
Nila yang baru tidur sebentar dan baru masuk fase pules, sedikit bingung membuka pintu mendapati iparnya ada di depanya.
Bukanya menjawab pertanyaan Fatma, Nila malah kembali mengucek matanya, lalu berusaha membuka matanya lebar. Hingga Fatma ikut geli sendiri dan ikut menyipitkan matanya tersenyum melihat Nila yang muka bantal.
Bahkan Nila sampai sampai menepuk- nepuk pipinya.
“Hhh…,” hingga Fatma langsung mendengus bersedekap melihat keluguan Nila.
“Kak Fatma? Ini beneran Kak Fatma?” tanya Nila dengan polosnya. Walau kedudukan Nila sebagai kakak ipar, tapi karena umur Nila lebih muda, Nila tetap memanggil Fatma dan Aisyah, Kak.
Mereka juga sering menasehati dan menyayangi Nila sebagai adik tapi tetap menghormati Nila sebagai kakak.
“Iya…, kok kamu tidur di sini? Sini kamar tamu kan? Tempat Ummah menginap kan? Umma mana?” tanya Fatma.
“Hoh? Aku nggak ngimpi?” ucap Nila masih belum sadar, bukanya menjawab masih bengong dan menyadarkan diri.
“Hish…,” desis Fatma jadi gemas ke Nila, Fatma pun langsung meraih tangan Nila.
“Aku baru sampai, Nila, kakak Ipar, mana Ummah?” tanya Fatma lalu kepalanya melongok melihat ke kasur yang masih gelap.
“Oh…,” jawab Nila malah melirik ke luar. “Ummi masih tidur,” jawab Nila.
"Aku masuk ya! Sana keluar, itu Kak Aisyah bingung mau nginep di kamar mana soalnya Zainab ikut rewel terus tuh, ada teman- temanmu juga!” tutur Fatma memberitahu.
“Hoo…,” pekik Nila melotot masih belum konek kalau lusa kan mau ada acara untuk dirinya.
Fatma tidak mau menjelaskan lagi. Fatma masuk ke dalam, mengacuhkan Nila dan menyalakan lampu membangunkan Umminya.
Mau tidak mau Nila keluar, di ruang tamu terdengar berisik, rame. Suaminya tetdengar mengobrol dengan beberapa laki laki yang suaranya Nila tidak asing, tapi Nila tidak mau tahu siapa, Nila berjalan ke ruang tengah.
“Ning Nila,” pekik seorang gadis memancarkan wajah berbinarnya.
Nila juga benar- benar melotot kegirangan.
“Hai… Kalian ikut?” pekik Nila kegirangan lalu mendekat teman- temannya yang Nampak duduk melingkar di karpet depan tivi. “Ya ampun kenapa nggak bilang- bilang? Berangkat jam berapa?” pekik Nila bahagia, ikut duduk bahkan langsung meraih tangan temanya.
Mereka adalah Nurul, Adiba, Dini dan Uli, teman Nila yang menjadi pengurus pondok (Asrama putri), mereka sebagian masih duduk di bangku Aliyah, sebagian seumuran Nila kuliah di kampus terdekat dengan pesantren bambu teduh. Ya mereka yang masih menempati pondok, dan merekalah yang membersamai Nila 3 tahun.
“Sssttt… jangan berisik!” tetiba seseorang memperingatkan mereka berjalan dari arah taman belakang Rendi dibalik dinding kaca ruang tengah itu.
Rupanya Aisyah adik Rendi sedang menimang menenangkan anaknya yang kebangun dan tantrum di mobil.
Nila pun membekap mulutnya, tidak lama, dari arah kamar mandi dapur keluar ibu- ibu, yang Nila kenal besan Abah. Lalu Nila melirik ke dekat televisi ada banyak barang di kardus besar.
Nila pun menelan ludahnya sekarang benar- benar sadar. Keluarga Rendi sungguh sudah siap semuanya mengabulkan permintaan Baba.
Ya, baba mau nikah sah secepat mungkin, dan benar- benar di luar dugaan Rendi dan Nila, Abah ternyata tanpa diminta entah sejak kapan sudah meminta santrinya menguruskan semua ijin nikah KUAnya sehingga tidak perlu antri berminggu, minggu.
Nila pun langsung bangun menyambut dan menghormati mertua Fatma dan mertua Aisyah, dimana mereka juga seorang nyai dari kampungnya.
