
“Huuft…astaghfirulloh..astaghfirullohal'adziim,”
Nila berjalan cepat menjauhi teman- temanya, entah dia sendiri tidak tahu, dadanya terasa begitu sesak. Dia ingin segera bernafas bebas setelah dia sudah mendapatkan jatah tugas yang jelas, apa saja yang harus dibawa besok.
“Hhhh....Apa aku salah ambil jurusan seperti kata Kak Jingga? Huuft kenapa jadi begini?” batin Nila menerawang jauh setelah sampai di halaman kampus.
Nila menghubungi Baba kalau dia sudah siap dijemput.
“Maaf, Sayang, Baba sedang ada meeting, kamu hubungi Pak Iman ya!” ketik baba melalui pesan whastapnya.
“Hhhh…,” Nila pun menghela nafasnya kecewa. Nila ingin cepat pulang tapi malah Baba sibuk. Nila pun mengedarkan pandanganya ke sekitar.
Di depanya ada satu pohon besar dan rindang yang di bawahnya terdapat bangku permanen yang terbuat dari semen.
Nila pun memilih duduk di situ sembari mengetik pesan ke Pak Iman supir Nila, dan menunggu balasanya.
Sembari menunggu, Nila meraih tasnya, mengambil air mineral bekal dia yang masih tersisa. Dengan mengucap bismillah, Nila meneguk dan menghabiskan sisa bekal minumnya itu.
Pandangan matanya tertuju ke tempat yang tak berarah, walau di yang tertangkap netranya gedung tinggi disertai pepohonan rimbun dan taman kampus, tapi yang terlihat di benak Nila tentang semua yang dia alami di hari pertamanya ini.
“Kenapa semua memujinya? Dia itu pria pecundang dan menyebalkan? Ish…,” gumam Nila memilin jarinya kesal sendiri.
Namun sesaat, Nila juga menyadari, dia juga pernah melakukan hal yang sama. “Aku juga pernah mencintainya? Aku juga pernah jatuh hati denganya?” lirih Nila mengakui dengan perasaan malu.
"Apa itu berarti dia tidak mengakuiku karena mempunyai perempuan lain di hatinya? Astaghfirulloh, kenapa sesesak ini rasanya?"
“Nggak, aku nggak mau salah dua kali. Sayangi hatimu Nila. Dengarkan kata Baba dan Kak Jingga. Ingat Nila, tampan saja tidak akan membuat kita bahagia apalagi masuk surga! Cintaku buat Baba dan keluargaku, cintaku buat Alloh,” gumam Nila berbicara sendiri, mulutnya komat kamit dan memejamkan matanya.
Nila tidak tahu, bahwa dirinya yang focus dengan lamunan sendirinya itu jadi tontonan beberapa pasang mata di balik jendela dan di ujung persimpangan jalan di kampus itu.
****
"Apa yang sedang dia pikirkan?"
“Kenapa semakin dilihat, dia semakin menggemaskan? Aku masih punya kesempatan kan? Tidak berdosa kan jika aku ingin dia menjadi milikku?” gumam Rendi.
Nila tidak tahu, di dekat pohon tempatnya berteduh itu, ada satu gedung, dan di situ ada kelas kakak tingkat Nila dimana Rendi sedang mengajar. Dan dari celah jendela Rendi memperhatikan Nila.
Tidak mau menyiakan kesempatan, karena memang sudah waktunya berakhir, Rendi menyelesaikan kelas, dan ingin kembali mendekati juga membujuk Nila.
Setelah mengucap salam, Rendi pun buru- buru keluar.
“Gleg!” sayangnya Rendi harus menahan kakinya untuk melangkah dan berhenti di dekat tiang penyangga teras gedung itu.
Nila yang tadi sendiri kini Nampak ada yang menghampiri. “Hooh…, apa aku terlambat? Seperti saat Jingga dulu?” gumam Rendi mengepalkan tanganya mendapati pemandangan tak sedap.
"Kenapa dia terlihat sangat manis dan bahagia saat tertawa dengan pria itu? Tidak bisakah dia tertawa denganku saja?" gumam Rendi kesal dan frustasi sendiri. Karena kenyataanya dia justru membuat Nila menangis dan marah.
“Sore Pak!” sapa mahasiswinya membuyarkan lamunan Rendi.
__ADS_1
“Ya!” jawab Rendi terpaksa menoleh ke mahasiswinya.
“Saya mau ngumpulin tugas Pak!” jawab Mahasiswi itu membawa setumpuk makalah, “Ehm..oke,” terpaksa Rendi mengalihkan bidikanya dan mengurusi tanggung jawabnya.
****
“Hai Niil,” sapa Hanan membuyarkan lamunan Nila.
Nila yang sedang melamun langsung tersentak malu dan gelagapan.
“Bang Hanan?”
“Kamu lagi apa di sini sendirian?” tanya Hanan.
“Ehm…lagi, lagii nunggu jemputan,” jawab Nila.
“Oh… boleh aku duduk di sini?”
“Silahkan,” jawab Nila.
Hanan kemudian ikut duduk di samping Nila. Nila sebenarnya tidak nyaman berduaan dengan laki- laki, hanya saja, itu tempat terbuka dan Nila berfikir akan segera pergi saat supir datang. Mereka pun kini duduk bersebelahan dan terlihat akrab.
