lagi!"


"Apa?"


"Menurut Abang. Kalau emang Nila jatuh cinta dan suka sama Pak Rendi nggak ada salahnya lho mereka lanjutin pernikahan mereka. Pak Rendi belum tua tua amat kok, masih nyambung lah 15 tahun doang! Ini lebih baik kan untuk Nila?" tutur Adip menghubungkan ke Nila.

__ADS_1


Mendengar kata Adip Jingga langsung bengong dan berfikir. Buat Jingga anak umur se Nila menikah itu menggelikan membayangkan mereka melakukan hubungan suami istri yang belum waktunya. Tapi ternyata dunia luar sebegitu mengerikan. Sedang marak lagi, dan mereka menyembunyikan dari orang tua mereka.


"Kok ngalamun?" tanya Adip.


"Nggak kebayang aku kalau Nila nikah? Melakukan itu? Tapi kalau dia kenal cowok nggak bener dirayu- rayu nggak ikhlas juga. Diawasi ketat nggak nyaman juga? Bingung Jingga, kasian juga kalau nikah? harusnya kan Nila seneng- seneng! Ini kan jaman modern!"


"Kenapa bingung orang Nila bahagia milih jalan ini. Suaminya kan sudah matang dan mapan. Nila juga lebih dewasa pemikiranya dari kamu!"


"Ish Abang. Aku kasian Bang. Pak Rendi kan udah tua. Nila masih muda. Kalau nunda anak emang nggak kasian Pak Rendi. Tapi kalau Nila punya anak. Kasian Nila! Nila berhak menikmati masa muda, berkarir?" sambung Jingga


"Kan Abang udah cerita ke kamu kan? Abang udah tanya. Pak Rendi santai selow, Baba aja yang udah umur 50 masih keluar Uung. Pak Rendi kan santrii nya banyak.


"Pak Rendi bilang ke Abang akan dukung Nila sepenuhnya jika Nila ingin berkarir! Nunggu 3 tajun dia juga bersedia kan tanpa nyentuh Nila! Kan yang penting Nila ada yang jaga, insya Alloh nggak diragukan lagi asal usul dan pertanggung jawabanya. Bang Adip sih acc!" sambung Adip ke Jingga.


Rupanya, Adip sedang merayu Jingga agar tidak bersungut- sungut terus dan berfikir positif terhadap Rendi dan Nila.


Jingga masih diam dan berfikir.


"Oh gitu? Tapi Jingga takut Nila disakiti. Emang Pak Rendi beneran udah move on dari aku?" celetuk Jingga dengan polosnya kepedean.


Adip pun langsung melengos.


"Hmmm...kepedean!" ejek Adip.


"Ya.. ya kali!" jawab Jingga mencibir.


"Tah. Ada kaca sana berdiri. Ngaca!" ucap Adip sembari berdecak. "Badanmu udah gendhut begini!"


"Hehe...," Jingga pun terkekeh.


"Bener kan? Kamu yang belum move On! Udahlah sana lah. Abang sama Dipta aja!" ujar Adip merajuk dan melengos bangun.


"Iih. Nggak Bang. Nggak.. jangan ngambek?" ucap Jingga lalu bangun dan mengejar suaminya. Jingga pun memeluk Adip dari belakang.


"Jangan ngambek. Jingga kan cintanya cuma sama Bang Adip!" ucap Jingga mengeratkan pelukanya.


Moment dimana Dipta tidur adalah waktu berharga untuk mereka. Adip pun menepuk telapak tangan Jingga yang bertumpuk di perutnya.


"Jangan halangi Nila, ya. Kasian.. Baba juga dosa. Kan Baba sendiri yang ijabin. Mereka cuma kurang komunikasi aja!" ucap Adip kemudian dengan tenang.


Jingga menghela nafasnya sesaat, lalu menyandarkan kepalanya di bahu belakang Adip. "Jika Nila bahagia Jingga akan dukung. Bang!" jawab Jingga akhirnya.


Adip kemudian mengurai lengan Jingga. Berbalik menatap Jingga tersenyum.


"Cup...," Adip mendaratkan kecupan di kening Bening. Lalu mereka saling tatap dan tersenyum memberi kode.


*****


3 tahun lalu, Rendi juga pernah menghukum Jingga dengan hukuman yang hampir sama.


Bukan Rendi tidak kreatif atau menyamakan, tapi wewenang Rendi kan memang di situ.


Awalnya Rendi juga tidak berniat menghukum Nila, Rendi juga sangat khawatir saat melihat bangku Nila kosong.


Akan tetapi teman- teman Nila yang memberi celah bagi Rendi. Rendi pun menganggap ini semua adalah hadiah dan kesempatan tidak boleh dibuang.


Dengan sedikit mencebik kesal, Nila berjalan malas ke bangku depan di mana I-pad Rendi. Nila mematuhi Rendi sebagaimana mestinya.


Rendi pun melanjutkan kuliahnya, bahkan lebih semangat dari sebelumnya. Tidak jarang juga Rendi menyelipkan penjelasan yang melenceng dari materi utama sehingga Rendi terlihat keren.


