Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Pria menyebalkan


__ADS_3

Fajar mengintip perlahan dan mencuat keluar, bayi Jingga sudah menangis keras mengajak ibu dan bapaknya bangun. Lebih dulu dari Jingga yang kelelahan Adip begitu sigap menghampiri putrinya.


Kini mereka sudah akur, saling bekerja sama. Bahkan selepas Baba dan Buna yang menjenguk mereka tak ada lagi yang ikut membantu. Sekedar Baby sister atau perawat pun tidak.


Adip sangat menyadari peranya sebagai suami dan ayah. Adip juga begitu menghargai perjuangan Jingga yang hampir menyerah bersalin normal dan kini lulus uji.


Jadi Adip melakukan semua tugasnya tanpa mengeluh, justru dia sangat bahagia.


"Cup..cup... anak ayah Sudah bangun tah? Tauan ya udah subuh?" bisik Adip lembut menghampiri bayinya yang menangis.


Bayi Adip tampak aktif menggerakan kaki dan tanganya acak, seakan ingin berbicara kalau dia berada di posisi yang amat tidak nyaman.


Adip langsung menggendongnya, akan tetapi anak Adip masih terus menangis.


"Cup...cup.. Sayang...ini udah sama ayah. Anak ayah yang sholeh... iya? Tenang ya..." Adip terus berusaha menenangkan anaknya. Akan tetapi bayinya terus menangis hingga Jingga yang terlelap ikut terbangun.


"Dia sepertinya haus, Bang!" celetuk Jingga begitu membuka mata.


Adip pun menoleh ke Jingga yang terbangun.


"Ya mungkin, coba kamu susukan ya...," ucap Adip


Jingga mengangguk tersenyum.


"Kemari!" ucap Jingga merentangkan tanganua meminta anaknya.


Adip pun mendekat ke Jingga dan memberikanya.


Tangan Jingga yang masih kaku pun menangkap bayinya, merengkuh dengan hangat dan berusaha menempatkan bayinya seperti yang Buna ajarkan tempo hari, bertumpu pada satu tanganya dan kepalanya menghadap satu buah da- danya.


"Cup..cup.. bismillah Nak, minum ya Nak... tenang ya Nak!" tutur Jingga lembut, sifat keibuanya keluar sembari mengarahkan put ingnya ke anaknya.


Bayi Jingga tampak sangat rusuh menoleh ke kanan dan ke kiri seperti tidak sabar untuk menghisap. Benar saja dengan cepat langsung melahap dan menghisap kuat.


"Sshh... pelan Nak," lirih Jingga baru merasakan sangat perih.


"Kenapa Yang?" tanya Adip sigap.


"Perih banget, Bang!" tutur Jingga.


Adip pun menyeringai kasian

__ADS_1


"Terus, Abang harus gimana? Tapi udah bener kan? Posisi adek begini?" tanya Adip.


Jingga mengangguk.


"Lama- lama enggak kok!" jawab Jingga berusaha membetulkan posisi bayinya sembari menuntut agar bayinya menyu-su dengan benar.


Setelah sepersekian detik bayi Jingga tenang dan mereka pun menidurkan bayi Jingga. Akan tetapi baru hendak mereka meletakan di tempat tidur bayi Jingga menangis lagi.


"Abang... udah kempes semua!" lirih Jingga mengeluh, Jingga yang semalam kurang tidur baru terlelap bangun lagi mulai merasakan pening dan kebingungan.


Adip menelan ludahnya dan berusaha menenangkan.


"Coba Bang Adip lihat, mungkin dia Pups!" jawab Adip cepat dan bergerak lebih dulu.


Jingga mengangguk cemberut, wajah Jingga nampak sangat kelelahan dan bingung.


Ternyata Benar, bayi Jingga butuh diganti pampers. Adip pun segera menggantinya dan bayinya Jingga kembali tenang.


"Hiks... maapin Jingga ya Bang!" isak Jingga merasa minder sendiri karena belum berhasil menjadi ibu yang baik.


