
"Cekrek....,"
Saat Rendi mengganti spreinya sendiri, pintu kamar mandi terbuka. Iya, Rendi tidak ingin Nila malu diketahui Bu Siti, atau Nila repot padahal Ummi pasti menunggu, jadi Rendi mengalah menggantinya sendiri.
Mendengar pintunya terbuka, Rendi langsung menoleh.
"Ehm...," dehem Nila langsung beringsut menunduk tersipu malu dan mendekap dadanya erat.
Sementara Rendi langsung menelan ludahnya dan menyunggingkan senyum serta memberi tatapan tajam.
"Huhhh...," lenguh Rendi kuat tetiba tubuhnya kembali memanas.
"Kenapa ngeliatin begitu?" tanya Nila jadi salah tingkah dan ragu mau berjalan maju. Nila jadi gugup dan memilih masih berpegangan pintu kamar mandi.
"Enggak. Itu, handuk siapa tuh dipakai?" tanya Rendi meledek.
Ya, saat Nila berlari kan membawa selimut kotor. Selesai mandi, Nila menyambar handuk Rendi yang Rendi taruh di lemari kamar mandi.
Kini tubuh mungil Nila yang mulus bersih seputih susu dengan sedikit bulu lembut, selain selalu tertutup juga rutin dirawat hanya terbungkus handuk dari dada sampai pertengahan paha.
Walau Rendi sudah melihat isinya bahkan menjamah seluruhnya, tapi saat berbungkus handuk dengan percikan air yang masih tersisa, ternyata lebih membuatnya tertegun dan membuat tubuhnya memanas. Apalagi rambut Nila yang basah terurai.
"Handukku lah!" jawab Nila asal.
Rendi yang tahu pasti itu anduknya, juga yang has rat tubuhnya belum selesai langsung tergerak mendekat.
"Oh ya? Sejak kapan? Itu handukku, lepas sini," ucap Rendi mendekat.
Melihat gelagat aneh suaminya, Nila langsung gelagapan dan mendekat tubuhnya.
Bukan Nila tidak normal, sebagai perempuan yang sudah akhil baligh, Nila juga merasakan naluri manusianya, menikmati sentuhan Rendi. Itu sebabnya sampai tadi dia pasrah dan kelepasan jauh, itu karena Nila jua terbuai dalam permainan panas Rendi.
Nila tersadar saat merasakan koyakan perih di tubuhnya yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dan tepat saat itu, terdengar ketokan pintu, hingga Rendi yang bergerak pelan terjeda, memberi kesempatan Nila dan Nila spontan melawan, mendorong Rendi dan membalikan tubuhnya.
Akan tetapi meski tubuhnya menyukai, otak Nila terus dibayangi wajah Baba dan di kupingnya selalu terngiang ucapan Jingga dan Baba.
"Nikah misyar atau nikah siri atau nikah tanpa hitam di atas putih, merugikan perempuan, Nila tidak boleh bodoh, kasian anaknya kalau terjadi sesuatu. Jangan mau dulu. Itu sebabnya Nila melawan.
"Katanya ini rumahku kan sekarang. Berarti barang di rumah ini punyaku juga kan?" ucap Nila mendekap rapat tubuhnya.
"Oh iya?" tanya Rendi semakin dekat dan meledek mengulum lidahnya, wajahnya benar- benar menampakan kebuasan.
"Aku wudzu. Jangan dekat- dekat!" teriak Nila keras mempunyai senjata menghentikan Rendi yang hendak usil.
Dan Rendi sungguh terhenti. Nila pun beringsut mundur hampir masuk lagi ke kamar mandi.
"Liat jam, Mas. Waktu maghrib itu sebentar. Cepat mandi. Mau jamaah atau sendiri- sendiri?" tanya Nila lagi mengalihkan.
"Hmm...," Rendi pun kembali menghela nafas, melawan hasratnya untuk kesekian kali, omongan Nila benar. Menikah kan ibadah terpanjang, jangan sampai napsunya melalaikan kewajiban pokoknya, sholat.
"Ya. Tunggu bentar! Jamaah!" jawab Rendi malas dan kecewa.
Nila pun menelan ludahnya sedikit lega.
"Jangan lama- lama!" ucap Nila lagi.
Rendi tersenyum lagi dengan mata elangnya.
