
"Tes.."
Ditanyai apa kamu cemburu Nila semakin kesal. Mana mungkin Nila akan jawab iya cemburu, kenapa harus ditanya. Nila jadi ingin marah tapi tidak tahu caranya dan jadi menangis sendiri.
"Haish...," desis Rendi mengacak- acak rambutnya pusing sendiri kenapa Nila susah sekali ditebak maunya apa. Ditanya malah nangis.
"Ehm...," dehem Rendi bingung bagaimana caranya mengatasi Nila. Mau kesal nanti seperti malam itu Nila kabur dan minta jemput Jingga. Nggak mau kesal Rendi frustasi harus bagaimana salah ucap sedikit bahaya.
"Maaf. Jangan nangis lagi... Mas pusing nih kalau kamu nangis gini?" ucap Rendi dengan jujurnya.
Dikatai bikin pusing Nila semakin marah.
"Ya udah kalau aku bikin pusing Nila pulang sendiri aja!" ucap Nila bangun dari duduknya.
"Haish...," desis Rendi meraih tangan Nila. Rendi bangun menahan Nila menjauh, lalu berdiri menghadap Nila.
Ya, inginya Nila kan dikejar dijelaskan Vallen itu siapa? Tidak usah ditanya cemburu atau tidak jelas iya. Tapi Nila tidak bisa menjawab iya.
Siapa juga perempuan yang pernah Nila lihat siang itu bersama Rendi di kafe, siapa juga Livi. Di otak Nila kan jadi berjalan berbagai spekulasi yang terus mengoyak hatinya yang masih labil dan ingin diteguhkan dengan cinta.
Sebelum menginjak bangku mahasiswa. Sebelum dijodohkan, selama di dalam pondok dan belum keluar rumah, semua hal yang Nila dengar tentang Rendi kan baik. Seorang pria matang, mapan, sholih, juga tampan dan jadi kesayangan Baba. Semua angan Nila baiik semuanya. Seperti di dalam novel dan cerita indah dalam kajianya.
Nila tidak tahu, cemburu ternyata semenyakitkan ini.
Mendengar Rendi juga pernah menghukum Jingga di ruanganya, padahal terhadap Nila Rendi memeluk, Nila malah berfikir lain. Lalu di tambah Livi, belum lagi saat Nila hendak meminta berbicara empat mata melihat tangan Rendi dipegang perempuan, dan sekarang yang lebih tidak menyangka ternyata Rendi sebenarnya akan diajak makan siang di hotel, oleh perempuan. Apakah ini yang pertama atau sudah pernah sebelumnya.
Nila yang hampir memaafkan Rendi kembali dihantui berbagai spekulasi negatif. Dan ternyata mengetahui semua itu sangat menyakitkan.
Karena Nila memang ingin dirayu dan ingin dengar penjelasan Rendi. Nila berhenti tapi masih mengunci pintu mulutnya.
Rendi menyeringai dan mengusap tengkuknya. Rendi benar- benar bingung menebak isi hati Nila. Tanya salah asal menebak juga salah.
Awalnya dia Kira Nila menangis karena dia kelaparan? Dia cium? Liat dia di kamar mandi? Cemburu atau karena apa? Tapi semua Rendi tanyakan malah Nila ngambek mau pergi.
"Mas minta maaf. Please! Duduk dulu!" ucap Rendi mentok, bingung mau ngomong apa. Kata orang kata maaf bisa menyelesaikan semuanya.
Nila hanya menunduk.
Rendi berfikir lagi untuk merangkai kata merayu Nila.
"Mas tidak tahu, apa yang pernah Baba, Abah dan Ummi katakan tentang Mas. Mas nggak ngerti apa penilaianmu tentang Mas. Dan terlepas dari semua kesalahan Mas. Mas sayang sama kamu. Mas akan berusaha jujur. Mas jatuh cinta ke kamu. Mas ingin kita sama- sama berjuang buat lanjutin pernikahan kita. Hm?"
Nila mulai menelan ludahnya dan mengulum bibirnya, hatinya mulai mengembang. Tapi bibirnya rasanya kelu ingin menjawab. Nila kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Rendi.
"Duduk dulu. Kamu mau tanya apa ke Mas? Kamu mau apa tentang Vallen? Tentang hidup Mas. Mas akan jelasin. Jangan nangis lagi. Kamu tahu kan kalau kamu nangis, mas nggak bisa nahan lagi. Tak cium lagi nanti kamu!" tutur Rendi lagi pokoknya harus meluaskan hatinya agar Nila bisa mengerti.
Mendengar kata cium Nila spontan menutup bibisnya dan mengernyit.
Tentu saja Rendi yang sebelumnya hampir habis kesabaranya langsung terkekeh melihat Nila menutup mulutnya.
Ya, Rendi kan sudah berhasil merampas paksa ciuman Nila.
__ADS_1
"Ayo duduk dulu makan dulu!" ucap Rendi lagi.
"Makananya belum datang!" akhirnya Nila mau membuka mulutnya lagi.
"Kan bentar lagi. Sini duduk dulu!" ajak Rendi menunjuk ke sofa yang menghadap ke taman hotel.
Nila pun patuh, karena Nila inginya memang dijelaskan dan diberitahu.
"Vallen itu teman kuliah Mas dulu, di luar!" ucap Rendi memulai sembari melirik Nila di sampingnya.
Nila masih mendengarkan sembari duduk tenang dan menunduk. Jika dilihat dari samping sangat manis.
