Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Nila Amazing


__ADS_3

Mengikuti mau Nila, Rendi melajukan mobilnya ke rumah, bukan kebiasaanya Rendi, Adzan Ashar masih lama tapi Rendi sudah meningglkan ruanganya. Rendi kan langganan jadi imam sholat ashar, Rendi juga lebih suka lembur kerja di kampus.


Akan tetapi sekarang berbeda, waktu bersama istrinya sangat berharga apalagi setelah dua hari tak bersama. Walau sedetik rasanya tak ingin dilewatkan, bahkan Rendi rasanya ingin terbang untuk cepat sampai rumah.


Sayangnya di dalam perjalanan banyak lampu merah dan dia harus menahan sabar. Rendi juga ditemani music yang Nila pilih dan disambungkan lewat ponselnya.


Rendi mendengarkanya dengan seksama walau terasa malas demi menyenangkan, Nila. Sayang, saat Rendi menengok untuk menunjukan kalua dia sekarang perhatian, Nila malah tampak melongo bersandar di jok mobil.


“Haish dasar bocah…,” gumam Rendi mendesis.


Ya, Nila seperti Buna dan Kak Jingga, terkena AC mobil langung tersihir dan masuk dalam dunia mimpi, ini sudah bukan pertama juga.


"Dasar tukang tidur?" gerutu Rendi, tapi mau bagaimana lagi. Adanya Nila memang begitu.


Tidak membuang kesempatan, Rendi pun langsung mengganti pilihan lagunya mendengarkan nasyid dan sholawat.


Setelah sepersekian detik, Rendi sampai ke komplek perumahanya. Karena Bu Siti dan Pak Rahmat hanya ART panggilan, rumah Rendi kosong dan Rendi membuka sendiri, pagarnya. Saat Rendi turun, Nila pun terbangun.


“Udah sampai?” tanya Nila dengan polosnya semari mengucek matanya.


Rendi hanya mencebik, payah sekali, ditelepon suka ketiduran, menemani nyetir pun ketiduran, awas aja kalau diajak menunaikan tugasnya sebagai istri juga tidur.


“Perasaan semalam video call, mas yang ditinggal tidur, Mas juga lho, yang habis jetlagh, mas juga yang nyetir, ngapain aja dan bangun jam berapa sih? Tidur terus?” keluh Rendi protes.


“Ish… ya ngapain ajalah! Salah ya tidur?” jawab Nila mencebik lalu menoleh ke dalam rumahnya.


“Karena udah tidur, harus fit dan semangat lho!” ucap Rendi lagi.


“Hoh, semangat?” pekik Nila mencoba memahami maksud Rendi.


Rendi tidak peduli Nila paham atau tidak, Rendi berlalu turun dari mobil dan langsung membuka pintu.


Rendi berhenti sejenak, di depan pintu masuk ada yang beda.


“Ehm…,” Nila yang menyusul di belakangnya berhenti, menggigit bibirnya menahan senyum kedua tanganya tertangkup ke bawah.


Rendi kemudian tersenyum menangguk dan menoleh ke Nila.


“Kamu yang susun dan taruh?” tanya Rendi.


Ternyata Nila membeli rak baru untuk sepatu dari luar dan rak sepatu untuk di dalam, biasanya sepatu dan celana sedikit berantakan. Nila juga memberikan kotak Memo yang lucu dengan karakter love, juga di beri bel.


“Iyah!” jawab Nila tersipu. “Boleh kan? Suka nggak?” tanya Nila.


Rendi berbalik mendekat ke Nila, lalu meraih kepala Nila dan mencium keningnya.


“Suka. Makasih, Sayang!” jawab Rendi.


Nila berdiri menunduk membiarkan Rendi mencium keningnya dengan pipinya yang merona. “Jadi sepatu dari luar jangan masuk rumah ya.” Ucap Nila.


"Iyah!" Rendi mengangguk, lalu mereka masuk, ke rumah bersama.