“Duh calon penganten? Jadi kebangun ya? Maaf ya!” gurau mertua Fatma.
“Udah p,enganten lama kok ya?” sahut mertua Aisyah membercandai Nila.
Nila hanya tersenyum menyeringai.
“Penganten lama tapi rasa penganten baru, wong tinggal di pondok, suaminya bolak balik, luar negeri ya?” jawab mertua Fatma membela.
Nila pun hanya tersenyum sangat anggun dan lembut.
“Dari sana jam berapa, Nyai? Silahkan istirahat dulu, biar dibuatkan minuman hangat dulu,” tutur Nila sopan.
“Nggak usah buat minum, Kita mau istirahat aja, dimana kita istirahatnya?” tanya mertua Fatma.
Nila sedikit gelagapan karena dia kan belum tahu semua ruangan di rumah Rendi kecuali kamar Rendi, dapur, ruang Tengah, dan ruang tamu.
“Istirahat dulu, Buk, biar Nila siapkan, he… soalnya, kita kira mau sampainya besok,” jawab Nila jujur.
“Oh yaya, maaf ya ngerepotin , soalnya kata Fatma biar bisa istirahat dan siapkan semuanya, jadi berangkat hari ini saja,” jawab mertua Fatma membela diri.
“Iya nggak apa- apa, malah Nila yang nggak enak, jadi belum nyiapin apa- apa, duduk dulu, Bu. Mbak Uli, bantuin ya!” ucap Nila lalu mengode teman- temanya.
__ADS_1
Teman- temanya yang di pondok diajarkan bekerja langsung sigap bangun menyilahkan para besan Abah duduk di sofa, sementara mereka ikut kode Nila ke dapur.
Nila pun membawa mereka ke dapur, rupanya di dapur Bu Siti yang Rendi minta menginap sedang merebus air.
“Bu… ini teman- temanku di pesantren. Biar mereka bantuin buat minum,” tutur Nila memberi tahu.
“Anu tamu laki- lakinya ada berapa? Kopi apa the?” tanya Bu Siti ke santri.
Teman- teman Nila pun memberitahu jumlahnya, kalau yang laki- laki plus supir ada 9, yang perempuan 8.
Nila yang memang sudah terbiasa menjadi anak Baba banyak pembantu dan di rumah Ummi ada banyak santri piket, mempercayakan pada Bu Siti dan teman- temanya membuat minum. Namun Nila memilin jarinya pusing sendiri, dia sekarang menjadi nyonya dan tuan rumah, tapi bingung dan tidak tahu apa- apa, tamunya mau ditaruh dimana?
“Bu Siti, sini sebentar,” panggil Nila meminta Bu Siti bicara menepi, Bu Siti pun mengangguk membiarkan teman- teman Nila yang membuat minum.
“Ya, Non!”
“di rumah ini ada berapa kamar sih?” bisik Nila ke Bu Siti tidak mau malu ke teman- temanya rumah sendiri tapi tidak tahu jumlah kamar.
“Di bawah ada 3 kamar tidur, tapi satu kamar saya, satunya yang buat tidur Pak Kyai, lalu kamar di sampngnya, di atas 3 kamar tidur Non!” jawab Bu Siti.
“Udah ready semua? Ada kamar mandinya semua nggak? Di atas 3 sama kamar Mas Rendi? Apa belum?”
“Di atas ya cuma kamar tuan yang ada kamar mandinya, yang dua kamar mandinya di luar dekat sama ruang kerjanya Tuan. Sempit juga? Kalau di bawah cuma kamar mandi yang dipakai Pak Kyai, lainya di dekat dapur itu, Non,” tutur Bu Siti menjelaskan.
Nila diam sejenak, menggaruk kepalanya yang terbungkus kerudung bertali. “Berarti atas masih ada dua, bawah satu y:a? Ruang tengah lebar sih kayaknya?” gumam Nila berfikir.
"Atas kamar ya kecil- kecil Non," tutur Bu Siti.
"Oh"
Tidak lama langkah kaki Rendi terdengar mendekat.
“Minumnya udah jadi belum, Bu?” tanya Rendi tanpa bosa basi, ke Bu Siti menanyakan minum.
Nila dan Rendi yang duduk di kursi langsung menoleh ke Rendi, sementara Rendi menatap ke teman- teman Nila yang sedang merebus dan menyiapkan cangkir.
