Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Kehilangan


__ADS_3

"Mas Rendi....Mas... Mas!" lirih Nila mengigau.


Karena Nila kecelakaan di tempat umum, Nila segera ditolong banyak orang. Nila segera dilarikan ke rumah sakit.


Tidak ada luka serius karena Nila masuk ke sungai kecil yang berair. Akan tetapi Nila sempat syok dan ada lecet karena benturan dinding sungai di beberapa bagian.


Untungnya Nila membawa tas yang berisi identitas. Warga dan polisi mudah untuk mengidentifikasi Nila.


Baba yang tadinya kelimpungan menelpon Nila sampai menyambangi rumahnya, langsung meluncur ke rumah sakit saat mendapat telepon dari rumah, kalau ada polisi yang mencarinya dan mengabarkan dimana Nila.


"Nila kamu sudah sadar, Nak?" tanya Buna cepat, memajukan kursinya, meraih tangan Nila dan mengusap lembut kepalanya.


Sesampainya di rumah sakit, Buna dan Baba langsung tergopoh memeriksa Nila. Dokter dan perawat menjelaskan setelah dibersihkan dan diperiksa, tidak ditemukan kegawatan dari luar, tapi Nila tetap harus diobservasi takut ada luka dalam, dan nanti akan diperiksa lagi jika ditemukan kelainan.


Walau harap- harap cemas. Buna menunggu dengan sabar dan terus berdoa. Kini Buna sangat lega mendengar Nila mengigau lirih.


"Buna... Aku dimana?" tanya Nila begitu membuka mata.


Buna pun tersenyum hangat untuk Nila.


"Kamu di rumah sakit, Nak. Buna di sini untuk kamu. Baba juga ada di luar bersama Kak Jingga dan Bang Adip. Semua akan baik- baik saja. Apa yang kamu rasa? Pusing? Sakit? Mana yang sakit?" tanya Buna lagi


Ditanya begitu. Nila malah terlihat gelisah.


"Rumah sakit? Rumah sakit mana? Kok Baba sama Bang Adip malah di sini? Aku kenapa? Suruh Baba dan Bang Adip pergi bantu Mas Rendi Bun. Mas Rendi Bun? Nila harus ketemu Mas Rendi. Mas Rendi nggak boleh dipenjara!" racau Nila langsung ingat suaminya dan kembali histeris.


Buna langsung menunduk menelan ludahnya sejenak menahan hatinya yang terasa pilu melihat putrinya sakit. Tapi Buna harua menguatkan Nila. Buna pun segera mengangkat wajahnya dan kembali tersenyum.


"Kamu di rumah sakit angkasa. Tadi kamu jatuh di got dekat perempatan pasar depan situ. Jadi sama warga kamu dilarikan ke sini. Yang tenang. Istighfar. Kita bantu Rendi bareng- bareng. Sekarang kamu tenangkan diri dulu. Mau minum? Hum?" tanya Buna lembut.


"Nggak Bun. Ayo cepat temui Mas Rendi. Kita harus cegah polisi bawa Mas Rendi! Nila mau ketemu Mas Rendi!" racau Nila lagi sangat gelisah dan menyibak selimutnya.


Buna pun menahan tangan Nila agar tetap stay.


"Baba akan bantu Rendi. Tapi kamu harus sehat dulu. Tenangkan dirimu dulu. Istighfar, ambil nafas dalam, hembuskan pelan.b Ceritakan apa yang terjadi? Cerita dulu sama Buna!" ucap Buna lagi menenangkan Nila dengan penuh kasih.


Nila terdiam, Nila istighfar namun sepersekian detik. Nila meneteskan air matanya dan menceritakan detail masalahnya.


"Astaghfirullah. Jadi masalah lama?" tanya Buna mengangguk dan menyimpulkan.


Ya. Nila memang pernah menceritakan masalah Farel ke Buna dan Baba saat pertama kalinya Rendi menyambangi rumah Baba untuk meminta restu dan meminta maaf setelah pulang dari rumah sakit dan dari rumah Jingga.


"Nila juga nggak ngerti. Kenapa orang tua Farel tiba- tiba nyerang Mas Rendi? Padahal itu udah lama Bun!" ucap Nila lagi.


Buna pun mengangguk dan menepuk punggung tangan Nila.


"Buna akan ceritakan ke Baba. Kamu tenang doa. Sehat dulu. Baba akan bantu. Bentar yah!" ucap Buna menenangkan Nila.

__ADS_1


Nila pun mengangguk tenang.


"Janji ya Bun. Baba bantu Mas Rendi!" lirih Nila lagi.


Buna mengangguk


Buna lalu keluar.


Sesampainya di depan kamar rawat Nila. Baba dan Adip tampak duduk menunduk tegang.


Baba seperti emosi. Sementara Adip tampak memeriksa ponsel. Begitu langkah Buna terdengar keduanya pun menoleh.


"Bagaimana keadaan Nila?" tanya Baba langsung.