Saat masuk ruang tamu, Rendi berjalan biasa, akan tetapi sesampainya di kamar, Rendi kembali tercengang. Nila kembali menunduk tidak berani menatap Rendi.


Tapi kali ini Rendi tidak tersenyum, Rendi mengulum lidahnya, kemudian membuang nafas dan menggelengkan kepalanya. "Huuft..." Rendi melirik Nila yang menunduk dan menggaruk pelipisnya.


Sprei yang biasa berwarna gelap, polos atau putih mendadak jadi pink, ada banyak boneka berbagai warna juga yang bertengger di atas kasurnya, belum lagi di atas nakasnya terdapat jam weker hello kitty. Keranjang baju kotornya pun berubah bentuk.


“He….,” Nila pun hanya menyeringai, saat Rendi menatapnya tajam. “Peace!” ucap Nila mengangkat kedua jarinya di samping kupingnya.


“Yayaya… istriku suka sekali karakter hello kity ternyata!” ucap Rendi akhirnya.


“Nggak suka ya?” tanya Nila ragu.


“Suka… suka sekali! Sini dong!” ucap Rendi menarik Nila mendekat.


“Berasa kamar milik sendiri yah?” bisik Rendi ke kuping Nila dengan sedikit memberi tiupan dan meledek.


Reflek Nila menggeser kepalanya menjauh dan mencebik.


“Ya… kan iya kita, kan kita udah nikah, kamar mas kamar Nila kan?” jawab Nila gugup tapi Rendi terus menatapnya tersenyum dan Nila merasa terejek.


“Iih ko gitu? Kalau nggak suka, Nila lepas ganti yang abu aja. Kan biar nggak seram kalau Nila sendirian! Jadi Nila bawa boneka Nila,” ucap Nila mengkerucutkan bibirnya, lalu berniat maju dan menarik spreinya.


Rendi tidak menjawab, langsung meraih tangan Nila dan menarik dalam pelukanya.


"Mas!" pekik Nila kaget.


Rendi memeluk Nila erat bahkan menciumi pipi dan kepala Nila gemas, sampai Nila berteriak manja dan mengaduh menghindar kewalahan, hingga mereka terjatuh ke Kasur.

__ADS_1


“Udah Mas, udah!” pekik Nila menahan dan menyudahi saking gelinya. Lalu mereka terbaring berjejer walau kakinya masih menyentuh lantai. Rendi dan Nila menghela nafas sebentar sehabis mereka bercanda teriak- teriak.


Rendi kemudian berbaring miring menghadap ke Nila.


“Mau kamu apakan rumah ini daan kamar ini, Mas suka dan mas seneng itu artinya kamu udah nerima Mas, makasih ya!” ucap Rendi serius.


“Ya dari awal, dari di rumah Abah, Nila juga udah nerima Mas dan nempatin kamar Mas kan? Mas aja yang nggak anggap Nila!” jawab Nila spontan membela diri.


Ya memang, sejak 3 tahun lalu kamar Rendi di kampung pun ditempati Nila.


“Ssshh..,” Rendi yang disinggung masalalu tidak suka dan langsung memotong Nila, “Jangan dilanjutin!” larang Rendi. "Udah udah mas salah omong!"


“Ye kan emang gitu? Kan mas yang…,” jawab Nila bawel ingin mengorek kesalahan Rendi, tapi Rendi tidak suka kalau diingatkan kesalahanya dan spontan Rendi langsung mengecup bibir Nila cepat.


“Mmm…” tolak Nila kaget berusaha menghindar, karena Rendi sedikit memaksa.


Dan meski Nila menghindar Rendi terus menyerobot melahap bibir Nila. Hingga akhirnya Nila menyerah membiakan Rendi melu mat bibirnya.


Bahkan tangan Rendi mulai bergerilya ke bawah, dan mencari sesuatu. Akan tetapi dengan cepat dan sadar tangan Nila mencekal.