Rendi juga curi curi pandang ke Nila dengan sangat halus, dengan dalih minta di next slide atau back slide sebelumnya.


Di setiap perintah itu Rendi selalu memancarkan senyum yang penuh arti juga sorot tajam untuk Nila. Tapi entah apa ada orang lain yang paham.


Sepersekian menit waktu ceramah yang mereka sepakati usai. Sekarang waktunya Rendi memberikan post test.


“Mbak Nila… kumpulkan ya!” ucap Rendi dengan tatapan penuh artinya memanggil Nila Mbak.


Nila jadi canggung sendiri.


"Ya..Dok!” jawab Nila malas, dalam hati Nila dongkol dan mencebik, nggak jelas banget sok- sokan panggil Mbak Nila segala.


“Buat semuanya, kalau mau pulang tepat waktu berangkatnya juga tepat waktu! Begitu ya Mbak Nila?” ujar Rendi. Sok- sokan lagi mengajari dan menjadikan Nila contoh yang buruk. Mahasiswa pun mengiyakan.


Nila hanya mencebik kesal. Rendi dan Nila sedang ada masalah pribadi yang berat, Rendi yang buat Nila nangis, bisa- bisanya di kelas malah jadikan Nila bullian telat.


Tidak peduli Nila lagi Rendi memberitahu. Siswa yang mengerjakan cepat, boleh pulang lebih dulu dan mengumpulkan kertas jawabanya ke Nila. Sementara Nila menunggu semua teman- temanya selesai. Rendi memberikan kepercayaan dan kedewasaan ke Mahasiswanya untuk mengerjakan tanpa diawasi. Rendi pamit undur diri.


“Antar ke ruanganku, ya!” ucap Rendi lagi ke Nila mengedipkan matanya.


"Hoh?" pekik Nila sedikit gagu. Tapi Rendi secept kilat langsung mengalihkan muka dan berjalan keluar.


Nila hanya mengernyit membiarkan Rendi menghilang dari kelasnya. "Apa yang dia rencanakan?" gumamnya. Nila kemudian fokus lagi ke soal di hadapanya.


Dita yang baik pun mngerjakan soal paling akhir, berniat membantu Nila menunggu semua jawaban teman terkumpul.


Awalnya Nila menngangguk bahagia menyambut Dita. Akan tetapi sesaat, saat Nila hendak mematikan I-Pad Rendi, Nila kembali terbelalak.


Layar utama I Pad Rendi ternyata foto puisi Nila. Iya itu tulisan tangan Nila, saat Nila mengungkapkan betapa rindu Rendi, menantikan waktu yang orang tua mereka janjikan tiba. Di pojok layar juga ada foto Nila.

__ADS_1


Diam- diam Rendi punya bakat desain, Nila juga tidak menyangka Rendi punya waktu melakukan hal tidak berguna begitu.


“Gleg,” seketika itu, wajah Nila memerah dan Nila menutupnya agar Dita tidak melihat.


“Ternyata ada paparazzi? Aku harus tanya, ish nyebelin? Kapan dia foto- foto aku?” gumam Nila hatinya mengembang namun akalnya malu- malu kesal.


“Dit!” ucap Nila ke Dita.


“Ya!”


“Aku ngumpulin sendiri aja!” ucap Nila berubah pikiran. Nila pun berfikir kalau mau bertanya ke Rendi tidak boleh ada Dita.


“Yakin?” tanya Dita,


“Iya, kamu duluan aja. Kan aku yang dihukum!”


“Ish nggak apa- apa sih? Kalau aku seneng di hukum dosen ganteng gitu! Cuma nggak mau kalau Nilainua dikurangi,” jawab Dita dengan polosnya.


“Ehm…,” Nila berdehem, kupingnya mendadak panas tidak suka dengan jawaban Dita.


“Bukan gitu, nanti dikira aku ngrepotin kamu dan nggak ngerjain sendiri. Males kalau di kasih tugas tambahan. Duluan aja ya!” ucap Nila lagi sedikit memaksa kalau Nila ingin menemui Rendi sendiri.


Dita pun menatap Nila sejenak, Dita sedikit merasa aneh, Nila kekeh mau sendiri, tapi otak Dita kali ini tidak menangkap apapun, tidak ada aura modus di wajah Nila seperti dirinya. Dita pun mengangguk.


Begitu Dita pergi buru- buru, berjalan ke ruang Rendi. Sesampainya di ruang Rendi seperti biasa, pintu terbuka, tapi tidak ada orang. Nila mengetuk pintunya hati- hati, tapi tidak ada jawaban.


“Hhh… kemana dia?” gumam Nila kecewa Rendi tidak ada. Padahal dia sudah menebak Rendi mau menungunya. Tadi kan Rendi mengedikkan mata seperti beri kode “Tau gini aku ajak Dita? Kenapa aku kecewa ya?"


Nila jadi celingukan bingung, biasanya kan Nila hanya lewat area kantor ini dan mengintip, belum pernah benar- benar masuk.


