Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Liontin terbelah.


__ADS_3

“Aku malu. Kenapa kamu masih mau melihatku?" lirih seorang perempuan menunduk menitikan air matanya.


“Ssttt… udah nggak usah dilanjutin."


"Aku minta maaf. Aku tahu aku salah dan memalukan!"


"Sudah...tidak usah dibahas yang lalu! Aku cuma mau kamu kembali jadi Valen yang aku kenal Ada banyak hal hebat dan indah, tanpa aku yang bisa kamu gapai. Kamu hanya perlu berhenti menatapku. Buka hatimu dan lihatlah duniamu!” ucap Rendi ke Vallen dengan tatap kasihan.


Di dalam kamar rawat, dua insan itupun berbicara empat mata dari hati ke hati.


Ya seorang Perempuan yang matanya tampak sayu dan tubuhnya lemah dengan selang infus tertempel di lenganya, mengangguk menatap nanar pria di sampingnya yang bersedekap memberinya petuah. Dia adalah Vallen.


“Iya…, aku salah. Tapi sungguh ini yang aku rasakan Rend… aku pernah coba melupakanmu, menikah dengan orang lain. Melakukan apa yang bisa aku lakukan. Beprestasi dikenal banyak orang. Tapi nyatanya aku nggak Bahagia, aku justru menyakiti diriku dan orang lain. Uang, prestasi, ketenaran, semua tidak bisa membuatku Bahagia, aku hilang arah Rend, aku nggak tahu harus gimana? Kupikir semua percuma…, aku butuh kamu,” lanjut Vallen lagi mengungkapkan perasaanya.


Rendi tersenyum, menunduk sejenak dan menggaruk pelipisnya.


“Tapi lihatlah kenyataan Len. Cobalah berdamai dengan hatimu. Kamu tidak perlu memaksakan hatimu untuk menerima orang lain jika kamu tidak bisa.


Tapi kamu juga harus menerima, tak semua keinginanmu harus tercapai, dan jangan paksakan standar Bahagiamu, tapi terima takdirmu dengan Bahagia. Aku sudah menikah, aku mencintai istriku, dan kita tidak bisa Bersama. Jangan kamu membuat standar kamu akan Bahagia hanya bila bersamaku. Terimalah. Pasti kamu bisa kok bahagia dengan hatimu! Terima.


Kita kan masih berteman, tidak ada yang berubah kan. Kita masih bisa berdampingan, kamu bisa menjadi dirimu sendiri, tanpa harus merubah keyakinanmu juga, sama seperti sebelumnya,” sambung Rendi lagi Panjang.


Ya. Dulu kan mereka bertengkar masalah keyakinan, tentang prinsip hidup mereka. Hingga mereka berpisah dan Vallen menikah dengan orang lain. Tapi nyatanya Vallen tak bahagia dan ingin kembali ke Rendi, sampai ambisi.


Vallen sejak peristiwa di hotel begitu depresi, Vallen malu, dan sangat sakit hati. Saat dia merendahkan dirinya hendak menjebak Rendi, justru ketahuan dan mendapati kenyataan menyakitkan, Rendi justru Bersama istrinya. Vallen sangat malu.


Vallen yang termakan napsu dan obsesi, tidak kuat dan tidak terima mendengar dan melihat kebahagiaan Rendi Bersama orang lain.


Buat Vallen, seharusnya Rendi seperti dirinya, tidak akan Bahagia Bersama pasangan pilihan orang tuanya dan akan Kembali seperti dulu. Vallen meyakink itu sepenuh hati.


Nyatanya Rendi jaub lebih bahagia melebihi yang dia kira. Vallen tidak kuat hingga tidak mau makan, tidak mau minum, tidak mengurus diri sampai sakit.


Keluarganya, terutama ayahnya kalang kabut. Saat ia ingin menghampiri Rendi, kenyataan yang didapati, mereka melihat iring- iringan keluarga Rendi nampak Bahagia, membuat pesta kecil, tertutup dan begitu elegan di rumah Baba Ardi Gunawijaya.


Vallen semakin terpuruk sampai ingin mengakhiri hidupnya.


Itu sebabnya orang tua Rendi meminta tolong, Axel, Firman, Andre dan yang lain untuk membujuk Rendi agar bisa membantu ayah Vallen. Agar Vallen mau berobat.


Mendengar penuturan Rendi, Vallen lambat laun mau bicara, walau begitu dia masih menangis.


“Benar kamu masih mau menjadi temanku?” tanya Vallen mendongakan kepala dan menyeka air matanya.