"Minta maaf kenapa sih?" tanya Adip lembut.


"Sshh.. apa sih? Anak kita anak pintar jadinya nangis. Tuh udah diam. Udah sih jangan baperan gitu!" jawab Adip lagi.


"Abang pasti capek banget?" ucap Jingga lagi.


"Nggak kata siapa? Capekan kamu udah mengejaan kan?"


"Nila kok nggak balik ya Bang?" ucap Jingga lagi baru sadar sejak kemarin pagi adiknya itu tidak datang lagi.


"Nila kan repot dan punya urusan sendiri Sayangku. Lupa ya... dia ujian hari ini!" jawab Adip


"Oh iya ya? Oh iya hari kemarin kan sidang cerainya dia juga kan?" ucap Jingga baru ingat.


Adip mengangguk.


"Jangan repotkan dia lagi. Kita kan udah punya Mbak juga, ada Abang juga!" tutur Adip lagi.


Jingga pun mengangguk setuju.


Tidak lama, suster yang hendak memandikan bayi mereka datang. Adip pun menyerahkan bayinya untuk dimandikan. Dia dan Jingga pun ikut mendampingi, melihat sekaligus belajar.

__ADS_1


****


"Huuuft... bismillah!" batin Nila tenang melangkahkan kakinya masuk ke area kampus bekas kakaknya menimba ilmu.


Gedung- gedung tinggi dan pepohohan rindang sudah nampak di depan mata Nila. Nila diantar Baba langsung, dan dia kini sudah turun dari mobil berjalan ke arah petugas registrasi mahasiswa baru yang hendak tes.


Nila pun memberikan kartu ujianya, lalu diperiksa dan diarahkan ke ruang ujian. Nila pun berjalan bersama sesama pendaftar yang semuanya tidak Nila kenal, entah siapa mereka dari mana dan anak siapa.


Sebelum memasuki ruang ujian, mereka berkumpul dan diberi pengarahan beberapa tata tertib dan aturan ujian. Nila yang duduk di depan mendengarkan dengan tenang


Sesekali Nila mengedarkan pandanganya.


"Dosen seperti Pak Rendi, tidak menjadi panitia penerimaan mahasiswa baru kan?" gumam Nila seketika itu jantungnya berdetak lebih cepat takut tiba- tiba mantan suaminya ada di depanya.


Setelah mengedarkan pandangan dengan jeli, Nila tidak mendapatkan Rendi. Nila pun kembali menegakan duduknya dan menyimak lagi penjelasan.


Sepersekian detik, penjelasan teknis ujian selesai, sesuai urutan tempat duduk, mereka dipersilahkan masuk ke ruang ujian.


Nila pun mendapat komputer dan tempat ujian di pojok bagian depan. Sembari berdoa, Nila menyiapkan dan memeriksa semuanya.


"Kamu!" pekik seseorang yang berjalan masuk melewati Nila.


Nila pun menoleh ke sesama calon mahasiswa yang baru saja masuk dan hendak duduk di komputer dekat Nila.


"Kamu?" pekik Nila kaget juga.


"Ck.. haha!" pendaftar itu pun tersenyum sinis dan mengejek Nila.


"Kamu daftar sini juga? Ambil jurusan apa? Jangan bilang main suap ya!" ejek pria itu yang tak lain adalah pria yang Nila temui di rumah sakit.


"Ck...," Nila yang sedari tadi menenangkan hati agar fokus jadi berdecak menahan geram.


"Kita liat saja ya? Berapa nilaimu?" jawab Nila


"Kamu menantangku?" tanya pria itu.


"Kamu kan yang mengataiku suap. Aku masuk dan hendak mengikuti ujian secara fair!" jawab Nila.


Pria itu tersenyum lagi, belum jadi menjawab panita menyalakan mik dan meminta semua peserta untuk tenang


Nila pun kembali menghadap ke depan dan mengacugkan pria menyebalkan yang duduk di samping komputernya.

__ADS_1


__ADS_2