Seperti sebelumnya, jika ada orang lain, Rendi bersikap dingin ke semuanya termasuk, Nila. Tidak menyapa Nila, Rendi malah mendekat ke teman- teman Nila melewati Bu Siti dan Nila.
Semua teman Nila menundukan pandangan saat Rendi datang , dan mengatakan ya atas semua perintahnya.
Nila hanya diam menghela nafasnya sembari menunggu Rendi berbalik. Nila kira Rendi akan menyapanya dan duduk, tapi saat melewati Rendi dan Bu Siti, Rendi melenggang begitu saja, sampai Nila mengeratkan rahangnya kesal.
“Mas!” panggil Nila akhirnya.
Dan baru saja Rendi berhenti menoleh, “Hmm… apa?” tanya Rendi singkat.
Nila pun berdiri, meninggalkan Bu Siti dan mendekat ke Rendi.
Rendi pun menungu Nila bicara.
“Ini gimana? Tidurnya gimana?” tanya Nila dengan tatapan sedihnya pusing kedatangan tamu banyak.
“Hhh…,” Rendi hanya menghela nafas menggaruk alisnya dan menatap Nila setengah ternsenyum, tapi mulutnya masih rapat. Nila pun mengernyit menyebalkan sekali respon suaminya ini.
“Nila nggak tahu kamar di sini berapa? Adek Zainab dimana tidurnya? Teman- teman Nila dimana?” Tanya Nila menggebu, “Terus Nila?” lanjut Nila terhenti dan nadanya merendah menunduk sembari mencebik, bibirya manyun.
Ternyata menjadi ibu rumah tangga dan nyonya besar bingung juga kalau kedatangan tamu banyak.
Rendi kembali tersenyum.
“Gitu aja pusing!” ucap Rendi enteng.
“Huh?” pekik Nila langsung mendongak ke Rendi yang malah terkekeh.
“Nila serius Mas!” jawab Nila mencubit lengan Rendi.
“Ih…” Rendi pun spontan menangkis, “Cubit- cubitanya di kamar aja, nggak malu sama temen- temenmu, jangan di sini, nanti mereka ingin!” bisik Rendi malah merayu Nila.
Nila jadi tambah mengernyit kesal. “Mas.., ih, Nila serius, kasian Zainab, terus Bu Anwar sama Bu Hasyim udah tanya tidur dimana?” jawab Nila.
“Zainab sama ibunya biar di kamar Ummi sama Fatma, teman- temanmu biar tidur di kamar yang dekat dapur itu,” tutur Rendi.
__ADS_1
Tapi Nila langsung memotong.
“Kamar Bu Siti? Kenapa mereka nggak di atas aja!” potong Nila.
“Bukan, kamar ini lho kamar samping ini, yang luas, kan mereka berempat, Kyai Hasyim sama Ibu, dan Kyai Anwar sama ibu, biar di kamar atas. Nanti Abah, Fahri, Syamsul dan yang lain lesehan di ruang tengah sama di ruang tamu,” tutur Rendi memberi tahu.
Gleg, Nila menelan ludahnya tapi bibirnya masih manyun dan menatap Rendi gerung, nama dirinya dan Rendi belum disebutkan.
“Jangan suruh mereka nginep di hotel, Babamu minta acara kita di rumahmu, Ini udah malam, tanggung! Hotel Baba jauh, Mas juga nggak tahu mereka mau datang, jadi mas belum pesankan hotel juga. Nggak ada persiapan semuanya!” ucap Rendi mengira Nila mau ngambek kenapa nggak di hotel, padahal Baba juga punya hotel yang besar dan indah.
“Bukan itu,” ucap Nila lirih.
“Terus?”
“Nila tidur dimana?” tanya Nila lirih
“Pletak,” spontan bukan menjawab, Rendi malah menjitak jidat Nila yang terpampang lebar karena Nila memakai hijab tali tanpa pet.
“Ih sakit,”
“Tidur di atap, kalau nggak di kamar mandi!” jawab Rendi asal.
“Ish…,serius!” desis Nila manyun.
“Ya di kamar kamu lah. Kamu kan punya kamar, masih tanya, kamar Ummi, buat Zainab ibunya dan tantenya, yang ada kamar mandinya! Kamu nggak usah ikut,” jawab Rendi mempertegas.