“Ehm.. Mas...Katanya mau makan? Nila siapin dulu...” tanya Nila sedikit tergagap menjeda.


“Ehm…,” dehem Rendi menghela nafas kesal karena harus terjeda. “Nanti aja, makanya!” ucap Rendi cepat, tapi Rendi bangun dan duduk.


Nila mengangguk, tapi Nila bingung kenapa Rendi duduk. Nila menghela nafasnya, dada Nila masih gemetaran panas. Karena Rendi duduk, Nila ikut bangun.


“Mau kemana?” tanya Rendi ke Nila.


Nila terhenti menoleh dan bingung.


"Ganti baju!" jawab Nila random.


Tidak berkata banyak, meraih tangan Nila dan membawa Nila ke hadapanya. Hingga kini Nila berdiri menghadap Rendi yang duduk.


Nila pun dibuat gelagapan Karena mata Rendi tampak menyala.


“Ehm…mm…, Mas” Nila jadi gugup sendiri.


Rendi tidak membuka mulutnya, tapi tanganya sangat aktif bergerak.


“Buka yah!” ucap Rendi


“Nila bisa buka sendiri Mas!” jawab Nila gelagapan.


Sayangnya Rendi sudah dikuasai kerinduan akan hangat tubuh Nila, ya ada rasa yang berkobar dan membara, bukanya mendengar kata Nila, Rendi malah bersemangat, menguliti Nila dan langsung menggarap Nila sedikit kasar.


Meski begitu, kekasaran Rendi justru membuat Nila terbuai dan lebih terbawa, bahkan Nila lebih hilang kendali.


Dan siang itu di atas ranjang hello kitty, Rendi dan Nila menyatu dalam pergulatan halal yang panjang dan panas.


“Tunnggu!” ucap Rendi di tengah permainan puncaknya menjeda. Nila yang sebelumnya malu- malu sampai mengeluh kesal kenapa berhenti di tengah.


“Ada apa, Mas?”


“Waktu itu, Baba kasih Mas pengaman, biar kamu nggak hamil dulu, mas lupa naruh!” jawab Rendi jujur ingat pesan Baba.


“Emm…,” di luar dugaan Rendi, Nila yang tadinya berbaring terlentang, tampak kesal dan mengeluh. Dan tanpa malu kini malah bangun mendekat ke Rendi dengan berani.


“Hamil pun Nila senang kok!” ucap Nila dengan suara serak, dan di luar dugaan Rendi, Nila dengan sendirinya duduk di atas Rendi memposisikan diri.


“Ouh…,” lenguh Rendi menelan ludahnya merasakan kenikmatan yang tiada tara.


"You Amazing, Nila. I love You!" bisik Rendi ke kuping Nila.


Rendi seperti mendapatkan jackpot, untuk pertama kalinya, akhirnya Nila ikut berubah menjadi berutal. Nila aktif tanpa dikomando.


Mereka pun tak peduli lagi nasihat Baba, dunia mereka terbang ke dalam dunia kenikmatan yang melupakan semua. Hingga sepersekian mereka mengejang bersama.


Karena waktu menjelang sore, mereka tak menunda mandi. Begitu selesai mereka berbenah mandi dan asharan.


Saat Nila membuka mukena Rendi dibuat melongo. Bahkan seperti melihat orang lain.


Nila pun menggerakan tanganya.


"Mas! Kenapa?" pekik Nila.


"Kamu pakai baju siapa?" tanya Rendi menelan ludahnya


Nila pun menunduk tersipun melihat dirinya.

__ADS_1


"Nila cantik nggak? Pakai baju begini?" tanya Nila malu.


"Cantik banget!" jawab Rendi menelan ludahnya lagi.


Nila memakai pakaian gaul, dengan atasan tanktop ngepres lalu perutnya yang rata terlihat sedikit. Rambutnya tergerai indah karena sehabis keramas.


