
“Akbarr !” Teriak Ummi histeris, “Lampu merah!!! Astaghfirulloh!”
“Siiit…,” secara mendadak dan spontan Rendi pun langsung meraih handrem dan menginjak pedal rem.
Hingga Rendi dan Nila, hampir membentur kaca mobil. Untung memakai seat belt. Sementara Abah dan Ummi berpegangan.
“Huuhh…,” Rendi langsung menghela nafasnya. Bersyukur mobilnya berhasil berhenti di tengah perempatan lebih tepatnya di depan perbatasan trotoar di jalurnya, meski hamper menyerempet pengendara motor dari arah samping dimana lampu apil mereka menyala hijau.
“Astaghfirulloh Mas…, hati- hati” ucap Nila langsung menengok ke suaminya yang sedang mengatur nafasnya. Nila menatap Rendi panik.
Dari arah pos polisi keluar seorang polisi dan Nampak berjalan kea rag Rendi.
“Kamu kok ngalamun to Bar, Bar. Untung selamat." ucap Ummi.
"Maaf!" jawab Rendi.
"Tuh kena tilang kayaknya ini, ck… Akbar… kamu ini kenapa sih?” tutur Ummi sedikit emosi ke Rendi dan melihat ada polisi yang berjalan mendekat.
“Istighfar, Miih, Alhamdulillah, yang penting semuanya, aman. Udah nggak usah ngomel. Uang bisa dicari, Akbar memang salah kok!” jawab Abah tenang.
“Ummi juga nggak masalah tentang uang kok. Tapi, Sebentar lagi maghrib, kalau nyetir itu yang fokus jangan ngalamun. Mau diapain ini sama polisi. Jadi nunda pulang juga kan?” keluh Ummi lagi.
“Maaf, Ummi…,” jawab Rendi singkat.
Rendi sedikit menepi dan memundurkan mobilnya agar tidak melebihi batas Rendi seharusnya.
Sementara Nila hanya menunduk menetralkan diri rasa kaget dan syok.
Tidak lama, polisi yang tadi berjalan sudah sampai di dekat mereka, polisi pun mengetok pintu mobil Rendi, Rendi pun membuka kaca, dengan santun, dingin daan tenang, Rendi memilih turun, menghadapi polisi.
Sementara Ummi dan yang lain memperhatikan dengan tatapan penuh telisik.
Entahlah, Rendi begitu tenang mendengar perkataan polisi seperti hanya diam memperhatikan, lalu mengatakan sesuatu, setelah itu, mereka bersalaman lalu Rendi balik lagi.
“Diapain Bar?” tanya Ummi
Rendi tampak menyalakan mobilnya dan focus menjalankan kembali terkesean mengacuhkan Ummi.
Nila di sampingnya memilih diam, menunggu suaminya cerita sendiri dan membiarkan Rendi focus menyetir.
“Ditanya kok nggak jawab?” omel Ummi lagi tersinggung.
“Nggak diapa-apain, Ummi.Ummi kan lihat Rendi balik!” jawab Rendi sembari menyetir.
“Oh,” jawab Ummi lega. “Syukurlah, Ummi rasanya jantungnya kaya mau copot, lagian kamu itu ngalamun apa sih, sampai nggak focus gini? Di jalan itu jangan ngalamun, yang focus, jangan sampai membahayakan orang! Dosa urusanya panjang. Apalagi kalau jatuh je kita juga. Baca sholawat dan doa kalai nyetir,” lanjut Ummi ternyata rasanya belum lega kalau belum mengeluarkan unek- unek ke anaknya.
“Ya Mi…,” jawab Rendi singkat, tanpa dinasehati sebenarnya Rendi tahu kesalahanya.
“Hhhh…,” Ummi kemudian menyandarkan tubuhnya sudah puas sudah dijawab anaknya tandanya didengar.
“Nanti di kamar kan bisa liatin Nila sepuasnya, lagi nyetir yo seng focus! Jangan dibiasakan di mobil diam- diaman. Tidak baik. Alhamdulillah, Alloh masih tolong kita,” celetuk Abah akhirnya buka suara.