“Kamu dapat kelompok apa? La?” tanya Hanan lagi.
“Demensia,” jawab Nila.
“Oh. Besok pakai dresscode apa? Udah fiks, mau kasih pertunjukan apa?” tanya Hanan membuka obrolan.
“He..… rahasia dong? Masa dikasih tahu, besok nggak excitide, kelompok Bang Hanan sendiri gimana?” tanya Nila.
Hanan pun mengedikkan bahunya, karena Hanan satu kelompok dengan Celine dan kawan- kawan.
“Kok gitu? Bang Hanan, kelompok apa memangnya?” tanya Nila lagi.
“Kelompok Hepatitis!” jawab Hanan.
“Woo, sama Celine yang mbak cantik itu?” jawab Nila.
“Huum!” jawab Hanan datar.
“Waah semangat dong sama orang cantik?” goda Nila.
“Apaan sih?” jawab Hanan tersipu.
“Lah iya kan? Aku aja kagum lho! Ada orang secantik dia! Masa Bang Hanan nggak naksir? Dia keknya juga smart. Pasti bagus yaa pertunjukan kalian? Iya kan?" sambung Nila semangat membercandai Hanan.
“Apa sih? Masih cantikan kamu!” jawab Hanan spontan dengan nada tinggi setengah membentak. Hanan wajahnya memperlihatkan kekesalan.
“Hoh!” pekik Nila terbengong kaget karena Hanan seperti marah.
__ADS_1
“Ehm…,” dehem Hanan jadi salah tingkah karena kelepasan bernada tinggi.
Nila juga terlihat gelagapan dan menunduk.
“Sudah nggak usah dibahas, supirmu masih lama nggak?” tanya Hanan mengalihkan pembicaraan.
“Hmm?” jawab Nila baru ingat, Nila kemudian melihat isi pesanya, Pak Iman sudah membalas, Pak Iman akan datang, tapi ijin telat karena ternyata baru saja ijin antar istrinya ke rumah sakit.
“Sepertinya masih lama,” jawab Nila.
“Udah ashar, sholat dulu aja yuk!” ajak Hanan.
Nila kemudian melirik ke jam tanganya, memang sudah waktu ashar. “Ayok!” jawab Nila bersedia.
Toh ajakan Hanan benar. Mereka berdua pun beranjak bangun dan berjalan beriringan menuju ke masjid kampus.
Nila dan Hanan tidak sadar lagi kalau mereka masih diawasi oleh seseorang.
****
“Munafik sekali perempuan berjilbab itu? Dia kan sudah punya anak dan suami? Masih saja centil- centil dengan pria lain?” gumam Farel mengeratkan rahangnya bertaambah kebencianya ke Nila.
Entahlah hanya Farel yang tahu, apa salah Nila. Sejak di rumah sakit, Farel tidak suka ke Nila, merasa Nila sainganya, merasa Nila rivalnya, dan semua tentang Nila membuat dia benci.
****
Sesampainya di masjid kampus, ternyata ramai. Masjid kampus lumayan besar walau tak sebesar masjid Agung. Masjidnya juga tampak, bersih indah dan megah dengan lantai berwarna krem keemasan. Sepertinya kalau nanti dijadikan tempat untuk berlama- lama tinggal seperti mengisi waktu tadarus sangat nyaman.
Nila pun tersenyum senang melihatnya. Dia akan punya tempat Favorit di kampus itu.
Hanan dan Nila pun berpisah menuju ke tempat wudzu masing- masing.
Rupanya di dalam masjid baru mulai adzan. Sehingga Nila mendengar suara Adzan. Setelah selesai membaca doa wudzu, Nila pun masuk mengenakan mukenahnya dan mengikuti sunnahnya, mendengarkan adzan dengan seksama, kemudian menirukanya.
“Indah sekali suara muadzin ini?” gumam Nila dalam hati mengagumi, karena memang suaranya menggetarkan hatinya.
Hingga adzan selesai, Nila pun berdoa lalu menunaikan sholat sunnah.
Tidak selang berapa lama, iqomah dikumandangkan, akan tetapi suaranya seperti berbeda orang.
Nila bersama jamaah perempuan lain pun berdiri merapatkan dan merapihkan shaf. Di dalam masjid itu shafnya diatur, perempuan berada di bagian belakang, dan sekatnya setengah badan sehingga saat berdiri dapat melihat ke depan.
“Gleg!” Nila yang shafnya paling depan langsung melotot mendapati apa yang di lihat di depanya.
Tampak seseorang mempersilahkan Pak Rendi untuk maju ke mimbar imam.
"Ustad Sofyan sudah pulang Dok. Dokter Rendi saja yang imami," tutur seseorang merangkul Rendi.
Rendi tampak tersenyum sungkan dan mengedarkan pandangan. Jamaah shalat Ashar laki- laki hanya dua baris kebanyakan mahasiswa dan pegawai kebersihan. Yang ramai justru jamaah perempuan.
__ADS_1
Nila pun menundukan kepalanya dengan jantung berdetak kencang tidak ingin Rendi melihatnya.
Hingga akhirnya Rendi yang menjadi imam. Daan saat Rendi melafalkan takbiratul ikhram, Nila mengenali lafal Allohuakbar yang sama hingga hatinya kembali bergetar.