Rendi pun tersenyum mengangguk.


“Kenapa tidak? Kita masih punya Kerjasama yang program beasiswa dan bakti sosial Kesehatan di pelosok kan? Kamu boleh menganggapku saudara kakak adik, partner, tapi aku tidak bisa menjadi suamimu!” jawab Rendi lagi.


Walau dengan mata sembab Vallen mengangguk.


"Maaf ya!"


“Maafku hanya kalau kamu mau makan dan sembuh. Vallen yang aku kenal smart dan menawan. Dia suka memberiku solusi dan ide kreatif. Aku tidak mengenal Vallen yang payah dan rapuh begini!” ucap Rendi lagi menyemangati.


“Aku terlalu menyedihkan ya?” tanya Vallen lagi sedikit tersenyum.


Ya mereka kan dulu sahabat, yang bekerja sama dan bekerja keras di negeri orang, sebagai anak perantauan. Mereka Belajar Bersama, bekerja paruh waktu dan membuat ide- ide lain berpetualang di negeri orang agar bertahan hidup membuktikan ke orang tua bahwa mereka bisa. Persahabatan mereka memang indah. Hingga Vallen jatuh hati.


“Sangat ditambah, memalukan!” jawab Rendi lagi membercandai Vallen.


Vallen pun kini tersenyum, karena Vallen memang hanya ingin bersama Rendi.


“Ya, sudah makan ya! Cepatlah sembuh. Aku bukan baby sistermu!” ucap Rendi lagi.


Karena Rendi yang meminta Vallen pun mau.


“Sebagai sahabat, boleh kan aku minta disuapi!” pinta Vallen tiba- tiba.


Rendi sedikit berdehem tidak nyaman dan melirik jam, waktu jemput Nila 1 jam lagi.


“Aku harus pergi, sudah dewasa makanlah sendiri!” jawab Rendi pelan menolak.


“Satu suap saja!” pinta Vallen mengerlingkan matanya.


Rendi menghela nafasnya, karena kedatanganya memang diminta untuk menyemangati Vallen, Rendi bersedia.


"Satu suap ya!" ucap Rendi.


Rendi pun mengambil makanan dan memberikan suapan makanan untuk Vallen.


Vallen makan lahap hingga bukan hanya satu suap, tapi meminta lebih sampai habis, dan Rendi terjebak di situ.


Di celah kaca pintu rumah sakit, Ayah Vallen dan juga Axel memperhatikan mereka, menghela nafasnya lega juga tersenyum senang.

__ADS_1


Ingat harus jemput Nila, walau tak memberitahu Vallen, Rendi undur diri dan pamit dengan alasan kerja.


“Terima kasih, ya!” ucap Ayah Vallen pelan tapi dengan tatapan dalam. Ayah Vallen mengulurkan tangan ke Rendi.


Rendi tersenyum mengangguk dan menjabat erat tangan ayah Vallen.


“Semoga Vallen bisa dewasa, Om!” jawab Rendi singkat.


Ayah Vallen tersenyum pelan. Rendi pun berlalu meninggalkan rumah sakit menuju ke kampus Nila.


Rendi melajukan mobilnya cepat tidak mau istrinya menunggu.


****


“Nila Sukanya apa ya?” gumam Rendi berfikir ingin menyenangkan hati istrinya.


Di pemberhentian lampu merah Rendi melihat pedangang asongan yang menjual pernak pernik gelang. Rendi tersenyum, mempunyai ide.


“Anak muda biasanya suka berhias kan? Aku lihat mahasiswaku begitu?” batin Rendi.


Lalu Rendi membeli gelang couple yang terbuat dari rangkaian tali hitam dan ada liontin ukiran batu Alam yang membentuk hati, tapi terbelah menjadi dua, kanan dan kiri.


“Berapa Pak?” tanya Rendi ke pedagang asongan.


“Sepasang 50 ribu, Mas!” jawab Pedagang asongan


Rendi memberikan selembar uang 100 ribuan. Saat pedagang asoongan hendak mencari kembalian lampu menyala kuning.


“Udah, Pak, kembalianya ambil saja!” ucap Rendi.


“Oh ya, makasih ya, Mas. Semoga pasanganya suka. Dan semoga kalian menjadi pasangan yang saling mengikat!” ucap Pedagang asongan itu.


Rendi hanya tersenyum mengangguk dan menutup pintu kaca mobilnya, Rendi melaju ke kampusnya.