“Ehm…,” spontan Nila berdehem, mukanya langsung merah, malu dan menoleh ke Rendi. Nila sungguh tidak tahu. Apa iya Rendi menoleh ke arahnya sampai tidak fokus. Nila juga tahunya Abah dan Ummi hening juga tidur. Ternyata Abah lihat Rendi.
Sementara Rendi tidak menjawab, hanya menggerakan bibirnya ke kanan ke kiri, manyun dan terus menatap ke depan.
Ya sepanjang jalan, Nila terlihat sangat canggung, menunduk diam atau menoleh ke jendela tanpa menoleh ke Rendi atau mengobrol.
Sehingga Rendi jadi gelisah, ingin mengajak Nila ngobrol tapi takut Nila marah dan malu. Pengalaman di hotel kan apa yang dilakukan Rendi serba salah. Rendi hanya melirik Nila sampai tidak focus. Rendi berusaha memanggil Nila, malah Nila tidak dengar.
“Hmm….,” Ummi hanya berdehem juga melirik ke Abah, lalu menatap ke Nila,
“Kalian tidak sedang bertengkar kan?” tanya Ummi kemudian karena Rendi dan Nila sama- sama tidak menjawab karena malu.
“Ndak!” jawab Rendi dan Nila kompak.
__ADS_1
“Tapi kamu baik- baik aja kan Nak Nila?” tanya Ummi ke Nila malah Ummi jadi berfikiran yang lain, ya Ummi memang melihat Nila murung.
“Baik, Ummi…,” jawab Nila akhirnya.
“Sebentar lagi akan sampai, kalau kalian ada masalah selesaikan dengan baik ya.” Tutur Ummi lagi jadi paranoid.
“Nila baik, Ummi, kita tidak ada apa- apa kok,” jawab Nila lagi, Nila jadi merasa tidak nyaman. Apa iya Rendi tidak fokus karenanya. Kan Nila merasa tidak melakukan apapun. Kemudian melirik Rendi kesal, meski begitu dada Nila mengembang, kalau memang Rendi terus menatapnya.
“Ehm…,” sementara Rendi memilih diam, ingin lihat dan dengar bagaimana jawab Nila ditanya Ummi dan Abah. Sebab menurut Rendi, Nila ada sesuatu yang dipikirkan. Nila begitu gelisah. Saat di kampun kan juga telepon menangis, padahal Rendi sempat kode- kode Nila dan ajak bicara tapi Nila tidak menyahut, terus melamun, sampai Rendi tidak focus dibuatnya.
“Jangan bohong, Ummi nggak akan ikut campur, Ummi liat kamu memang diam terus dari tadi! Apa kamu takut? Atau ada yang mau disampaikan?” ucap Ummi lagi.
Unmi yang sangat sayang dan peduli Nila, masih belum lega. Ummi jadi berfikir Rendi dan Nila sungguh sudah baikan dan menjalin hubungan yang baik atau ada sesuatu, apalagi setelah Ummi mendapatkan perlakuan Baba yang berbanding terbalik dengan dulu.
“Kalau mau cerita ke Ummi boleh, kata Baba kamu suruh tidur sama Ummi kok. Biar Abah nanti di ruang tamau atau bareng Mas. Tapi kalau mau cerita ke mas boleh. Mau tidur di kamar Mas, atau kamar Ummi terserah kamu,” sahut Rendi karena sudah ada yang memulai bicara, Rendi ikut bicara. Rendi berusaha membuat agar Nila nyaman.
“Masalah tidur gampang,” sahut Ummi lagi menyela.
“Ehm..…. sungguh, Nila tidak apa- apa kok, Nila… Nila tidur, tidur di…” jawab Nila gugup dan kali ini tidak bisa berbohong kalau dia memang sedang tegang.
“Alhamudulillah… sampai” celetuk Abah melihat gapura perumahan Rendi, menyela Nila yang hendak memilih jawaban.
Ya, Abah selalu tahu dan selalu mengaburkan kecanggungan, focus Nila dan yang lain yang menunggu jawaban Nila juga jadi teralihkan karena celetukan Abah.
