Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Ada apa ini


__ADS_3

“Hei… kamu, tunggu!” ucap Kak Dimas, kaka tingkat Nila yang sedang isi materi menunjuk Farel.


Farel asal masuk dan mau nyelonong duduk.


“Saya?” tanya Farel tanpa rasa bersalah.


“Iya, siapa lagi? Kamu terlambat, sini berdiri di sini!” ucap Kak Dimas menunjuk tempat di sampingnya di dekat meja di hadapan teman- teman satu fakultas di angkatanya.


“Ck… tidak mau!” jawab Farel dengan sengaja melawan.


Tentu saja, semua orang di kelas itu, tanpa terkecuali, Nila dan Hanan langsung menatap heran ke Farel.


“Wuaah… bakal seru ini?,” gumam Dita keheranan melihat orang seperti Farel, sementara Nila hanya menghela nafas dan tetap tenang.


“Berani sekali kamu melawanku? Kamu tidak tahu siapa aku? Baru masuk kuliah sudah belagu, mau jadi dokter macam apa kamu?” omel Dimas spontan terpancing emosinya dan geram melihat orang seperti Farel.


"Hh...Ck!" Farel hanya berdecak lirik dan melirik ke Nila, tentu saja Dita yang sedang memperhatikan Farel kembali menangkap tatapan Farel. Dita semakin melotot dan melirik ke Nila. Sementara Nila Nampak tenang dan tidak memperhatikan Farel.


“Baiklah!” jawab Farel akhirnya patuh ke Dimas.


Farel maju mendekat ke Dimas dan berdiri di hadapan teman- temanya.


“Berdiri di sini? Siapa namamu?” tanya Dimas.


“Farel!” jawab Farel malas.


“Nama lengkapmu?” tanya Dimas masih sopan.


“Farel Aditya Laksana!” jawab Farel lagi.


Rupanya Dimas sedang mencocokan dengan daftar absen adik tingkat barunya itu.


“Minta maaflah ke teman- temanmu karena kamu sudah mengganggu waktu mereka? Dan minta ijin apa kamu boleh masuk atau tidak?”


“Kenapa aku harus minta maaf dan minta ijin?” tanya Farel lagi.


“Dengan kamu terlambat, kamu sudah menjeda waktu mereka mendapatkan materi dariku! Kamu tahu kamu sudah terlambat 30 menit. Calon dokter harus disiplin! Mau bagaimana pasienmu kalau kamu suka terlambat?” jawab Dimas memberikan pengajatan.

__ADS_1


Sayangnya Farel malah tersenyum mengejek dengan muka congkak.


“Kalau begitu, biarkan saya duduk, jadi tidak mengganggu kan? Kenapa harus berdiri lebih mengulur waktu kan?” jawab Farel semakin tidak sopan dan menantang.


"Kamu ya? Aku di sini sedang memberi materi untukmu, kamu anak baru? Tahu sopan satun kan?"


"Materi apa sih? Penting ya?" tanya Farel semakin menjadi.


Dimas pun dibuat semakin geram.


“Keluar kamu!” ucap Dimas emosi malas meladeni Farel lagi.


“Kok keluar?” jawab Farel tambah menantang sengaja membuat masalah.


“Minta maaf dan duduk atau keluar?”


“Haish… nggak mutu banget sih?” gumam Farel malah mencela sembari mengulum lidahnya kesal dengan tatapan matanya yang berani melawan.


“Apa kamu bilang?” tanya Dimas semakin emosi dan sedikit meninggi.


“Hehh…,” Farel bahkan tersenyum sinis menatap Dimas, tentu saja Dimas semakin tersinggung bahkan mengepalkan tanganya.


“Sombong sekali kamu! Ini sudah jadi prosedur, semua mahasiswa baru di kampus ini harus mengenal kampus ini? Kamu mau melawan? Silahkan keluar dan jangan kesini!” omel Dimas mempertegas dan sedikit galak.


Sayangnya Farel tidak takut.


“Ck… alibi! Ini bukan kampusmu. Terserah akulah keluar atau enggak? Kamu mahasiswa juga kan?” ejek Farel lagi.


“Kurang ajar kamu ya! Tidak punya sopan santun! Perlu dikasih pelajaran kamu ya!” teriak Dimas tidak tahan.


“Apa? Aku nggak takut, mau jadi apa aku? Terserah aku lah!” jawab Farel malah membetulkan tasnya ingin pergi.


Semua teman- teman Farel pun menegang melihat ketegangan di antara Farel dan Dimas.


“Bug!” karena kelewat emosi Dimas melemparkan bogeman ke Farel.


Mahasiswa lain yang laki- laki langsung berdiri.

__ADS_1


“Aaakh,” sementara yang perempuan langsung menjerit.


Suasana kelas pun jadi ramai.


Dimas langsung memberikan kode tangan ke siswa lain untuk tenang. Sementara teman Dimas sesama anak Band mendekat dan berbisik untuk tahan emosi.


“Aku minta maaf. Dia contoh calon mahasiswa tidak berakhlak! Jangan tiru dia!” ucap Dimas kemakan emosi ke anak- anak lain.


Sementara Farel yang dikatai malah tampak tersenyum dan mengusap pipinya. Lalu dia berdiri tegak dan menatap Dimas lagi.


“Memang kamu terpuji dan berakhlak? Kamu lebih brengsek dan nggak bermutu, kamu memukulku lebih dulu!” jawab Farel menantang.


Dimas sedikit bergetar karena dia sadar dia salah, tapi kemudian Dimas langsung bela diri.


“Aku kakak tingkatmu, aku di sini sedang bertugas dan mempunyai surat resmi. Tapi kamu bersikap kurang ajar dan tidak sopan! Keluar dan jangan buat keributan!” ucap Dimas.


“Keributan? Kan kamu yang mulai, Kamu memukulku!”


“Keluar!” ucap Dimas tidak suka dengan suara meninggi.


“Tidak mau, nggak adil dong masa aku doing yang dipukul! Aku juga mau!” ucap Farel malah menantang Dimas.


Dimas dibuat melotot. Benar Farel melempar tasnya dan maju. “Ayo kita bertengkar!” tantang Farel.


Dimas pun kelabakan dan menoleh ke anak- anak kelas. Hanan dan yang lain menegang ingin melerai.


“Ehm….,”


Akan tetapi di saat yang bersamaan, terdengar deheman seorang pria yang berdiri bersedekap di ujung pintu dengan wajah dingin dan tampanya.


"Ada apa ini?" tanya orang itu menatap ke Dimas dan Farel.


Dimas langsung pucat sementara Farel langsung diam


"Waaah ganteng banget?" sementara Dita dan mahasiswi yang lain saling bergumam menatap pria itu.


Pria itu berjalan tegap, dengan wajah dingin dan matanya yang lurus menatap ke depan. Lalu Pria itu mendekat ke Dimas.

__ADS_1


"Sedang ada role play materi apa? Kok aku baru tahu di aula ada role play macam ini?" tanya pria itu.


__ADS_2