
“Maafkan Nila Ba…, Nila harus bohong ke Baba,” gumam Nila sesampainya di kamar.
Baba tidak berhenti dan tidak jemu mengingatkan Nila, kalau ketemu Rendi harus menjauh dan tegas.
Karena sudah bosan mendengar, Nila iya, iya aja agar tak berkepanjangan, dan dia mengalihkan membahas tentang tugas Nila besok. Karena dibantu Buna meski direcoki Iya Iyu dan Vio tapi Nila mengerjakanya dengan cepat, dan kini dia sudah kembali ke kamar bersiap untuk istirahat.
“Baba kan tanya, Apa Pak Rendi nemuin aku? Dia kan nggak nemuin aku, tapi datang ke kelasku sebagai dosen bukan menemuiku aecara pribadi, insya Alloh aku nggak dosa," batin Nila lagi.
Ya memang, Pak Rendi tidak menemui Nila, tapi mereka bertemu. “Semoga tidak ada mata kuliah yang diajar dia, kalaupun ada, saat semua kecanggungan kami berkhir,” Nila masih terus bermonolog tentang Rendi saat dia sendiri.
Seperti kebiasaan Nila, sebelum tidur agar hatinya tenang, mengambil air wudzu, sholat sunnah dan bersua dengan Al Qur’an walau satu ayat, biasanya dia akan membaca Al Mulk, kata Ummi itu akan menjadi temanya di alam barzah nanti. Jika dia masih kuat dia akan membaca surah lain yang dia suka, setelah matanya mulai lelah, diapun mengakhirinya, barulah dia sholat.
Dari situlah hati Nila yang sebelumnya diliputi kegundahan dan emosi kembali dingin dan jernih.
Sebelum tidur dia pun berdoa dan juga berharap kebaikan di hari esok.
__ADS_1
“Sebenarnya dia tidak pernah menggangguku dan menyakitiku secara fisik, tapi kenapa aku sesakit ini? Seharusnya aku tak boleh sakit saat memasrahkan semuanya padaMu kan. Cinta kasih sayang juga jodoh bukankah sudah ditentukan? Harusnya aku pasrah. Aku sakit karena aku berharap dia mencintaiku. Tidak, aku tidak boleh sakit. Aku harus tetap tunjukan yang terbaik dan menghadapinya dengan tenang. Ingat Nila. Alloh sudah pilihkan jodoh yang terbaik,"
"Ya Alloh, aku tidak sabar melihat kalender akademiku, juga mata kuliah di semester ini, please, untuk saat ini sampai aku bisa menjaga hatiku dari rasa sakit dan berharap, jangan ada dia. Kalau pun aku harus diajar dia, semoga kecanggungan ini berakhir. Semoga semua sudah kembali baik. Aku juga berdoa yang terbaik untuknya mendapatkan jodoh terbaiknya, dan biarkan aku meraih cita- citaku,” batin Nila memejamkan mata.
****
Di tempat lain.
“Brrrrr…..,” Tidak seperti Nila yang menghabiskan malamnya untuk berdoa, dan beribadah.
Rendi yang sebelumnya dijauhi, merasa ini kesempatan berharga agar dia menyambung tali silaturrahim lagi. Begitu mendapatkan alamat kafe baru Axel, Rendi langsung berdandan dan menuju ke lokasi.
Setelah sepersekian menit, Rendi pun sampai di tempat acara. Kendaraan rekanan Axel pun tampak memadati area parker. Lampu gemerlap dan music juga mulai Rendi dengar. Sebenarnya Rendi juga rishi dan malas, bahkan dalam hati Rendi bertanya, usaha macam apa yang Axel buka ini.
Tapi karena Axel berbeda keyakinan Rendi pun tak mempermasalahkan, yang penting memenuhi undangan dan tak menjadi teman pemarah.
__ADS_1
****
“Itu dia datang,” bisik Axel ke Vallen.
Vallen yang sudah menunggu di balkon lantai dua pun melihat ke bawah.
“Aku sudah katakana pada dia, bawa pasanganmu, kalau dia punya istri, dia akan mengajaknya. Buktikan sendiri perkataanku!” ucap Axel lagi ingin membuktikan ke Vallen kalau dia tidak sedang memoermainkan Vallen.
“Tapi kan bisa saja istrinya memang tidak di rumah dan LDR?” jawab Valen.
“Kalau begitu, buktikan sendiri ya!” ucap Vallen lagi.
“Hmmm…,’ dehem Vallen menatap Axel masih ragu ke Axel tapi Vallen juga tertantang.
“Main cantik dan elegan ya, ingat Rendi lurus!” bisik Axel lagi.
__ADS_1
“Aku tahu!” jawab Vallen dingin, masih berdiri bersedekap dengan gauh merahnya. Vallen tidak mau terkesan agresif dan dipermalukan seperti hari kemarin walau dia sangat rindu Rendy. Vallen mengenal Rendi, Rendi suka perempuan yang bermartabat, bukan yang mengejarnya.