Buna pun tersenyum tenang.


"Alhamdulillah aman!" jawab Buna


"Baba mau bicara dengan Nila. Kita pindahkan Nila ke rumah sakit Om Nando saja. Sita hapenya!" ucap Baba kasar


"Mas!" pekik Buna langsung mendelik. "Kok mas gitu sih? Nila masih syok.Dia juga pasti stress dan panik. Jangan asal gitu!" tegur Buna ke Baba


"Haish!" Baba malah langsung mendesis. Rupanya Baba seperti Jingga awalnya. Baba justru marah dan justru kecewa ke Rendi, kenapa malah membuat Nila sedih dan membuat masalah.


"Sejak awal Baba sudah bilang. Sudah cerai saja Nila dan Rendi jadi begini kan? Ribet!" ucap Baba.


Baba, Jingga dan yang lain kan belum tahu.


Mendengar kata Buna. Baba langsung terperangah.


"Laksana?"


"Nila baru saja cerita!" ucap Buna.


"Itu kan sudah lama!" pekik Baba.


"Bun.. Ba.. Lihat ini! Sepertinya kasus Pak Rendi ada yang mengomporinya!" ucap Adip memotong perdebatan Buna dan Baba.


Adip menyerahkan ponselnya. Rupanya di beberapa media sosial dan akun berita, Penangkapan Rendi di up, bahkan dibubuhi narasi yang berbeda.


Baba dan Buna langsung mengeratkan rahangnya. Sementara Jingga ikut penasaran.


"Dosen aniaya mahasiswa karena cemburu. Dosen dan mahasiswa terlibat cinta segitiga, hingga tangan jadi taruhanya. Dosen aniaya mahasiswa hingga nyaris kehilangan nyawa...."


Berbagai judul dan timeline tersebar. Foto Rendi memukul Farel yang di up, sehingga semua menghujat Rendi.


"Astaghfirullah...," Buna dan Baba langsung tidak bisa berkata- kata.

__ADS_1


"Laksana! Dia memang harus dimatikan!" gumam Baba sangat geram.


"Ada apa sih Bang?" pekik Jingga jadi sangat ingin tahu.


Buna pun menyerahkan ke Jingga.


"Kita harus bantu Pak Rendi, Ba!" ucap Bang Adip


Buna mengangguk.


"Biar Nila, Buna dan Jingga yang jaga. Baba jangan suudzon sama mantu sendiri ya. Bantu Rendi. Temui dia di penjara. Kasian, dia sendirian Mas. Tolong dia!" ucap Buna meraih tangan Baba.


Baba yang tadinya suudzon dan marah, langsung mereda dan mengangguk.


"Baba mau ketemu Nila dulu,"


"Jangan marah. Jangan kasar. Kasian Nila. Tenangkan Nila. Yaa." ucap Buna lagi.


Baba mengangguk.


Baba, Jingga dan Bang Adip pun masuk. Kini mereka minta maaf sudah sempat salah sangka ke Rendi. Baba meyakinkan ke Nila kalau Baba akan segera bantu Rendi.


"Tapi janji. Kamu harus sehat!" ucap Baba.


Nila pun mengangguk.


"Iya Ba. Kasian Mas Rendi, Ba. Mas Rendi nggak berniat nyelakain Farel. Farel bahkan menyerang Nila dan masih terus berontak Ba. Mas Rendi hanya bela diri! Nila ada di sana. Bahkan Nila juga sempat terluka waktu itu!" imbuh Nila banyak.


"Ya. Ini Baba akan telpon pengacara Baba dan Baba akan ke kantor polisi secepatnya!" jawab Baba mantap.


Setelah berpamitan, Baba dan Bang Adip pergi meninggalkan rumah sakit. Sementara Jingga dan Buna langsung mendekat.


Tidak lama Amer datang. Sementara Ikun langsung Baba telepon untuk cepat melacak penyebar berita dan minta Ikun menahan berita agar tidak menyebar bertambah luas. Sayanya berita sudah tersebar sejak beberapa jam dan tak terkendali.


*****


Pov sebelumnya.


Rendi menunaikan tugasnya sebagai dosen dengan baik. Dia mengajar di kelas mahasiswa semester 4. Selama perkuliahan semua berjalan lancar.


Akan tetapi sesampainya di ruang dosen polisi sudah menunggu dan langsung menangkap Rendi. Bahkan tidak mau berkompromi dan tidak peduli itu di area kampus. Hingga dosen- dosen lain terbengong heran dan mahasiswa Rendi terheran- heran.


Tentunya kecuali 1 orang mahasiswi yang langsung tersenyum lega.


"Makanya, jadi orang nggak usah sok urusin hidup orang!" batin mahasiswi itu.


Sementara satu mahasiswi lagi juga bergumam.

__ADS_1


"Kampus ini akan kelihangan orang berkualitas lagi. Hah... Ck..."


__ADS_2