Mobil Rendi memang memasuki jalan perumahan tandanya rumah mereka sudah dekat.
“Rumah, Rendi kan rumahmu, Ummi tahu kekhawatiran Bapakmu, masalah tidur kamu nggak usah tegang dan mikirin gitu, ini baru masuk maghrib, kita piker nanti,” sambung Ummi ternyata fokusnya masih bagus tadi sedang membahas tidur Nila. Ummi pun berusaha membuat Nila santai dan tidak murung. Ummi juga menebak Nila takut Babanya.
“Iya Ummi..,” jawab Nila menunduk jadi tidak nyaman ternyata orang lain memperhatikan gerak gerik dirinya, "Nila putuskan nanti,"
“Hmm…,” Rendi hanya berdehem sambil manyun, ternyata Nila sepanjang jalan tegang karena gerogi dan takut mau tidur dimana. Padahal kan Rendi tidak mau menunda sesampainua di rumah ingin segera merasakan hangat seorang istri.
Tidak lama, mereka sampai di rumah Rendi. Rendi menghentikan mobilnya di halaman rumahnya, Rendi masih diam di kursinya mempersilahkan Abah dan Ummi turun lebih dulu.
Di waktu yang sama Nila melepas seatbeltnya, lalu menunduk mengambil tasnya yang dia taruh di bawah kakinya, bersiap turun juga.
Sayangnya saat hendak membuka pintu, Rendi tergerak meraih tangan Nila.
“Jujur kamu inginya tidur sama siapa?” tanya Rendi langsung.
“Hem…,” Nila yang kaget, langsung menelan ludahnya bingung, focus Nila malah ke tangan Rendi yang mencengkeram tanganya.
Melihat Nila kaget dan bingung Rendi melepas tangan Nila dan tersenyum.
“Sungguh? Daritadi kamu memikirkan masalah tidur sampai kupanggil tidak dengar? Atau ada masalah lain?” tanya Rendi lagi.
Nila kemudian menatap Rendi lalu memanyunkan bibirnya.
“Kok manyun? Kamu pasti mikir banyak ya? Kalau mau tidur sama mas, bilang aja. Baba nggak liat kok, nggak tahu,” tutur Rendi mengedikan matanya sembari terkekeh malah meledek Nila.
“Ish…,” Nila pun mendesis tambah manyun. “Gimana sih? Katanya menantu yang baik, walau tidak dilihat penuhi janji Baba. Alloh lihat kok. Malah ajarin berhianat, Nila bukan mikirin itu kok?" tutur Nila dengan lugu sembari manyun.
Rendi pun tersenyum lagi. Ternyata istrinya tak sependiam yang dia kira. Kini Nila yang mengagetkanya beberapa waktu lalu datang lagi. Saat merajuk Nila cerewet.
“Iya… iya. Mas bebasin kamu tidur sama Ummi boleh. Tapi kamu kenapa? Ngalamun terus? Focus banget, Mas panggil nggak denger! Liat kan akibatnya? Mas panik dan Nggak fokus kalau kamu diam terus!"
"Hmm. Diam kok salah?" cibir Nila tidak mau disalahkan.
"Ya kan Mas sayang sama kamu. Mas khawatir kalau kamu manyun. Sama suami senyum gitu lho, biar Mas tenang!" tutur Rendi mesra.
"Hmmm...," Nila hanya berdehem menunduk tersipu.
"Bener kata Abahh, untung Alloh masih tolong kita, coba kalau nggak. Penting makanya istri itu harus buat suami nyaman,” ucap Rendi lagi.
“Emang Mas tadi manggil aku?” tanya Nila dengan polosnya. Nila sungguh melamun selama di jalan.
__ADS_1
“Iya lah!” jawab Rendi tegas.
“Maaf,” ucap Nila menunduk.
“Ada apa sih? Kamu mikir apa? Apa terjadi sesuatu? Sampai kamu telepon nangis?” tanya Rendi ingat telepon tadi pagi.
Nila pun menunduk lalu menatap sekitar sudah mulai gelap. Abah dan Ummi juga sudah masuk, rupanya Bu Siti dan suami sudah di rumah setelah ditelpon Rendi, diberitahu kalau keluarganya akan datang.