"Handuknya lepas dong. Gantian kan handuk mas juga? Mas mau mandi"
__ADS_1
"Ish... Udah basah juga. Masih ada lagi kok di dalam!" jawab Nila lalu berjalan miring melewati Rendi meninggalkan kamar mandi.
"Yaya..." ucap Rendi terkekeh sebenarnya madih ingin mengerjai Nila, tapi benar sekarang waktunya maghriban, Rendi pun segera masuk kamar mandi.
Heranya setelah masuk, Rendi tak menutup pintu dan melepas sarungnya sembarangan.
"Hiish...ditutup pintunya Mas!" teriak Nila geli menoleh ke kamar mandi.
"Bilang aja seneng! Pengen liat kan?" ucap Rendi GR terus menggoda Nila bahkan sengaja bergoyang- goyang.
Nila tambah bergidik malu, juga takut dan tidak mau menoleh.
"Ish... kepedean banget. Ini lhoh airnya jadi keluar- keluar. Lembab basah licin kotor!" omel Nila akhirnya keluar sifat bawelnya.
Bukanya mendengarkan Rendi malah bersiul dan sengaja menggoda Nila.
Nila langsung menggelengkan kepalanya, geli sendiri. Kenapa baru tahu sifat Rendi yang di luar seram semenjengkelkan ini.
Mendekap pakaian lengkap juga alat sholat Nila berjalan cepat ke arah kasur dan menjauh dari kamar mandi.
"Ish dasar, edaan....," cibir Nila bukanya tertarik malah jadi illfeel.
Sesampainya di kadur, Nila syok setelah, ngeh, spreinya diganti. Nila sempat tertegun dan berfikir, kenapa diganti? Tapi tidak mau pusing Nila membuang tanda tanya di otaknnya. Nila memilih berganti pakaian, segera menggelar sajadahnya juga sajadah Rendi. Sembari menunggu Rendi, Nila menunaikan sunnah qobliah dulu.
Dan tepat Nila mengucap salam Rendi sudah berganti dengan pakaian koko dan wajah segarnya.
Nila pun mengembangkan senyum, kali ini, gus Akbar yang dia idamkan sungguh ada di depanya.
Rendi yang sudah disiapkan tempat sholatnya oleh Nila langsung menempatkan diri, melafalkan adzan dan Iqamah sendiri. Mereka berdua pun menggenapi fardzunya sebagai muslim, dan kali ini, hanya Nila yang menjadi makmumnya.
Hati Nila benar- benar mengembang, bahkan di dadanya seperti bergetar, sungguh doa yang dia panjatkan ternyata Alloh dengar. Bahkan Nila ingin menangis rasanya. Nila sempat berburuk sangka pada Sang PenciptaNya, mengira takdir buruk menimpanya, padahal sakit hatinya hanyalah prasangka.
Nila pun mengernyit dan manyun.
"Mas, mau ngaji dulu. Minta tolong buatin minum. Jeruk panas ya!" ucap Rendi tenang.
"Oh iya. Maaf!" jawab Nila malu.
Nila mengangguk segera membuka mukenahnya melipatnya rapih dan turun ke dapur. Rupanya Bu Siti dan Ummi di dapur sedang menyiapkan makan malam juga camilan. Semua pun menyambut Nila.
"Bu Siti. Mas Rendi mau jeruk panas, dimana jeruknya, ya?" tanya Nila.
"Oh ini Non. Udah saya...," ucap Bu Siti hendak memberitahu kalau sudah disiapkan Bu Siti tapi Ummi langsung mencegah, dengan menoel tangan Bu Siti juga menyela ucapanya.
"Itu jerukku. Udah kuseruput tadi. Ummi tadi lihat di keranjang bawah situ di kresek masih ada, jeruknya..." tutur Ummi memberitahu stok jeruk yang masih utuh.
Bu Siti langsung tergagap merasa salah ucap dan sekarang, mengerti. Nila pun sebenarnya paham kalau Bu Siti sudah membuatkan.
Nila pun tersenyum mengangguk, Nila senang Umminya benar- benar mengerti inginya Nila. Nila kan juga ingin melayani kebutuhan Rendi dan mendapatkan pahala darinya.
Setelah ditunjukan Nila membuatnya. Lalu pamit kembali ke kamar untuk mengantarkan ke Rendi. Karena Rendi sedang mengaji, Nila memilih berbalik ke bawah.
"Nila bantu apa? Ummi? Bu Siti?" tanya Nila ramah.
