Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Pelajari dulu


__ADS_3

"Assalamu'alaikum...," sapa Amer ke ruang rawat Jingga.


Di kamar nampak sepi karena rombongan Oma sudah pulang ke rumah Baba hendak memeriksa persiapan di rumah. Sementara Nila tampak berbaring di sofa panjang dan besar. Jingga sendiri tampak tertidur pulas di atas tempat tidurnya masih dengan infus yang menggantung.


"Waalaikum salam!" jawab Adip satu- satunya orang yang masih teerjaga dan sangat semangat menemani baby boynya yang matanya masih menyala tapi belum bersuara.


"Kok sepi? Pada tidur ya?" tanya Amer masuk dengan langkah mengendap.


"Baru... masuk!" jawab Adip


Amer pun masuk, bukanya Peduli ke Jingga si ibu nifas yang baru keluar dari perjuangan bertaruh nyawa, tatapan Amer justru tertuju pada Nila yang tampak tertidur pulas seperti sangat lelah.


"Oma dan Opa udah pulang? Baba sama Ikun nggak ke sini Bang?" tanya Amer lagi.


"Udah!" jawab Adip lirih.


"Kok Nila nggak pulang?" tanya Amer.


Adip menelan ludahnya melirik ke Jingga.


"Hh...," Adip menghela nafasnya.


Abis lahiran Jingga malah kambuh sakitnya, entah post partum blues entah apa. Jingga hanya mau dibantu Nila, makan pun tidak mau disuapi Adip. Pokoknya maunya ada Nila dan bahkan Jingga menangis mendadak.


Saat Oma dan Opa meminta Nila pulang bersamanya, Jingga mendadak mewek tidak mau ditinggal. Jingga ingin ada Buna atau Nila, karena Buna masih dikunci Vio tidak bisa pergi- pergi jadi Nila yang harus tinggal.


"Kakakmu nggak mau ditinggal.Nila!" jawab Adip berbisik.


"Ck...," Amer pun hanya berdecak.


Amer kemudian menoel Baby boy sejenak lalu mendekat ke Nila. Duduk di dekat Nila dan membelai wajah ayu adiknya itu.


Adip tidak berkomentar dan hanya membiarkanya. Mendapat belaian dari Amer, Nila yang tidurnya di sofa dan sudah agak lama terbangun.


"Kakak!" pekik Nila terbangun.


Amer pun menyunggingkan senyum.


"Kakak bangunin kamu ya?"


"Enggak apa- apa. Nila udah tidur lama kok!" jawab Nila sgera duduk.


"Udah makan belum?" tanya Amer.


"Tadi Bang Adip udah belikan sate!" jawab Nila.

__ADS_1


"Kapan?"


"Pagi sih!" jawab Nila melihat jam dinding termyata sudah jam 11.30.


Rupanya Nila tidur cukup lama.


"Makan yuk!" ajak Amer.


Nila melirik ke Adip.


Adip melirik ke Jingga dan mengedipkan matanya serta mengangguk mempersilahkan Nila keluar pumpung Jingga tidur. Kalau nanti nggak ada orang kan Adip.akan mudah meluluhkan Jingga nggak marah.


"Pergilah!" ucap Adip lirih.


"Kalau Kak Jingga marah?" tanya Nila berbisik


"Sst.. santai aja. Udah sana!" ucap Adip.


"Kakak mau dibelikan apa?" tanya Amer.


Amer pun menganggukkan wajah meyakinkan Nila untuk keluar. Nila pun setuju.


"Gampang. Nggak usah dipikirn!" jawab Adip.


Nila dan Amer pun pergi dari ruangan.


Ya, saat kemarin Nila mendapati Rendi bersama perempuan, Nila memutuskan untuk tetap dan mantap meminta cerai dari Rendi.


"Makasih Kak!" jawab Nila.


"Belajar yang rajin. Kejar cita- citamu ya!" ucap Amer


Nila mengangguk. "Pasti Kak!" jawab.Nila tersenyum lagi.


Mereka pun mencari kafe terdekat dari rumah sakit dan memesan makanan.


Sembari makan Nila dan Amer banyak mengobrol. Juga bercerita tentang Jingga tadi.


"Kak!" panggil.Nila


"Ya?" jawab Amer.


"Kok aku jadi pengen kaya Buna ya!" ucap Nila lagi.


"Maksudnya kaya Buna gimana?" tanya Amer.

__ADS_1


Nila pun tersenyum.


"Kayaknya seru deh jadi dokter kandungan!" celetuk Nila karena melihat proses kelahiran kakaknya, Nila jadi banyak bertanya dan ingin tahu.


"Ehm...," Amer langsung terbatuk mendengarnya.


"Katanya kamu suka masak? Ingin jadi koki atau kalau nggak nutrisionis dan bantu turunin stunting?" tanya Amer lagi.


"Tapi kayaknya lebih menantang jadi Dokter deh!" sahut Nila lagi.


"Ya terserah kamu. Tapi jangan kuliah di kampusnya Kak Jingga dulu!" ucap Amer.


"Kenapa?" tanya Nila.


"Kakak nggak mau kamu diajar Rendi lagi!" jawab Amer cepat.


"Kata Kak Jingga, dia nggak ngajar semua kelas dan hanya materi tertentu kok. Masih di semester akhir. Sampai di waktu itu dia udah move on!" jawab Nila lagi


"Terserah kamu!" jawab Amer.


Nila pun tersenyum senang dan melanjutkan makanya. Di akhir makan Nila ingin buang air dan pamit ke belakang.


"Sekalian pesenin makan buat Bang Adip ma Kak Jingga!" ucap Amer.


"Ya. Kak!" jawab Nila.


Nila pun berjalan ke kamar mandi dan sebelumnya mampir ke resepsionit.


"Kamu lagi!" pekik pemuda tempo hari.


"Kamu?" balas Nila.


"Gara- gara kakakmu. Kakakku jadi harus operasi!" ucap Pria itu penuh benci ke Nila.


Nila pun memicingkan matanya.


"Apa hubungannya dengan Kakakku?" jawab Nila.


"Ya gara- gara Kakakmu. Pembukaan kakakku jadi tidak maju!" tuduh pemuda itu lagi.


Nila mencebik.


"Kamu tahu apa tentang kemajuan persalinan dan ilmu kedokteran asal nuduh kakakku? Mungkin kakakmu memang seharusnya lahir secar kali!" jawab Nila mengatai pria itu.


"Tidak! Aku akan sebarkan di media sosial kalau perawatan. di sini ada diskriminasi!" jawab Pria itu lahi

__ADS_1


"Ck.. kamu akan malu sendiri kalau tidaj tahu ilmu dan prosedur asal cuap. Pelajari dulu kenapa Kakakmu diputuskan untuk operasi!" jawab Nila tegas.


Lalu Nila segera pergi malas menanggapi pria itu.


__ADS_2