Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Siska.


__ADS_3

Tepat pukul 18.15 Mobil sport mewah berwarna hitam, bahkan hanya bannya saja sudah terlihat gagah dan besar masuk ke pelataran rumah Baba.


Hujan masih deras hingga halaman rumah Baba hampir gelap dan kilau lampu terlihat temaram.


Pak Iman yang hendak pulang, tampak duduk di teras rumah samping Baba. Pak Iman mau pulang kerja tapi tanggung menunggu bakda maghrib juga hujan. Pak Iman bergegas bangun melihat deru mobil besar itu mendekat.


Pak Iman tanggap, Pak Iman langsung memegarkan payung besar yang ada di dekat pintu garasi lalu mendekat ke pintu mobil besar yang terpaksa parkir di depan halaman rumah tidak masuk ke garasi besar Baba.


"Mari Den?" tawar Pak Iman sigap menjemput Tuanya.


"Makasih Pak. Jadi repotin!"


"Nggak apa- apa Den!"


"Ck. Ini mobil siapa sih parkir di tengah jalan begini?" keluh Tuan Muda yang Pak Iman payungi.


Rendi parkir di depan menghalangi pintu ke rumag khusus garasi. Amer jadi kesal seharusnya kan tidak harus menerjang hujan jika langsung masuk ke garasi.


"Suaminya Non Nila, Den!" jawab Pak Iman


"Srek!" Amer langsung berbalik sampai Pak Iman kaget dan payungnya terbalik.


"Suami?" pekik Amer bertanya geram.


Pak Iman malah kewalahan mengambil payungnya tidak menjawab. Amer mengeratkan rahangnya tidak punya simpati ke Pak Iman yang jadi basah.


Otak Amer mendadak panas. Tidak mendapatkan jawaban Amer hanya melirik ke mobil Pajero hitam di dekat mobilnya, kenapa dia lupa? Ya. Plat nomer Rendi kan juga kustom iya itu nomer Rendi.


Tidak peduli Pak Iman Amer langsung ke rumah besar Babanya. Kebetulan di dalam ada Bu Ida yang sedang menutup tirai- tirai rumah mengingat sudah malam


"Bu Ida kok sepi? Baba dan Buna kemana? Di depan ada mobil tamu kemana?" tanya Amer gugup mengira di ruang tamu sedang ada percakapan besar dan keluarganya kumpul.tapi ternyata begitu lengan.


"Tuan ke kantor. Nyonya juga Nyonya besar dan den Biru, den Iya, Non Vio ke panti. Non Nila dan suaminya di kamar!" jawab Bu Ida jujur.


Gleg. Amer langsung melotot. "Suami? Di kamar?"


"Iya?"


"Ngapain?"


"Ehm ... ya saya nggak tahu, Den. Sejak datang sampai sekarang belum keluar!" jawab.Bu Ida jujur.


"Kurang ajar. Kok bisa Nila bareng pria itu lagi sih?" gumam Amer bergegas naik ke atas.


****


Di atas.


Guyuran air hujan turun cepat, membuat hambur suara adzan menambah dingiin suasana kamar dan memacu alami tubuh untuk saling menghangatkan.


Baik Rendi dan Nila sama- sama merapat dalam keadaan setengah sadar. Apalagi tubuh Nila yang kecil sementara Rendi tinggi berisi. Nyaman sekali berlindung dalam dekapan hangat suaminya.


Nila pun terpejam meringkuk, sementara Rendi mengungkung erat Nila, hangat dan nyaman.


Hingga tiba- tiba ponsel Rendi bergetar dan Rendi terbangun lebih dulu. Begitu membuka mata dan melihat Nila ada di dekapanya. Rendi tersenyum senang


"Tidak bisa diandalkan?" gumanya merasa payah sendiri dengan dirinya dan Nila.


Niatnya menunggu Maghrib sambil pijatan malah keduanya KO. Rendi melirik ke jam lucu dengan karakter panda di kamar Nila. Sudah waktu maghrib. Sebenarnya sangat sayang untuk mengakhiri pergumulan hangatnya itu. Tapi Rendi sadar diri. Waktu maghrib hanya sebentar, itu juga di rumah mertua.


"Dhek... bangun udah maghrib!" panggil Rendi mengelus kepala Nila.

__ADS_1


"Emmt..." bukanya bangun Nila malah semakin ndusel, mengenduskan kepalanya ke pertengahan dada dan perut Rendi.