"Udah mateng Non. Udah, Non. Temani Pak Rendi saja!" jawab Bu Siti.
"Oh gitu ya?" jawab Nila kecewa.
"Bu Siti tau kamu capek kan baru datang, ini udah disiapin masak dari kita belum sampai, sudah kita istirahat saja. Kalau kamu mau masak, besok pas sarapan. Ummi juga kangen masakan kamu," tutur Ummi lagi.
__ADS_1
Nila kembali tersenyum. "Kalau gitu. Nila ambil laptop mau kerjain tugas saja ya Ummi," ucap Nila.
"Ya." jawab Ummi.
Ummi berjalan ke ruang tengah di rumah Rendi dan menyalakan TV digital disambungkan dengan video sholawat. Ummi sendiri mengambil Al Quran yang tertata di rak hias di rumah Rendi. Sembari menunggu Nila dan Abah, Ummi memilih bertadarus.
Tidak lama Nila turun. Hanya saja ada yang membuat Ummi tercengang bahkan, Ummi terhenti dari bertadarusnya.
"Lhoh kok bawa bantal dan selimut?" tanya Ummi.
"He... kan mau tidur sama Ummi," jawab Nila dengan polosnya.
"Ehm...," Ummi langsung berdehem. "Kalian daritadi di kamar juga berduaan kan? Apa masih harus tidur bersama Ummi?" jawab Ummi lugas.
"Gleg!" Nila langsung menelan ludahnya pucat, "Apa Ummi tahu apa yang sudah terjadi? Malu sekali..." batin Nila salah tingkah dan langsung memeriksa rambutnya. Tapi kan Nila memakai hijab, walau hijab tali, apa rambutnya masih keliatan. Bukanya menjawab Ummi, Nila malah sibuk memeriksa rambut.
"Kepalamu kenapa Nduk?" tanya Ummi malah jadi heran.
"Ha!" pekik Nila melongo dan, malah membuat Ummi berfikir.
Padahal maksud Ummi, sedari tadi kan Nila juga di kamar Rendi, berarti kan kamar Rendi kamar Nila dan Nila sudah terbiasa ya sudah, masalah tidur tidak usah dimasalahkan.
"Ditanya kok malah bingung?"
"A, anu, Ummi. Kan tadi. Katanya Baba, suruh Nila tidur bareng Ummi...," jawab Nila sembari tersenyum menyeringai dengan wajah polosnya.
"Hmm... ," Ummi mengangguk berdehem walau hatinya sedikit kesal.
"Nila bener, yang penting kan janjinya ditepati. Masalah yang lain pikir belakangan ya Nduk?" celetuk Abah tahu- tahu sudah di belakang Nila.
Nila jadi tambah malu, apa maksud Abah yang lain pikir belakangan. Nila pun hanya bisa menyeringai.
"I'iya Bah!" jawab Nila.
"Abah nggak apa- apa. Nanti tidur di sini saja. Abah mau nonton bola sama Akbar!" tutur Abah tersenyum tenang.
Nila pun mengangguk. "Iya Bah!" jawab Nila.
Abah pun masuk ke kamar, dan Nila duduk di karpet tebal dan besar di depan televisi lebih tepatnya di bawah Ummi duduk. Ditemani Ummi yang tadarus, Nila membuka laptopnya, mengerjakan tugas dan belajar.
Dan benar saja, tidak berselang lama, handphone Nila berdering, ternyata Baba. Baba tanpa bosa basi langsung bertanya, Nila sedang apa bersama siapa dan dimana?
"Nila di depan tivi Ba. Bareng Ummi, nih Ummi lagi ngaji, Nih Nila lagi ngerjain tugas Ba. Tah itu tivinya, Ummi suka sholawatan..., ada apa Ba?" tutur Nila memberitahu Baba.
"Nggak, Baba kangen aja sama kamu," jawab Baba singkat
"He... Makasih Babaku," jawab Nila dengan wajah cerianya.
"Ingat pesen Baba. Besok siang Baba jemput. Jangan kelamaan di sana. Kan besok kalau udah sah kamu di situ terus!" ucap Baba lagi.
"Iya Baa... baru juga beberapa jam Nila pergi Ba..,"
"Ya udah. Salam buat Abah dan Ummimu,"
"Buat suami Nila nggak Ba?" tanya Nila
"Tut...," sayangnya Baba mematikan teleponya.
*****
__ADS_1