Karena bukan jam pulang kantor, Rendi juga melajukan mobilnya kencang, Rendi tiba 30 menit lebih awal, tidak mau bosan menunggu, Rendi memilih ke ruangan kerja walau libur. Rekan kerjanya pun sekarang sudah mulai membercandai Rendi.


“Pengantin baru auranya beda ya?” goda teman- teman Rendi.


Kali ini Rendi ke kampus tak mengenakan kemeja batik dan celana kain.


“Iya, seger terus…” sambung yang lain.


Seperti anugerah Tuhan yang memang disiapkan, tepat saat itu, kelas Nila yang baru saja melakukan kegiatan perkuliahan dengan pantom, tampak berjalan bergerombol melewati halaman depan ruanh Rendi berasa menuju ke kelas.


Walau terlihat kecil karena dari kejauhan, tapi Rendi bisa menangkap tawa Nila yang begitu lepas Bersama Dita dan yang lainya, begitu manis, menggemaskan.


“Tertawalah , Dhek. Semoga Alloh juga bantu Mas, bisa tetap buat kamu tertawa” batin Rendi.


Akan tetapi kemudian Rendi terdiam, ada pikiran yang menyusup di hatinya. “Usia Nila memang sedang senang- senangnya belajar dan bermain, mereka sudah beberaapa kali berhubungan tanpa pengaman. Kalau Nila tiba- tiba hamil, apakah Nila akan tetap tersenyum seperti teman sebayanya? Apakah Rendi akan menyabut semua kebahagiaan Nila?”


“Huuft, kenapa aku jadi kepikiran sih?” gumam Rendi. “Apa aku saja yang KB? Tapi udah terlanjur jadi belum ya?” gumam Rendi malah Rendi yang pusing dan ingin mengalah tidak ingin merebut kebahagiaan Nila.


Lamunan Rendi dibuyarkan oleh temanya, Rendi pun menyambut temanya lalu mengobrol sejenak. Kuliah Nila selesai dan Rendi segera pamit, menghampiri Nila.


“Ciee… yang dijemput suami.” Gurau teman- teman Nila, termasuk Miki. Miki kan mahasiswa yang juga menjadi fans Rendi.


“Apa sih?” jawab Nila tersipu.


Di halaman kelas, Rendi tampak menunggu, bersandar di kap mobil dengan penampilanya yang tak biasa.


“Ya ampun cakep banget suami orang? Ayo dong liat mesranya dong!” gurau teman- teman Nila.


Ya, di hadapan teman- teman, kan Nila dan Rendi bersikap tidak saling kenal, Nika juga hampir tak pernah bermesra dengan laki- lakim.


Selain Della dan Celine, tak ada yang pernah melihat Nila bermesraan dengan Rendi. Mikii dan Sania kan kemarin melihat di mobil hanya dari kejauhan itu saja mereka hanya menebak tidak melihat pastinya.


Nila tersipu- sipu, canggung, jual mahal. Terhadap Rendi, Nila masih menunduk dan tidak berani menyapa, sebab teman- teman Nila sengaja berdiri ingin melihat bagaimana mereka berinteraksi.


Karena malu, bukanya mencium tangan Rendi, Nila menggigit bibir bawahnya tidak menatap Rendi malah langsung masuk ke mobil.


“Yaaah…, gemes banget sih Nila… peluk apa cium gitu?” Miki dan Dita langsung kecewa ingin melihat bagaimana dosen mereka memperlakukan istrinya yang manis, sayangnya taka da interaksi apapun kecuali tatapan wajah Rendi yang memang selalu membuat gadis yang melihatnya meleleh.


Tak hanya Dita dan Mikki yang kecewa akan sikap Nila yang jaga jarak, Rendi juga kecewa, karena Rendi sudah berdiri di depan mobil menunggu Nila. Tanganya dianggurin. Rendi langsung menggelengkan kepalanya, lucu sekali gadis kecilnya ini saat malu- malu. Tapi Rendi pun mengerti daan segera masuk ke mobil.


****


“Hah… munafik semuanya!” cibir seseorang di belakang Miki dan Dita.


Mikki dan Dita pun menoleh.


“Maksud kamu apa?” tanya Dita ke Della.

__ADS_1


“Mana ada suami istri begitu. Nila nggak sepolos itu! Sok alim banget!” ucap Della.


“Ya terus masalah gitu? Kan mereka suami istri? Bukan sok alim, mungkin Nila menjaga dan belum terbiasa,” jawab Dita sinis.


Della hanya berdecak, lalu berlalu pergi. Della pergi dengan mulut manyun dan menggerutu, entaah apa yang dia pikirkan.


Mikki dan Dita yang sudah baikan pun hanya mencebik.