Nila kemudian memilih berdiri di depan pintu dengan setumpuk kertas di tanganya. Walau sebenarnya itu ruangan suaminya Nila tetap canggung dan takut.


“Sedang apa Mbak?” sapa dosen Lain yang kebetulan mengajar Nila juga.


“Mau ngumpulin tugas, Prof! Tapi Dokter Rendi tidak ada!” jawab Nila.


Profesor itu melirik ke ruang Rendi. “Lagi dzuha biasanya Dokter Rendi jam segini, masuk aja, taruh ke meja!” ucap Profesor itu.


“Oh, gitu Prof?”


“Ya!” jawab Profesor itu kemudian berlalu.


"Dzuha?" gumam Nila mendadak tersenyum sendiri. "Kenapa aku selalu suudzon ke dia?"


Karena sudah diijinkan. Nila masuk. Sesampainya di dalam Nila memeriksa sekeliling, rupanya di ruang Rendi ada cctv semua benda juga terkunci pantas di biarkan terbuka.


Nila yakin universitasnya ini terbaik, ruangan dosen dimana di kampus lain satu ruangan besar dan hanya bilik penyekatnya, di sini dosen punya ruang sendiri. Walau tak seluas ruangan kerja di kantor Baba, atau kantor pejabat, tapi ini lumayan nyaman.


Bahkan ada lemari, mejanya juga ada dua. Satu meja bersih dengan satu computer dengan satu kursi empuk tidak ada kursi di depanya.


Satu meja lagi terdapat beberapa berkas tertinggal, di meja ini ada kursi berhadapan, sepertinya itu kursinkhusus untuk tamu atau bimbingan, kalau yang bersih untuk bekerja. Sedetail itu dan dibuat senyaman itu.


“Aku taruh disini kali ya?” gumam Nila berfikir


“Apa aku telpon dia saja? Ish...kenapa dzuha nggak ajak- ajak dan mengerjaiku begini? Sebbel?” gumam Nila berniat mau telpon Rendi dan mengambil ponselnya.


Tapi sesaat tangan Nila terhenti, ada yang aneh.


Nila dibuat gagal focus saat matanya memperhatikan dengan seksama ada selembar kertas di dekat komputer.


Nila kemudian membaca kertas di atas meja bersih itu, iya itu kunci jawaban yang Nila harus koreksi.


“Hhhh…,” Nila pun mendengus. Nila ternyata di suruh mengerjakan tugasnya sendiri. Karena di ruangan itu ada cctvnya. Nila merasa aman mengerjakan tugasnya. Sepertinya di kampus Rendi memang profesional membiarkan Nila menjadi mahasiswa.


Nila pun mengambil kertas koreksian itu, melakukan tugas sebagai mana mestinya dengan serius.


“Matanya jangan dekat- dekat gitu bacanya!” tiba- tiba Rendi sudah dibelakang Nila mengagetkan Nila.


Nila sampai hampir berjingkat, "Pak Rendi?" cibir Nila manyun. Masuk nggak pakai ketok atau salam. Tapi Rendi malah tersenyum dan duduk di samping Nila sangat dekat.


“Mau minum apa?” tanya Rendi mencondongkan wajahnya menatap Nila lekat.


“Saya nggak haus, Pak” jawab Nila kikuk. Di situ ada cctv pintu juga terbuka. Nila takut ada yang lewat dan lihat.


“Ck.. kita cuma berdua. Jangan panggil aku Pak. Aku suamimu. Katakan mau minum apa?" jawab Rendi lagi malah semakin mendekat ke Nila.


Nila jadi semakin dheg- dhegan dibuatnya. "Hh...," Nila menghela nafasnya lalu melirik cctv.


"Nila nggak haus. Tolong jangan diganggu. Nila sedang mengerjakan tugas dosen yang menyebalkan!" jawab Nila menunduk tidak kuat ditatap terus oleh Rendi.


Rendi jadi tersenyum semakin tidak ingin mengedipkan matanya terus menatap Nila.


"Aku nggak mau kamu kaya kakakmu kelaparan di sini,” ucap Rendi malah tiba- tiba ingat Jingga dulu.


“Gleg! Kakak?” spontan Nila langsung mendongakan kepala mendengar kata Kakak. Raut Nila yang tadi manyun tersipu menyurut redup.


“Jangan cemburu. Aku tinggal pergi kok Kakakmu, dia juga telat, makanya ku suruh buat laporan Nilai di sini! Kalian kok kompakan sih telat? Jarang lho ada siswi berani telat di kelasku?" jawab Rendi malah mengejek, sembari menatap Nila dengan penuh cinta. Sebenarnya Rendi sedang memancing kenapa Nila telat dan ingin mereka mengobrol.


"Ehm...," Sayangnya, walau ditegur jangan cemburu, hati Nila tetap merasa tidak nyaman. Apalagi disamakan dengan kakaknya.

__ADS_1


Nila kembali menunduk menahan cemburu dan malas jawab Rendi.


__ADS_2