Untuk gadis seumuran Nila itu pakaian biasa dipakai nongkrong, tapi untuk Nila, itu pertama kalinya dia pakai di hadapan Rendi. Nila yang sebelumnya terlihat kalem berubah terlihat centil dan berani.


"He.. Ini kado dari Kak Ainun dan teman- teman pondok!" ucap Nila memberi tahu.


"Oh...ya. Bagus kok. Kalau di rumah pakai yang begini terus ya!" ucap Rendi tersenyum senang.


Nila pun mencebik dengan menyelipkan rambutnya.


"Ish. Cuma punya ini!"


"Besok beli lagi!"


"Nggak ah. Udah. Yuk makan. Lapar!" ajak Nila.


Rendi yang sudah menghabiskan banyak tenaga tentu saja bersemangat turun.


Mereka pun turun untuk makan. Dan Rendi kembali dibuat tercengang. Dapurnya kini ada hiasan aquariumnya, juga ada radio kecil di samping vas bunga.


"Kamu juga yang ngedekor? Sayang?" tanya Rendi lagi.


"Iyah. Maaf jadi lebih sempit tapi biar berasa di alam gitu!" ucap Nila memberitahu.


Rendi tersenyum tidak bisa berkomentar lagi. Baginya istrinya ini luar biasa.


"Ya... Mas suka kok!" jawab Rendi. Rendi pun duduk manis dan Nila menyiapkan makan.


Di luar dugaan Rendi. Nila yang terlihat seperti anak gaul tapi bersikap seperti ibu- ibu, dia sudah menyiapkan ayam ungkep dan bau laosnya sangat menggoda.


"Taraaa...silahkan makan!"


"Kamu yang masak?" tanya Rendi terbengong.


"Iyah! He.. Udah dari kemarin sih. Tinggal goreng tiap mau makan!" jawab Nila.


Rendi tersenyum, tidak menunggu Nila ambilkan, Rendi mengambil nasi dan lauk sendiri. Bahkan Rendi segera melahap nasi dan ayam buatan Nila. Tak banyak memuji tapi Rendi terlihat sangat suka masakan Nila.


Nila pun cukup senang dibuatnya.


"Eugh.. Alhamdulillah... Kenyang!" ucap Rendi memundurkan kursinya. Rendi sampai nambah 3 kali.


Nila pun hanya menggelengkan kepalanya, heran, ternyata Rendi rakus.


Setelah Rendi selesai, Nila pun membereskan piring, Nila membawanya ke tempat cucian piring.


Sembari istirahat menunggu Nila, Rendi membersihkan giginya.


Tatapan Rendi pun tertuju pada Nila yang berdiri mencuci piring dengan pakaian gaulnya.


Ternyata tubuh Nila yang terbungkus sedikit terbuka dan ketat membuat Rendi semangat lagi. Rendi pun bangun, mendekat dan memeluk Nila dari belakang


"Mas.." pekik Nila kaget. "Awas basah lho!" ucap Nila menegur Nila kan sedang cuci piring.


"Kita basah- basahan lagi, yuk!" bisik Rendi sedikit memberi tiupan ke Nila.


"Ehm...jangan bercanda, Mas!" jawab Nila risih.


"Beneran. Mas mau lagi!" ucap Rendi sedikit mendorong Nila, sebagai kode memberitahu kalau "dia" sungguh ingin masuk lagi.


"Gleg!" Nila menelan ludahnya. "Kan baru selesai? Masa mandi lagi?" tanya Nila mengulur.


Rendi tidak menjawab, tanganya tergerak mematikan kran dan membalik tubuh Nila menghadapnya.


Tidak meminta persetujuan Nila, Rendi kembali menggarap Nila.


******


Kaak. Bantu Amer biar lulus kontrak yaa. Yuk mampir ke Amer "Bukan Dia!"


Kasih tap love, like koment.


Insya Alloh lebih seru. Ini Nila juga udah tahap akhir.


Btw panas nggak sih? Huaaaa.....

__ADS_1


__ADS_2