“Kenapa sih, Della sirik banget sama Nila?” tanya Dita.


Ya, Dita tahu mahasiswa di kelasnya kecuali dia dan mahasiswa beasiswa lain yang hanya 3 orang adalah orang kaya semua, termasuk Miki, Sania dan Celine.


Dita lihat Della juga barang- barangnya bagus, Dita pikir, Della juga kaya. Seharusnya tak ada alasan iri menurut Dita. Dita yang anak daerah kuliah karena beasiswapun yang notabenya paling sederhana tak iri sedikitpun. Di otak mereka hanya bagaiamana mereka bisa hafal dan paham materi kuliah mereka.


“Entahlah. Della patah hati kali, pacarnya nggak seganteng Pak Rendi!” jawab Mikki menebak. Walau satu geng, tapi Miki beda pkiran denhan Della.


Mereka pun pergi.


****


“Lain kali mobilnya jangan di depan kelas gitu, Mas! Mas juga jangan berdiri nungguin Nila di depan mobil kaya tadi,” ucap Nila dengan mengkerucutkan bibirnya tersipu.


“Kenapa?” tanya Rendi mengernyit.


“Malu…,” rengek Nila dengan wajah manjanya menatap Rendi.


Rendi pun terkekeh melihatnya. Rasanya ingin cepat sampai rumah dan melahap Nila habis- habis.


“Malu kenapa?” tanya Rendi.


“Diliatin banyak teman. Mas juga jangan pakai kaos dan topi begini!” rengek Nila lagi menunjuk penampilann Rendi.


“Lah apa masalahnya? Mas ganteng kan begini?” tanya Rendi lagi.


Ya, Rendi kan tidak mengajar, Rendi memakai kaos yang press body sehingga tubuh kekarnya mampak jelas. Rendi juga mengenakan celana ¾ dan topi, sehingga Rendi tampak jauh lebih muda dari usianya, cool, trendy dan tampan.


Dijawab begitu Nila tambah cemberut. Nila tidak ikhlas kalau Rendi terlihat tampan di depan teman- temanya.


“Pokoknya kalau ke kampus, pakai kemeja batik aja. Sama pakai kacamata kaya biasanya, pakai begininya kalau sama Nila aja!” ucap Nila akhirnya mengungkapkan cemburunya.


Rendi semakin terkekeh dibuatnya.


“Cemburu yah?” tanya Rendi.


“Nggak!” jawab Nila gengsi.


“Terus?”


“Ya kan biar mas tetep berwibawa sebagai dosen. Jadi terlihat dewasa, kalau begin ikan kaya anak main! Apaan sih? Nila nggak mau Mas dilecehin dan nggak ditakutin lagi!” jawab Nila beralasan.


Rendi hanya tersenyum, dan mencebik. Susah aekali jawab vemburur. Mau tua atau muda kalau benar Rendi tetap disegani kan?


Padahal juga kan niat Rendi berpenampilan menarik, mencukur kumis dan tidak pakai kacamata agar mengimbangi istrinya yang muda. Nila juga tidak tahu, kalau Rendi habis nengokin mantanya dengan penampilanya yang trendi ini.


“Mas punya sesuatu buat kamu!” ucap Rendi kemudian.


“Apa?” tanya Nila.


“Buka laci mobil!” titah Rendi.


Nila pun membukanya dan segera mengernyit. Lalu mengambilnya.


“Ini?” tanya Nila.


“Lucu kan? Kamu suka nggak? Kita pakai? Mas hati yang kanan kamu yang kiri!” ucap Rendi.


Nila langsung tersipu dan senyumnya mengembang menatap suami tampanua dengan penuh cinta.


“Mas suka beginian?” tanya Nila tidak menyangka. Rendi juga tahu hal- hal seperti itu.


Rendi mengangguk. “Kamu suka nggak?”


“Suka banget? Kok tahu?” tanya Nila ternyata sesuai tebakan Rendi.


“Pakaiin!” ucap Rendi mengulurkan tangan kirinya.


Dengan semangat Nila memakaikan gelangnya. Semasa di pesantren, jika hari libur atau mereka stress hafalan, secara bergerombol, Nila dan teman- teman kan nonton film romantis. Tak jarang mereka juga ingin seperti anak SMA yang lain.


Mereka berdua pun memaki gelang couple murah itu. Lalu Nila memfoto lengan mereka berdua.


Meski jarang- jarang, Nila memposting kedua tangan mereka, bahkan Nila meminjam ponsel Rendi dan mengubah profil Rendi dengan tangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2