“Kita bicara di dalam, malu sama Abah sama Ummi ngobrol di mobil,” ucap Nila.
Rendi sontak tersenyum senang.
“Ngobrol di kamar ya!” ucap Rendi tersenyum mengedikkan matanya.
Nila hanya memanyunkan bibirnya tersipu, lalu membuka mobilnya. Nila tidak menjawab, bagi Nila, ucapan Rendi retoris, memang mana lagi ruang privasi mereka, ya jelas di kamar.
Rendi pun dengan semangat ikut turun dan mensejajari Nila, bahkan merangkul bahu Nila mesra masuk ke rumah. Sampai Nila awalnya kaget tapi kemudian menerima perlakuan Rendi.
Sesampainya di ruang tamu, Bu Siti langsung menyambut. Bu Siti menampakan muka girang begitu melihat tuanya bermesraan dengan perempuan cantik.
“Alhamdulillah, duh Pak Rendi, ini istrinya to?” tanya Bu Siti spontan dan mengedikkan matanya.
“Iya, Bu. Ini istriku yang aku ceritakan ke Bu Siti. Kenalin, Sayang, dia Bu Siti, yang bantu mas bersihkan rumah,” jawab Rendi dan menyambung ke Nila melepaskan tanganya.
Nila tersenyum mengangguk ramah, sementara Bu Situ mengangguk girang dan mengulurkan tangan.
“Iya Non, kenalkan, saya Bu Siti, pembantunya Pak Rendi, nanti jadi pembantu, Non juga!” ucap Bu Siti riang.
Nila pun menyambutnya dan mereka bersalaman.
“Bu… bukan pembantu,” sahut Rendi tidak suka merendahkan orang.
“Seneng banget, ibu, ternyata Non Nila cantik banget, masih muda juga. Beda sekali sama perempuan yang satu itu, Pak!” ucap Bu Siti spontan memuji Nila, tanpa dosa malah mengingat Vallen.
Seketika itu, Nila langsung menarik tangannya.
“Perempuan yang satu itu?” tanya Nila mendadak bertanya.
“Gleg!” Bu Siti dan Rendi langsung menelan ludahnya tersadar keceplosan. Bu Siti pun langsung tergagap menatap Rendi dan Rendi langsung menegang memicingkan mata kecewa ke Bu Siti.
“Em… anu Non, maksudnya?” ucap Bu Situ jadi gagap dan pucat.
“Ehm…” dehem Rendi menggaruk pelipisnya, bahaya ini. Padahal seberapapun lamanya. Rendi tidak mau membuang kesempatan saat di kamar nanti ingin bermesra dengan Nila dan nyicil haknya sebanyak yang dia bisa.
“Memang sebelumnya ada perempuan yang kesini Bu?” tanya Nila lagi.
“A, anu Non!” jawab Bu Siti lagi plintat plintut dia baru sadar keceplosan.
Nila jadi pun semakin dibuat terbakar melihat Bu Siti gagap, Rendi pun jadi gemas ke Bu Siti, tapi tidak mungkin marah sekarang.
“Sayang, maksud, Bu Siti…,” ucap Rendi menyela memotong Bu Siti ingin mendinginkan.
“Mas pindah ke rumah ini, belum ada 3 tahun kan? Mas pindah ke rumah ini udah nikah sama aku kan? Siapa perempuan yang dimaksud? Jadi ada perempuan yang datang ke rumah ini?” tanya Nila ternyata benar- benar terbakar, dan Nila otaknya langsung konek kemana- mana.
"Gleg!"
Bu Siti langsung menunduk takut, Rendi pun mengkode meminta pergi.
“Bukan begitu, Sayang!" ucap Rendi menenangkan.
Tapi, sepertinya Nila terlanjur cemburu dan suudzon.
****
Aku tahu nggak enak banget baca bersambung dan pedot2 harinya. Aku pun ingin lanjut. Tapi udah malam. Udah dulu yaaa... Semoga besok bisa sambung lagi.
__ADS_1