"Ehm..." iman Rendi jadi goyah. Mau bangun atau memeluk sebentar lagi ternyata rasanya sangat nyaman berpelukan di suasana yang dingin itu.


"Cup...," Rendi balas menekuk kepalanya mengecup kepala Nila. Meski begitu dia tetap berbisik ke telinga Nila sembari menepuk bahunya.


"Em...," Nila pun terbangun, dan seketika itu Nila membelalakan matanya menyadari wajahnya menghadap ke dada bidang Rendi.


"Ehm...," secepat kilat Nila langsung mundur menjauhkan badanya tapi Rendi langsung menahanya dan mereka kini saling tatap masih Nila dalam pelukan Rendi.


"Bangun udah maghrib...!"


"Ehm...iyah!" jawab Nila belingsatan tidak nyaman malu.


Nila segera mengurai tangan Rendi dan bangun.


"Sok kamu wudzu dulu!" ucap Rendi mempersilahkan.


Nila tidak menjawab, selain malu, wajahnya masih muka bantal dan kepalanya peninh karena tidur baru lelapnya tapi dibangunkan. Nila hanya langsung berjalan cepat masuk kamar mandi.


Rendi tersenyum tidak ingin bahas apapun, dia tahu tanpa disinggung atau disalahkan Nila pasti sudah merasa.


Sembari menunggu Nila wudzu, Rendi meraih ponselnya, membuka sejenak masih santai di atas tempat tidur menyandarkan kepalanya di tumpukan bantal ranjang Nila.


"Nila!" pekik Amer dengan leluasa membuka kamar adiknya.


Rendi yang sedang iseng menscroll ponselnya langsung menoleh. "Amer?" pekik Rendi menyapa.


Sementara Amer melihat Rendi berbaring nyaman di atas kasur adiknya juga terdengar gemericik air di kamar mandi langsung emosi. Amer berjalan maju langsung menyambar Rendi.


"Apa yang kamu lakukan terhadap adikku?" tanya Amer emosi, Amer meraih krah koko Rendi yang sedang dduduk di atas kasur.


"Apa maksudmu Mer?" tanya Rendi kaget berusaha melepas cekalan tangan Amer


"Auh...," Rendi yang bangun tidur tidak siap berkelahi hanya mengaduh tidak menangkis.


"Bug!" tidak puas Amer melempar bogeman lagi sampai Rendi berdarah dan tercipta bercakan darah di atas kasur Nila.


"Hhh...," Amer bernafas ngos- ngosan melihat Rendi memegang pipinya menahah sakit.


Dan saat itu juga Nila keluar kamar mandi dengan wajah basah setelah ambil air wudzu.


"Kakak!" pekik Nila kaget.


Tapi Amer dan Rendi tidak menghiraukan Nila.


"Kamu apakan adiiku? Mentang- mentang tidak ada Baba? Berani kamu!" omel Amer bersiap memukul Rendi lagi


Tapi kali ini Rendi bangun dan menangkis.


"Kakak hentikan!" pekik Nila histeris.


Sayangnya walau sudah ditangkis, Amer masih berusaha menendang Rendi. Rendi pun mengeluarkan jurusnya, menarik tangan Amer ke belakang, membekuk Amer agar terguling ke tempat tidur.


Nila mendekat, "Mas ini ada apa? Kakak kenapa?"


"Kakak yang tanya. Kamu yang kenapa?" bentak Amer berusaha melepaskan cekalan Rendi dan masih mau marah.


Walau rahangnya sakit, Rendi berusaha tenang dan menahan Amer.


"Abang kita bau alkohol, Dhek. Jangan mendekat?" ucap Rendi santai

__ADS_1


Nila melotot takut dan bingung. "Tapi lepasin Kak Amer, Mas!" ucap Nila.


"Tau apa kamu jangan asal nuduh! Lepasin!" sahut Amer berusaha lepas dari kungkungan tangan Rendi.


Amer tidak tahu saudara iparnya ini kan juga jago pencak silat. Di Pesantren Bambu teduh juga ada mata pelajaran wajib pencak silat.


"Rekan bisnis macam apa yang baru kamu temui. Sejak kapan anak Buna kenal alkohol. Hah?" tanya Rendi ternyata tahu dari pakaian dan mulut Amer Rendi membau alkohol itu sebannua Amer bersikap brutal dan lepas kendali. Rendi tidak mau melepas Amer dan tetap menahanya sekuat tenaga.


"Bukan urusan kamu breng sek. An jing!" Amer pun berusaha melawan dan malah mengumpat.


Mendengar kakaknya berkata kasar Nila semakin mengernyit.


