Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Tidak serius.


__ADS_3

Nila tahu betul bagaimana dan seperti apa Babanya, tidak seperti Jingga yang tak segan memberi pelajaran pada lawan. Nila seperti Buna, memilah dulu, apa yang akan terjadi jika dia lawan dan apa yang terjadi jika dia diam. Nila pun memilih untuk diam, dan memaafkan selama dia aman. Sebab Nila pikir jika sampai Baba tahu, Baba akan paranoid berkali kali lipat, dan pasti akan jadi masalah besar, bukan hanya masalah dengan Farel, tapi bisa geger di kampus, juga kedua perusahaan dan berbuntut panjang. Prinsip Nila yang penting Nila aman.


Nila juga baru saja meyakinkan Baba, bahwa semua aman, setelah Nila memberitahu beberapa hari Rendi sama sekali tak ada di kampus. Nila ingin menjalani kehidupanya sebagai mahasiswi lancar, normal seperti mahasiswi lainya.


Sesampainya di rumah, Nila pun menyapa anggota keluarganya seperti biasanya. Dia juga memenuhi janji pulang sesuai kontrak waktu.


“Naik apa kamu Nak?” tanya Buna di sela- sela waktu ngobrol.


“Trans kota, Buna!” jawab Nila.


“Am.. am.. am..,” Vio ikut menyela ingin dimanjakan kakaknya di tengah kakak dan orang tuanya bercengkerama.


“Iyaa.. Sayang.. Ak lagi, bismillah…,” ucap Nila menyuapi Vio.


Buna dan Baba yang dengar Nila naik angkutan umum tampak menatap Nila dan hendak mengkonfirmasi.


“Kamu naik angkutan umum?” tanya Baba dan Buna kompak.


“Iyah, nggak apa- apa kan? Trans kota nyaman kok, Ba… Insya Alloh aman,” jawab Nila meyakinkan tahu kekhawatiran Babanya.


“Buna percaya anak Buna bisa jaga diri, Buna pikir teman kamu yang namanya Dita itu bawa mobil!” jawab Buna.


“Dita anak rantau Bun, dia beasiswa lho Bun!” tutur Nila bercerita.


“Aapalagi anak rantau, kamu harus hati- hati, Nila. Kita nggak tahu dia aslinya bagaimana? Kamu kan bisa telepon Pak Iman atau Bu Fitri untuk antar, kamu juga udah bisa nyetir mobil kan?” jawab Baba khawatir.


Nila menghela nafasnya sejenak, Nila tahu bagaimana menghadapi Babanya, dia pun tersenyum.

__ADS_1


“Ba…. Ibukota macet, Insya Alloh, Nila bisa kok bedain orang yang baik dan enggak. Baba lupa, Nila kan juga 6 tahun merantau Ba. Baba percaya Nila ya! Nila jaga diri Ba, kalau Nila mengalami masalah, Nila akan telepon Baba kok!” ucap Nila lagi.


Baba langsung terdiam tak bisa menjawab, sementara Buna langsung tersenyum bangga.


“Ini baru anak Buna!” jawab Buna memuji.


Nila tersenyum senang ada yang mendukung.


“Ya sudah terserah!” jawab Baba.


Sejak lulus SD, Nila memang berbeda dengan saudara yang lain, Nila lebih suka dan akrab dengan para ART, Nila juga lebih memilih berteman dengan teman yang ada di bawahnya, tidak seperti Jingga dulu yang hanya berteman dengan Faya geng tapi ternyata menghinati.


Tapi Nila selalu membuktikan ke Baba, kalau dia baik- baik saja, bisa dipercaya bahkan art mereka menyampaikan banyak hal haru tentang Nila, yang diam- diam banyak empati pada ARTnya.


Karena Baba tidak lagi komentar itu artinya semua akan berjalan seperti mau Nila dan tak ada hambatan. Mereka semua pun melanjutkan mengobrol yang lain, tentang Nila beli buku apa saja, juga obrolan Baba dan Buna saat kuliah dulu, tentunya banyak juga celotehan Vio, Iya dan Iyu yang menyita perhatian mereka. Hingga malam tiba dan mereka beristirahat ke kamar masing- masing.


*****


Vallen pun sungguh mendatangi rumah Rendi. Menemui ART Rendi.


"Aku sahabatnua Rendi? Boleh masuk?"


"Pak Rendinya sedang tidak di rumah!"


"Oh iya kemana?"


"Abah Kyai sakit!"

__ADS_1


"Oh gitu?" jawab Vallen sekarang mengerti. "Dia pergi bersama siapa?" tanya Vallen memancing.


"Sendiri, Non. Kan Pak Rendi sendiri,"


Mendengar jawaba. ART Rendi Vallen tersenyum.


"Lhoh bukanya Rendi udah menikah?" tanya Vallen


Suami istri yang menjadi petugas kebersihan di rumah Rendi malah saling pandang.


"Saya tidak tahu sih. Tapi tidak ada perempuan yang kesini selama dua tahun kami kerja di sini!" jawab ART Rendi terpancing.


Vallen pun semakin tersenyum senang.


"Oke makasih! Saya besok kesini lagi ya..." jawab Vallen


Kedua ART Rendi hanya mengangguk.


****


Hari- hari terus berlalu dan semua berjalan normal. Tanpa terasa satu bulan sudah berlalu. Di kampus pun, Farel bersikap seolah tak terjadi sesuatu. Dia hanya mencoba sesekali menyindir Nila tapi Nila selalu tak menghiraukan. Nila juga memilih tidak menyenggol atau mengkonfirmasi perbuatan Farel. Nila tidak ingin malah jadi masalah dan semua orang tahu, kalau mereka saling kenal sebelumnya.


Walau beda kelas, sesekali Hanan masih menyambangi kelas Nila, mengajak Nila dan Dita makan siang dan sholat dzuhur bersama. Mereka juga saling ngobrol tugas di kelas masing- masing. Meski begitu, kesempatan itu hanya berapa kali dalam seminggu.


Rendi juga tak kunjung menampakan diri di kampus. Namanya pun hilang dari peredaran di antara mahasiswa. Semua mulai di sibukkan dengan tugas dari dosen mereka.


Namun berbeda dengan Nila. Setiap menginjakan kaki di masjid, Nila selalu menajamkan telinganya, suara indah Rendi masih terngiang, namun setiap hari dia datang, tak kunjung dia dengar kembali. Saat dia duduk di teras sembari membetulkan tali sepatu dan menunggu Dita, Nila juga selalu mengedarkan pandanganya namun tak juga Nila melihat langkah tegapnya.

__ADS_1


Saat melewati gedung kantor dosen, Nila juga selalu menoleh tapi tak kunjung Nila lihat wajah dinginnya, Rendi. Bahkan ketika melewati parkiran Nila pun mengabsen mobil Rendi tapi tetap taka da.


Seharusnya Nila semakin hari semaakin tenang tapi Nila justru dibuat penasaran, hatinya tetap mencari dan bertanya. “Apa dia cuti? Di kelas apa dia mengajar? Apa dia sekolah lagi? Atau dia sungguh menghindariku, apa maksudnya dia mengajakku rujuk? Hanya segitu kadar perjuanganya? Atau benar kata Kak Amer, ucapan dia tidak bisa dipercaya? Kenapa aku sesakit ini, Jadi benar ucapan dia selalu dusta dan tak pernah serius? Harusnya aku benci dia kan?”


__ADS_2