"Emang Baba bilang apa?" tanya Rendi lagi.
Nila menelan ludahnya pelan lalu menatap Rendi.
"Mas pacaran? Hubungan pacaran seperti apa yang mas jalani bersama Mbak Vallen ini? Dia perempuan seperti apa?" jawab Nila tidak mau memberitahu apa yang Baba deskripsikan tentang Rendi karena nanti Rendi GR dan besar kepala.
Rendi mengangguk lalu menatap ke depan matanya seperti menerawang.
"Sebenarnya Mas juga nggak terlalu yakin dan cinta sama Vallen. Itu sebabnya mas melepaskanya dan tidak memperjuangkanya. Di luar mahasiswa seperti Mas seperti diberi blok tempat tinggal gitu. Kaya rusun tapi lebih bagus. Kita berenam sebenarnya banyak tapi yang dekat ber enam. Kita juga punya kerjaan part time bareng, di yayasan gitu! Vallen satu- satunya teman perempuan kami!" ucap Rendi seperti menerawang masa mudanya.
Nila masih mendengarkan dengan tenang
"Karena kami selalu bersama, dia selalu memberi perhatian ke Mas."
"Berarti sudah sangat dekat? Pacaran seperti apa yang Mas jalani?" potong Nila kali ini otaknya mulai didatangi prasangka lagi.
"Oh!" jawab Nila
"Lanjut nggak nih?"
Nila mengangguk
"Nah sebelum Abah dan Baba buat kesepakatan dan membawa foto Jingga. Entah 3 tahun 4 tahun atau berapa tahun sebelumnya. Abah nagih ke Mas. Sudah waktunya Mas menikah. Abah juga suruh Mas pulang. Mas nggak ada pilihan lain. Ya Mas kan kenalnya sama Vallen. Mas ajak Vallen ke rumah. Tapi Abah dan Ummi nggak setuju!" lanjut Rendi
"Kenapa nggak setuju? Vallen seperti apa? Setelah itu gimana?" tanya Nila lagi.
Rendi pun merogoh ponselnya yang tadi hampir dibanting Nila. Rendi membuka whastap Vallen dan menunjukan foto Vallen.
"Cantikan kamu kan?" tanya Rendi ingin buat Nila senang.
Nila tersipu, tapi setelah Nila perhatikan, pipi Nila yang tadinya memerah jadi menegang. Mata Nila menyipit memperhatikan.
"Ini perempuan yang di kafe itu?" tanya Nila kemudian
Rendi pun mengernyit.
"Kafe?"
"Ehm...," Nila berdehem malu,
__ADS_1
"Kamu siang itu datang?" tanya Rendi.
Nila hanya memeleyotkan bibirnya ke kanan dan ke kiri sudah jelas Nila sedang cemburu.
"Haish. Kalau kamu datang kenapa pergi dan nggak samperin Mas? Mas nunggu kamu sampai berjam- jam!" jawab Rendi.
"Nila nggak mau ganggu orang yang lagi romantis- romantisan! Kak Jingga juga ketubanya pecah!" jawab Nila kemudian.
"Emang kamu dimana?" tanya Rendi malah bahas pertemuan mereka yang gagal.
Nila akhirnya cerita. Di waktu yang bersamaan, pelayan resto datang mereka kemudian makan sembari sesekali malah cerita tentang Jingga.
Rendi juga melanjutkan ceritanya kalau Vallen sudah menikah dan janda, juga tentang tempo hari Vallen mengungkapkan perasaanya.
"Terus Livi itu siapa?"
"Kenapa sih kok bahas Livi?"
"Mas belum baca suratnya?" tanya Nila menyela.
Rendi yang sedang mengunyah ayam langsung menelan makananya cepat. Lalu meminum air mineralnya.
"Waduh dimana ya? Lupa malah mas taruh dimana ya? Emang surat apa?" tanya Rendi malah lupa.
"Ish... itu surat cinta buat Mas! Kok nggak dibaca?"
"Oh." jawab Rendi malah Oh dan malah melanjutkan makannya.
Nila yang melihatnya pun mencebik dan memperhatikan Rendi.
"Surat cinta dari orang lain nggak penting. Yang Mas mau sekarang bahasa cinta dari istri Mas!" jawab Rendi kini sudah kenyang dan semangat lagi
"Hm...," jawab Nila tersipu lagi.
"Beneran!" jawab Rendi meyakinkan.
Akan tetapi saat diyakinkan Nila malah berubah ekspresi serius dan menatap Rendi.
"Malam itu, Mas bilang "kita menikah karena perjodohan? Seharusnya aku tahu di antara kita tidak ada cinta. Ya sudah jalani saja tanpa aku boleh menuntut. Seharusnya aku memikirkan sekolah bukan menikah." Terus kenapa sekarang di saat Nila dan keluarga Nila ingin mengabulkan semua itu. Mas malah begini?" tanya Nila panjang.
Rendi pun terdiam. Belum Rendi menjawab Nila melanjutkan lagi.
"Apa mas beneran sudah jatuh cinta ke aku? Atas dasar apa? Kenapa begitu cepat? Mas berubah?" lanjut Nila lagi bertanya.
Rendi pun tersenyum tenang.
"Buku diary mu!" jawab Rendi singkat.
*****
"Maaf episodenya agak random. Yang penting Up yaa... . Ini jg mau kerja lagi."
__ADS_1