"Kakaak!" pekik Nila. "Kakak istighfar? Kok kakak ngomongnya kasar? Kakak beneran mabuk? Khamr itu haram kak? Buna dan Baba marah kalau tahu Kakak begini?" ucap Nila dengan polosnya merasa kecewa


"Kamu nggak tahu apa- apa. Kakak yang harusnya marah ke kamu. Kenapa kamu bawa laki- laki ke kamarmu! Argh!" omel Amer lagi masih tengkurap di atas kasur ditahan oleh Rendi.


"Dhek.. sholatlah sendiri. Waktu maghrib akan cepat habis!" ucap Rendi lembut meminta Nila, menjauh sembari mengedikkan mata.


Nila menelan ludahnya dan melirik jam. Rendi kembali mengisyaratkan agar Nila sholat saja.


Nila mengangguk patuh. Dia harus percaya suaminya. Nila pun menjauh ke sisi kamar Nila tempat Nila sholat membiarkan Rendi menyelesaikan urusanya dengan Amer.


Karena Rendi mengendurkan tahannan tanganya, Amer berhasil lolos langsung membalikan badan ingin kembali menyerang Rendi.


Rendi menangkis lagi.


"Kamu tidak lihat adikmu hendak sholat. Tidak baik bertengkar di kamar begini. Sejak kapan kamu jadi pemarah dan kasar, hah? Duduklah!" ucap Rendi santai menanggapi Amer selayaknya menghadapi mahasiswanya yang masih labil. Rendi bersikap tenang tanpa marah sedikitpun.


"Kamu pantas dikasari!" ucap Amer menatap Rendi penuh benci dan berusaha melepas tanganya ingin menyerang Rendi lagi.


"Baba yang mengundangku ke sini. Buna juga yang memintaku istirahat di sini!" ucap Rendi memberitahu sembari melepaskan tangan Amer.


Amer melotot dan tersentak mendengarnya.


"Sudah kujelaskan kan? Aku masih suami adikmu. Oma terbawa emosi saat itu, ada yang perlu aku luruskan, apa yang terjadi saat itu." ucap Rendi.


"Kamu bohong!" jawab Amer membenarkan diri.


"Kamu boleh menganggapku bohong. Tapi kenyataan tetap akan berbicara apa adanya. Oh ya? Setahuku mertuaku tidak mentolelir putranya bergaul dengan alkohol. Kamu habis meeting dengan Axel dan Roger kan? Apa di sana juga ada perempuan? Menurutmu apa komentar Oma dan Buna jika melihatnya!" tanya Rendi malah menyerang halus ke Amer dengan mengerlingkan wajahnya.


Amer menyipitkan matanya. Darimana Rendi tahu semua itu.


"Nggak usah ngawur kamu!" ucap Amer mengelak.


"Aku memang adik iparmu. Tapi aku lebih tua darimu. Sopanlah sedikit!" ucap Rendi lagi sembari menepukan kedua tanganya yang terasa kebas setelah menahan Amer.


"Tau darimana kamu tentang Axel dan Roger?" tanya Amer nyalinya menyurut.


Amer lupa, Rendi kan usianya 11 tahun lebih tua darinya, tentu saja pergaulan, wawasan dan kematanganya berbeda darinya.


"Aku peringatkan ke kamu," ucap Rendi pelan, "Kakak!" lanjut Rendi menekankan dengan menyindir.


"Apapun bisnis dan kerjasamamu dengan mereka. Putuskan dan selesaikan jika mentalmu belum sekuat Baba. Kamu belum kenal Siska kan?" ucap Rendi lagi.


Amer semakin gelagapan. Semua yang diucapkan Rendi benar. Sebenarnya Amer juga sedang dirundung masalah dan kebimbangan. Darimana juga Rendi tahu nama Siska, gadis manis yang membuatnya patah hati dan hampir tertipu.


Amer tidak menjawab karena dia memang sedang sangat marah me Siska.


"Puk.. puk...," Rendi kemudian meraih bahu Amer pelan. "Mandilah. Waktu maghrib cuma sebentar. Aku akan tutup mulut ke Baba dan Buna kalau kamu juga bantu aku dan Nila!" bisik Rendi ke telinga Amer.


Amer membeku, sementara Rendi berlalu menuju ke kamar mandi untuk ambil air wudzu.

__ADS_1


Amer kemudian melirik ke Nila yang sedang sholat. Tidak ada hal buruk yang terjadi dengan adiknya.


__ADS_2