Nila tidak menjawab hanya menggerakan bibirnya yang manyun.
“Nggak ada alasan langgar janji Baba lagi, kamu tadi udah tidur di kamar Ummi kan? Udah sah telatin janji, mas juga mau nonton bola kok! Dah sana!” imbuh Rendi bicara lagi tahu isi hati Nila.
Nila pun mengangguk. Lalu mereka menepi saat teman- teman Nila berpasangan membawa baki minuman.
Mereka pun keluar. Rendi langsung mengacuhkan Nila menemui tamu- tamunya yang laki- laki di ruang tamu. Nila ke ruang tengah dimana Ummi sudah menyapa besanya, Zainab juga sudah masuk ke kamar Ummi tanpa Nila tunjukan. Ya, Fatma dan Aisyah sudah langsung menempatkan diri tanpa ditunjukan ke Nila.
Teman- teman Nila pun menyajikan minuman, lalu Ummi dan Fatma meminta teman- teman Nila menyiapkan lesehan tempat tidur untuk bapak- bapak dan santri laki- laki. Ummi juga memberitahu teman- teman Nila dimana mereka tidur. Selain itu juga memberitahu Nila, setelah besanya menghabiskan minuman the hangatnya, Nila antarkan mereka ke dua kamar yang ada di lantai atas dekat kamar Nila.
Nila pun mengangguk, rupanya, keluarga Rendi sudah memikirkan semuanya. Karena memang sudah jam 12 malam dan pada ngantuk, begitu minum mereka habis, di susul Pak kyai Mansyur yang sudah sepuh tanya tempat tidur.
Nila mengantarkan besan- besan Abah naik ke atas sekalian Nila kembali ke kamar Rendi, walau tanpa Rendi, karena Rendi malah terdengar masih mengobrol di luar.
“Ngapunten, nggeh, Bah… naik turun tangga,” tutur Nila sopan.
“Nggak apa- apa Nduk, masih sehat kok, masih muda kita!” jawab Kyai Anwar, besanya Fatma ayahnya Fahri. Kalau Kyai Mansyur ayahnya Syamsul.
Setelah Nila menunjukan dimana kamar mereka dan kamar mandinya, Nila pun kembali ke kamar Rendi. Untuk tidur.
“Hah…,” Nila melepas hijabnya dan merebahkan dirinya di kasur Rendi yang sudah ganti sprei.
Sejenak Nila memandangi kamar Rendi lalu mendekap dadanya. “Kamar ini kamarku?” gumamnya dalam hati. Rasanya masih seperti mimpi.
Nila kemudian memiringkan tubuhnya dan meraih guling di sampingnya untuk dipeluk. “Mas Rendi mau nonton bola? Aman kan?” gumamnya sembari merem, tapi kemudian membuka matanya dan menoleh.
Nila melirik jam dinding, sudah jam 12an.
“Memang jam berapa bolanya? Dia mau di bawah sampai pagi? Aku kunci nggak ya? Ah tapi kan ini kamarnya?” gumamnya lagi memilih tak mengunci kamarnya.
Nila kemudian bangun dan mematikan lampu terang diganti dengan lampu tidur di atas nakas. Nila pun membaca doa tidur dan memejamkan matanya.
*****
“Auh…” pekik Nila terbangun karena tidurnya terganggu dan merasa ada gigitan di bagian tubuhnya.
“Ssstt…,”
“Mas..,” pekik Nila gelagapan spontan mendekap dadanya yang tidak Nila sadari sudah terbuka, bahkan lampu yang tadinya padam sekarang menyala terang. “Mas lagi apa?” tanya Nila dengan polosnya.
“He…” pekik Rendi tanpa rasa bersalah, malah tersenyum lalu berpindah posisi, sekarang tidur miring dan menyangga kepala dengan tanganya. “Sakit ya? Maaf, abis mas gemes!” ucap Rendi.
Nila tidak menjawab dan gelagapan, dengan nafas tersengal bercampur malu masih terasa seperti mimpi, Nila menundukan kepala memeriksa tubuhnya. Dada Nila yang sebelumnya bersih, kenapa sekarang banyak bercak merahnya. Tadi waktu mandi ada dua sekarang banyak, hampir penuh.
“Mas… apain Nila? Jangan dulu…,” tutur Nila lirih mendekap dadanya erat dengan kedua tanganya.
__ADS_1